Dunia saya seakan berhenti. Napas saya tertahan di tenggorokan, berubah menjadi jeritan bisu yang tersangkut di dada.
Di sana, di bawah cahaya temaram lampu tidur yang remang, saya melihat Mang Isko tidak sedang tidur. Tubuhnya miring ke arah saya, namun yang membuat lutut saya gemetar hebat bukan posisinya, melainkan apa yang dia pegang.
Sebuah benda logam tipis, panjang, dan berkilau—sebuah pisau bedah kecil yang biasanya digunakan untuk operasi—tergeletak di tangannya. Namun, bukan pisau itu yang membuat darah saya membeku.
Tepat di bawah selimut yang menutupi bagian tengah tubuh Mang Isko, dia tidak mengenakan kaki manusia. Yang saya lihat, saat selimut itu tersingkap sedikit karena gerakannya, adalah jalinan kabel-kabel halus yang menyatu dengan kulitnya yang pucat pasi, mengeluarkan cahaya biru redup yang berdenyut seirama dengan detak jantung.
Dan benda yang menggesek punggung saya bukanlah tangan atau kaki manusia. Itu adalah lengan mekanis kecil yang keluar dari balik baju tidurnya—lengan yang bergerak kaku seperti robot, dengan ujung tajam yang sedang mencoba menggores punggung saya, tepat di atas tulang belakang.
“Jangan bergerak, Elena,” bisik Mang Isko. Suaranya bukan lagi suara pria tua yang serak. Itu terdengar seperti suara rekaman yang diputar lambat—berat, mekanis, dan tanpa emosi.

Saya menoleh ke arah Paolo, berharap dia terbangun dan menolong saya. Namun, Paolo terbaring kaku. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit tanpa berkedip. Mulutnya sedikit terbuka, dan di sudut bibirnya, saya melihat tetesan cairan bening yang berbau seperti bahan kimia pembersih lantai. Dia tidak sedang tidur; dia sedang dalam kondisi koma atau mungkin… tidak sadarkan diri secara paksa.
“Kenapa?” bisik saya, air mata mulai mengalir deras membasahi pipi. “Kenapa kau melakukan ini pada anakmu sendiri? Mitos itu… itu semua bohong, bukan?”
Mang Isko tersenyum. Senyum itu mengerikan, karena kulit di sudut bibirnya tidak tertarik secara alami, melainkan terangkat oleh kabel di bawah kulitnya.
“Mitos itu bukan untuk cucu, Elena,” ucapnya, tangannya yang mekanis kini berhenti menggores punggung saya. Dia mulai menulis sesuatu di kulit punggung saya dengan ujung tajam itu. Rasa sakitnya perih, seperti terbakar. “Mitos itu adalah cara kami memilih ‘wadah’. Keluarga kami bukan manusia biasa. Kami adalah prototipe dari era masa depan yang gagal. Kami membutuhkan inang untuk mentransfer memori dan kesadaran agar kami tetap hidup abadi.”
Dunia saya benar-benar hancur. Pernikahan ini, cinta Paolo, janji manis tentang masa depan—semuanya hanyalah skenario yang disusun rapi untuk menjebak saya. Saya adalah “inang” yang sempurna karena garis keturunan saya yang bersih, sesuatu yang telah mereka lacak selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mereka mendekati saya melalui Paolo.
“Paolo…” lirih saya, menatap suamiku.
“Paolo adalah kegagalan pertama,” Mang Isko tertawa kecil, suara logam beradu terdengar dari dalam dadanya. “Dia terlalu lemah untuk menyimpan data kami. Itu sebabnya dia akan dibuang setelah proses transfer ke tubuhmu selesai. Kamu akan menjadi versi terbaru dari kami, Elena. Kamu akan memiliki ingatan ribuan tahun, dan kamu akan melupakan siapa dirimu yang sekarang.”
Saya tahu saya tidak bisa melawan dengan kekuatan fisik. Di ruangan tertutup ini, dengan pria yang separuh mesin ini, saya harus menggunakan satu-satunya senjata yang saya miliki: insting seorang wanita yang merasa dikhianati.
Saya tidak berteriak. Saya justru mendekat, merangkak ke arahnya, membuat Mang Isko terkejut sesaat karena keberanian saya yang tiba-tiba.
“Jika kamu ingin memindahkan kesadaranmu,” bisik saya tepat di depan wajahnya, “kamu harus tahu satu hal tentang diriku yang tidak ada di berkas riset kalian.”
“Apa itu?” tanyanya, tampak tertarik.
“Bahwa aku memiliki alergi parah terhadap logam berat, terutama jenis tembaga dan litium yang kalian gunakan.”
Seketika itu juga, saya meraih gelas berisi air di atas meja nakas di samping saya—bukan air biasa, melainkan campuran air dan garam pekat yang sengaja saya siapkan sebelumnya (sebuah kebiasaan aneh yang saya lakukan setiap kali merasa cemas di tempat asing). Saya menyiramkan seluruh isi gelas itu tepat ke arah kabel-kabel yang menyembul dari balik kerah baju tidurnya.
Sssssss!
Percikan api listrik meletup. Mang Isko menjerit—bukan suara manusia, melainkan suara statis yang melengking tinggi hingga membuat gendang telinga saya hampir pecah. Tubuhnya kejang hebat. Kabel-kabel di bawah kulitnya mulai terbakar, mengeluarkan asap hitam yang menyengat.
Saya tidak membuang waktu. Saya melompat dari ranjang, meraih vas bunga kristal yang berat, dan menghantamkannya sekuat tenaga ke arah kepala Mang Isko.
Prang!
Kepala itu retak. Sesuatu yang bukan darah—cairan perak kental—mengalir keluar. Mang Isko jatuh terkapar, kejang-kejang untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya diam sepenuhnya.
Napas saya terengah-engah. Saya segera memeriksa Paolo. Dia masih bernapas, meskipun sangat lemah. Saya mengguncang tubuhnya dengan keras.
“Paolo! Bangun! Paolo!”
Setelah beberapa saat, dia terbatuk keras dan matanya mulai fokus. Saat dia melihat ayahnya tergeletak dengan kabel-kabel yang keluar dari tubuhnya, Paolo berteriak histeris, mundur hingga jatuh dari tempat tidur. Dia tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu bahwa ayahnya adalah monster mekanis.
“Elena? Apa… apa yang terjadi? Ayah?” Paolo tergagap, wajahnya pucat pasi melihat pemandangan mengerikan di atas kasur.
Saya tidak memberikan penjelasan. Saya tahu rumah ini tidak aman. Saya tahu di luar sana, mungkin ada lebih banyak lagi “Mang Isko” yang menunggu. Saya menarik tangan Paolo, memaksanya berdiri meski dia masih linglung.
“Kita pergi sekarang, Paolo. Jangan pernah menoleh ke belakang,” perintah saya dengan suara gemetar namun tegas.
Kami lari menembus kegelapan malam, meninggalkan rumah besar itu. Namun, saat kami sampai di gerbang utama, saya berhenti. Saya melihat sesuatu yang membuat bulu kuduk saya berdiri tegak.
Di seluruh dinding pagar rumah itu, terdapat papan nama kecil yang tertanam rapi. Nama-nama orang yang pernah menikah dengan anggota keluarga ini selama sepuluh tahun terakhir.
Nama saya sudah ada di sana, di deretan paling bawah, diukir dengan tanggal kematian hari ini.
Tetapi, tepat di bawah nama saya, ada satu baris nama lagi yang baru saja diukir dengan huruf-huruf yang masih tampak basah: Paolo ke-15.
Saya menoleh ke arah Paolo. Dia berhenti melangkah. Dia tidak lagi gemetar. Dia berdiri tegak, sangat tegak, dengan tatapan mata yang tiba-tiba berubah dingin—sama dinginnya dengan mata Mang Isko beberapa menit yang lalu.
Dia tersenyum, dan saya melihat kabel kecil berwarna biru mulai merambat keluar dari balik kerah kemejanya.
“Sayang,” katanya dengan suara yang perlahan berubah menjadi suara statis, “tadi itu hanya simulasi untuk menguji refleks pertahananmu. Dan hasilnya… luar biasa.”
Di tengah kesunyian malam yang mencekam itu, saya sadar bahwa saya tidak pernah benar-benar melarikan diri. Saya hanya berlari dari satu kandang ke kandang lainnya, dan kali ini, kuncinya ada di tangan orang yang paling saya percayai.
Malam pernikahan itu tidak berakhir dengan kehancuran satu monster. Itu baru saja dimulai dengan kebangkitan monster yang lebih muda, dan kali ini, dia tidak akan membiarkan saya pergi lagi.
