Pintu depan rumahku jebol dengan suara menggelegar.
Aku bahkan tidak sempat berpikir. Tangan kananku menggenggam amplop cokelat yang diberikan Budi, sementara tangan kiriku menarik tangan anak perempuan paling kecil yang sejak tadi menangis tanpa suara. Dua kakaknya mengikuti di belakangku dengan wajah pucat.
“Lari, Aisyah!” teriak Budi.
Aku menoleh sekilas.
Tiga pria berjaket hitam sudah masuk ke ruang tamu. Salah seorang langsung mencengkeram kerah Budi dan menghantamkan tubuhnya ke dinding. Lampu minyak di atas meja jatuh, untungnya apinya padam sebelum menyambar tikar.
“Dokumennya di mana?” bentak pria berkumis.

Budi tersenyum tipis meski sudut bibirnya mulai berdarah.
“Kalian terlambat.”
Tatapan pria itu langsung beralih kepadaku.
“Perempuan itu! Tangkap!”
Aku berlari.
Pintu belakang rumahku mengarah ke lorong sempit yang penuh genangan air. Hujan masih turun deras. Tanpa alas kaki, aku membawa ketiga anak itu menembus kegelapan.
“Kak, Ayah bagaimana?” tangis anak perempuan yang kemudian kuketahui bernama Nisa.
“Sekarang kita harus pergi dulu.”
“Tapi Ayah…”
“Ayah kalian menyuruh kita selamat. Kita harus dengarkan dia.”
Aku sendiri tidak yakin dengan kata-kataku.
Suara langkah terdengar dari belakang.
Mereka mengejar.
Aku mengenal gang ini lebih baik daripada siapa pun. Sejak kecil aku tumbuh di Kampung Gedong. Di ujung lorong terdapat jalan kecil menuju musala, tetapi aku sengaja berbelok ke gang cucian yang hanya cukup dilewati satu orang.
“Cepat!”
Anak tertua Budi, Raka, menggenggam tangan adiknya.
Di belakang kami terdengar teriakan.
“Mereka ke kiri!”
Aku semakin panik.
Kami berlari sampai tiba di rumah kosong milik almarhum Pak Hasan, seorang tetanggaku yang meninggal enam bulan lalu. Rumah itu sedang menunggu dijual oleh keluarganya.
Aku masih menyimpan kunci cadangannya karena dulu diminta menjaga rumah.
Kami masuk dan mengunci pintu.
Tidak ada lampu.
Aku menahan napas sambil memeluk Nisa.
Suara langkah terdengar melewati depan rumah.
Senter menyapu celah jendela.
Ketiga anak itu menutup mulut masing-masing.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Setelah suasana benar-benar sunyi, aku baru berani membuka amplop cokelat itu.
Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen, sebuah surat wasiat bermeterai, fotokopi sertifikat saham, surat kepemilikan beberapa properti, dan satu lembar cek bank.
Aku hampir menjatuhkannya ketika membaca angkanya.
Rp8.750.000.000.
Delapan miliar tujuh ratus lima puluh juta rupiah.
Tanganku gemetar.
“Apa ini?”
Raka menatap amplop itu.
“Punya Mama.”
Aku menoleh.
Raka baru berusia sekitar sebelas tahun, tetapi tatapannya jauh lebih dewasa daripada usianya.
“Mama kalian siapa?”
“Namanya Larasati Wijaya.”
Nama itu terasa familier, tetapi aku tidak tahu dari mana.
Raka melanjutkan dengan suara pelan.
“Kakek mendirikan perusahaan properti. Mama satu-satunya anak Kakek. Setelah Kakek meninggal, semua hartanya diberikan kepada Mama.”
“Terus nenek kalian?”
Wajah Raka berubah.
“Nenek bukan ibu kandung Mama.”
Aku terdiam.
Ternyata perempuan yang selama ini disebut Budi sebagai ibu mertua sebenarnya adalah ibu tiri mendiang istrinya.
Namanya Ratna Wijaya.
Menurut Raka, setelah ayah Larasati meninggal, Ratna tetap menguasai sebagian besar perusahaan keluarga. Namun, kepemilikan sah jatuh kepada Larasati.
Setahun lalu Larasati meninggal akibat kecelakaan mobil.
Sejak itu Ratna berusaha mendapatkan hak perwalian atas ketiga cucunya.
Jika Budi kehilangan hak asuh, Ratna bisa mengendalikan aset warisan ketiga anak tersebut sampai mereka dewasa.
“Kenapa kalian kabur malam ini?”
Raka terdiam.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel kecil dari sakunya.
“Karena Ayah menemukan ini.”
Dia membuka sebuah rekaman suara.
Suara perempuan tua terdengar dari speaker.
“Selama Budi masih hidup, dia tidak akan menandatangani pengalihan perwalian.”
Kemudian suara seorang pria menjawab.
“Kalau begitu buat kecelakaan seperti sebelumnya.”
Tubuhku langsung membeku.
Seperti sebelumnya.
Aku menatap Raka.
“Kecelakaan ibumu?”
Raka mengangguk.
Air matanya jatuh.
“Ayah curiga Mama bukan meninggal karena kecelakaan biasa.”
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di luar gang.
Aku buru-buru mematikan layar ponsel.
Namun, kali ini terdengar suara sirene.
Polisi.
Kami keluar perlahan.
Di jalan utama beberapa anggota polisi sudah berdiri. Seorang tetanggaku rupanya mendengar keributan dan menghubungi mereka.
Aku langsung membawa anak-anak kembali ke rumah.
Tetapi saat tiba di sana, Budi sudah tidak ada.
Hanya ada bercak darah di lantai.
Dan satu pesan tertulis dengan spidol di dinding.
SERAHKAN DOKUMEN JIKA INGIN BUDI PULANG.
Aku menatap tulisan itu sampai lututku lemas.
Polisi bertanya banyak hal.
Namun ketika aku menyerahkan nama Ratna Wijaya, ekspresi salah seorang polisi berubah.
“Kamu yakin orangnya Ratna Wijaya?”
“Iya.”
Dia bertukar pandang dengan rekannya.
Saat itulah aku sadar perempuan yang kami hadapi bukan orang sembarangan.
Ratna Wijaya adalah salah satu pengusaha properti paling berpengaruh di Bogor dan Jakarta. Namanya sering muncul di acara sosial, donasi rumah sakit, bahkan bantuan untuk panti asuhan.
Pagi harinya, ketika matahari mulai muncul setelah semalaman hujan, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahku.
Aku langsung panik.
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun turun dengan payung putih.
Rambutnya tertata rapi. Pakaiannya sederhana tetapi terlihat mahal.
Dua pengawal berdiri di belakangnya.
Ratna Wijaya.
Dia masuk ke halaman rumahku seperti sedang mengunjungi kerabat.
“Aisyah?”
Aku tidak menjawab.
Dia tersenyum.
“Saya datang dengan baik-baik.”
“Di mana Pak Budi?”
Ratna menghela napas.
“Budi sedang mengalami masalah emosional sejak istri saya meninggal.”
“Istri Ibu?”
“Maksud saya, anak saya.”
Aku langsung menangkap kesalahannya.
Ratna memperbaiki senyum.
“Larasati sudah seperti anak kandung saya sendiri.”
“Orang-orang Ibu menculik Pak Budi.”
Ratna tertawa kecil.
“Jangan menuduh tanpa bukti.”
Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop putih.
“Di dalamnya ada seratus juta.”
Aku terdiam.
“Serahkan dokumen yang dibawa Budi. Ambil uang ini dan lupakan semuanya.”
Seratus juta.
Untuk perempuan sepertiku, jumlah itu bisa mengubah hidup. Aku bisa memperbaiki rumah. Membeli mesin jahit baru. Membuka usaha sendiri.
Ratna seolah membaca pikiranku.
“Kamu masih muda. Jangan mati karena masalah keluarga orang lain.”
Aku menatap matanya.
Untuk pertama kalinya aku memahami mengapa Budi begitu ketakutan.
Perempuan ini tidak perlu mengancam dengan suara keras.
Dia berbicara tentang kematian seperti membicarakan harga beras.
Aku mengembalikan amplop putih itu.
“Saya tidak tahu dokumen apa yang Ibu maksud.”
Senyum Ratna menghilang.
“Jangan bodoh.”
“Kalau tidak ada lagi, silakan pergi.”
Dia berdiri.
Sebelum keluar, Ratna mendekat dan berbisik,
“Lebaran tinggal tiga hari. Sayang sekali kalau rumah ini harus digunakan untuk tahlilan.”
Malam berikutnya aku membawa anak-anak ke rumah sahabat almarhum ayahku, Pak Rahmat, seorang pensiunan polisi.
Aku juga menyerahkan salinan rekaman suara Raka.
Pak Rahmat mendengarkannya beberapa kali.
“Ini belum cukup untuk menuduh Ratna melakukan pembunuhan,” katanya. “Tapi cukup untuk membuka penyelidikan.”
“Bagaimana dengan Budi?”
“Kita cari.”
Hari berikutnya, kami mendapatkan kabar mengejutkan.
Budi ditemukan di sebuah gudang kosong di kawasan Tajur.
Dia hidup.
Tubuhnya penuh memar, tetapi tidak mengalami luka serius.
Yang lebih mengejutkan, salah satu penculiknya tertangkap.
Namanya Darto.
Setelah diperiksa berjam-jam, Darto akhirnya bicara.
Ratna memang menyuruh mereka mengejar Budi, tetapi bukan untuk mendapatkan surat wasiat.
Ada sesuatu yang lebih penting.
Sebuah kartu memori.
Aku langsung teringat ponsel Raka.
Polisi memeriksanya.
Di dalam kartu memori itu ternyata ada lebih dari sekadar rekaman suara.
Ada video dari kamera dasbor mobil Larasati pada malam kecelakaannya.
Video menunjukkan sebuah mobil SUV hitam sengaja menabrak bagian belakang mobil Larasati di jalan menuju Puncak.
Nomor polisi kendaraan terlihat jelas.
Mobil itu terdaftar atas nama salah satu perusahaan Ratna.
Kasus yang sebelumnya dianggap kecelakaan dibuka kembali.
Dua hari sebelum Idulfitri, polisi menangkap Ratna.
Berita itu langsung menjadi perhatian media.
Namun kejutan terbesar justru muncul setelah Budi keluar dari rumah sakit.
Kami duduk di teras rumahku yang pintunya belum sempat diperbaiki.
Budi menyerahkan kembali amplop cokelat itu kepadaku.
“Simpan.”
Aku tertawa gugup.
“Pak, jangan bercanda. Saya hampir mati gara-gara benda ini.”
Budi menggeleng.
“Buka surat paling bawah.”
Aku melakukannya.
Ada surat tulisan tangan Larasati.
Tanggalnya enam bulan sebelum dia meninggal.
Aku membaca perlahan.
Jika sesuatu terjadi kepadaku dan keselamatan anak-anakku terancam, sebagian dana pribadi sebesar Rp8.750.000.000 harus digunakan untuk mendirikan rumah aman bagi perempuan dan anak yang membutuhkan perlindungan.
Aku menatap Budi.
“Cek itu bukan untuk anak-anak?”
“Bukan.”
“Terus kenapa diberikan kepada saya?”
Budi tersenyum.
“Karena surat wasiat menentukan siapa yang boleh menjadi pengelola dana pertama.”
Aku membaca kalimat selanjutnya.
Pengelola haruslah seseorang yang tidak memiliki hubungan keluarga ataupun kepentingan bisnis dengan keluarga Wijaya, dan telah terbukti menolong ketiga anak saya tanpa keuntungan pribadi.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Tapi Larasati sudah meninggal sebelum mengenal saya.”
“Benar.”
“Jadi bagaimana mungkin…”
Budi tersenyum untuk pertama kalinya sejak malam itu.
“Kamu bukan orang yang disebut dalam surat.”
Aku semakin bingung.
“Lalu?”
“Surat itu hanya menetapkan syarat. Pengelolanya dipilih oleh anak-anak.”
Raka keluar dari rumah bersama kedua adiknya.
Nisa langsung memeluk pinggangku.
“Kami pilih Kak Aisyah.”
Aku tercekat.
“Kenapa saya?”
Raka menjawab sederhana.
“Karena malam itu Kakak punya satu piring nasi untuk diri sendiri, tapi memberikannya kepada kami.”
Air mataku langsung jatuh.
Selama ini aku selalu mengira kemiskinan membuatku tidak memiliki apa pun untuk diberikan.
Ternyata justru pada malam ketika aku hanya memiliki sedikit, aku memberi sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.
Rasa aman.
Beberapa bulan kemudian, dengan bantuan pengacara dan lembaga sosial, dana itu digunakan mendirikan sebuah rumah perlindungan kecil di Bogor.
Namanya Rumah Laras.
Aku tetap menjahit.
Aku tetap tinggal di rumah kayu peninggalan orang tuaku meski akhirnya rumah itu diperbaiki.
Budi sering datang bersama anak-anak.
Pada malam Idulfitri tahun berikutnya, hujan kembali turun di Bogor.
Aku sedang menutup jendela ketika seseorang mengetuk pintu.
TAK. TAK. TAK.
Untuk sesaat tubuhku membeku mengingat malam mengerikan setahun sebelumnya.
Aku membuka pintu perlahan.
Di luar berdiri seorang perempuan muda sambil memeluk anaknya. Wajahnya lebam dan pakaiannya basah kuyup.
“Mbak…” katanya dengan suara gemetar. “Saya tidak tahu harus pergi ke mana.”
Aku menatap papan kecil di samping rumahku.
Rumah Laras.
Aku membuka pintu lebih lebar.
“Masuklah.”
Perempuan itu menangis.
Aku mengambil handuk dan membuatkan teh hangat.
Saat melihatnya duduk dengan aman di ruang tamu, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah kupahami sebelumnya.
Malam ketika Budi mengetuk pintuku bukanlah malam ketika miliaran rupiah memasuki hidupku.
Bukan pula malam ketika aku hampir kehilangan nyawa.
Itu adalah malam ketika satu kebaikan kecil menemukan jalannya untuk menyelamatkan banyak orang.
Dan sejak hari itu aku percaya, terkadang rezeki terbesar yang dikirim Tuhan tidak datang dalam bentuk uang.
Ia datang sebagai seseorang yang mengetuk pintu kita ketika kita sendiri merasa tidak memiliki apa pun untuk diberikan.
