Selama 7 hari suamiku melarangku pergi ke rumah sakit dengan alasan aku hanya demam biasa. Ketika aku kabur dari rumah dan pergi sendiri ke IGD, dokter melihat bercak hitam yang menyebar naik di kakiku dan bertanya: —Siapa yang mengoleskan sesuatu pada luka ini? Aku menjawab: —Suamiku yang memaksaku. Lalu dia menutup pintu dan menelepon polisi.

Ketika aku membuka mata, hal pertama yang kurasakan bukan sakit.

Melainkan kehilangan.

Kaki kananku terasa begitu ringan, hampir seperti bukan bagian dari tubuhku sendiri. Bau antiseptik memenuhi hidungku. Lampu putih di langit-langit menyilaukan, sementara suara monitor berdetak pelan di samping ranjang.

Aku mencoba bergerak.

Rasa nyeri langsung menyambar dari pergelangan kaki hingga paha.

“Jangan bergerak dulu.”

Aku menoleh.

Dokter Alejandro Reyes berdiri di samping ranjang. Wajahnya tampak jauh lebih serius dibandingkan sebelum operasi.

“Berapa lama aku tidak sadar?”

“Hampir enam jam.”

Aku menelan ludah.

“Diego?”

Alejandro tidak langsung menjawab.

“Suami Anda datang sekitar empat puluh menit setelah Anda masuk ruang operasi.”

“Dia di mana?”

“Sudah dibawa polisi untuk dimintai keterangan.”

Jantungku seakan berhenti sesaat.

Aku mencoba bangkit, tetapi Alejandro menahan bahuku.

“Mariana, dengarkan saya dulu.”

Aku menatapnya.

“Kami membuang jaringan yang sudah mati di sekitar luka. Untung Anda datang malam ini. Kalau terlambat beberapa jam lagi, infeksinya bisa masuk lebih jauh ke aliran darah.”

Tanganku mulai gemetar.

“Jadi itu infeksi?”

“Ya. Tapi bukan hanya itu.”

Dia menarik kursi dan duduk.

“Hasil awal laboratorium menemukan zat asing pada jaringan di sekitar luka Anda. Kami belum bisa memastikan komposisinya sampai pemeriksaan toksikologi selesai, tetapi salah satu komponennya tampaknya bersifat korosif terhadap jaringan.”

Aku tidak memahami istilah medisnya, tetapi aku memahami satu hal.

Salep itu telah memperburuk lukaku.

Aku teringat Diego berdiri di ambang pintu.

Wajahnya ketika melihat kakiku.

Bukan takut.

Bukan terkejut.

Kesal.

“Dia tahu,” bisikku.

Alejandro diam.

“Suamiku tahu ada sesuatu di salep itu.”

“Kami belum bisa menyimpulkan itu.”

“Tapi dia melarangku ke rumah sakit selama tujuh hari.”

Alejandro menatapku beberapa detik sebelum berkata pelan, “Itulah sebabnya polisi ingin berbicara dengan Anda setelah kondisi Anda stabil.”

Air mataku tiba-tiba mengalir.

Bukan karena sakit.

Aku menikah dengan Diego selama enam tahun.

Enam tahun tidur di samping laki-laki yang sama, berbagi rekening, membeli rumah, merencanakan perjalanan, membicarakan anak yang belum sempat kami miliki.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri apakah aku pernah benar-benar mengenalnya.

Menjelang siang, dua penyidik datang.

Mereka menanyakan semuanya.

Tentang luka di Bandung.

Tentang Beatriz.

Tentang botol kecil berisi pasta abu-abu.

Tentang bagaimana Diego berkali-kali menolak membawaku ke rumah sakit.

Ketika mereka bertanya apakah ada masalah dalam rumah tangga kami, aku menjawab tidak.

Lalu aku berhenti.

Sebenarnya ada.

Tiga bulan terakhir Diego berubah.

Dia mulai menanyakan polis asuransi jiwaku.

Awalnya terdengar biasa.

Kami sedang merapikan dokumen keluarga.

Dia bahkan bercanda.

“Kalau suatu hari kamu meninggalkanku duluan, setidaknya aku tidak jatuh miskin.”

Aku menertawakannya.

Sekarang aku tidak bisa lagi menganggap kalimat itu lucu.

“Ada hal lain,” kataku.

Penyidik perempuan bernama Rina mencondongkan tubuh.

“Apa?”

“Diego meminta aku menandatangani beberapa dokumen dua minggu lalu.”

“Dokumen apa?”

“Aku tidak membaca semuanya. Katanya pembaruan administrasi perusahaan.”

“Apa Anda punya perusahaan bersama?”

Aku mengangguk.

Aku memiliki dua puluh lima persen saham di sebuah perusahaan distribusi alat kesehatan yang didirikan Diego bersama seorang rekannya.

Perusahaan itu sedang mengalami masalah keuangan.

Aku baru mengetahuinya sebulan sebelumnya.

“Berapa besar masalahnya?”

“Diego bilang masih bisa diatasi.”

Rina menatap rekannya.

Tatapan kecil itu membuat tengkukku merinding.

Sore harinya, polisi pergi ke rumah kami dengan surat penggeledahan.

Mereka menemukan botol itu.

Tetapi isinya berbeda.

Pasta abu-abunya telah hilang.

Botol itu sudah dicuci bersih.

Ketika mendengarnya, aku tidak bisa berhenti menangis.

Sebab sekarang tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.

Seseorang telah membersihkan bukti.

Diego mengatakan kepada polisi bahwa aku mungkin salah mengingat.

Beatriz bersikeras bahwa obat tradisional yang diberikannya aman dan sudah digunakan keluarganya bertahun-tahun.

Tidak ada bukti langsung yang menghubungkan mereka dengan zat yang ditemukan pada kakiku.

Untuk sementara, Diego dibebaskan.

Malam itu dia meneleponku dari nomor yang tidak kukenal.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

“Mariana.”

Suara itu.

Suara yang dulu bisa membuatku merasa aman hanya dengan menyebut namaku.

Sekarang membuat kulitku merinding.

“Apa yang kamu lakukan padaku?”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kenapa botolnya dicuci?”

Diam.

“Diego?”

“Polisi membuatmu paranoid.”

“Kenapa kamu melarangku ke rumah sakit?”

“Karena aku pikir kamu hanya demam.”

“Empat puluh derajat?”

“Aku salah.”

Aku tertawa kecil.

Tangisku ikut keluar bersamaan.

“Enam tahun menikah dan sekarang hanya itu jawabanmu?”

Nada suaranya berubah.

“Pulanglah setelah kamu keluar dari rumah sakit. Kita selesaikan ini berdua.”

“Tidak.”

“Mariana.”

“Jangan hubungi aku lagi.”

Aku memutus sambungan.

Dua hari kemudian hasil toksikologi lengkap keluar.

Dokter Alejandro datang membawa map.

“Zat pada jaringan Anda mengandung senyawa yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan memperbesar risiko infeksi. Tapi ada sesuatu yang lebih aneh.”

“Apa?”

“Konsentrasinya tidak merata.”

Aku mengernyit.

“Artinya?”

“Kalau salep itu hanya Anda oleskan sekali, pola kerusakannya kemungkinan tidak akan seperti ini.”

Darahku terasa membeku.

“Apa maksud dokter?”

“Ada indikasi paparan berulang.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Aku hanya mengoleskan salep itu sekali.

Malam pertama.

Setelah itu Diego selalu mengganti perbanku.

Dia mengatakan aku terlalu lemah untuk melakukannya sendiri.

Aku teringat dirinya duduk di ujung tempat tidur setiap malam.

Melepas kain kasa.

Membersihkan luka.

Mengoleskan sesuatu.

Aku tidak pernah melihat dengan jelas karena demam dan kamar selalu redup.

“Ya Tuhan.”

Alejandro langsung memanggil perawat ketika melihat wajahku pucat.

“Dia mengoleskannya lagi,” kataku.

“Apa?”

“Setiap malam. Diego mengganti perbanku.”

Informasi itu mengubah penyelidikan.

Polisi memeriksa rekaman kamera keamanan rumah.

Diego lupa satu hal.

Kamera di garasi tersambung ke penyimpanan awan yang akun utamanya terdaftar atas namaku.

Dalam rekaman malam keenam, pukul 01.17, Diego terlihat keluar dari rumah membawa kantong plastik hitam.

Dia memasukkannya ke bagasi mobil lalu pergi.

Polisi melacak kendaraannya melalui kamera jalan.

Dia berhenti di sebuah tempat pembuangan sampah sekitar enam kilometer dari rumah.

Petugas menyisir area itu.

Mereka tidak menemukan botol.

Namun menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.

Sebuah kotak sarung tangan medis, beberapa gulungan kain kasa, dan wadah plastik kecil yang masih memiliki residu pasta abu-abu.

Sidik jari Diego ada di wadah itu.

Tetapi kejutan terbesar datang bukan dari laboratorium.

Melainkan dari rekening bank.

Perusahaan Diego ternyata hampir bangkrut.

Utangnya jauh lebih besar daripada yang pernah dia ceritakan.

Dan tiga minggu sebelum aku terluka, nilai pertanggungan asuransi jiwaku dinaikkan secara drastis.

Penerima manfaat utama adalah Diego.

Aku merasa ingin muntah ketika Rina menunjukkan dokumennya.

“Aku tidak pernah menyetujui ini.”

“Ada tanda tangan Anda.”

“Itu bukan tanda tanganku.”

“Kami sedang memeriksanya.”

Tiba-tiba aku teringat dokumen yang Diego berikan dua minggu sebelumnya.

Dokumen perusahaan.

Atau setidaknya, itulah yang dia katakan.

Aku menandatanganinya tanpa membaca seluruh halaman.

Kepercayaan kadang-kadang tidak hancur oleh satu kebohongan besar.

Ia hancur ketika kita menyadari bahwa setiap hal kecil yang pernah kita anggap aman ternyata bisa digunakan untuk melawan kita.

Diego ditangkap malam itu.

Beatriz juga diperiksa.

Aku yakin semuanya sudah jelas.

Aku salah.

Tiga hari kemudian Rina datang lagi.

Wajahnya aneh.

“Mariana, kami menemukan siapa yang membeli bahan tersebut.”

“Diego?”

Rina meletakkan sebuah foto di meja.

Beatriz.

Ibu mertuaku.

Aku menutup mulut.

“Jadi mereka melakukannya bersama?”

“Belum tentu.”

Menurut catatan transaksi dan rekaman kamera toko, Beatriz membeli beberapa bahan kimia dua minggu sebelum luka itu terjadi.

Saat diinterogasi kembali, dia akhirnya mengaku membuat pasta tersebut.

Tetapi pengakuannya justru membuat kasus semakin rumit.

“Aku membuatnya untuk Diego,” katanya.

“Untuk apa?”

“Dia bilang untuk membasmi jamur pada tanaman.”

Namun ketika polisi menunjukkan rekaman dan hasil laboratorium, Beatriz menangis.

Dia mengakui bahwa botol yang dibawanya ke rumah memang berasal dari campuran yang dibuatnya.

Tapi dia bersumpah tidak tahu Diego akan menggunakannya pada manusia.

“Lalu kenapa Anda mengatakan itu obat tradisional?”

Rina bertanya.

Beatriz menunduk.

“Diego yang menyuruhku.”

“Kenapa Anda menurut?”

“Karena dia bilang Mariana tidak akan mau memakai obat dari dirinya.”

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Mengetahui ibu mertuaku berbohong kepadaku atau menyadari betapa terencananya semuanya.

Namun masih ada satu pertanyaan.

Mengapa Diego memilih cara yang begitu lambat?

Jawabannya ditemukan polisi di laptopnya.

Riwayat pencariannya telah dihapus, tetapi tim forensik berhasil memulihkan sebagian data.

Tentang infeksi luka.

Tentang sepsis.

Tentang berapa lama seseorang dapat bertahan dengan demam tinggi tanpa antibiotik.

Dan satu pencarian yang membuat seluruh ruangan interogasi membisu.

Apakah kematian akibat sepsis setelah luka kecil dianggap kematian alami?

Rencananya sederhana.

Aku terluka secara kebetulan.

Diego memanfaatkan luka itu.

Dia memperparah kerusakan jaringan sedikit demi sedikit, lalu menolak membawaku ke rumah sakit.

Jika aku meninggal karena sepsis, kematianku bisa terlihat seperti komplikasi tragis dari luka yang terinfeksi.

Tidak ada racun dalam minuman.

Tidak ada senjata.

Tidak ada serangan yang terlihat jelas.

Hanya seorang istri yang “keras kepala” dan terlambat mencari pertolongan medis.

Setidaknya itulah cerita yang ingin dia bangun.

Persidangan dimulai delapan bulan kemudian.

Aku sudah bisa berjalan lagi meskipun masih sedikit pincang.

Diego duduk beberapa meter dariku.

Untuk pertama kalinya sejak malam di rumah sakit, kami saling menatap.

Dia tampak lebih kurus.

Tetapi tatapan itu masih sama.

Tenang.

Seolah-olah semua ini hanyalah kesalahpahaman yang terlalu jauh.

Pengacaranya berusaha menggambarkanku sebagai perempuan emosional yang mencurigai suaminya setelah mengalami trauma medis.

Lalu jaksa memutar rekaman kamera.

Menunjukkan transaksi.

Hasil laboratorium.

Riwayat pencarian.

Dokumen asuransi.

Dan akhirnya pesan yang berhasil dipulihkan dari ponsel Diego.

Pesan kepada ibunya, dikirim dua hari sebelum demamku muncul.

Pastikan Mariana percaya itu obat luka.

Aku tidak menangis ketika membacanya.

Air mataku sudah habis berbulan-bulan sebelumnya.

Diego akhirnya dinyatakan bersalah atas serangkaian tindak pidana yang berkaitan dengan upaya mencelakaiku dan pemalsuan dokumen.

Beatriz mendapat hukuman berbeda karena keterlibatannya.

Kupikir itu akhir ceritanya.

Ternyata bukan.

Beberapa minggu setelah persidangan, Alejandro meminta bertemu denganku.

Dia menyerahkan salinan laporan medis pertamaku.

“Ada sesuatu yang selama ini ingin saya katakan.”

“Apa?”

“Ketika Anda datang malam itu, kemungkinan Anda bertahan sampai pagi berikutnya tanpa penanganan sangat sulit diprediksi. Kondisi Anda sudah menuju sepsis berat.”

Aku memandangi bekas luka di kakiku.

“Jadi kalau aku menunggu sampai besok seperti yang Diego minta…”

Alejandro tidak menyelesaikan kalimatnya.

Dia tidak perlu.

Dalam perjalanan pulang, aku berhenti di depan rumah lama kami.

Rumah itu sudah dijual untuk menyelesaikan sebagian urusan hukum dan keuangan.

Ada keluarga baru yang tinggal di sana.

Seorang perempuan sedang menyiram tanaman di halaman.

Seorang laki-laki keluar membawa dua cangkir kopi.

Mereka tertawa.

Aku berdiri cukup lama di seberang jalan.

Aneh sekali melihat tempat yang pernah menjadi penjaraku terlihat begitu normal.

Lalu ponselku berbunyi.

Pesan dari Rina.

Tim forensik menemukan satu file suara terakhir dari laptop Diego.

Aku meneleponnya.

“Apa isinya?”

Rina terdiam beberapa detik.

“Rekaman suara Diego sendiri.”

“Untuk apa?”

“Kami tidak tahu. Mungkin catatan pribadi.”

Dia mengirimkan berkasnya.

Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.

Suara Diego terdengar.

Tenang seperti biasa.

“Kalau Mariana akhirnya pergi ke rumah sakit, aku akan mengatakan aku tidak tahu apa-apa. Kalau dia meninggal, semuanya selesai. Kalau dia selamat…”

Rekaman berhenti beberapa detik.

Kemudian terdengar tawanya.

“…dia tetap tidak akan pernah percaya pada dirinya sendiri lagi.”

Aku membeku.

Saat itulah akhirnya aku memahami sesuatu yang selama berbulan-bulan tidak kusadari.

Diego bukan hanya ingin mengambil uangku.

Dia telah menghabiskan bertahun-tahun membuatku meragukan diriku sendiri.

Ketika aku marah, katanya aku terlalu sensitif.

Ketika aku takut, katanya aku berlebihan.

Ketika aku curiga, katanya aku paranoid.

Dan ketika tubuhku sendiri berteriak bahwa aku sedang sekarat, dia mencoba meyakinkanku bahwa itu hanya demam biasa.

Malam itu aku tidak selamat karena aku lebih pintar darinya.

Aku selamat karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mempercayai satu suara yang selalu dia ajarkan kepadaku untuk abaikan.

Suaraku sendiri.

Setahun kemudian, aku kembali ke IGD yang sama.

Bukan sebagai pasien.

Aku membawa sekotak makanan untuk para perawat dan dokter yang bertugas malam itu.

Alejandro tersenyum ketika melihatku berjalan masuk tanpa tongkat.

“Kakinya bagaimana?”

“Masih ada bekasnya.”

Aku mengangkat sedikit ujung celanaku.

Bekas luka panjang berwarna gelap masih terlihat di pergelangan kaki.

Dulu aku membencinya.

Sekarang tidak lagi.

Sebab setiap kali melihat bekas itu, aku tidak teringat Diego.

Aku teringat perempuan yang pada pukul dua pagi, dengan suhu tubuh empat puluh derajat dan kaki yang hampir tidak mampu menopang tubuhnya, memesan kendaraan sendiri dan keluar dari rumah yang mencoba membunuhnya.

Sebelum pulang, Alejandro mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Kadang-kadang tubuh mengetahui bahwa kita sedang berada dalam bahaya jauh sebelum pikiran kita berani mengakuinya.”

Aku tersenyum.

Di luar rumah sakit, Jakarta baru saja diguyur hujan.

Udara malam terasa dingin dan bersih.

Aku berdiri di bawah kanopi, memandang kendaraan berlalu-lalang di jalan yang basah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak membutuhkan siapa pun untuk mengatakan apakah yang kurasakan benar atau salah.

Aku menarik napas panjang.

Lalu melangkah menuju hujan.

Bekas luka itu masih ada.

Tetapi rasa takutnya sudah tidak tinggal di dalam diriku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang