“Kami pikir Ibu sudah jadi jutawan karena uang yang kami kirimkan ke kampung halaman

Taksi itu melambat, lalu berhenti di pinggiran distrik yang saya ingat sebagai kawasan menengah. Namun, jalanan di depan kami kini berubah total. Aspal yang dulu mulus kini menganga lebar, tertutup debu cokelat yang beterbangan tertiup angin panas. Bau busuk yang tajam—campuran antara sampah membusuk, limbah got, dan sesuatu yang menusuk hidung—segera menyambut kami begitu pintu taksi terbuka.

“Apakah sopirnya salah alamat?” tanya Mela, suaranya bergetar.

Saya tidak menjawab. Saya melihat papan nama jalan yang berkarat. Ini benar. Tapi, rumah panggung tempat Ibu tinggal—yang seharusnya sudah direnovasi dengan kiriman uang kami—tidak ada. Yang ada hanyalah deretan gubuk kardus dan terpal plastik yang ditindih ban bekas, menempel di pinggiran rawa yang airnya berwarna hitam pekat.

“Ibu!” teriak Mela, suaranya pecah menjadi isakan.

Kami berlari menembus kerumunan orang-orang yang duduk bersandar di dinding papan. Mata mereka cekung, kulit mereka kusam seperti kertas yang terbakar. Di sudut gubuk, seorang pria tua menatap kami dengan tatapan kosong, seolah-olah kami adalah hantu.

Kami menemukan Ibu di gubuk paling ujung, yang nyaris roboh. Saat melihatnya, napas saya berhenti. Wanita yang saya bayangkan sedang menikmati kue ulang tahun itu terbaring di atas tikar pandan yang sudah koyak. Tubuhnya hanyalah tulang berbalut kulit. Matanya terpejam, napasnya tersengal-sengal, nyaris tak terdengar.

“Ibu?!” Saya berlutut, mengguncang bahunya.

Ibu membuka mata. Irisnya redup, tetapi ada kilatan ketakutan yang luar biasa saat dia melihat wajah kami. “Kalian… kenapa pulang? Kalian seharusnya tidak boleh melihat ini!”

“Apa yang terjadi, Bu?” Miggy menangis tersedu-sedu. “Uang kami… ke mana uang-uang itu?”

Ibu gemetar hebat. Dia merangkak menjauh, seolah kami adalah ancaman. Tiba-tiba, sebuah suara berat muncul dari balik kegelapan gubuk.

“Uang itu, Rafa? Uang itu sudah menjadi tiket keselamatan bagi banyak orang, bukan hanya Ibu kalian.”

Paman Rudy berdiri di ambang pintu gubuk, memegang sebatang rokok yang sudah habis separuh. Namun, penampilannya berbeda. Dia mengenakan jam tangan emas yang pernah saya kirimkan untuknya tiga tahun lalu, dan kemeja sutra yang terlihat jauh terlalu mahal untuk tempat kumuh ini.

“Paman?” tanya saya, berdiri dengan amarah yang meluap. “Di mana uang itu? Mengapa Ibu sekarat di sini sementara kau hidup seperti raja?”

Paman Rudy tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan pisau. “Kalian anak-anak yang naif. Kalian pikir uang itu disimpan di bank? Uang kalian adalah bahan bakar untuk ‘Proyek Keabadian’.”

“Proyek apa?” desak Mela.

“Ibumu tidak miskin, Rafa,” Paman Rudy mendekat, matanya tajam. “Dia adalah pendana utama sebuah sekte. Dia percaya bahwa jika dia memberikan segalanya—bahkan makanannya, bahkan tempat tinggalnya—kepada sekte itu, dia bisa membeli kehidupan kekal bagi kalian bertiga. Dia pikir setiap peso yang dia kirimkan kembali ke ‘pusat’ akan melindungi kalian di Dubai dari kecelakaan, dari kematian, dari takdir buruk.”

Saya ternganga. “Itu gila! Kami tidak butuh itu!”

“Dia telah memberikan segalanya,” bisik Paman Rudy. “Bahkan rumah ini dijual untuk membayar ‘upeti’ bulanan. Dia tidak makan selama bertahun-tahun agar uang itu tetap bisa dikirim ke organisasi tersebut.”

Namun, saat saya hendak memukul Paman Rudy, Ibu tiba-tiba menjerit. Jeritannya bukan karena kesakitan, melainkan karena kengerian yang murni. “Jangan! Rudy, jangan katakan padanya! Mereka akan datang!”

“Siapa yang datang, Bu?” tanya saya.

Tiba-tiba, suara sirene terdengar di kejauhan, bukan sirene polisi, melainkan suara sirine pabrik tua yang melengking panjang. Orang-orang di sekitar gubuk—yang tadi tampak seperti mayat hidup—tiba-tiba berdiri serentak. Mereka tidak lapar. Mereka tidak sekarat. Mereka semua melihat ke arah kami dengan mata yang berbinar penuh obsesi.

Paman Rudy tersenyum lebar. “Kalian pikir kalian adalah insinyur dan pekerja keras yang sukses? Kalian hanyalah ‘anak domba’ yang digemukkan. Ibumu tidak sekadar mengirim uang. Dia mengirimkan data kalian. Lokasi GPS kalian, jenis pekerjaan kalian, rutinitas kalian. Selama lima tahun ini, setiap kali kalian melakukan panggilan video, sistem kami memetakan setiap inci kehidupan kalian.”

Dunia saya seakan runtuh. Saya menatap Ibu, yang kini menangis tanpa suara. Dia bukan korban sekte. Dia adalah perekrut utamanya.

“Kenapa, Bu?” bisik saya, hati saya hancur berkeping-keping.

Ibu memegang tangan saya dengan jari-jarinya yang dingin. “Karena di dunia ini, Rafa, tidak ada yang gratis. Untuk mempertahankan posisi kalian di puncak, seseorang harus membayar dengan nyawa. Aku bukan hanya memberikan uang, aku memberikan pilihan. Mereka tidak akan menyentuh kalian selama aku terus memberikan mereka tumbal orang lain yang masuk ke jaringan ini. Tapi… aku sudah kehabisan orang. Aku sudah kehabisan uang.”

“Jadi, tujuan mereka memanggil kami pulang…” Mela tersedak ludahnya sendiri.

“Bukan untuk merayakan ulang tahun,” lanjut Paman Rudy sambil mengeluarkan pistol dari balik jaketnya. “Kalian adalah ‘proyek’ terakhir yang harus diselesaikan. Kalian adalah tumbal tingkat tinggi. Insinyur, pekerja terampil, pemuda yang sehat. Organisasi ini butuh organ, butuh identitas, dan butuh seseorang untuk menggantikan peran kalian di luar negeri nanti.”

Tiba-tiba, pintu gubuk didobrak. Bukan oleh polisi, melainkan oleh pria-pria berseragam yang wajahnya sangat familiar. Mereka adalah rekan kerja saya di Dubai. Salah satu dari mereka—atasan saya sendiri—melangkah masuk, tersenyum ramah seolah kami sedang berada di ruang rapat kantor.

“Terima kasih atas kerja samanya, Rafa,” katanya dingin. “Data kalian sudah kami sinkronkan dengan sistem kami. Selamat datang di rumah, dan selamat tinggal di dunia.”

Ibu menatap saya dengan tatapan yang akhirnya saya mengerti. Itu bukan tatapan kasihan, itu adalah tatapan seorang pedagang yang baru saja menyelesaikan transaksi paling menguntungkan dalam hidupnya. Dia tidak menyelamatkan kami. Dia menjual kami demi keyakinan gila bahwa jika dia menyerahkan anak-anaknya, dia akan mendapatkan status abadi di surga buatan mereka.

Saya melihat Miggy, adik bungsu saya, sudah dikepung. Saya menyadari satu hal yang paling mengerikan: di tempat ini, cinta seorang ibu bisa menjadi senjata paling mematikan yang pernah diciptakan manusia.

Saya mencengkeram tas saya, mencoba mencari sesuatu untuk melawan, tetapi saya tahu ini adalah bagian dari cetak biru yang tidak pernah saya pelajari. Saya adalah insinyur yang membangun masa depan di atas tanah yang ternyata adalah kuburan bagi orang-orang seperti kami.

“Mari kita mulai prosesnya,” kata atasan saya, sambil mengeluarkan alat pemindai retina.

Paman Rudy mematikan rokoknya tepat di atas lantai tanah. “Dunia luar mengira kalian hilang di laut. Dan besok, hanya akan ada tiga orang baru di Dubai yang memiliki paspor dan memori yang sama persis dengan kalian.”

Saat kegelapan mulai menyelimuti pandangan saya, hal terakhir yang saya dengar adalah suara Ibu yang berbisik di telinga saya, “Terima kasih sudah pulang, Nak. Sekarang, kalian bisa beristirahat selamanya.”

Itu adalah akhir dari segalanya. Bukan dengan ledakan, melainkan dengan ketenangan yang mengerikan. Kami tidak mati, tetapi kami tidak lagi menjadi diri kami sendiri. Kami hanyalah sisa-sisa dari sebuah sistem yang telah memakan masa lalu kami, masa kini kami, dan masa depan kami.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang