PULANG LEBIH AWAL, PRIA INI MENEMUKAN IBUNYA TERDUDUK DI LANTAI MEMAKAN MAKANAN BASI, SEMENTARA ISTRINYA TERTAWA DI TELEPON! BUKTI DI BAWAH MEJA MENGUBAH SEMUANYA!
Andra Pratama membuka pintu rumahnya di kawasan Pondok Indah tepat pukul 13.20 WIB.
Seharusnya siang itu dia masih berada di ruang rapat kantornya. Namun pertemuan dengan investor dari Singapura mendadak dibatalkan, sementara sebuah dokumen penting tertinggal di rumah.
Andra mengira kepulangannya hanya akan berlangsung sepuluh menit.
Dia tidak pernah membayangkan sepuluh menit itu akan membongkar kebohongan yang sudah berlangsung berbulan-bulan.
Ketika melewati ruang makan, Andra mendengar suara Karin dari arah dapur.
“Kalau nggak mau makan, ya sudah. Kelaparan saja!”
Langkah Andra berhenti.
“Di rumah ini nggak ada tempat buat orang yang banyak tingkah.”
Andra berjalan perlahan mendekati dapur.

Pemandangan di hadapannya membuat dadanya seperti dihantam benda berat.
Ibunya, Ibu Siti, perempuan berusia 74 tahun yang selama hidupnya membesarkan Andra seorang diri, terduduk di lantai.
Di depannya terdapat piring plastik berisi nasi yang sudah mengeras, sayur lodeh berbau asam, dan tempe gosong.
Sementara Karin berdiri beberapa meter darinya sambil memegang ponsel.
“Apa yang sedang kamu lakukan, Karin?”
Suara Andra membuat Karin tersentak.
Ponselnya hampir terlepas.
“Mas Andra?”
Wajahnya langsung pucat.
“Kok sudah pulang?”
Andra tidak menjawab.
Dia membantu ibunya berdiri.
Ibu Siti justru buru-buru berkata, “Nggak apa-apa, Nak. Ibu sendiri yang mau makan makanan kemarin.”
Andra membuka kulkas.
Rak-raknya penuh buah impor, daging segar, sup ayam, yoghurt mahal, serta makanan yang bahkan beberapa belum disentuh.
Andra menoleh pada piring di lantai.
“Kalau makanan sebanyak ini ada, kenapa Ibu makan makanan basi?”
“Ibu yang minta,” jawab Karin cepat. “Katanya sayang kalau dibuang.”
Ibu Siti mengangguk.
Namun Andra mengenal ibunya.
Sejak kecil, perempuan itu tidak pernah mampu berbohong sambil menatap matanya.
Siang itu Andra membatalkan seluruh jadwal.
Dia memasakkan telur untuk ibunya, menghangatkan sup ayam, lalu duduk menemaninya makan.
Barulah Andra melihat semua yang selama ini luput dari perhatiannya.
Baju ibunya sudah lusuh.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Ada memar kebiruan di pergelangan tangan kirinya.
Dan setiap kali Karin berjalan melewati meja makan, tangan Ibu Siti gemetar.
Setelah ibunya masuk kamar, Andra kembali ke dapur.
Di bawah meja dia menemukan sebuah tas kain lusuh bertuliskan DOKUMEN PRIBADI IBU SITI.
Di dalamnya ada fotokopi KTP, buku tabungan pensiun, surat dari notaris, dan sebuah surat kuasa bank.
Napas Andra tertahan.
Nama pemberi kuasa adalah Siti Aminah.
Nama penerima kuasa adalah Karin Wijaya Pratama.
Andra memeriksa tanda tangan ibunya.
Ada sesuatu yang aneh.
“Ibu.”
Andra masuk ke kamar.
Ibu Siti sedang duduk di tepi ranjang.
“Ibu pernah kasih Karin kuasa untuk mengambil uang dari rekening Ibu?”
Wajah perempuan tua itu berubah.
“Surat apa?”
Andra memperlihatkannya.
Ibu Siti menatap lembaran tersebut cukup lama sebelum menggeleng.
“Ibu nggak pernah tanda tangan ini.”
Andra merasakan darahnya mendidih.
“Terus kenapa dokumen ini ada di dapur?”
Ibu Siti terdiam.
“Ibu.”
Suara Andra melembut.
“Tolong jangan lindungi siapa pun lagi.”
Mata Ibu Siti mulai berkaca-kaca.
Beberapa detik kemudian, pertahanan yang dipertahankannya selama berbulan-bulan runtuh.
“Karin bilang jangan cerita sama kamu.”
“Kenapa?”
“Katanya kamu sedang banyak masalah di kantor. Ibu nggak mau menambah pikiranmu.”
Andra duduk di sampingnya.
Pelan-pelan, Ibu Siti mulai bercerita.
Sejak tiga bulan sebelumnya, Karin berhenti mengizinkannya makan bersama di meja utama.
Awalnya alasannya sederhana.
Karin sedang menerima teman arisan.
Kemudian alasannya berubah.
Katanya Ibu Siti makan terlalu lambat.
Setelah itu Karin mulai memberikan makanan sisa.
Jika Ibu Siti menolak, Karin marah.
Beberapa kali ponsel Ibu Siti disembunyikan.
Bahkan ketika perempuan tua itu meminta pulang ke rumah lamanya di Bogor, Karin mengatakan rumah tersebut sudah tidak layak ditempati.
“Memar ini dari mana?”
Andra menyentuh pergelangan tangan ibunya.
Ibu Siti menarik tangannya.
“Karin pernah menarik Ibu waktu Ibu mau keluar rumah.”
Andra berdiri.
Namun ibunya memegang lengannya.
“Jangan marah sekarang.”
Andra menatap ibunya.
Untuk pertama kalinya dia memahami sesuatu yang menyakitkan.
Selama ini dia merasa telah menjadi anak yang berhasil karena mampu menyediakan rumah besar, mobil, asisten rumah tangga, dan uang.
Padahal ibunya tidak membutuhkan semua itu.
Ibunya membutuhkan seorang anak yang benar-benar hadir.
Andra tidak langsung menghadapi Karin.
Dia kembali ke kantor sore itu seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun malamnya, dia menghubungi kepala bagian legal perusahaan, seorang pengacara pribadi, dan pihak bank.
Keesokan paginya, jawaban pertama datang.
Rekening pensiun Ibu Siti menunjukkan beberapa transaksi mencurigakan.
Dalam dua bulan terakhir, uang sebesar Rp185 juta telah dipindahkan secara bertahap.
Sebagian masuk ke rekening yang tidak dikenal.
Sebagian digunakan untuk pembayaran kartu kredit.
Nama pemilik kartu itu adalah Karin Wijaya Pratama.
Andra merasa mual.
Tetapi itu belum semuanya.
Pengacara Andra memeriksa surat dari notaris Bogor.
Ternyata rumah lama milik Ibu Siti di Bogor sedang dalam proses pengalihan hak.
Nilainya hampir Rp3,8 miliar.
Dokumen permohonan mencantumkan tanda tangan Ibu Siti.
Namun Ibu Siti tidak pernah datang ke kantor notaris tersebut.
Andra akhirnya mengerti mengapa Karin begitu ingin ibunya tetap tinggal di Jakarta.
Bukan karena ingin merawatnya.
Karin sedang mengincar asetnya.
Andra memasang kamera keamanan tambahan di beberapa area rumah yang diperbolehkan secara hukum dan meminta staf rumah tangga lama bernama Mbak Yuni datang menemuinya secara pribadi.
Ketika ditanya, Yuni menangis.
“Maaf, Pak. Saya sebenarnya sudah mau bilang.”
“Bilang apa?”
“Bu Karin sering marah sama Ibu.”
“Kenapa kamu diam?”
“Bu Karin bilang kalau saya bicara, saya akan dipecat dan dibuat susah cari kerja.”
Yuni lalu menyerahkan sesuatu.
Sebuah ponsel lama.
“Saya pernah merekam karena takut suatu hari terjadi apa-apa sama Ibu.”
Andra menyalakannya.
Suara Karin terdengar jelas.
“Pokoknya tanda tangan saja. Rumah di Bogor itu sudah tua. Buat apa dipertahankan?”
Kemudian terdengar suara Ibu Siti.
“Itu rumah peninggalan almarhum suami Ibu.”
Karin membalas dingin.
“Kalau Ibu terus keras kepala, jangan salahkan saya kalau Andra akhirnya mengirim Ibu ke panti jompo.”
Andra mematikan rekaman.
Tangannya gemetar.
Namun dia masih menahan diri.
Tiga hari kemudian, Karin datang ke ruang kerja Andra.
“Mas, Sabtu nanti aku mau undang beberapa teman makan malam.”
“Silakan.”
Karin tersenyum lega.
Dia mengira Andra sudah melupakan kejadian di dapur.
Sabtu malam, sekitar dua belas orang hadir.
Beberapa merupakan kerabat Karin.
Ada orang tua Karin, kakaknya, serta dua sahabat arisannya.
Meja makan dipenuhi hidangan katering mahal.
Karin tampak anggun mengenakan gaun berwarna krem.
Ketika semua orang mulai makan, Andra berdiri.
“Aku punya sesuatu yang ingin dibicarakan.”
Karin tertawa kecil.
“Mas, jangan bahas pekerjaan sekarang.”
“Bukan soal pekerjaan.”
Andra meletakkan sebuah map hitam di atas meja.
“Ini soal Rp185 juta dari rekening Ibu.”
Senyum Karin menghilang.
Ruangan mendadak sunyi.
“Apa maksud kamu?”
Andra mengeluarkan surat kuasa.
“Ini tanda tangan palsu.”
Ayah Karin langsung menyela.
“Andra, jangan menuduh sembarangan.”
Andra mengeluarkan dokumen kedua.
“Ini permohonan pengalihan rumah Ibu di Bogor senilai hampir Rp3,8 miliar.”
Karin berdiri.
“Aku bisa jelaskan.”
“Belum selesai.”
Andra menekan layar tablet di tangannya.
Rekaman suara Karin terdengar memenuhi ruang makan.
Semua orang membeku.
Wajah Karin kehilangan warna.
“Mas, dengarkan aku dulu.”
“Aku sudah terlalu lama mendengarkanmu.”
Karin mulai menangis.
“Aku melakukan semua itu karena kita butuh uang.”
Andra menatapnya tak percaya.
“Kita butuh uang?”
“Kamu nggak tahu pengeluaranku.”
“Justru sekarang aku tahu.”
Andra melemparkan laporan kartu kredit ke meja.
Tas desainer.
Perhiasan.
Hotel.
Transfer ke rekening seorang pria bernama Reza Mahendra.
Andra menatap Karin.
“Siapa Reza?”
Karin tidak menjawab.
Namun salah satu sahabatnya menunduk.
Jawaban itu sudah cukup.
Ternyata selama hampir setahun Karin menjalin hubungan dengan Reza, mantan kekasihnya.
Sebagian uang Ibu Siti digunakan untuk membayar utang bisnis Reza.
Rumah di Bogor rencananya akan dijual untuk menutup investasi gagal mereka.
Karin mendadak berteriak.
“Karena kamu nggak pernah ada di rumah!”
Andra diam.
“Kamu cuma kerja, kerja, kerja! Aku sendirian!”
Andra mengangguk perlahan.
“Mungkin aku memang suami yang terlalu sibuk.”
Karin terdiam.
“Tapi kesepian tidak membuat seseorang memalsukan tanda tangan perempuan berusia 74 tahun, mencuri uang pensiunnya, mengancamnya dengan panti jompo, lalu memberinya makanan basi.”
Karin menangis semakin keras.
“Aku khilaf.”
Andra menggeleng.
“Khilaf terjadi sekali. Ini berlangsung berbulan-bulan.”
Bel rumah berbunyi.
Dua petugas kepolisian datang bersama pengacara Andra.
Karin menatap suaminya dengan ngeri.
“Kamu laporkan aku?”
“Bukan cuma aku.”
Suara lain terdengar dari belakang.
Semua orang menoleh.
Ibu Siti berdiri di sana.
Perempuan tua itu mengenakan blus sederhana yang baru dibelikan Andra.
Tangannya masih gemetar.
Namun kali ini bukan karena takut.
“Ibu sendiri yang membuat laporan.”
Karin membeku.
“Ibu…”
Ibu Siti menatapnya lama.
“Ibu memaafkan kamu sebagai manusia. Tapi memaafkan bukan berarti membiarkan kamu mengulangi perbuatan yang sama.”
Karin akhirnya dibawa untuk menjalani pemeriksaan.
Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.
Pengalihan rumah berhasil dihentikan.
Sebagian besar uang yang ditransfer dapat dilacak, sementara kasus pemalsuan dokumen dan dugaan penggelapan diproses melalui jalur hukum.
Andra mengajukan perceraian.
Namun sesuatu yang tidak diduganya terjadi setelah semuanya selesai.
Suatu Minggu pagi, Andra mengantar ibunya ke Bogor.
Mereka berdiri di depan rumah tua bercat putih yang selama bertahun-tahun tidak dikunjungi Andra.
“Kalau Ibu mau, rumah ini kita renovasi,” kata Andra. “Atau Ibu tinggal sama Andra terus.”
Ibu Siti tersenyum.
“Ibu mau pulang ke sini.”
Andra terdiam.
“Ibu nggak betah sama Andra?”
“Bukan begitu.”
Ibu Siti menggenggam tangan anaknya.
“Kamu sudah hampir empat puluh tahun, Dra. Selama ini kamu pikir membahagiakan orang yang kamu sayangi berarti memberi mereka semuanya.”
Andra menunduk.
“Padahal kadang yang mereka perlukan cuma waktu.”
Kalimat itu menghantam Andra lebih keras daripada seluruh bukti pengkhianatan Karin.
Dia kemudian mengurangi jam kerjanya.
Beberapa tanggung jawab operasional diserahkan kepada direksi lain.
Setiap Rabu malam, Andra pulang ke Bogor dan makan malam bersama ibunya.
Tidak ada koki.
Tidak ada makanan mahal.
Kadang hanya sayur asem, ikan asin, sambal, dan kerupuk.
Enam bulan kemudian, ketika membantu membersihkan gudang rumah, Andra menemukan sebuah kotak kayu milik almarhum ayahnya.
Di dalamnya terdapat buku tabungan lama dan sebuah surat.
Ternyata rumah di Bogor bukan satu-satunya warisan Ibu Siti.
Puluhan tahun sebelumnya, ayah Andra membeli sebidang tanah kecil di pinggiran Bogor yang kini berada tepat di kawasan pengembangan komersial.
Nilainya telah melonjak hingga puluhan miliar rupiah.
Andra terpaku.
“Ibu tahu soal ini?”
Ibu Siti yang sedang menyiram tanaman hanya tertawa.
“Tahu.”
“Kenapa Ibu nggak pernah bilang?”
“Buat apa?”
Andra hampir tidak percaya.
“Bu, nilainya besar sekali.”
Ibu Siti mematikan selang air.
Kemudian dia menatap anaknya sambil tersenyum.
“Itulah masalah orang yang terlalu sibuk menghitung harga, Dra. Kadang mereka lupa melihat nilai.”
Andra terdiam.
Karin telah menghancurkan rumah tangganya demi mengejar rumah senilai beberapa miliar rupiah tanpa pernah mengetahui bahwa perempuan tua yang dia perlakukan seperti beban sebenarnya menyimpan aset jauh lebih besar.
Namun bagi Andra, kejutan terbesar bukanlah tanah tersebut.
Dia akhirnya memahami mengapa ibunya tidak pernah membicarakannya.
Ibu Siti tidak sedang menguji siapa yang pantas mendapatkan hartanya.
Dia hanya ingin mengetahui siapa yang tetap memperlakukannya dengan baik ketika dianggap tidak memiliki apa-apa.
Andra berjalan mendekati ibunya lalu mengambil selang dari tangannya.
“Sudah, Bu. Biar Andra yang siram.”
Ibu Siti tertawa.
“Kamu bisa?”
“Kalau nggak bisa, Ibu ajari.”
Sore itu mereka menyiram tanaman bersama di halaman rumah sederhana yang hampir dirampas karena keserakahan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Andra tidak melihat jam tangannya.
Dan untuk pertama kalinya pula, dia merasa benar-benar pulang.
