Aku datang ke acara pelantikan mantanku, bukan sebagai perempuan miskin yang selalu mereka rendahkan. Tapi sebagai putri seorang jendral. Dan saat dia menoleh, dia baru sadar… siapa sebenarnya yang dia sia-siakan.

“Wah, bagus! Berarti besok aku bisa ikut ke pelantikan sekalian melancarkan misi balas dendam pada Walid,” kata Fina dengan mata berbinar.

Seketika ruangan menjadi hening.

Aksa menatap Fina dengan dahi berkerut. “Misi balas dendam?” tanyanya pelan. “Fina, kenapa masih memikirkan hal itu? Bukankah lebih baik kalau kamu memilih berdamai dan melupakan masa lalu?”

Fina menatapnya lurus. Senyumnya menghilang.

“Siapa yang menyakiti harus siap disakiti juga,” jawabnya mantap. “Aku tidak akan diam setelah apa yang dia lakukan.”

Aksa menghela napas. Ia melirik Darto, Mia, dan Zano, berharap ada yang bisa membujuk Fina. Namun ketiganya hanya saling berpandangan.

Zano akhirnya tertawa kecil.

“Aksa, kamu harus tahu satu hal. Adikku ini keras kepala luar biasa. Kalau sudah bilang A, ya tetap A sampai dunia runtuh. Jadi, siap-siap saja. Besok mungkin kamu akan menyaksikan tragedi berdarah yang akan dicatat dalam sejarah.”

Fina langsung melempar bantal ke arahnya.

“Jangan lebay!”

Mereka tertawa, tetapi Aksa tidak.

Ia tahu Fina. Selama bertahun-tahun, perempuan itu selalu terlihat ceria di depan orang lain. Namun hanya sedikit yang tahu bagaimana masa lalunya bersama Walid telah menghancurkan harga dirinya.

Tiga tahun lalu, Fina dan Walid pernah menjadi pasangan yang hampir menikah. Saat itu Fina hidup sederhana. Ia bekerja sambil membantu ibunya berjualan makanan kecil. Walid, yang berasal dari keluarga terpandang, perlahan berubah setelah mendapatkan pekerjaan di lingkungan militer.

Awalnya dia mengatakan cinta tidak mengenal status.

Namun ketika keluarganya mengetahui latar belakang Fina, semuanya berubah.

“Walid akan segera dilantik. Jangan datang ke acara itu,” kata ibu Walid suatu hari. “Kamu tidak cocok berdiri di samping anak saya.”

Fina masih mengingat kalimat berikutnya.

“Jangan berharap menjadi istri seorang perwira kalau hidupmu saja masih seperti itu.”

Yang paling menyakitkan bukan penghinaan itu.

Melainkan saat Walid berdiri di samping ibunya dan memilih diam.

Beberapa minggu kemudian, Walid mengakhiri hubungan mereka.

“Fina, kita berbeda. Aku punya masa depan yang harus kujaga.”

Fina hanya tersenyum saat itu.

“Baik.”

Tidak ada tangisan. Tidak ada drama.

Ia hanya pergi.

Setelah itu, hidup Fina berubah perlahan. Ia menyelesaikan pekerjaannya, membantu keluarganya, dan mulai menjalankan usaha kecil yang diwariskan ayahnya. Tidak ada yang mengetahui bahwa usaha itu sebenarnya berkembang sangat cepat.

Tidak ada yang tahu siapa ayah Fina sebenarnya.

Termasuk Walid.

Ayah Fina, Prasetyo, selama bertahun-tahun menjabat sebagai seorang jenderal yang dikenal tegas dan sangat menjaga privasi keluarganya. Ia sengaja membesarkan Fina jauh dari kehidupan mewah agar putrinya tidak tumbuh manja.

Dan besok, untuk pertama kalinya, Fina akan datang ke sebuah acara resmi bersama ayahnya.

Hari pelantikan pun tiba.

Sejak pagi, halaman gedung dipenuhi kendaraan pejabat dan keluarga tamu undangan. Para perwira mengenakan seragam terbaik mereka. Kamera wartawan terus mengambil gambar.

Walid berdiri di antara para calon pejabat yang akan dilantik.

Wajahnya penuh percaya diri.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hari yang seharusnya menjadi puncak kebanggaannya akan berubah menjadi hari yang paling tidak bisa ia lupakan.

Ketika rombongan kendaraan resmi memasuki halaman, suasana mendadak berubah.

Seorang pria berseragam jenderal turun dari mobil.

Prasetyo.

Orang-orang langsung berdiri lebih tegak.

Namun bukan kedatangan sang jenderal yang membuat Walid membeku.

Melainkan perempuan yang turun setelahnya.

Gaun putih sederhana, rambut disanggul rapi, wajah tenang.

Fina.

Walid merasa seperti baru saja kehilangan napas.

“Fina?”

Perempuan itu berjalan melewatinya tanpa menoleh.

Walid mencoba mendekat setelah acara dimulai, tetapi kesempatan tidak pernah datang. Fina duduk di barisan depan, tepat di samping Prasetyo.

Baru saat itulah beberapa orang mulai berbisik.

“Itu putri Jenderal Prasetyo, kan?”

“Iya. Fina, kalau tidak salah.”

“Bukankah dia anak tunggal?”

Walid mendengar semuanya.

Tangannya mulai dingin.

Selama ini dia mengira Fina hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa.

Ternyata perempuan yang ia tinggalkan justru putri seorang jenderal.

Tetapi yang lebih mengejutkan terjadi setelah acara selesai.

Seorang pejabat senior menghampiri Fina dan berjabat tangan dengan hangat.

“Selamat, Nona Fina. Proyek perusahaan Anda akhirnya mendapat persetujuan. Saya dengar perusahaan Anda akan menjadi salah satu mitra utama program nasional tahun ini.”

Walid menatap mereka dengan wajah pucat.

Perusahaan?

Program nasional?

Selama ini Fina ternyata bukan hanya putri seorang jenderal.

Dia juga pemilik perusahaan yang sedang berkembang pesat.

Walid akhirnya memberanikan diri mendekat.

“Fina.”

Fina berhenti.

Ia menoleh perlahan.

“Ya?”

Walid tersenyum canggung. “Aku tidak tahu kamu akan datang.”

“Aku juga tidak tahu kamu akan ada di sini,” jawab Fina datar.

“Kita bisa bicara sebentar?”

Fina menatap jam tangannya.

“Bisa. Tapi jangan lama-lama.”

Walid menelan ludah.

“Aku minta maaf.”

Fina diam.

“Aku dulu salah. Aku terlalu mendengarkan keluargaku. Kalau aku tahu keadaanmu sebenarnya…”

“Kalau kamu tahu siapa ayahku, kamu tidak akan meninggalkanku?”

Walid terdiam.

Fina tersenyum tipis.

“Itu jawabanmu sudah cukup.”

Walid langsung menggeleng. “Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

“Aku benar-benar mencintaimu.”

Untuk pertama kalinya, wajah Fina menunjukkan sedikit emosi.

“Walid, dulu saat aku tidak punya apa-apa, kamu bilang kita berbeda. Sekarang setelah kamu tahu aku bukan perempuan miskin yang kamu bayangkan, tiba-tiba perbedaan itu tidak ada?”

Walid tidak mampu menjawab.

Fina melangkah pergi.

Namun sebelum benar-benar meninggalkannya, ia berkata pelan, “Aku datang ke sini bukan untuk menghancurkan hidupmu.”

Walid menatapnya.

“Aku hanya ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri apakah aku masih merasa sakit ketika melihatmu.”

Fina berhenti sebentar.

“Ternyata tidak.”

Ia pergi.

Walid berdiri sendirian di tengah keramaian.

Aksa yang sejak tadi melihat dari kejauhan akhirnya menghampiri Fina.

“Jadi ini misi balas dendammu?”

Fina tersenyum.

“Iya.”

“Terus?”

“Gagal.”

Aksa terkejut. “Gagal?”

Fina mengangguk.

“Karena aku tadinya ingin membuat dia menyesal.”

Ia menatap Walid untuk terakhir kalinya.

“Tapi ternyata aku sudah tidak peduli.”

Aksa tersenyum kecil.

“Bukankah itu justru balas dendam terbaik?”

Fina tertawa pelan.

“Bukan balas dendam, Aksa. Itu namanya sembuh.”

Malamnya, Fina pulang bersama ayahnya.

Di dalam mobil, Prasetyo tidak langsung berbicara. Setelah beberapa menit, ia bertanya, “Kamu baik-baik saja?”

Fina mengangguk.

“Aku baik, Yah.”

Prasetyo tersenyum.

“Ayah tidak pernah ingin kamu membuktikan kepada siapa pun bahwa kamu berharga.”

Fina menatap keluar jendela.

“Sekarang aku mengerti, Yah.”

“Apa?”

“Orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan menunggu sampai tahu siapa ayah kita, berapa uang kita, atau seberapa tinggi posisi kita.”

Prasetyo terdiam, lalu tersenyum bangga.

Sementara itu, di tempat lain, Walid masih duduk sendirian di ruangannya.

Di atas meja terdapat sebuah foto lama.

Foto dirinya dan Fina tiga tahun lalu.

Ia memandang foto itu lama sekali.

Lalu ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Selamat atas pelantikanmu. Semoga jabatan barumu membuatmu belajar satu hal: jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena kamu belum mengetahui seluruh kisah hidupnya.”

Walid membaca pesan itu berulang kali.

Kemudian ia membuka foto Fina.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan seorang perempuan.

Ia telah kehilangan seseorang yang dulu mencintainya ketika dirinya sendiri bahkan belum menjadi siapa-siapa.

Dan ironisnya, saat ia akhirnya mengetahui nilai perempuan itu, Fina sudah tidak lagi membutuhkan pengakuannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang