Tanganku mulai gemetar ketika mendengar perkataan Ghost.
Selama bertahun-tahun, aku selalu mengira bahwa tidak ada lagi sesuatu dari masa lalu yang mampu mengejutkanku. Aku sudah terbiasa menghadapi rasa sakit, pengkhianatan, dan kesunyian. Namun, mendengar bahwa ibuku masih memikirkan uang bahkan ketika mengetahui putrinya terluka membuat sesuatu di dalam dadaku terasa runtuh.
“Dia mengatakan itu?” tanyaku pelan.
Ghost mengangguk. “Tim medis menghubunginya karena namanya tercatat sebagai anggota keluarga. Mereka menjelaskan bahwa kamu terluka parah dan sedang menjalani perawatan.”
Aku menatap langit-langit kamar.
“Lalu?”
“Dia bertanya apakah kamu masih memiliki tabungan. Setelah itu, dia mengatakan bahwa dia tidak bisa datang karena sedang ada urusan.”

Aku tertawa kecil. Bukan karena lucu, melainkan karena terkadang kenyataan begitu menyedihkan sampai-sampai tangisan pun terasa tidak berguna.
“Setidaknya dia masih konsisten.”
Ghost tidak tertawa.
Dia menarik kursi mendekati ranjangku, lalu duduk dengan kedua siku bertumpu pada lutut.
“Berhentilah melakukan itu.”
“Melakukan apa?”
“Berpura-pura bahwa semuanya tidak penting.”
Aku memalingkan wajah ke jendela.
“Aku tidak berpura-pura.”
“Kalau begitu, katakan kepadaku apa yang kamu rasakan sekarang.”
Aku terdiam cukup lama.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Sejak kecil, aku selalu belajar menyembunyikan perasaan karena tidak ada seorang pun yang benar-benar ingin mendengarnya.
Ketika aku berusia tujuh tahun dan terbaring di semak-semak dengan tulang rusuk retak, aku tidak menangis karena mengira tangisan hanya akan membuat malam terasa lebih panjang.
Ketika lengan kiriku dipasang gips, aku tidak meminta ibuku datang ke rumah sakit. Aku tahu dia tidak akan datang jika teman-temannya masih berada di rumah.
Ketika aku kembali bersekolah dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih, aku tidak pernah menceritakan kepada siapa pun bagaimana rasanya melihat teman-teman dijemput orang tua mereka sementara aku menunggu sendirian di depan gerbang.
Aku hanya terus tumbuh.
Dan entah bagaimana, semua orang menganggap bahwa aku tidak membutuhkan siapa pun.
“Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya.
Ghost mengusap wajahnya.
“Kalau kamu tidak tahu, tidak apa-apa. Kamu tidak harus selalu memiliki jawaban.”
Aku menoleh kepadanya. Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Bukan rasa kasihan, melainkan penyesalan.
“Aku minta maaf,” katanya.
“Untuk apa?”
“Karena selama ini aku memperlakukanmu seperti mesin yang bisa membaca peta dan memberikan informasi. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikanmu.”
“Kamu tidak melakukan kesalahan. Itu memang pekerjaanku.”
“Pekerjaanmu adalah menganalisis situasi, bukan membiarkan dirimu kehabisan darah demi memastikan kami semua pulang dengan selamat.”
Aku hendak menjawab, tetapi rasa sakit di pinggang membuatku mengernyit.
Ghost segera berdiri.
“Panggil dokter?”
“Tidak perlu.”
Dia menatapku tajam.
Aku menghela napas.
“Baik. Panggil dokter.”
Entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, mengucapkan dua kata itu terasa lebih sulit daripada menghadapi ledakan.
Dokter datang beberapa menit kemudian dan memeriksa kondisiku. Luka di pinggangku cukup dalam, tetapi penanganan cepat tim medis telah mencegah keadaan menjadi lebih buruk. Aku harus menjalani perawatan dan beristirahat sebelum bisa kembali bertugas.
Setelah dokter pergi, pintu kamar terbuka lagi.
König berdiri di ambang pintu dengan sebuah kantong kertas di tangannya. Tubuhnya yang tinggi membuatnya terlihat canggung ketika mencoba masuk tanpa menimbulkan suara.
“Aku membawa makanan,” katanya.
Aku melihat kantong itu.
“Aku tidak lapar.”
“Aku tahu. Tapi dokter bilang kamu harus makan.”
“Dokter juga bilang aku harus beristirahat. Kamu seharusnya tidak berada di sini.”
König mengabaikan komentarku dan meletakkan kantong di meja.
“Ada sup ayam, roti, dan beberapa buah. Aku tidak tahu makanan kesukaanmu.”
“Terima kasih.”
Dia mengangguk, lalu berdiri diam seolah sedang menunggu sesuatu.
“Ada apa lagi?” tanyaku.
König menundukkan kepala.
“Waktu aku menabrakmu di lorong beberapa minggu lalu, kamu bilang tidak apa-apa. Aku percaya begitu saja.”
“Itu kecelakaan.”
“Bukan hanya itu.” Dia menghela napas. “Aku pernah melihatmu berjalan dengan susah payah setelah latihan, tetapi kamu tetap membawa semua berkas sendiri. Aku bahkan pernah menyuruhmu mengambil perlengkapan tambahan karena mengira kamu hanya duduk sepanjang hari.”
Aku tidak ingat kejadian itu sebagai sesuatu yang penting.
Namun, bagi König, rupanya kejadian tersebut masih membekas.
“Aku seharusnya lebih memperhatikan,” lanjutnya.
Aku menatapnya tanpa tahu harus berkata apa.
König akhirnya menarik kursi dan duduk di dekat pintu.
“Aku akan tetap di sini sampai Ghost kembali.”
“Kamu tidak perlu menjagaku.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu melakukannya?”
Dia terdiam sesaat.
“Karena sekarang aku tahu kamu selalu mengatakan tidak membutuhkan siapa pun. Dan aku mulai berpikir bahwa mungkin selama ini tidak ada yang pernah memberimu kesempatan untuk membutuhkan orang lain.”
Kali ini aku tidak bisa langsung membalas.
Aku memalingkan wajah, berharap mereka tidak melihat mataku yang mulai terasa panas.
Namun, rupanya aku sudah terlambat.
König tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menarik kursinya sedikit menjauh dan membiarkanku menenangkan diri tanpa merasa sedang diawasi.
Malam itu, aku akhirnya tertidur tanpa harus memastikan bahwa semua orang sudah meninggalkan ruangan.
Ketika terbangun keesokan paginya, Ghost, König, Keegan, dan Krueger berada di ruang tunggu. Mereka rupanya membuat jadwal bergantian untuk memastikan seseorang selalu tersedia jika aku membutuhkan bantuan.
Aku menganggap tindakan itu berlebihan.
Mereka menganggap penolakanku sebagai sesuatu yang sudah bisa diperkirakan.
Selama beberapa hari berikutnya, aku menjalani pemulihan. Mereka mulai memperlakukanku berbeda, tetapi tidak pernah menunjukkan rasa kasihan secara berlebihan. Keegan sesekali membawakan kopi, Krueger mengirimkan laporan operasi agar aku tidak merasa tertinggal, sedangkan König selalu memastikan makanan yang kubawa ke kamar benar-benar habis.
Ghost adalah orang yang paling sering duduk bersamaku.
Dia tidak banyak bertanya tentang masa kecilku. Mungkin dia menyadari bahwa ada beberapa pintu yang tidak bisa dibuka hanya dengan mengetuk sekali.
Namun, pada hari kelima, dia datang membawa sebuah amplop.
“Ini dari kantor administrasi,” katanya. “Mereka membutuhkan konfirmasi mengenai data keluargamu.”
Aku mengambil amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen lama yang berkaitan dengan identitas dan kontak daruratku. Aku membacanya sekilas, sampai mataku berhenti pada sebuah catatan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Nama ibuku tercantum sebagai penerima manfaat sekunder dari asuransi yang terhubung dengan pekerjaanku.
Aku mengerutkan kening.
“Aku tidak pernah mendaftarkan ini.”
Ghost menarik kursi.
“Kami juga menemukan sesuatu ketika memeriksa berkas lamamu.”
Dia meletakkan selembar dokumen di hadapanku.
Itu adalah salinan laporan kecelakaan dari rumah sakit tempat aku dirawat ketika berusia tujuh tahun.
Aku mengenali tanggalnya.
Malam ketika aku jatuh dari balkon.
Tanganku mendadak dingin.
“Dari mana kalian mendapatkan ini?”
“Dokumen itu tersimpan dalam arsip administrasi lama. Ada catatan yang belum pernah ditinjau karena tidak berkaitan langsung dengan penilaian pekerjaanmu.”
Aku membaca halaman pertama. Laporan tersebut mencatat cedera yang kualami, waktu penemuan, serta keterangan singkat bahwa aku ditemukan oleh seorang petugas kebersihan.
Kemudian aku sampai pada bagian yang membuat napasku tercekat.
Menurut catatan tambahan, pihak rumah sakit telah berusaha menghubungi orang tuaku pada malam kejadian. Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua baru dijawab menjelang pagi.
Di bawahnya terdapat keterangan dari petugas yang menangani komunikasi keluarga.
Ibuku mengatakan bahwa aku mungkin sengaja memanjat balkon dan meminta rumah sakit tidak membesar-besarkan kejadian tersebut.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Selama bertahun-tahun, aku mengingat kejadian tersebut sebagai kecelakaan yang tidak seorang pun ketahui sampai pagi.
Ternyata rumah sakit telah berusaha menghubungi keluargaku.
Mereka sudah mengetahui bahwa aku terluka.
Dan ibuku telah mengetahui bahwa putrinya berada di rumah sakit.
Namun, dia tidak datang.
“Ada lagi,” kata Ghost dengan suara hati-hati.
Aku tidak ingin mendengarnya.
Tetapi tanganku sudah membalik halaman berikutnya.
Di sana terdapat catatan mengenai seseorang yang datang ke rumah sakit beberapa hari setelah kejadian. Bukan ibuku. Bukan ayahku.
Orang itu adalah seorang perempuan bernama Ratih, tetangga yang tinggal dua rumah dari tempat kami.
Aku hampir tidak mengingatnya, kecuali sebagai perempuan yang terkadang memberiku makanan ketika orang tuaku tidak berada di rumah.
Menurut catatan tersebut, Ratih telah meminta pihak rumah sakit memastikan bahwa aku tidak dipulangkan tanpa pengawasan orang dewasa.
Dia juga meninggalkan nomor teleponnya sebagai kontak alternatif.
Aku menatap nomor itu lama sekali.
“Apakah dia masih hidup?” tanyaku.
Ghost mengangguk. “Tim administrasi membantu menemukan informasi kontak yang masih aktif. Dia tinggal di Yogyakarta sekarang.”
Aku memejamkan mata.
Ada begitu banyak hal yang tidak kuketahui tentang malam itu. Selama ini, aku mengira seluruh dunia tidak peduli apakah aku hidup atau mati. Ternyata pernah ada seseorang yang berusaha memastikan aku aman, meskipun bukan keluargaku sendiri.
“Hubungi dia,” kataku.
Ghost tidak langsung bergerak.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
“Ya. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Percakapan itu berlangsung dua hari kemudian melalui panggilan video. Ratih sudah jauh lebih tua daripada yang kuingat. Rambutnya mulai memutih, tetapi matanya masih sama.
Ketika wajahku muncul di layar, dia terdiam.
Lalu tangannya menutup mulut.
“Ya Tuhan,” bisiknya. “Kamu masih hidup.”
Aku tidak tahu mengapa kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.
“Apa maksud Ibu?”
Ratih mengusap air matanya.
“Selama bertahun-tahun aku bertanya-tanya apakah kamu baik-baik saja.”
Dia bercerita bahwa malam itu, dia mendengar suara benturan dari halaman rumahku. Dia sempat keluar untuk memeriksa, tetapi tidak melihat apa pun karena halaman gelap dan semak-semak menutupi tubuhku.
Pagi harinya, ketika mengetahui aku ditemukan oleh petugas kebersihan, dia langsung pergi ke rumah sakit.
Namun, orang tuaku telah melarangnya ikut campur.
“Aku tidak mengerti,” kataku. “Mengapa mereka melakukan itu?”
Ratih terdiam lama.
“Aku tidak tahu seluruh alasannya. Tetapi aku pernah mendengar ibumu mengatakan bahwa dia tidak ingin orang lain mengetahui masalah keluarganya.”
“Masalah apa?”
Dia menarik napas panjang.
“Ada satu hal yang tidak pernah sempat kusampaikan kepadamu.”
Aku menggenggam sisi ranjang.
Ratih menjelaskan bahwa beberapa minggu sebelum kecelakaan itu, dia pernah melihat ayahku bertengkar dengan ibuku mengenai uang. Ayahku ingin menjual rumah, sedangkan ibuku menolak karena rumah tersebut diwariskan oleh orang tuanya.
Setelah kecelakaan itu, Ratih juga mendengar kabar bahwa ibuku ingin mengirimku tinggal bersama seorang kerabat di luar kota.
Namun, rencana tersebut tidak pernah terlaksana.
“Aku tidak bisa memastikan apakah pertengkaran itu berkaitan dengan kecelakaanmu,” katanya. “Aku tidak ingin membuat tuduhan yang tidak bisa kubuktikan.”
Aku menghargai kejujurannya.
Selama ini, aku terbiasa mengisi kekosongan ingatanku dengan kesimpulan yang paling mudah. Sekarang aku mulai memahami bahwa tidak semua pertanyaan akan memiliki jawaban yang memuaskan.
Sebelum panggilan berakhir, Ratih mengatakan sesuatu yang membuatku menangis untuk pertama kalinya tanpa berusaha menyembunyikannya.
“Kamu mungkin tidak mengingatnya, tetapi ketika aku datang ke rumah sakit, kamu bertanya apakah seseorang akan menunggumu saat pulang.”
Aku menutup mata.
“Apa yang Ibu jawab?”
“Aku bilang aku akan menunggu.”
Dia tersenyum sedih.
“Sayangnya, ibumu tidak mengizinkanku menjemputmu. Aku tidak bisa berbuat banyak saat itu. Aku masih menyesalinya.”
Aku menangis cukup lama setelah panggilan berakhir.
Bukan karena aku akhirnya mengetahui semua jawaban, melainkan karena aku baru menyadari bahwa pada usia tujuh tahun, aku sebenarnya pernah meminta sesuatu yang sederhana.
Seseorang untuk menungguku.
Dan selama bertahun-tahun, aku telah berhenti meminta hal itu kepada siapa pun.
Beberapa minggu kemudian, aku kembali bertugas dengan pembatasan pekerjaan yang disetujui dokter. Aku belum diperbolehkan mengikuti operasi lapangan, sehingga untuk sementara aku kembali menangani analisis dari ruang komando.
Pada suatu sore, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Aku hampir mengabaikannya.
Namun, entah mengapa, aku mengangkat telepon.
“Ini Ibu.”
Suara itu masih sama.
Aku tidak menjawab.
“Ibu mendengar kamu terluka. Mengapa kamu tidak memberi tahu keluarga?”
Aku menatap layar komputer.
“Dari siapa Ibu mendengarnya?”
“Ada orang yang menelepon. Katanya kamu dirawat di rumah sakit.”
Aku menunggu.
Beberapa detik kemudian, pertanyaan yang sudah kuduga akhirnya muncul.
“Apakah kamu masih memiliki tabungan? Ibu sedang mengalami kesulitan keuangan. Ayahmu juga tidak bisa banyak membantu.”
Aku memejamkan mata.
Dahulu, aku mungkin akan meminta maaf karena tidak menghubunginya lebih dahulu. Aku mungkin akan menawarkan sebagian tabunganku dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun, kali ini aku tidak melakukannya.
“Aku masih memiliki tabungan,” jawabku. “Tetapi aku tidak akan mengirimkannya.”
Di ujung telepon, ibuku terdiam.
“Kamu berbicara seperti itu kepada ibumu sendiri?”
“Aku hanya menjawab pertanyaan Ibu.”
“Kamu sudah berubah.”
Aku memandang pantulan wajahku di layar yang gelap.
“Mungkin. Aku mulai belajar bahwa aku juga boleh menjaga diriku sendiri.”
Ibuku menghela napas keras.
“Kami tetap keluargamu.”
Kalimat itu dahulu selalu membuatku merasa bersalah. Sekarang, aku hanya merasakan kesedihan yang tenang.
“Benar. Kalian keluargaku. Tetapi menjadi keluarga tidak berarti seseorang boleh mengabaikanku ketika aku membutuhkan pertolongan, lalu mengingatku ketika membutuhkan uang.”
Dia tidak menjawab.
Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang.
“Aku tidak menelepon untuk membalas dendam. Aku juga tidak ingin menyakiti Ibu. Aku hanya tidak bisa terus berpura-pura bahwa semua yang terjadi tidak pernah melukaiku.”
Untuk pertama kalinya, aku mengakhiri percakapan tanpa menunggu ibuku memberikan izin.
Tanganku gemetar setelah telepon terputus.
Namun, kali ini aku tidak menyembunyikannya.
Ketika Ghost memasuki ruang komando beberapa menit kemudian, dia melihatku duduk diam dengan kedua tangan di atas meja.
“Ada masalah?”
Aku menggeleng, lalu mengoreksi diri sendiri.
“Ada. Tapi aku bisa menghadapinya.”
Ghost mengangguk.
“Baik. Kalau kamu membutuhkan bantuan, kami ada di sini.”
Aku menatapnya.
Biasanya aku akan menjawab bahwa aku tidak membutuhkan siapa pun. Kalimat itu sudah menjadi perlindungan yang kugunakan selama hampir seluruh hidupku.
Namun, aku mulai menyadari bahwa perlindungan juga bisa berubah menjadi penjara.
“Terima kasih,” kataku. “Aku akan mengingatnya.”
Malam itu, setelah semua orang meninggalkan ruang komando, aku membuka sebuah dokumen baru di tabletku. Aku mulai menulis tentang malam ketika aku jatuh dari balkon, tentang semak-semak yang dingin, tentang rumah yang lampunya masih menyala, dan tentang seorang anak kecil yang terlalu takut untuk memanggil orang tuanya sendiri.
Aku tidak menulis untuk menuduh siapa pun.
Aku menulis agar diriku yang berusia tujuh tahun akhirnya memiliki kesempatan untuk menceritakan apa yang terjadi.
Di bagian terakhir, aku menulis satu kalimat.
Dahulu aku mengira menjadi kuat berarti mampu menanggung semuanya sendirian. Sekarang aku tahu, kekuatan juga berarti berani mengatakan bahwa kita terluka, berani meminta pertolongan, dan berani menjauh dari orang-orang yang terus mengajarkan bahwa penderitaan kita tidak penting.
Setelah menyimpan dokumen itu, aku mematikan tablet.
Di luar jendela, malam mulai turun.
Selama bertahun-tahun, malam selalu mengingatkanku pada seorang anak kecil yang terbaring sendirian di semak-semak, menunggu pagi datang karena dia tidak percaya siapa pun akan mencarinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi melihat anak itu sebagai seseorang yang harus terus bertahan.
Aku melihatnya sebagai anak kecil yang seharusnya mendapatkan pertolongan.
Dan aku berjanji kepadanya bahwa mulai sekarang, jika rasa sakit datang lagi, aku tidak akan meninggalkannya sendirian.
