BAGIAN 2
Aku menatap Arga tanpa berkedip. Lelaki yang selama empat tahun kupanggil suami itu berdiri beberapa langkah dariku, tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa sedang berhadapan dengan orang asing.
“Jadi, menurutmu aku yang membuat keributan?” tanyaku pelan.
Arga melirik pipiku yang memerah, lalu memandang Keisya. Bukannya meminta penjelasan, ia justru menghela napas kesal.
“Keisya, apa yang sebenarnya terjadi?”
Keisya segera mengubah ekspresinya. Matanya berkaca-kaca, suaranya melembut, seolah-olah beberapa detik lalu bukan dirinya yang menampar seorang perempuan hamil di depan banyak orang.
“Pak Arga, saya hanya mencoba menegakkan aturan. Bu Nadira marah karena permohonan cutinya ditolak. Dia mengancam akan menghentikan proyek Merapi dan membuat keributan di sini.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Bukan hanya berani berbohong, dia bahkan cukup cerdas untuk membungkus kebohongan dengan kata-kata profesional.
Arga mengalihkan pandangan kepadaku.
“Nadira, kamu tahu proyek ini sedang dalam tahap penting. Kenapa kamu tidak bisa bersikap lebih dewasa?”
Tanganku tanpa sadar menyentuh perutku yang besar. Bayiku bergerak pelan, seolah ikut merasakan kegelisahan ibunya.
“Aku sudah mengajukan cuti sebelas kali,” jawabku. “Aku membawa surat dokter. Aku menyerahkan seluruh pekerjaanku untuk dialihkan kepada staf lain. Apa lagi yang harus kulakukan?”
“Seharusnya kamu membicarakan ini denganku di rumah.”
“Aku sudah membicarakannya. Kamu bilang akan mengurusnya.”
Arga terdiam sesaat.
Aku melanjutkan, “Tapi setiap malam kamu pulang, mencium keningku, lalu bertanya apakah aku sudah menyiapkan makan malam. Sementara di kantor, sekretarismu menolak hak cutiku sebelas kali.”
Wajah Arga mengeras.
“Jangan mempermalukanku di depan karyawan.”
Kalimat itu akhirnya menghancurkan sisa harapanku.
Bukan tamparan Keisya. Bukan penolakan cuti. Bahkan bukan rasa sakit yang kurasakan setiap kali bayiku bergerak setelah seharian duduk di kursi kantor.
Melainkan kenyataan bahwa suamiku lebih takut kehilangan wibawa daripada melihat istrinya diperlakukan tidak manusiawi.
Aku mengangguk perlahan.
“Baik, Pak Arga.”

Ia tampak terkejut mendengar panggilan itu.
Biasanya aku memanggilnya Mas Arga, bahkan ketika kami berada di kantor. Namun sejak awal, dia sendiri yang memintaku berpura-pura tidak mengenalnya. Hari ini, aku memutuskan untuk menghormati keinginannya sampai akhir.
Aku menoleh kepada seluruh pegawai yang menyaksikan kejadian itu.
“Mohon maaf karena mengganggu pekerjaan kalian. Saya tidak akan membuat keributan lagi.”
Kemudian aku menatap Keisya.
“Mulai sekarang, semua urusan perusahaan akan diselesaikan melalui jalur resmi.”
Aku berbalik dan berjalan menuju lift.
Belum sampai tiga langkah, rasa nyeri mendadak menjalar dari pinggang ke perutku. Aku berhenti, menggenggam dinding, lalu menarik napas panjang.
“Nadira!” seru seorang pegawai perempuan.
Lututku melemah.
Sebelum tubuhku jatuh, dua orang staf bergegas menopangku.
“Panggil ambulans!” seseorang berteriak.
Arga berlari menghampiriku. Untuk sesaat, kepanikan menghapus kesombongan dari wajahnya.
“Nadira, lihat aku. Kamu kenapa?”
Aku mencengkeram lengannya ketika kontraksi berikutnya datang.
“Bayinya…”
Suaraku nyaris tidak terdengar.
Arga langsung mengangkatku dan berlari menuju lift. Keisya mengikuti dari belakang, wajahnya pucat.
Namun ketika kami tiba di lobi, aku menahan tangan Arga.
“Jangan biarkan dia ikut.”
“Nadira, sekarang bukan waktunya membahas masalah kantor.”
“Dia menamparku dua kali di depan semua orang. Kamu melihatnya, tetapi kamu malah menyalahkanku.”
Arga terdiam.
Aku menatapnya dengan air mata yang akhirnya jatuh.
“Kalau kamu masih menganggapku istrimu, buktikan bahwa keselamatan kami lebih penting daripada sekretarismu.”
Arga tidak menjawab. Ia hanya menggendongku masuk ke mobil yang sudah disiapkan staf.
Di rumah sakit, dokter segera membawaku ke ruang persalinan. Arga menunggu di luar dengan wajah pucat, mondar-mandir tanpa henti.
Beberapa jam kemudian, tangisan bayi laki-laki memenuhi ruangan.
Putraku lahir dengan selamat.
Ketika perawat meletakkannya di dadaku, aku menangis tanpa suara. Jemari mungilnya menggenggam jariku, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa menemukan alasan untuk benar-benar berani.
Arga masuk beberapa menit kemudian.
Matanya merah. Ia mendekati tempat tidur dan memandang putra kami dengan senyum gemetar.
“Dia mirip aku,” bisiknya.
Aku tidak menjawab.
“Nadira, maafkan aku. Aku kehilangan kendali tadi. Aku janji akan memperbaiki semuanya.”
Aku memandangnya lama.
“Mas, apakah kamu ingat alasan aku mau bekerja sebagai staf biasa?”
Arga mengangguk ragu.
“Kamu ingin belajar dari bawah dan mengenal perusahaan tanpa perlakuan khusus.”
“Benar. Aku ingin tahu apakah perusahaan yang kita bangun benar-benar menghargai orang yang bekerja di dalamnya. Aku ingin melihat apakah seorang pegawai biasa bisa mendapatkan haknya tanpa harus mengenal pemilik perusahaan.”
Aku menunduk, mengusap pipi putraku.
“Ternyata aku bahkan tidak bisa mendapatkan cuti melahirkan tanpa harus ditampar sekretarismu.”
Arga menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku akan memecat Keisya besok pagi.”
“Bukan itu yang paling penting.”
“Lalu apa?”
“Kenapa kamu membiarkan dia mengambil keputusan yang seharusnya menjadi tanggung jawab HR? Kenapa sebelas permohonanku tidak pernah membuatmu curiga? Dan kenapa, setelah melihatku ditampar, kamu masih menganggap akulah yang mempermalukanmu?”
Ia tidak mampu menjawab satu pun pertanyaanku.
Malam itu, setelah Arga pulang sebentar untuk mengambil pakaian, aku menerima panggilan dari Pak Surya, komisaris utama perusahaan.
“Nadira, bagaimana keadaanmu dan bayinya?”
“Kami baik-baik saja, Pak.”
“Syukurlah. Aku sudah menerima laporan awal mengenai kejadian di kantor. Rekaman CCTV juga sudah diamankan. Dewan komisaris akan mengadakan rapat luar biasa besok pagi.”
Aku memejamkan mata.
“Terima kasih, Pak. Saya tidak ingin mengambil keputusan saat masih emosi. Saya hanya ingin semuanya diperiksa secara objektif.”
“Justru itu alasan kami membutuhkanmu. Ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang proyek Merapi.”
Aku menegakkan tubuh.
“Ada apa dengan proyek itu?”
Pak Surya terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Tim audit menemukan pembayaran kepada tiga perusahaan vendor yang tidak pernah menyelesaikan pekerjaan. Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah. Persetujuan pembayaran menggunakan tanda tangan digital CEO, tetapi ada indikasi dokumen tersebut dimanipulasi.”
Darahku terasa dingin.
“Apakah Mas Arga mengetahuinya?”
“Kami belum bisa memastikan. Ada pula dokumen internal yang menunjukkan bahwa Keisya memiliki akses ke sistem persetujuan pembayaran di luar kewenangannya.”
Aku memandang putraku yang sedang tidur.
Tiba-tiba, sebelas penolakan cuti itu terasa bukan lagi sekadar tindakan sewenang-wenang.
Mungkin ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di perusahaan.
Keesokan paginya, rapat komisaris berlangsung di lantai dua puluh delapan. Aku menghadirinya melalui sambungan video dari kamar rumah sakit. Di sebelahku, seorang perawat sesekali memeriksa kondisi bayiku.
Arga duduk di kursi CEO. Keisya berdiri di belakangnya dengan wajah tegang.
Ketika Pak Surya membuka rapat, ia menampilkan struktur kepemilikan perusahaan di layar.
“Sebagai pengingat, Pratama Digital Nusantara didirikan dengan modal awal dari beberapa investor. Saat ini, pemegang saham terbesar melalui Maheswari Capital memiliki empat puluh satu persen saham perusahaan.”
Beberapa direktur mengangguk.
Keisya terlihat kebingungan.
Arga menunduk.
Pak Surya melanjutkan, “Pemilik manfaat akhir Maheswari Capital adalah Ibu Nadira Maheswari, yang selama empat tahun terakhir memilih bekerja sebagai staf operasional tanpa menggunakan hak istimewanya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Keisya menatap layar seolah-olah baru saja melihat hantu.
“Tidak mungkin,” bisiknya.
Aku mengaktifkan mikrofon.
“Selamat pagi, semuanya.”
Tak seorang pun menjawab.
“Aku tidak menghadiri rapat ini untuk mempermalukan siapa pun. Aku juga tidak akan menggunakan kepemilikan sahamku untuk membalas tamparan yang kuterima. Aku ingin perusahaan ini tetap berdiri, tetapi tidak dengan mengorbankan keselamatan karyawan dan integritas keuangan.”
Aku meminta tim audit menyampaikan temuan awal. Rekaman CCTV kemudian diputar, memperlihatkan Keisya menamparku dua kali dan Arga berdiri tanpa memberikan perlindungan.
Wajah Keisya memucat.
“Pak Arga, saya bisa menjelaskan,” katanya tergesa-gesa. “Saya melakukan semua itu demi proyek. Saya hanya menjalankan instruksi.”
Arga mengangkat kepala.
“Instruksi siapa?”
Keisya terdiam.
Pak Surya lalu menampilkan dokumen lain. Beberapa pembayaran mencurigakan tercatat telah disetujui melalui akun administrasi eksekutif yang dikelola Keisya. Namun jejak akses menunjukkan bahwa sebagian transaksi dilakukan menggunakan perangkat pribadi milik Arga.
Aku merasakan dadaku menegang.
“Mas Arga,” kataku, “aku ingin mendengar penjelasanmu.”
Arga memandang layar dengan wajah pucat.
“Aku tidak pernah menyetujui pembayaran itu.”
“Kalau begitu, mengapa aksesmu digunakan?”
“Aku tidak tahu.”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar takut.
Tim audit meminta agar semua akses dibekukan sementara dan penyelidikan independen dilakukan. Dewan komisaris menyetujuinya. Keisya dinonaktifkan dari tugasnya sampai pemeriksaan selesai, sementara Arga diminta menyerahkan kewenangan persetujuan keuangan untuk sementara.
Rapat hampir berakhir ketika seorang staf audit menyampaikan temuan terakhir.
Ada satu dokumen yang dikirim ke sistem internal tiga hari sebelum penolakan cutiku yang kesebelas.
Dokumen itu berupa rancangan pengalihan hak paten sistem logistik Merapi kepada perusahaan vendor yang sedang diselidiki.
Pada bagian bawahnya terdapat tanda tangan digital atas namaku.
Aku membeku.
“Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.”
Pak Surya mengangguk serius.
“Itulah sebabnya kami akan meminta pemeriksaan forensik digital.”
Arga menatap layar dengan mata melebar.
“Nadira, kamu pernah memberikan akses sertifikat digitalmu kepada siapa pun?”
Aku menggeleng.
Lalu aku teringat sesuatu.
Empat bulan sebelumnya, Arga pernah memintaku menandatangani sejumlah dokumen elektronik untuk pembaruan sistem perusahaan. Ia mengatakan dokumen itu hanya berkaitan dengan administrasi proyek.
Aku belum sempat memeriksa semuanya karena saat itu aku sedang mengurus persiapan kelahiran.
Aku menatap Arga.
“Dokumen apa yang kamu berikan kepadaku waktu itu?”
Ia tidak segera menjawab.
Keheningan itu terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.
Rapat ditunda sampai hasil pemeriksaan forensik keluar. Dalam beberapa hari berikutnya, penyelidikan menemukan bahwa sebagian dokumen telah dibuat menggunakan kredensial yang tersimpan pada perangkat bersama di ruang eksekutif. Belum ada bukti yang cukup untuk memastikan siapa yang menggunakannya, tetapi dugaan pengalihan paten membuat perkara itu semakin serius.
Aku memilih tidak menuduh siapa pun sebelum semua fakta terungkap.
Sementara itu, Arga datang ke rumah sakit setiap hari. Ia mengganti popok putra kami, belajar menggendongnya, dan meminta maaf berkali-kali. Namun aku tidak lagi bisa mengukur cinta hanya dari air mata dan janji.
Seminggu setelah persalinan, aku mengajukan pemisahan kewenangan profesional antara diriku dan Arga. Aku juga meminta konsultan independen mengevaluasi tata kelola perusahaan. Semua keputusan dilakukan melalui mekanisme resmi, bukan atas dasar amarah.
Arga akhirnya menyetujui pemeriksaan penuh.
Pada malam sebelum aku pulang dari rumah sakit, ia duduk di samping tempat tidur sambil memandang putra kami.
“Aku tahu kamu belum bisa memaafkanku,” katanya. “Tapi aku ingin memperbaiki semuanya.”
Aku menatap wajahnya yang tampak jauh lebih tua dibandingkan seminggu sebelumnya.
“Kepercayaan tidak kembali hanya karena seseorang menyesal, Mas. Kepercayaan kembali ketika dia berani mengatakan kebenaran, bahkan jika kebenaran itu menghancurkan citranya sendiri.”
Ia mengangguk, lalu menunduk.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan membuktikan adanya manipulasi dokumen dan pelanggaran prosedur dalam proyek Merapi. Keisya dan sejumlah pihak terkait harus menghadapi proses hukum sesuai bukti yang ditemukan. Arga tidak terbukti sebagai pelaku utama pengalihan paten, tetapi ia tetap dinilai lalai karena memberikan akses dan kewenangan tanpa pengawasan yang memadai.
Ia mengundurkan diri sementara dari jabatan CEO dan mengikuti evaluasi tata kelola yang diwajibkan dewan komisaris.
Aku tidak kembali ke kubikel dekat mesin fotokopi.
Namun aku juga tidak mengambil alih perusahaan untuk duduk di kursi CEO hanya demi membuktikan bahwa aku lebih berkuasa daripada suamiku.
Aku membentuk tim independen untuk memperbaiki sistem pengaduan karyawan, melindungi hak cuti melahirkan, dan memastikan tidak ada sekretaris, manajer, atau direktur yang dapat menghalangi hak dasar pegawai tanpa alasan yang sah.
Di hari pertama kebijakan baru diumumkan, seorang pegawai muda datang menemuiku. Ia sedang hamil lima bulan dan takut mengajukan cuti karena atasannya sering mengancam akan menurunkan penilaian kinerjanya.
Aku menggenggam tangannya.
“Kamu tidak perlu menjadi pemilik perusahaan untuk berhak diperlakukan dengan hormat,” kataku. “Kamu hanya perlu menjadi manusia.”
Malamnya, Arga datang ke rumah membawa sebuah amplop. Di dalamnya ada surat yang menyatakan bahwa ia bersedia menjalani konseling pernikahan dan menerima keputusanku, apa pun hasilnya.
“Aku tidak meminta kamu kembali mencintaiku hari ini,” katanya. “Aku hanya ingin belajar menjadi orang yang seharusnya kamu percayai sejak awal.”
Aku memandang putra kami yang tertidur di boks kecil dekat jendela.
Aku belum tahu apakah pernikahan kami bisa diselamatkan. Ada luka yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih, dan ada kepercayaan yang mungkin tidak pernah kembali sepenuhnya.
Namun aku tahu satu hal.
Hari ketika Keisya menamparku bukanlah hari ketika aku kehilangan harga diriku.
Itulah hari ketika aku berhenti mengorbankan harga diriku demi mempertahankan sebuah rahasia.
Dan ketika putraku menggenggam jariku dengan tangan mungilnya, aku berjanji dalam hati bahwa ia akan tumbuh di dunia yang mengajarkannya satu kebenaran sederhana.
Jabatan dapat membuat seseorang dihormati, uang dapat membuat seseorang berkuasa, tetapi hanya keberanian untuk bertanggung jawab yang membuat seseorang benar-benar layak dipercaya.
