Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang perjamuan mewah itu. Tawa para pengusaha kaya terdengar seperti suara gagak yang mematuk bangkai di tengah sunyinya malam. Mia gemetar, wajahnya pucat pasi, air matanya jatuh tak terbendung di atas piring porselen yang mahal.
Lucas berdiri tegak. Ia tidak marah. Wajahnya tetap datar, seolah-olah ia adalah pengamat di tengah pertunjukan sirkus yang konyol. Ia menatap Don Roberto—pria yang selama tiga tahun ini menganggapnya sebagai debu di bawah sepatu mahalnya.
“Tentu, Roberto,” jawab Lucas tenang. “Jika itu yang membuatmu puas, aku akan pergi ke sana.”

Tanpa mempedulikan tatapan menghina, Lucas berbalik dan melangkah perlahan menuju sudut ruangan, tempat meja kayu kecil milik para pelayan berada. Ia duduk di kursi kayu yang keras, di antara tumpukan piring kotor yang belum sempat dibersihkan.
“Lihat itu,” bisik seorang taipan properti kepada rekannya. “Bahkan anjing peliharaan pun punya harga diri lebih tinggi darinya.”
Don Roberto tertawa puas, menuangkan sampanye ke gelas kristalnya. “Sekarang perjamuan ini bisa dimulai dengan pantas. Kita tunggu Walikota Enriquez. Sekali ia memberikan tanda tangannya, keluarga Montenegro akan menguasai separuh kota ini!”
Tepat saat itu, pintu aula besar terbuka lebar. Suasana mendadak hening. Semua orang berdiri, merapikan setelan jas mereka dengan cemas. Walikota Enriquez melangkah masuk, dikawal oleh ajudan pribadinya. Namun, wajah sang Walikota tampak pucat, dahinya berkeringat dingin, seolah-olah ia baru saja melihat hantu.
Don Roberto menyambut dengan senyum paling lebar yang bisa ia buat. “Walikota Enriquez! Sebuah kehormatan besar Anda—”
Walikota tidak mempedulikan jabat tangan Don Roberto yang terulur. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok tertentu. Jantung Don Roberto berdegup kencang karena bangga, berpikir bahwa sang Walikota pasti sedang mencari kursi kehormatan di sampingnya.
Namun, langkah Walikota tiba-tiba terhenti. Ia tidak menuju meja VIP. Ia berjalan melewati semua orang penting, melewati para taipan, dan berjalan lurus menuju sudut ruangan yang gelap dan berbau sisa makanan.
Don Roberto kebingungan. “Walikota? Anda salah arah. Meja kehormatan ada di—”
Bruk!
Seluruh ruangan ternganga. Walikota Enriquez jatuh berlutut di depan meja pelayan, di depan Lucas yang masih santai memakan sepotong roti kering. Para tamu hampir pingsan karena syok.
“Chairman… mohon ampunkan keterlambatan saya,” suara Walikota bergetar hebat. “Saya baru saja mendarat dari luar negeri dan langsung datang ke sini karena menerima laporan bahwa ada… gangguan kecil di properti milik Apex Global Consortium.”
“Chairman?” bisik seorang miliarder. “Siapa… siapa yang dia panggil?”
Lucas meletakkan rotinya. Ia menatap Walikota dengan pandangan dingin yang membuat pria nomor satu di kota itu gemetar. “Walikota Enriquez, apakah kau tahu kenapa aku berada di sini?”
“S-saya tidak tahu, Chairman,” jawab Walikota dengan kepala tertunduk.
Lucas berdiri, lalu menunjuk ke arah meja VIP di mana Don Roberto masih membeku seperti patung. “Tuan rumah ini menganggapku sebagai pelayan. Bahkan, dia memaksaku untuk makan di sini agar tidak ‘mencemari’ pemandangan para tamu terhormatnya.”
Darah di wajah Don Roberto menguap. Ia jatuh terduduk di kursinya, kakinya lemas tak bertenaga.
Walikota bangkit berdiri, wajahnya merah padam karena amarah. Ia menoleh ke arah Don Roberto dengan tatapan mematikan. “Roberto… kau gila? Kau memperlakukan pemilik sebenarnya dari kota ini, pemilik Apex Global Consortium, seperti sampah?!”
Suasana hening total. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti lonceng kematian bagi keluarga Montenegro.
“Apa… apa maksudmu?” Don Roberto terbata-bata. “Dia… dia hanya pengangguran! Dia menantu yang menumpang hidup!”
Lucas berjalan perlahan menuju meja VIP. Setiap langkahnya terasa seperti gempa bumi bagi para tamu yang tadi menertawakannya. Ia berhenti tepat di depan Don Roberto.
“Roberto,” suara Lucas dingin namun tajam seperti silet. “Perusahaanmu, Montenegro Enterprise, saat ini sedang berada di ambang kebangkrutan, bukan? Kau membutuhkan kontrak dari Walikota untuk menyelamatkannya. Sayangnya, bank-bank yang membiayaimu itu… semuanya adalah anak perusahaan dari Apex Global Consortium.”
Lucas menatap sekeliling ruangan. “Malam ini, aku tidak hanya datang sebagai menantu. Aku datang sebagai pembeli. Dan sejujurnya, aku memutuskan bahwa perusahaanmu tidak layak untuk dipertahankan.”
Lucas menoleh ke arah Walikota. “Enriquez, batalkan semua proyek dengan keluarga Montenegro. Sita semua aset mereka atas nama utang yang gagal bayar. Aku ingin mansion ini dikosongkan dalam waktu 24 jam.”
“Baik, Chairman! Segera!” Walikota memberikan perintah kepada ajudannya untuk memanggil tim hukum.
Don Roberto menjerit, mencoba meraih kaki Lucas, namun dijauhkan oleh pengawal Walikota. “Lucas! Menantuku! Tolong, aku salah! Mia, katakan sesuatu pada suamimu!”
Mia, yang sejak tadi terdiam, akhirnya mendekat. Ia menatap ayahnya dengan rasa sakit yang mendalam, bukan karena kemiskinan yang akan menimpa, tapi karena kebodohan ayahnya sendiri.
“Papa,” bisik Mia. “Selama tiga tahun ini, Lucas selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk Papa. Tapi Papa selalu membuangnya. Ini adalah akibat dari kesombongan Papa sendiri.”
Lucas menggandeng tangan Mia dan berjalan meninggalkan aula. Saat mereka melewati pintu, Lucas berhenti sejenak dan menoleh ke arah para pengusaha yang tadi tertawa.
“Oh, satu lagi,” ucap Lucas. “Daftar hitam perusahaan kalian yang tadi ikut menertawakan… akan sampai di meja kalian besok pagi. Nikmati waktu kalian sebagai miliarder selagi bisa.”
Keesokan paginya, berita utama di seluruh media nasional bukan tentang perjamuan malam itu, melainkan tentang runtuhnya imperium keluarga Montenegro dalam satu malam. Don Roberto berakhir sebagai gelandangan, persis seperti apa yang selalu ia katakan pada Lucas.
Namun, di sebuah mansion yang jauh lebih megah dan privat, Lucas sedang menikmati sarapan bersama Mia.
“Kau tidak berlebihan, Lucas?” tanya Mia lembut.
Lucas tersenyum, menyodorkan sebuah dokumen ke hadapan Mia. “Tidak, sayang. Aku hanya memindahkan asetnya ke namamu. Sekarang, kau bukan lagi putri seorang pengusaha bangkrut. Kau adalah pemegang saham mayoritas dari Apex Global Consortium.”
Mia terpaku. Ia mengira suaminya hanya ingin menghukum ayahnya, namun ternyata, Lucas telah mempersiapkan masa depan yang jauh lebih besar untuknya sejak hari pertama mereka menikah.
Ternyata, rahasia terbesar Lucas bukanlah kekayaannya, melainkan cintanya yang tak terbatas pada Mia—cinta yang mampu mengubah dunia, sekaligus menghancurkan siapa pun yang mencoba menyakitinya. Dan di kota itu, sejak hari itu, tidak ada lagi yang berani meremehkan seorang pria, tidak peduli seberapa lusuh pakaian yang ia kenakan.
