TIGA HARI SETELAH AKAD, SUAMIKU TERBANG KE BELITUNG BERSAMA SEKRETARISNYA; SAAT FOTO KAMAR MEREKA TIBA, AKU MEMILIH MENGIRIM SURAT CERAI.

Aku menatap Selvi tanpa berkedip. Untuk sesaat, suara langkah kaki dan percakapan di lorong rumah sakit seolah menghilang. Yang tersisa hanya kalimatnya yang terus terngiang di kepalaku.

Pak Damar sudah bilang kepada bagian hukum bahwa semua perintah itu datang dariku.

Aku menarik napas panjang, berusaha menahan amarah.

“Kalau kamu yakin dokumen itu asli, kenapa kamu repot-repot menunjukkan ini kepadaku?”

Senyum Selvi sedikit memudar.

“Aku hanya ingin Mbak tahu akibat dari keputusan Mbak meninggalkan Pak Damar. Seharusnya Mbak tetap di rumah dan tidak memperumit masalah perusahaan.”

“Jadi, menurutmu, kecelakaan Pak Harun adalah akibat aku meninggalkan suamiku?”

Selvi mengangkat bahu. “Aku tidak bilang begitu. Aku hanya mengingatkan bahwa nama Mbak tercantum di dokumen itu.”

Aku menatap layar ponselnya sekali lagi. Tanda tangan di sana memang menyerupai tanda tanganku, tetapi ada sesuatu yang janggal pada bentuk huruf terakhir.

Aku pernah menggunakan tanda tangan itu untuk dokumen perusahaan bertahun-tahun lalu. Sejak saat itu, aku telah mengubahnya.

Seseorang telah mengambil tanda tangan lamaku.

“Terima kasih sudah menunjukkan dokumen ini,” kataku tenang. “Sekarang, aku tahu harus mulai mencari dari mana.”

Wajah Selvi berubah.

“Mbak jangan mengancam aku.”

“Aku tidak mengancam siapa pun. Aku hanya ingin tahu siapa yang membuat Pak Harun mengalami kecelakaan.”

Aku melangkah melewatinya dan masuk ke ruang perawatan.

Pak Harun terbaring dengan kaki dibalut gips. Wajahnya pucat, tetapi dia tetap berusaha tersenyum ketika melihatku.

“Maaf, Bu Kirana. Saya malah merepotkan.”

Aku duduk di samping ranjangnya.

“Bapak tidak perlu minta maaf. Saya yang seharusnya meminta maaf karena baru tahu keadaan Bapak sekarang.”

Bu Ningsih mengusap matanya. Menurutnya, Pak Harun mengalami kecelakaan saat mengantar barang ke sebuah gudang di Bekasi. Dia menerima perintah mendadak untuk mengirimkan barang malam itu juga, meskipun kendaraan yang digunakan sebenarnya sudah dijadwalkan menjalani pemeriksaan.

“Katanya perintah itu dari Ibu,” ujar Bu Ningsih lirih. “Tapi saya tahu Ibu tidak pernah datang ke kantor sejak merawat ayah Ibu.”

Aku menggenggam tangannya.

“Saya akan mencari tahu kebenarannya. Biaya pengobatan Pak Harun juga akan kita bicarakan. Jangan khawatir dulu.”

Setelah keluar dari ruang perawatan, aku langsung menghubungi Rendra, pengacara yang menangani gugatan ceraiku.

Aku menceritakan semuanya, termasuk surat perintah yang mencatut namaku.

“Jangan menandatangani atau mengakui apa pun dulu,” katanya. “Kita perlu mendapatkan salinan dokumen resmi, riwayat persetujuannya, dan bukti siapa yang mengeluarkannya. Kalau tanda tangan itu dipalsukan, kita harus membuktikannya melalui pemeriksaan yang tepat.”

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Damar, aku merasa masalah ini jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Keesokan paginya, Rendra membantuku mengirimkan permintaan resmi kepada perusahaan untuk mengamankan dokumen pengiriman, catatan persetujuan digital, dan rekaman komunikasi terkait kecelakaan Pak Harun.

Aku juga menghubungi mantan asistanku, Maya, yang masih bekerja di bagian administrasi.

Awalnya dia menolak berbicara melalui telepon.

“Bu, maaf. Saya takut salah bicara. Sekarang semua orang sedang membicarakan Ibu.”

“Maya, aku tidak meminta kamu membela siapa pun. Aku hanya ingin tahu apakah ada sesuatu yang tidak beres.”

Hening cukup lama sebelum akhirnya dia menjawab.

“Bu, tiga minggu sebelum kecelakaan Pak Harun, ada permintaan dari bagian keuangan untuk membuka kembali arsip lama. Mereka mencari dokumen yang pernah Ibu tandatangani.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Siapa yang meminta?”

“Pak Damar. Tapi saya tidak tahu untuk apa.”

Aku memejamkan mata.

Damar tidak sekadar membiarkan namaku digunakan. Ada kemungkinan dia sengaja mencari tanda tanganku yang lama.

Namun, aku belum memiliki bukti yang cukup untuk menuduhnya.

Dua hari kemudian, Rendra berhasil mendapatkan salinan surat perintah pengiriman melalui jalur resmi perusahaan. Kami juga memperoleh catatan persetujuan dari sistem internal.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa dokumen tersebut dibuat menggunakan akun administrator yang tidak biasa dipakai untuk mengeluarkan perintah pengiriman. Sementara itu, tanda tangan yang tertera merupakan gambar digital dari arsip lama, bukan tanda tangan yang dibubuhkan untuk transaksi tersebut.

Itu belum cukup untuk menentukan siapa pelakunya, tetapi cukup untuk membantah tuduhan bahwa aku secara langsung memberikan perintah.

Rendra meminta seorang ahli memeriksa dokumen tersebut dan menyarankan agar kami menyerahkan temuan itu kepada pihak berwenang jika diperlukan.

Sementara proses berjalan, Damar akhirnya meneleponku.

“Kirana, aku dengar kamu mulai menghubungi orang-orang kantor.”

“Karena namaku digunakan untuk menutupi sesuatu yang tidak pernah kulakukan.”

Dia menghela napas kesal.

“Kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi di perusahaan. Jangan membuat masalah ini semakin besar.”

“Kalau begitu, jelaskan kepadaku siapa yang membuat surat perintah itu.”

“Bagian administrasi bisa saja salah memasukkan data.”

“Lalu kenapa kamu mengatakan kepada bagian hukum bahwa aku yang memerintahkannya?”

Dia terdiam.

Aku menunggu, tetapi tidak ada jawaban.

“Damar, aku tidak akan menanggung kesalahan orang lain hanya karena aku pernah menjadi istrimu.”

“Kamu benar-benar sudah berubah,” katanya dingin.

“Tidak. Aku hanya berhenti membiarkan kamu menentukan apa yang harus kuterima.”

Aku memutuskan sambungan.

Tiga hari kemudian, perusahaan mengadakan rapat khusus setelah Rendra menyampaikan keberatan resmi atas penggunaan namaku. Aku datang bukan sebagai istri Damar, melainkan sebagai pemegang saham yang berhak mengetahui apa yang terjadi.

Ketika memasuki ruang rapat, aku melihat Damar duduk di ujung meja. Selvi berada di sampingnya, mengenakan pakaian rapi dengan wajah yang tampak tenang.

Damar menatapku tajam.

“Aku tidak menyangka kamu akan datang.”

“Aku juga tidak menyangka harus datang untuk membersihkan namaku sendiri.”

Direktur keuangan membuka rapat dengan menjelaskan bahwa perusahaan sedang melakukan pemeriksaan internal atas dokumen pengiriman dan penggunaan akun administrator.

Selvi terlihat mulai gelisah ketika layar menampilkan catatan akses sistem.

Akun yang digunakan untuk membuat surat perintah itu terhubung dengan perangkat kantor yang selama ini berada di bawah pengawasannya.

Namun, Damar segera menyela.

“Akses perangkat itu digunakan bersama. Kita tidak bisa menyimpulkan apa pun hanya dari catatan tersebut.”

“Benar,” jawab Rendra. “Karena itu, kami tidak akan menyimpulkan siapa pelakunya sebelum pemeriksaan selesai.”

Kemudian Maya, yang hadir sebagai saksi administrasi, menjelaskan bagaimana arsip tanda tanganku diminta untuk dibuka kembali beberapa minggu sebelum kecelakaan.

Selvi langsung berdiri.

“Itu bukan salah saya! Saya hanya mengikuti instruksi!”

Ruangan mendadak sunyi.

Damar menoleh kepadanya.

“Selvi, duduk.”

Tetapi Selvi sudah kehilangan kendali.

“Bapak sendiri yang menyuruh saya mencari tanda tangan lama Bu Kirana! Bapak bilang semua orang akan percaya karena beliau dulu mengurus dokumen perusahaan!”

Wajah Damar memucat.

Aku tidak bergerak. Selama tujuh tahun, aku pernah membela lelaki itu di hadapan investor, meyakinkan pemasok agar tetap bekerja sama, dan mempertaruhkan tabunganku ketika perusahaannya hampir bangkrut.

Kini, di hadapanku, dia bahkan tidak mampu membantah perkataan sekretarisnya sendiri.

“Selvi,” katanya dengan suara tertahan, “kamu sedang panik. Jangan bicara sembarangan.”

Selvi tertawa getir.

“Sekarang Bapak menyalahkan saya? Waktu di Belitung, Bapak bilang setelah urusan perceraian selesai, semua aset yang atas nama Bu Kirana akan lebih mudah Bapak kendalikan. Bapak juga yang bilang saya tidak perlu takut karena semua orang akan mengira saya hanya menjalankan perintah.”

Aku merasa dadaku sesak, bukan karena terkejut mengetahui mereka memiliki hubungan, melainkan karena akhirnya memahami betapa jauh Damar bersedia melangkah demi kepentingannya sendiri.

Ternyata perjalanan ke Belitung bukan sekadar penghinaan terhadapku. Namun, aku belum tahu apakah ada kaitannya dengan rencana perusahaan. Aku tidak akan membiarkan dugaan menggantikan bukti.

Rapat dihentikan. Perusahaan membatasi akses akun terkait dan melanjutkan pemeriksaan. Temuan awal beserta dokumen pendukung kemudian diserahkan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti.

Beberapa minggu berlalu. Pak Harun menjalani pemulihan, dan perusahaan menyetujui bantuan biaya pengobatannya sambil menuntaskan tanggung jawab yang masih harus diperiksa.

Namaku tidak lagi dicantumkan sebagai pihak yang memberikan perintah pengiriman tersebut. Pemeriksaan lanjutan tetap berjalan, tetapi bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa aku tidak mengeluarkan surat itu.

Damar mencoba menemuiku sekali lagi di kantor Rendra.

Dia datang tanpa Selvi, tanpa pengawalan, dan tanpa senyum percaya diri yang selalu ditunjukkannya di hadapan orang lain.

“Kirana, aku tahu aku salah.”

Aku menutup berkas di hadapanku.

“Bagian mana yang kamu maksud?”

Dia menunduk.

“Belitung. Selvi. Semua yang terjadi di perusahaan. Aku terlalu jauh melangkah.”

“Kamu tidak kehilangan aku dalam satu perjalanan ke Belitung, Damar. Kamu kehilangan aku setiap kali kamu tahu aku terluka dan memilih mengabaikannya.”

“Aku bisa memperbaiki semuanya.”

“Tidak semua hal bisa diperbaiki dengan meminta maaf.”

Matanya memerah.

“Apa tidak ada kesempatan sedikit pun?”

Aku teringat diriku tujuh tahun lalu, perempuan yang menjual mobil peninggalan ayah demi membantu lelaki yang dicintainya membangun sebuah perusahaan. Aku pernah percaya bahwa kesetiaan berarti bertahan selama apa pun badai berlangsung.

Sekarang aku tahu, kesetiaan tidak berarti menyerahkan harga diri kepada seseorang yang terus melukaimu.

“Aku tidak membencimu,” kataku. “Tapi aku juga tidak ingin kembali menjadi perempuan yang harus memohon agar suaminya menghargainya.”

Damar pergi tanpa berkata-kata lagi.

Proses perceraian kami akhirnya selesai setelah seluruh persyaratan hukum dipenuhi. Pembagian hak atas aset dan saham dilakukan berdasarkan dokumen kepemilikan serta kesepakatan yang disahkan secara resmi. Aku tidak mendapatkan semuanya, tetapi aku juga tidak kehilangan apa yang memang menjadi hakku.

Aku kembali mengerjakan desain produk dari sebuah studio kecil yang kusewa di Jakarta Selatan. Sebagian klien lamaku kembali menghubungiku, dan beberapa di antaranya bahkan tidak tahu bahwa aku pernah berhenti bekerja untuk merawat ayahku.

Suatu sore, aku menerima pesan dari Bu Ningsih. Pak Harun sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat dan ingin mengucapkan terima kasih.

Aku membalas dengan senyum kecil.

Hari itu, di meja kerjaku, tergeletak sebuah amplop dari pengacara. Di dalamnya ada salinan putusan perceraian dan dokumen yang memastikan hak-hakku tetap terlindungi.

Aku menyimpannya di laci, lalu membuka jendela studio.

Angin sore masuk, membawa aroma hujan dari jalanan.

Dulu, aku mengira pernikahan adalah tujuan akhir dari tujuh tahun perjuangan. Aku mengira setelah mengucapkan janji di hadapan keluarga, aku akhirnya akan memiliki rumah yang aman untuk pulang.

Ternyata rumah bukan sekadar tempat seseorang menunggumu kembali.

Rumah adalah tempat kamu tidak perlu mengecilkan dirimu agar orang lain merasa lebih besar.

Ponselku bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan foto vila di Belitung, tempat Damar dan Selvi pernah menginap. Di bawahnya ada satu kalimat singkat.

“Bu Kirana, semoga Ibu tidak menyesal telah pergi.”

Aku membaca pesan itu, lalu menghapusnya tanpa membalas.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu membuktikan bahwa keputusanku benar kepada siapa pun.

Aku mengambil secarik kertas, menuliskan jadwal pekerjaan esok hari, lalu meletakkannya di meja.

Besok, aku akan memulai sesuatu yang baru.

Bukan untuk membuat Damar menyesal.

Bukan untuk menunjukkan kepada Selvi bahwa aku lebih baik darinya.

Melainkan karena setelah bertahun-tahun menghabiskan hidup untuk membangun masa depan orang lain, akhirnya aku berhak membangun masa depanku sendiri.

Dan kali ini, aku tidak akan menyerahkan kunci hidupku kepada siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang