DI MALAM KETIGA SETELAH MENIKAH, AKU MENEMUKAN VIDEO SUAMIKU MENGUKUR TANGGA VILA—LALU MERTUAKU BERBISIK, “PASTIKAN DIA JATUH SEBELUM PAGI.”

Aku tidak pernah membayangkan bahwa malam ketiga pernikahanku akan menjadi malam ketika aku menyadari bahwa suamiku sendiri mungkin sedang merencanakan kematianku.

Namun, ketika nama lengkapku muncul di layar ponsel Rivan sebagai orang yang melaporkan transaksi mencurigakan, aku tahu satu hal. Mereka telah meremehkanku sejak awal.

Dan itu adalah kesalahan terbesar mereka.

Aku masih bersembunyi di balik mobil ketika Rivan mengumpat pelan.

“Bagaimana mungkin rekening itu dibekukan? Siapa yang melaporkannya?” tanyanya kepada seseorang di telepon.

Bu Lilis merebut ponselnya. “Coba hubungi dokter itu. Suruh dia menghapus semua bukti transfer!”

“Tidak bisa, Bu. Kalau bank sudah membekukan rekening, transaksi itu pasti sudah masuk pemeriksaan.”

“Kalau begitu, batalkan rencana besok!”

Rivan menggeleng. “Tidak bisa. Semua dokumen sudah disiapkan. Kalau kita menundanya lagi, dia akan mulai curiga.”

Aku menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara.

Mereka sedang membicarakan hidupku seolah-olah aku hanya sebuah benda yang perlu disingkirkan sebelum seseorang mengetahui harganya.

Tiba-tiba Rivan berhenti berbicara.

“Sebentar.”

Dia menatap mobilnya.

“Aku mencium sesuatu.”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Dia berjalan mengitari mobil, sementara Bu Lilis tetap berdiri di dekat pintu garasi.

Aku meraih ponsel dan mematikan layar. Jika Rivan menemukanku sekarang, aku tidak tahu apakah aku masih memiliki kesempatan untuk keluar dari vila itu hidup-hidup.

Langkahnya semakin dekat.

Kemudian terdengar suara notifikasi dari ponselnya.

Rivan mengeluarkan perangkat itu dan membaca pesan yang masuk. Wajahnya berubah serius.

“Dia mengirim pesan lagi,” katanya.

“Siapa?” tanya Bu Lilis.

“Orang yang selama ini mengganggu rencana kita.”

“Baca!”

Rivan terdiam beberapa detik sebelum menunjukkan layar kepada ibunya.

Aku tidak dapat melihat isi pesan itu dari tempat persembunyianku. Namun, aku mendengar Bu Lilis menarik napas tajam.

“Mustahil. Orang itu seharusnya sudah tidak punya akses ke dokumen tersebut.”

“Sepertinya dia masih memilikinya.”

“Kalau begitu, kita harus menemukannya sebelum besok pagi.”

Mereka meninggalkan garasi dengan tergesa-gesa.

Aku menunggu hingga suara langkah mereka menghilang sebelum keluar dari persembunyian.

Tanganku gemetar saat membuka ponsel. Rekaman percakapan tadi tersimpan dengan baik. Aku segera mengirimkannya ke alamat surel cadangan, lalu memeriksa pesan misterius yang kuterima sebelumnya.

Jangan tanda tangani apa pun besok. Cek map biru di mobil Rivan.

Orang itu mengetahui rencana mereka sebelum aku menemukannya sendiri.

Lebih aneh lagi, dia mengetahui keberadaan map biru yang bahkan tidak pernah kulihat sebelumnya.

Aku mengetik balasan.

Siapa kamu? Bagaimana kamu mengetahui semua ini?

Pesanku terkirim, tetapi tidak ada jawaban.

Aku kembali ke kamar melalui pintu samping. Rivan belum kembali, dan aku menggunakan kesempatan itu untuk mencari sesuatu yang bisa membantuku memahami situasi sebenarnya.

Aku membuka laptop, masuk ke akun surel lama, lalu mencari nama perusahaan yang tercantum dalam dokumen pengampuan.

Perusahaan itu pernah menjadi rekanan bisnis almarhum ibuku.

Namanya PT Arunika Investama.

Aku mengenal nama tersebut karena perusahaan itu dahulu menangani sebagian investasi keluarga kami. Namun, setelah ibuku meninggal dua tahun lalu, seluruh hubungan bisnis itu dihentikan.

Setidaknya, itulah yang kuketahui.

Aku menemukan sebuah artikel lama tentang penyelidikan dugaan penggelapan dana di perusahaan tersebut. Nama direktur utamanya adalah Taufik Tanuwijaya, ayah Rivan.

Aku membaca artikel itu berulang kali.

Pak Taufik pernah diselidiki karena dugaan pemindahan dana investor ke sejumlah rekening perusahaan cangkang. Kasusnya dihentikan sementara karena bukti tidak mencukupi.

Tanggal transaksi yang disebutkan dalam artikel itu membuatku tertegun.

Enam bulan lalu.

Bulan yang sama ketika seseorang melaporkan transaksi mencurigakan dari rekening yang kini digunakan untuk membayar dokter palsu itu.

Aku mulai memahami sesuatu.

Rencana terhadapku bukan hanya tentang warisan ibuku. Ada hubungan antara kekayaan keluargaku, perusahaan ayah Rivan, dan transaksi yang selama ini mereka sembunyikan.

Tepat pukul satu dini hari, ponselku bergetar.

Kali ini, nomor yang sama mengirimkan sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan seorang perempuan berdiri di depan gedung pengadilan Jakarta. Rambutnya sebahu, mengenakan kemeja putih, dan membawa map hitam.

Aku mengenal wajah itu.

Mira, sahabatku sejak kuliah.

Namun, Mira telah meninggal dalam kecelakaan mobil delapan bulan lalu.

Aku membaca pesan berikutnya dengan napas tertahan.

Nadira, jangan percaya siapa pun di vila itu. Termasuk orang yang mengaku paling mencintaimu.

Aku segera menelepon nomor tersebut.

Panggilan tersambung, tetapi tidak ada suara selama beberapa detik.

“Siapa kamu?” bisikku.

Seseorang akhirnya menjawab.

“Namaku Arga. Aku mantan penyidik yang menangani laporan perusahaan ayah suamimu.”

“Bagaimana kamu mendapatkan nomor saya?”

“Dari Mira.”

Aku memejamkan mata. “Mira sudah meninggal.”

“Aku tahu apa yang tertulis dalam laporan kecelakaannya. Tapi aku juga tahu dia sempat mengirimkan dokumen kepadaku sebelum kejadian itu.”

Dadaku terasa sesak.

“Dokumen apa?”

“Bukti bahwa keluarga Tanuwijaya telah menggunakan identitasmu untuk memindahkan sebagian aset yayasan ibumu. Mira sedang mengumpulkan bukti ketika dia meninggal.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Arga melanjutkan, “Aku tidak menghubungimu sebelumnya karena belum memiliki cukup bukti untuk melindungimu. Setelah mengetahui kamu menikah dengan Rivan, aku mencoba memperingatkanmu. Sayangnya, mereka sudah mengawasi komunikasi kalian.”

“Jadi, kamu yang mengirim pesan tentang map biru?”

“Ya. Aku juga yang melaporkan transaksi itu ke bank enam bulan lalu. Aku baru mengetahui pembayaran kepada dokter tersebut ketika rekeningnya kembali digunakan.”

“Kenapa kamu tidak langsung datang ke polisi?”

“Aku sedang mengurus penyerahan bukti kepada penyidik yang menangani kasus ini. Tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui. Rivan tidak menikahimu hanya karena aset yayasan.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

“Apa maksudmu?”

“Dia membutuhkan tanda tanganmu untuk memindahkan hak pengelolaan yayasan. Selama kamu masih dianggap cakap secara hukum, dia tidak bisa mengambil alih semuanya. Itulah alasan mereka menyiapkan dokumen pengampuan palsu.”

Aku teringat wajah Rivan ketika pertama kali melamarku.

Saat itu, dia berkata bahwa dia tidak peduli pada kekayaan keluargaku. Dia hanya ingin membangun kehidupan sederhana bersamaku.

Aku mempercayainya.

Bahkan ketika teman-temanku mempertanyakan mengapa seorang pria dari keluarga kaya mendekatiku begitu cepat, aku selalu membela Rivan.

Ternyata, mungkin aku tidak pernah mengenal pria yang kunikahi.

“Arga, apa yang harus kulakukan?”

“Jangan menghadapi mereka sendirian. Aku akan mengirimkan alamat kantor polisi yang sedang menangani kasus ini. Simpan semua bukti, jangan sentuh makanan atau minuman yang mereka berikan, dan jangan biarkan mereka membawamu ke tangga belakang besok pagi.”

Telepon terputus setelah dia mengirimkan lokasi.

Aku segera bersiap meninggalkan vila, tetapi sebelum sempat mengambil tas, pintu kamar terbuka.

Rivan berdiri di ambang pintu.

“Kamu sedang menelepon siapa?”

Aku menyembunyikan ponsel di balik punggung.

“Teman lama.”

Dia menatapku cukup lama hingga aku merasa seolah-olah dia bisa membaca semua kebohongan yang baru saja kususun.

“Jam segini?”

“Aku sulit tidur.”

Rivan mendekat dan tersenyum tipis.

“Kalau begitu, besok kita pulang lebih awal. Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu.”

“Apa?”

“Surat yang perlu kamu tanda tangani. Tidak ada yang sulit. Hanya dokumen administrasi keluarga.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Dokumen apa?”

“Besok kamu akan tahu.”

Dia mencium keningku sebelum keluar.

Begitu pintu tertutup, aku segera mengirimkan pesan kepada Arga bahwa Rivan berencana membawakan dokumen untuk kutandatangani pada pagi hari.

Arga membalas dengan satu kalimat.

Biarkan dia menunjukkan dokumennya. Jangan tanda tangan. Kami akan mengatur agar kamu bisa keluar dengan aman.

Malam itu aku tidak tidur.

Menjelang pukul lima, hujan mulai turun. Angin menerpa jendela, sementara suara air mengalir di atap membuat vila terasa semakin sunyi.

Pukul enam lewat sedikit, Rivan mengetuk pintu.

“Ayo, Sayang. Sarapan sudah siap.”

Aku keluar kamar dengan pakaian sederhana dan tas kecil yang berisi laptop, ponsel, serta salinan bukti yang berhasil kukumpulkan.

Di meja makan, Bu Lilis telah menyiapkan teh hangat dan roti panggang.

“Minum dulu, Nadira. Kamu terlihat pucat,” katanya lembut.

Aku mengangkat cangkir, berpura-pura menyesapnya, lalu meletakkannya kembali.

Rivan menyodorkan sebuah map.

“Ini dokumennya. Kamu hanya perlu tanda tangan di halaman terakhir.”

Aku membuka map tersebut.

Di halaman pertama tertulis permohonan pengampuan sementara. Di halaman berikutnya terdapat pernyataan bahwa aku bersedia menyerahkan pengelolaan aset yayasan kepada Rivan selama masa pemulihan kondisi mentalku.

Aku mengangkat wajah.

“Kamu ingin aku menandatangani ini?”

Rivan mengangguk. “Ini hanya untuk melindungi aset keluarga. Kamu sedang tidak sehat. Aku ingin membantumu.”

“Kalau begitu, mengapa laporan dokter ini menyatakan aku mengalami gangguan mental sebelum pernah diperiksa?”

Senyumnya menghilang.

Bu Lilis meletakkan sendok dengan keras.

“Kamu tidak mengerti urusan hukum. Jangan mempersulit suamimu sendiri.”

Aku menutup map.

“Aku tidak akan menandatanganinya.”

Rivan berdiri perlahan.

“Jangan membuatku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan, Nadira.”

Aku mundur satu langkah.

“Seperti melepas anak tangga keempat?”

Wajahnya berubah pucat.

Bu Lilis langsung bangkit.

“Apa yang kamu bicarakan?”

Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan rekaman kamera gudang.

Rivan merebut ponsel itu, tetapi aku telah mengirimkan seluruh rekaman ke beberapa alamat surel. Dia tidak bisa menghapus salinannya.

“Kamu sudah merencanakan semuanya,” kataku. “Vitamin, dokumen palsu, tangga belakang. Kalian ingin membuat kematianku terlihat seperti kecelakaan.”

Rivan menatapku dengan kebencian yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

“Kamu seharusnya tidak ikut campur dalam urusan yang tidak kamu pahami.”

“Ini hidupku!”

“Dan semua yang kamu miliki seharusnya menjadi milik keluarga ini!”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Untuk sesaat, tidak ada seorang pun yang berbicara.

Lalu terdengar suara keras dari arah pintu depan.

“Polisi! Jangan bergerak!”

Rivan berbalik dengan panik. Dua petugas masuk bersama seorang pria berkemeja gelap.

Arga.

Aku tidak pernah merasa sebahagia itu melihat orang asing.

Bu Lilis berusaha menyembunyikan map di balik tubuhnya, tetapi seorang petugas segera mengambilnya. Rivan mencoba berlari ke arah pintu belakang. Petugas lain menghentikannya sebelum dia sempat keluar.

Ketika borgol terpasang di tangannya, Rivan menoleh kepadaku.

“Kamu menghancurkan hidupku.”

Aku menatapnya dengan air mata mengalir di pipi.

“Tidak, Rivan. Kamu menghancurkan hidupmu sendiri ketika memutuskan bahwa uang lebih berharga daripada nyawa seseorang.”

Aku dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Selama beberapa jam, aku menjelaskan semua yang terjadi, menyerahkan rekaman, foto dokumen, serta kapsul yang kusimpan sejak malam pertama.

Pemeriksaan awal menemukan bahwa kapsul tersebut tidak sesuai dengan produk yang tercantum pada kemasannya. Sampel itu kemudian dikirim ke laboratorium untuk pengujian lebih lanjut.

Penyidik juga menemukan bukti pemalsuan tanda tangan dan aliran dana dari perusahaan milik Pak Taufik. Kasus lama yang sempat dihentikan akhirnya dibuka kembali.

Namun, kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.

Arga memintaku datang ke sebuah ruangan di kantor polisi. Di sana, dia menyerahkan sebuah amplop berisi surat tulisan tangan.

Tulisan itu sangat kukenal.

Tulisan ibuku.

Aku membuka surat tersebut dengan tangan gemetar.

Nadira, jika suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak ada untuk melindungimu. Ibu ingin kamu tahu bahwa kekayaan yang Ibu tinggalkan bukanlah hal terpenting dalam hidupmu. Tetapi ada orang yang akan berusaha mengambilnya dengan cara apa pun.

Di dalam amplop terdapat salinan dokumen yayasan dan sebuah surat tambahan.

Arga menjelaskan bahwa ibuku pernah bekerja sama dengannya untuk menyelidiki dugaan penggelapan dana yang melibatkan perusahaan Tanuwijaya. Sebelum meninggal, ibuku menyimpan bukti penting dan menitipkannya kepada Mira.

Namun, ibuku juga menyiapkan sesuatu yang tidak pernah kuketahui.

Sebuah perubahan akta yayasan yang telah disahkan secara hukum.

Aku membaca halaman terakhir berkali-kali.

Seluruh aset yayasan, termasuk hak pengelolaan senilai Rp1,86 triliun, tidak diwariskan sebagai kekayaan pribadi yang bisa kuambil atau kuhabiskan sesuka hati. Aset tersebut ditempatkan dalam yayasan pendidikan dengan tujuan membiayai beasiswa bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Namaku tercatat sebagai pengawas, bukan pemilik tunggal.

Dan terdapat satu klausul yang membuatku terdiam.

Jika aku meninggal secara tidak wajar atau dinyatakan tidak mampu mengelola kepentinganku berdasarkan dokumen palsu, seluruh kewenangan pengawasan akan beralih sementara kepada dewan independen yang telah ditunjuk ibuku.

Dengan kata lain, bahkan jika rencana Rivan berhasil, dia tidak akan pernah memperoleh kekayaan yang dikejarnya.

Ibuku telah mengantisipasi kemungkinan itu jauh sebelum aku mengenal Rivan.

Aku menangis ketika menyadari bahwa selama ini ibuku tidak hanya meninggalkan aset. Dia meninggalkan perlindungan yang bahkan tetap menjangkaiku setelah kepergiannya.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Rivan dan kedua orang tuanya masih berjalan. Aku mengajukan pembatalan pernikahan dan memulai hidup baru di Jakarta.

Aku juga menerima tawaran untuk membantu mengawasi yayasan pendidikan ibuku.

Pada hari pembukaan program beasiswa pertama, seorang anak perempuan berusia sebelas tahun menghampiriku. Dia mengenakan seragam sekolah sederhana dan membawa surat penerimaan beasiswa yang dipeluknya erat.

“Bu Nadira, apa saya benar-benar bisa melanjutkan sekolah sampai kuliah?”

Aku berlutut agar sejajar dengannya.

“Tentu saja. Kamu hanya perlu belajar dengan sungguh-sungguh dan jangan berhenti bermimpi.”

Anak itu tersenyum lebar.

Saat melihatnya berlari menghampiri ibunya, aku teringat malam ketika aku bersembunyi di balik mobil, ketakutan menghadapi orang yang pernah kupanggil suami.

Aku hampir kehilangan nyawa karena keserakahan mereka.

Namun, justru dari pengkhianatan itulah aku menemukan tujuan yang jauh lebih besar daripada mempertahankan harta keluarga.

Aku membuka kembali surat terakhir ibuku malam itu.

Ada satu kalimat di bagian bawah yang sebelumnya terlewat olehku.

Ibu tidak bisa memilih siapa yang akan mencintaimu, Nadira. Tetapi kamu selalu bisa memilih apa yang akan kamu lakukan ketika cinta ternyata hanya menjadi kedok bagi keserakahan.

Aku melipat surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam laci meja kerjaku.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa benar-benar aman.

Bukan karena aku memiliki kekayaan, bukan karena keluargaku berkuasa, dan bukan pula karena orang-orang yang menyakitiku akhirnya menghadapi hukum.

Aku merasa aman karena akhirnya memahami sesuatu yang dahulu tidak pernah kupikirkan.

Orang bisa merampas kepercayaanmu, memalsukan namamu, bahkan merencanakan kehancuranmu.

Namun, selama kamu berani menghadapi kebenaran, mereka tidak akan pernah bisa menentukan akhir ceritamu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang