Aku membaca pesan Raka berulang kali sampai layar ponselku meredup.
Siapa yang bilang Rp12 miliar itu uang untuk berpisah denganmu?
Aku ingin tertawa, tetapi tenggorokanku terasa kering.
Bukankah pengacaranya sendiri yang menyuruhku pergi? Bukankah aku diminta menandatangani dokumen dan mengosongkan rumah dalam tiga hari? Lalu uang dua belas miliar itu masuk ke rekeningku beberapa jam kemudian.
Apa lagi yang seharusnya kupahami?
Aku mengetik balasan.
“Kalau bukan untuk berpisah, lalu untuk apa? Pengacaramu datang membawa dokumen. Aku diminta pergi bersama anak-anak. Kamu sendiri menyuruhku meninggalkan rumah sebelum malam.”
Raka langsung menelepon.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Nara, dengarkan aku baik-baik. Jangan gunakan uang itu dulu.”
Aku tertawa hambar. “Setelah menyuruhku pergi, sekarang kamu melarangku menggunakan uang yang kamu kirim?”
“Aku tidak pernah menyuruhmu pergi.”
“Jangan berbohong!”
Suaraku membuat Elang yang sedang bermain di halaman menoleh. Aku segera mengecilkan suara.

“Raka, aku sudah lelah. Selama tiga tahun aku tinggal di rumahmu tanpa status yang jelas. Anak-anak kita bahkan tidak punya foto keluarga di ruang utama. Setiap kali ibumu mengadakan acara, aku diminta tetap di dalam kamar supaya tidak menimbulkan pertanyaan.”
“Nara…”
“Ketika Aluna lahir, kamu berada di Singapura. Ketika Elang demam tinggi, aku membawanya ke rumah sakit sendirian. Kamu bahkan baru tahu dia dirawat setelah aku mengirim pesan tiga kali.”
Aku menarik napas panjang.
“Jadi jangan meneleponku sekarang hanya karena aku akhirnya pergi.”
Raka terdiam cukup lama.
Kemudian dia berkata dengan suara yang belum pernah kudengar sebelumnya.
“Aku sedang menuju Yogyakarta.”
Aku langsung menutup telepon.
Aku tidak membutuhkan kedatangannya. Aku membutuhkan jawaban, dan selama tiga tahun terakhir, Raka selalu punya cara untuk membuatku menunggu jawaban yang tidak pernah datang.
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Aku membuka kembali dokumen yang kutandatangani di rumah Mahendra. Sebelumnya, aku hanya membaca halaman yang ditunjukkan Bima. Saat itu aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana membawa dua anak kecil keluar dari rumah tersebut tanpa membuat mereka ketakutan.
Aku memeriksa setiap halaman dengan teliti.
Pada halaman ketujuh, ada kalimat yang membuatku berhenti.
Dana sebesar Rp12.000.000.000 merupakan bagian dari penempatan aset untuk kepentingan Nara Prameswari dan kedua anaknya, Elang Mahendra dan Aluna Mahendra, berdasarkan ketentuan pengelolaan kekayaan keluarga Mahendra.
Tidak ada satu pun kata tentang perceraian.
Tidak ada pernyataan bahwa aku harus melepaskan hak atas anak-anak.
Tidak ada pula kewajiban untuk meninggalkan Raka.
Namun, pada halaman terakhir terdapat tanda tanganku di bawah sebuah pernyataan bahwa aku telah menerima penjelasan mengenai seluruh dokumen.
Aku merasa mual.
Bima tidak pernah menjelaskan isi sebenarnya. Dia hanya mengatakan dokumen itu berkaitan dengan penyelesaian urusan keluarga.
Keesokan paginya, aku menelepon nomor yang tertera pada kartu namanya.
“Bapak mengatakan uang itu diberikan agar saya meninggalkan rumah. Mengapa dokumen ini menyebut penempatan aset untuk anak-anak?”
Bima terdiam beberapa detik.
“Saya tidak bisa menjelaskan melalui telepon, Mbak Nara.”
“Kalau begitu, jelaskan secara langsung.”
“Saya akan datang ke Yogyakarta.”
Aku menutup telepon dengan perasaan semakin tidak tenang.
Siang harinya, Bima tiba di vila tempatku menginap. Dia datang sendirian, membawa sebuah map hitam yang terlihat jauh lebih tebal daripada map sebelumnya.
Setelah memastikan anak-anak sedang bersama tanteku, aku duduk berhadapan dengannya.
“Saya ingin tahu semuanya.”
Bima membuka map tersebut.
“Tiga bulan lalu, Pak Arman Mahendra, ayah Pak Raka, mengubah sebagian pengaturan aset keluarga. Beliau ingin memastikan cucu-cucunya memiliki dana pendidikan dan perlindungan finansial yang tidak bergantung pada kondisi bisnis perusahaan.”
Aku mengerutkan kening.
“Apa hubungannya dengan saya?”
“Karena beliau mengetahui bahwa selama ini Mbak membesarkan kedua anak itu tanpa kepastian mengenai status hukum dan keuangan mereka.”
Aku terdiam.
Ayah Raka, Arman Mahendra, adalah orang yang jarang kutemui. Dia lebih sering berada di luar negeri untuk mengurus bisnis keluarga. Setiap kali pulang, dia hanya menyapa singkat sebelum kembali ke ruang kerjanya.
Aku bahkan tidak tahu bahwa dia memperhatikan kehidupanku.
Bima melanjutkan, “Pak Arman meminta agar dana tersebut ditempatkan untuk kepentingan Mbak dan kedua anak. Namun, beliau tidak pernah memerintahkan agar Mbak meninggalkan rumah.”
“Lalu mengapa saya disuruh pergi?”
Bima menunduk.
“Itulah yang sedang saya selidiki.”
Aku menatapnya tajam.
“Bapak datang ke rumah saya, menyuruh saya membawa dua anak pergi dalam tiga hari, lalu meminta saya menandatangani dokumen yang tidak dijelaskan. Sekarang Bapak mengatakan tidak tahu alasannya?”
“Saya menerima instruksi dari Bu Ratih.”
Nama ibu Raka membuat perutku menegang.
Ratih Mahendra tidak pernah menyukaiku.
Menurutnya, aku hanyalah perempuan yang kebetulan hamil anak pewaris keluarganya. Dia tidak pernah menghinaku secara langsung, tetapi selalu menemukan cara untuk mengingatkanku bahwa aku tidak setara dengan mereka.
“Apa yang dikatakan Bu Ratih?”
Bima menarik napas.
“Beliau mengatakan Pak Raka ingin mengakhiri hubungan dengan Mbak dan meminta agar seluruh urusan diselesaikan tanpa keributan.”
Aku mengepalkan tangan.
“Jadi, dia membohongi Bapak juga?”
“Saya tidak tahu, Mbak.”
Aku berdiri.
“Kalau begitu, saya ingin pengacara independen memeriksa semua dokumen ini. Saya tidak akan menandatangani apa pun lagi sebelum semuanya jelas.”
Bima mengangguk.
Sebelum pergi, dia meletakkan sebuah amplop putih di atas meja.
“Ini surat dari Pak Arman. Beliau meminta saya menyerahkannya langsung kepada Mbak.”
Aku membuka amplop itu setelah Bima pergi.
Tulisan tangan di dalamnya singkat.
Nara, maafkan keluarga kami karena membuatmu merasa tidak memiliki tempat. Kamu tidak perlu membuktikan bahwa kamu pantas berada di sisi Raka. Yang perlu kamu ketahui, tidak seorang pun berhak menentukan masa depanmu dan anak-anak tanpa persetujuanmu.
Di bawahnya terdapat nomor telepon pribadi.
Aku membaca surat itu berkali-kali.
Untuk pertama kalinya, seseorang dari keluarga Mahendra mengakui bahwa aku telah diperlakukan tidak adil.
Namun, surat itu belum menjelaskan mengapa Raka membiarkanku pergi.
Dua hari kemudian, jawabannya datang dari orang yang tidak pernah kuduga.
Dimas, asisten pribadi Raka, mengirimkan sebuah pesan.
“Mbak Nara, saya perlu bertemu. Ada sesuatu yang harus Mbak ketahui sebelum terlambat.”
Kami bertemu di sebuah kafe kecil di Yogyakarta. Dimas tampak kelelahan. Matanya merah, dan dia berkali-kali memeriksa ponselnya.
“Saya minta maaf karena baru menghubungi Mbak sekarang,” katanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dimas mengeluarkan sebuah tablet dan membuka rekaman kamera keamanan dari ruang kerja Raka.
Rekaman itu menunjukkan Ratih memasuki ruangan ketika Raka sedang menghadiri rapat daring. Dia meletakkan map di atas meja, lalu berbicara cukup lama kepada Raka.
Tidak ada suara dalam rekaman tersebut.
Namun, Dimas kemudian menunjukkan salinan percakapan yang tersimpan di sistem administrasi perusahaan.
Ratih menulis bahwa aku telah menyetujui uang dua belas miliar sebagai kompensasi untuk mengakhiri hubungan dan tidak lagi menuntut pengakuan keluarga Mahendra.
Aku merasa darahku mendidih.
“Aku tidak pernah menyetujui itu.”
“Saya tahu, Mbak. Karena itu saya menyimpan dokumennya.”
“Raka percaya kepada ibunya?”
Dimas menunduk.
“Pada awalnya, Pak Raka mengira itu hanya pengaturan dana untuk melindungi Mbak dan anak-anak. Namun, setelah Mbak pergi, beliau menemukan dokumen lain yang disiapkan Bu Ratih.”
Dia membuka sebuah berkas.
Di dalamnya terdapat rancangan perjanjian yang menyatakan bahwa aku bersedia meninggalkan rumah dan menyerahkan seluruh keputusan mengenai masa depan anak-anak kepada keluarga Mahendra.
Aku langsung menggeleng.
“Saya tidak pernah melihat dokumen ini.”
“Tanda tangan Mbak juga tidak ada. Belum ditandatangani.”
Aku memandang Dimas.
“Kenapa Raka tidak menghentikan semuanya sejak awal?”
Dimas terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Karena beliau sedang berusaha mengambil alih kendali perusahaan dari pamannya. Bu Ratih mengancam akan menarik dukungan keluarga jika Pak Raka tetap mempertahankan hubungan dengan Mbak secara terbuka.”
Aku tertawa getir.
“Jadi, demi perusahaan, dia membiarkan aku pergi?”
“Pak Raka mengira Mbak akan tetap aman karena dana itu.”
“Dia mengira uang bisa menggantikan penjelasan?”
Dimas tidak menjawab.
Aku berdiri dan meninggalkan kafe.
Malam itu, aku menelepon Raka untuk pertama kalinya sejak dia berusaha menghubungiku.
“Aku sudah tahu tentang dokumen yang disiapkan ibumu.”
Suaranya terdengar lelah.
“Nara, aku bisa menjelaskan.”
“Jangan. Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Aku tidak pernah meminta dua belas miliar rupiah darimu. Aku hanya ingin kamu mengakui bahwa Elang dan Aluna adalah anak-anakmu, dan bahwa aku bukan seseorang yang harus disembunyikan.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu tahu, mengapa kamu membiarkan semuanya terjadi?”
Lama sekali dia tidak menjawab.
Kemudian, dengan suara pelan, dia berkata, “Karena aku pengecut.”
Aku memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, Raka tidak menyalahkan pekerjaannya, keluarganya, atau keadaan.
Dia mengakui kesalahannya.
Namun, pengakuan itu tidak serta-merta menghapus tiga tahun yang telah kulewati.
“Aku tidak tahu apakah aku masih bisa mempercayaimu,” kataku.
“Aku tidak akan memaksamu.”
“Bagus. Karena aku tidak akan kembali hanya karena kamu akhirnya berani mengatakan yang sebenarnya.”
“Aku mengerti.”
Sebelum mengakhiri panggilan, Raka mengatakan bahwa ayahnya ingin bertemu denganku dan kedua anaknya.
Aku setuju, tetapi dengan satu syarat. Pertemuan itu harus berlangsung di tempat netral, dengan pengacaraku hadir.
Seminggu kemudian, aku bertemu Arman Mahendra di sebuah restoran yang tenang di Yogyakarta.
Dia datang tanpa pengawal dan tanpa rombongan keluarga.
Ketika melihat Elang berlari kecil menghampiriku sambil membawa mobil-mobilan, Arman berlutut dan tersenyum.
“Ini Elang?”
Aku mengangguk.
Dia menggendong cucunya dengan hati-hati, lalu menatap Aluna yang berada dalam pelukanku.
Matanya berkaca-kaca.
“Selama ini, saya terlalu sibuk menjaga perusahaan sampai lupa bahwa keluarga tidak bisa dibangun hanya dengan uang.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Arman kemudian menyerahkan sebuah dokumen kepada pengacaraku.
Dokumen itu menyatakan pembentukan dana amanah bagi Elang dan Aluna, dengan ketentuan pengelolaan yang diawasi pihak independen. Sebagian dana dua belas miliar yang kuterima merupakan bagian dari pengaturan tersebut, sementara hakku atas uang itu harus ditentukan berdasarkan dokumen yang sah dan penjelasan lengkap mengenai transaksi.
Tidak ada kewajiban bagiku untuk kembali kepada Raka.
Tidak ada pula syarat yang mengharuskanku menyerahkan anak-anak.
“Apa pun keputusanmu tentang Raka, dana untuk cucu-cucu saya tidak akan digunakan untuk memaksamu,” kata Arman.
Aku mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya, aku merasa seseorang benar-benar memahami apa yang kubutuhkan.
Bukan kemewahan.
Bukan nama keluarga besar.
Hanya kepastian bahwa masa depan anak-anakku tidak akan dijadikan alat tawar-menawar.
Beberapa minggu berikutnya, pengacaraku memeriksa seluruh dokumen dan membantu menyelesaikan persoalan dana tersebut. Aku tidak terburu-buru mengambil keputusan mengenai hubunganku dengan Raka.
Sementara itu, Raka mulai datang menemui anak-anak sesuai jadwal yang kami sepakati. Dia tidak lagi meminta agar aku kembali. Dia belajar mengganti popok Aluna, menyiapkan sarapan Elang, dan duduk di lantai bermain balok tanpa terganggu oleh panggilan kantor.
Suatu sore, ketika Elang tertidur di sofa, Raka berdiri di samping jendela.
“Aku tidak meminta kamu memaafkanku sekarang,” katanya. “Aku hanya ingin menjadi ayah yang seharusnya mereka miliki sejak awal.”
Aku menatapnya lama.
“Itu bukan hadiah untukku, Raka. Itu tanggung jawabmu kepada mereka.”
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
Aku belum bisa mengatakan apakah suatu hari nanti aku akan mempercayainya lagi. Luka yang dibangun selama tiga tahun tidak hilang hanya karena seseorang akhirnya menyesal.
Namun, aku tidak lagi takut menghadapi masa depan.
Aku masih memiliki dua belas miliar rupiah yang harus kuurus dengan bijaksana, dua anak yang membutuhkan kasih sayang, dan kehidupan yang kini bisa kutentukan sendiri.
Dahulu, aku mengira meninggalkan rumah seorang konglomerat berarti kehilangan segalanya.
Sekarang aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Rumah bukanlah bangunan megah, nama keluarga terkenal, atau rekening dengan banyak angka nol.
Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu menyembunyikan dirinya agar pantas dicintai.
Dan jika suatu hari Raka ingin menjadi bagian dari rumah itu lagi, dia harus membangunnya bersamaku, bukan membelinya dengan dua belas miliar rupiah.
