Malam itu, Shen Zhiyi mengunci pintu kamarnya sebelum membuka isi flashdisk milik ibunya. Tangannya gemetar ketika sebuah rekaman suara muncul di layar laptop. Durasi rekaman itu hanya sebelas menit, tetapi Zhiyi merasa seluruh hidupnya akan berubah setelah mendengarnya.
Suara pertama yang terdengar adalah suara ibunya.
“Kalau kamu mendengar ini, mungkin Ibu sudah tidak bisa menjelaskan apa pun secara langsung. Zhiyi, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ada sesuatu yang Ibu temukan tentang keluarga Lu. Ibu seharusnya memberitahumu lebih awal.”
Rekaman itu berhenti sejenak, kemudian terdengar suara seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
“Dokumen ini tidak boleh sampai ke tangan Tuan Lu. Kalau dia tahu siapa yang sebenarnya membiayai operasi itu, semuanya akan terbongkar.”
Zhiyi mendekatkan wajah ke layar.
Beberapa detik kemudian, suara lain terdengar. Suara itu sangat dikenalnya.
Ye Jingqiu.
“Pastikan operasi itu dibatalkan. Aku tidak peduli bagaimana caranya. Selama perempuan tua itu masih hidup, Shen Zhiyi tidak akan pernah benar-benar menjadi milik kita.”
Zhiyi menutup mulutnya.
Dunia seolah berhenti berputar.
Jadi, bukan hanya Lu Jingnian yang membiarkan ibunya kehilangan kesempatan untuk dioperasi. Ye Jingqiu juga terlibat langsung.

Namun, rekaman itu belum selesai.
“Aku sudah melakukan semua yang kamu minta,” kata laki-laki tadi. “Tapi kalau pasien meninggal, rumah sakit akan diperiksa.”
“Kalau begitu, buat semuanya terlihat seperti keputusan medis. Lu Jingnian tidak akan melaporkanku. Dia terlalu mencintaiku untuk melakukan itu.”
Zhiyi menghentikan rekaman.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Selama ini, dia mengira Lu Jingnian adalah orang yang paling mengenal dirinya. Lelaki itu pernah membantunya melewati masa tersulit dalam karier, melindunginya dari fitnah, dan berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.
Ternyata, dia justru menggunakan rahasia masa lalunya untuk mengancamnya.
Zhiyi mengusap wajahnya, kemudian menyalin seluruh isi flashdisk ke beberapa tempat penyimpanan. Dia tidak tahu apakah rekaman itu cukup untuk membuktikan keterlibatan Jingqiu, tetapi dia tidak akan membiarkan bukti tersebut hilang.
Keesokan paginya, dia meminta berbicara dengan dokter yang memeriksa kandungannya.
“Saya ingin pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan,” katanya.
Dokter itu terlihat ragu.
“Saya harus meminta izin kepada Tuan Lu terlebih dahulu.”
Zhiyi tersenyum tipis.
“Kalau terjadi sesuatu pada anak ini, apakah Anda juga harus meminta izin kepada suami saya sebelum menolong saya?”
Dokter itu terdiam.
Akhirnya, dia mengatur pemeriksaan dengan alasan tekanan darah Zhiyi perlu dipantau lebih dekat.
Di rumah sakit, Zhiyi tidak membuang waktu. Dengan bantuan seorang perawat yang pernah merawat ibunya, dia berhasil mendapatkan nama petugas administrasi yang tercatat menangani pembatalan operasi.
Namanya Chen Guowei.
Namun, sebelum Zhiyi sempat menghubunginya, dia menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
Jangan mencari tahu lebih jauh. Kalau kamu masih ingin melahirkan anakmu dengan selamat, berhentilah sekarang.
Zhiyi membaca pesan itu dua kali.
Dia tidak membalas.
Sebaliknya, dia mengirimkan salinan rekaman kepada seorang pengacara yang dahulu pernah membantu ibunya menyelesaikan sengketa tanah. Dia juga meminta pengacara itu menyimpan bukti di tempat aman dan menyelidiki prosedur pembatalan operasi.
Untuk pertama kalinya setelah kematian ibunya, Zhiyi merasa memiliki sesuatu yang bisa diperjuangkan.
Bukan untuk membalas dendam.
Melainkan untuk memastikan bahwa kematian ibunya tidak dianggap sebagai kejadian biasa yang bisa dilupakan begitu saja.
Tiga hari kemudian, Lu Jingnian akhirnya datang ke vila.
Zhiyi sedang duduk di dekat jendela ketika lelaki itu memasuki ruangan. Dia membawa sekotak makanan dan sebuah gaun hamil mahal.
“Dokter bilang kondisi anak kita baik,” katanya.
Zhiyi tidak menoleh.
“Anak kita?”
Rahang Jingnian mengeras.
“Jangan mulai lagi.”
“Aku hanya mengulangi kata-katamu sendiri. Bukankah kamu pernah bilang bahwa setelah anak ini lahir, hubungan kita selesai?”
Jingnian meletakkan kotak makanan di atas meja.
“Aku mengatakan itu karena kamu terus membuat masalah.”
Zhiyi akhirnya menatapnya.
“Kalau ibuku masih hidup, apakah kamu akan tetap berani mengatakan hal yang sama kepadaku?”
Wajah Jingnian berubah.
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada.”
Dia kembali memandang jendela.
Jingnian mendekat, berusaha membaca ekspresinya.
“Kamu berbeda akhir-akhir ini.”
“Karena aku sudah tidak punya alasan untuk berharap.”
Kalimat itu membuat Jingnian terdiam sesaat. Namun, seperti biasa, dia segera menyembunyikan kegelisahannya di balik sikap dingin.
“Aku melakukan semuanya demi keluarga ini.”
Zhiyi tersenyum pahit.
“Keluarga yang mana? Keluargamu, Jingqiu, atau keluarga yang hanya ada ketika kamu membutuhkan seseorang untuk mematuhi perintahmu?”
“Jangan sebut nama Jingqiu!”
Bentakannya membuat bayi dalam kandungan Zhiyi bergerak. Dia refleks memegang perutnya.
Jingnian langsung terdiam, lalu mencoba menyentuh bahunya.
Zhiyi menghindar.
“Jangan sentuh aku.”
Untuk beberapa saat, mereka saling menatap.
Kemudian Jingnian berkata dengan suara rendah, “Aku akan membiarkanmu pergi setelah melahirkan. Tapi anak itu tetap tinggal bersamaku.”
Zhiyi menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang sangat lucu.
“Kamu masih belum mengerti, ya?”
“Apa?”
“Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil anakku hanya karena memiliki lebih banyak uang.”
Wajah Jingnian menggelap.
“Kita lihat saja nanti.”
Dia pergi tanpa menyentuh makanan yang dibawanya.
Begitu pintu tertutup, Zhiyi mengeluarkan ponselnya dan memeriksa pesan dari pengacaranya.
Ada kabar baru.
Chen Guowei bersedia memberikan kesaksian, tetapi dia takut keselamatannya terancam. Dia mengaku menerima instruksi pembatalan operasi melalui telepon dari seseorang yang mengaku mewakili keluarga Lu.
Yang lebih mengejutkan, pembayaran awal untuk operasi itu ternyata berasal dari rekening perusahaan yang terhubung dengan sebuah yayasan milik keluarga Ye.
Zhiyi segera meminta pengacara mengatur pertemuan rahasia dengan Chen.
Mereka bertemu dua hari kemudian di sebuah kantor hukum kecil.
Chen tampak pucat dan terus menoleh ke arah pintu.
“Saya tidak tahu bahwa pasien itu ibu Anda,” katanya. “Saya hanya menerima instruksi untuk menunda tindakan sampai ada persetujuan tambahan. Ketika dokter meminta konfirmasi, seseorang mengatakan bahwa keluarga telah menarik persetujuan.”
“Siapa yang mengatakan itu?”
Chen menyerahkan salinan catatan panggilan.
Nomor tersebut terdaftar atas nama sebuah perusahaan konsultan yang dimiliki oleh kerabat Ye Jingqiu.
Zhiyi menggenggam dokumen itu erat-erat.
“Apakah Anda tahu siapa yang mengambil keputusan terakhir?”
Chen menggeleng.
“Yang saya tahu, Tuan Lu menerima laporan bahwa operasi dibatalkan. Beliau tidak pernah datang untuk memastikan keadaan pasien.”
Jawaban itu terasa seperti pisau yang perlahan menembus dadanya.
Jingnian mungkin tidak memulai semuanya, tetapi dia mengetahui bahwa operasi itu dibatalkan dan tetap membiarkannya.
Bagi Zhiyi, itu sudah cukup untuk menghancurkan sisa kepercayaan yang masih dimilikinya.
Malam itu, dia menulis sebuah surat kepada Jingnian.
Dia tidak menuduhnya secara langsung. Dia hanya meminta pertemuan di rumah sakit tempat ibunya meninggal, dengan pengacara masing-masing hadir.
Jingnian menyetujui permintaan itu.
Dia mengira Zhiyi akhirnya bersedia membicarakan masa depan anak mereka.
Namun, ketika tiba di ruang pertemuan, dia menemukan Zhiyi duduk bersama pengacara dan seorang laki-laki yang wajahnya langsung dikenali.
Chen Guowei.
Senyum di wajah Jingnian menghilang.
“Apa ini?”
Zhiyi meletakkan dokumen di atas meja.
“Kesempatan terakhir bagimu untuk mengatakan yang sebenarnya.”
Jingnian melirik catatan panggilan, kemudian menatap Zhiyi.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Dari orang-orang yang selama ini kamu kira akan selalu diam.”
“Aku bisa menjelaskan.”
“Kalau begitu, jelaskan mengapa nama Ye Jingqiu muncul dalam catatan pembatalan operasi ibuku.”
Jingnian tidak menjawab.
Zhiyi melanjutkan, “Jelaskan mengapa kamu tetap membiarkan ibuku meninggal tanpa memastikan bahwa dia mendapatkan perawatan yang seharusnya.”
“Aku tidak tahu bahwa keadaan akan menjadi seperti itu!”
“Tapi kamu tahu operasinya dihentikan.”
Jingnian mengepalkan tangan.
“Aku pikir hanya penundaan sementara. Jingqiu mengatakan ada masalah administrasi.”
“Dan kamu mempercayainya tanpa memeriksa apa pun?”
“Aku sedang mengurus banyak hal!”
Zhiyi menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Ibuku juga sedang berjuang untuk hidupnya, Jingnian. Baginya, tidak ada hal lain yang lebih penting daripada kesempatan untuk bertahan.”
Untuk pertama kalinya, Jingnian tidak memiliki jawaban.
Zhiyi berdiri.
“Aku tidak akan menghapus semua yang pernah kamu lakukan untukku. Tapi aku juga tidak akan membiarkan kebaikan masa lalu menjadi alasan untuk memaafkan apa yang terjadi.”
Dia menyerahkan salinan bukti kepada pengacaranya.
“Mulai hari ini, semua komunikasi mengenai kehamilan dan anakku akan dilakukan melalui pengacara. Aku juga akan bekerja sama dengan penyelidikan atas pembatalan operasi ibuku.”
Jingnian berdiri mendadak.
“Kamu ingin menghancurkan keluarga Lu?”
Zhiyi menggeleng.
“Bukan aku yang menghancurkannya. Kamu sendiri yang memilih untuk melindungi orang yang salah.”
Dia berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar, Jingnian memanggilnya.
“Zhiyi, aku benar-benar mencintaimu.”
Langkahnya terhenti.
Dahulu, kalimat itu bisa membuatnya bertahan dalam segala keadaan. Sekarang, dia hanya merasa lelah.
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan menjadikan kematian ibuku sebagai sesuatu yang harus kuterima demi mempertahankan pernikahan kita.”
Dia pergi tanpa menoleh.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan resmi dimulai. Ye Jingqiu dipanggil untuk memberikan keterangan, sementara rumah sakit menyerahkan catatan administrasi yang sebelumnya tidak pernah diperlihatkan kepada keluarga Zhiyi.
Jingnian tidak lagi menghubunginya secara langsung.
Untuk pertama kalinya, dia harus menghadapi akibat dari keputusannya tanpa bisa menyuruh Zhiyi memaafkannya.
Pada bulan kedelapan kehamilan, Zhiyi melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.
Dia menamainya Anning, berharap putrinya tumbuh dalam kehidupan yang damai, jauh dari kebohongan dan perebutan kekuasaan.
Jingnian datang ke rumah sakit, tetapi dia tidak meminta Zhiyi kembali. Dia hanya berdiri di luar kamar, menatap bayi yang sedang tidur dalam pelukannya dari kejauhan.
Zhiyi mengizinkannya melihat putri mereka dengan pendampingan pengacara dan sesuai pengaturan yang aman.
Ketika Jingnian hendak pergi, Zhiyi memanggilnya.
“Ada satu hal yang perlu kamu tahu.”
Dia menoleh.
“Ibuku pernah berkata bahwa orang yang paling menyakitimu belum tentu orang yang paling membencimu. Kadang-kadang, orang itu hanya terlalu mencintai dirinya sendiri untuk peduli pada penderitaan orang lain.”
Jingnian menunduk.
Zhiyi memeluk Anning lebih erat.
“Aku tidak ingin putriku tumbuh dengan menganggap pengorbanan sebagai bukti cinta.”
Beberapa bulan kemudian, Zhiyi kembali bermusik. Dia merilis sebuah lagu baru yang ditulisnya selama tinggal di vila. Lagu itu tidak menyebut nama siapa pun, tetapi bercerita tentang seorang perempuan yang kehilangan keluarganya dan akhirnya menemukan keberanian untuk melindungi anaknya.
Lagu tersebut menjadi populer.
Banyak orang mengira itu adalah kisah tentang patah hati biasa.
Hanya Zhiyi yang mengetahui makna sebenarnya.
Pada hari lagu itu dirilis, dia menerima sebuah amplop dari pengacara. Di dalamnya terdapat surat terakhir ibunya yang baru ditemukan dalam arsip lama rumah sakit.
Tulisan tangan ibunya tampak sedikit gemetar.
Zhiyi, jika kamu akhirnya mengetahui kebenaran tentang operasiku, jangan habiskan hidupmu untuk membenci mereka. Keadilan harus diperjuangkan, tetapi jangan biarkan kebencian mengambil sisa kebahagiaanmu. Kamu sudah kehilangan Ibu. Jangan sampai kamu juga kehilangan dirimu sendiri.
Zhiyi menangis lama sambil memeluk surat itu.
Kemudian dia mencium kening Anning yang tertidur di sampingnya.
Dia tidak tahu bagaimana masa depan akan berjalan. Dia juga tidak tahu apakah Jingnian akan benar-benar berubah.
Namun, dia tahu satu hal.
Dia tidak lagi harus tinggal bersama seseorang hanya karena takut kehilangan tempat untuk pulang.
Sebab rumah yang sesungguhnya bukanlah tempat seseorang menuntut pengorbanan tanpa batas, melainkan tempat cinta tidak pernah digunakan sebagai alasan untuk menyakiti.
Dan kali ini, Zhiyi memilih membangun rumah seperti itu untuk dirinya sendiri dan anaknya.
