Malam itu, dinginnya udara di mansion Imperial terasa menusuk tulang, namun tidak sedingin hati Alexander. Di balik lensa gelap kacamata hitamnya, matanya yang tajam menatap punggung Cassandra yang menjauh. Ia tidak lagi melihat wanita yang dulu ia cintai, melainkan seorang oportunis yang sedang menanti waktu untuk “menguangkan” tiket keluarnya.

Minggu-minggu berikutnya menjadi pertunjukan teater yang sunyi. Alexander membiarkan dirinya diinjak-injak harga dirinya. Cassandra mulai membawa teman-temannya ke rumah, bergosip tentang betapa “beban” memiliki tunangan yang buta, bahkan secara terang-terangan menerima telepon mesra dari Marcus tepat di depan wajah Alexander.
Pesta Topeng Pengkhianatan
Puncak dari sandiwara ini terjadi pada malam Gala Amal tahunan Imperial Holdings. Sebagai CEO, Alexander diwajibkan hadir. Cassandra, dengan gaun sutra merah yang memukau, menggandeng tangan Alexander dengan cara yang kasar, seolah memegang rantai anjing yang merepotkan.
Di ruang VIP, Marcus sudah menunggu. Tanpa rasa sungkan, Marcus merangkul pinggang Cassandra di depan Alexander. “Kasihan sekali, Alex,” bisik Marcus dengan nada menghina. “Dunia bisnis akan segera melupakanmu. Dan mungkin, Cassandra juga perlu suasana baru, bukan?”
Cassandra terkekeh, suaranya terdengar merdu namun beracun. “Tentu saja, Marcus. Lagipula, aku tidak bisa menghabiskan masa mudaku merawat pria yang bahkan tidak bisa membedakan warna matahari.”
Alexander hanya terdiam, memegang tongkatnya dengan jemari yang kokoh. Ia merasakan genggaman tangan Cassandra yang melonggar, lalu lepas sepenuhnya. Wanita itu melangkah pergi bersama Marcus menuju lantai dansa, meninggalkan Alexander sendirian di sudut ruangan yang remang-remang.
Detik Penentuan: Rencana yang Tak Terduga
Alexander mengeluarkan ponselnya. Bukan untuk menelpon pengacaranya, melainkan untuk memberikan satu perintah kepada asisten pribadinya, David. “Luncurkan sekarang. Hancurkan semuanya.”
Tepat saat musik mencapai puncaknya, lampu di aula utama padam. Suasana hening sejenak sebelum layar raksasa di belakang panggung menyala dengan proyeksi yang sangat jernih.
Bukan foto-foto skandal perselingkuhan yang muncul, melainkan data internal Marcus Corp. Dokumen-dokumen rahasia mengenai penggelapan pajak, penyuapan pejabat, dan bukti bahwa Marcus telah menjual aset-aset rahasia perusahaan kepada sindikat luar negeri. Di samping itu, muncul rekaman suara Cassandra yang tertawa terbahak-bahak saat merencanakan bagaimana ia akan menguras seluruh harta Alexander melalui perjanjian pranikah yang ia modifikasi secara ilegal.
Seluruh isi ruangan terkesiap. Bisikan berubah menjadi jeritan kaget. Marcus dan Cassandra yang sedang berada di tengah lantai dansa membeku, wajah mereka pucat pasi saat melihat nama mereka terpampang di layar sebagai buronan kepolisian yang baru saja dikeluarkan surat penangkapannya.
Topeng yang Jatuh
Alexander berdiri dari kursinya. Ia tidak lagi menggunakan tongkat. Dengan gerakan tenang dan elegan, ia melangkah maju, membelah kerumunan orang yang memberi jalan baginya. Ia berhenti tepat di depan Cassandra yang gemetar hebat.
Dengan satu gerakan halus, Alexander melepas kacamata hitamnya. Mata birunya yang dingin, tajam, dan sama sekali tidak buta, menatap Cassandra tepat di manik mata.
“Terima kasih atas aktingmu, Cassandra,” suara Alexander bergema, dingin dan berwibawa melalui pengeras suara. “Dua minggu pertama setelah kecelakaan itu, aku memang tidak bisa melihat. Tapi sejak saat itu, aku melihat dengan sangat jelas betapa busuknya hatimu.”
Cassandra terjatuh, gaun mewahnya terseret di lantai kotor. “Alex… ini… ini salah paham! Aku mencintaimu!”
“Cinta?” Alexander tertawa sinis, suara yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. “Cinta tidak meminta pengorbanan martabat. Kau bukan wanita yang kucintai; kau hanyalah investasi buruk yang baru saja kulikuidasi.”
Polisi masuk ke aula. Marcus mencoba melarikan diri, namun dikepung oleh tim keamanan pribadi Alexander yang telah berjaga di setiap pintu keluar.
Twist Terakhir: Kemenangan yang Sesungguhnya
Saat Marcus dan Cassandra diborgol dan diseret keluar, suasana ruangan menjadi sunyi senyap. Semua orang menatap Alexander, menanti apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia bukan hanya miliarder, ia adalah pria yang baru saja menata ulang peta kekuasaan di kota ini.
Namun, di tengah hiruk pikuk kejatuhan sang musuh, Alexander mendekati seorang wanita muda yang sejak tadi berdiri di pojok ruangan. Wanita itu adalah Maya, asisten perpustakaan di yayasan tunanetra milik keluarga Alexander—satu-satunya orang yang tetap memperlakukan Alexander dengan tulus, bahkan saat ia berpura-pura buta dan jatuh miskin.
Alexander memegang tangan Maya. “Kau tahu, Maya? Saat aku benar-benar buta, duniamu adalah satu-satunya cahaya yang bisa kurasakan. Kau membacakanku buku saat aku lelah, dan kau tidak pernah mengeluh meski aku hanyalah pria ‘cacat’ di matamu.”
Alexander berbalik menghadap hadirin yang terperangah. “Malam ini, bukan hanya pengkhianat yang dibuang. Malam ini, aku mengumumkan pengunduran diriku dari dunia yang penuh kepalsuan ini. Imperial Holdings akan diserahkan kepada yayasan amal, dan aku akan memulai hidup baru.”
Ia menatap mata Maya, lalu tersenyum—senyum yang benar-benar tulus untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Alexander Imperial tidak kehilangan segalanya; ia justru membuang sampah untuk menemukan mutiara yang selama ini ia abaikan.
Sementara di balik jeruji besi, Cassandra hanya bisa menatap dinding dingin, menyadari bahwa ia telah membuang permata demi segenggam debu yang kini bahkan tidak lagi memiliki harga. Kekayaan Alexander tetap utuh, namun kini, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: kebenaran yang tidak bisa dibeli oleh uang mana pun.
Permainan telah berakhir, dan Alexander Imperial baru saja memenangkan permainan kehidupan yang sesungguhnya.
