Aku menatap nama Rani yang tercetak di bawah dokumen itu. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku berkali-kali.
Rani. Sepupuku sendiri. Anak yang dulu sering menangis di pangkuan Ibu ketika ibunya pergi bekerja. Anak yang pernah dibelikan seragam sekolah oleh Ibu karena Tante Siska mengaku tidak punya uang.
Sekarang, namanya menjadi saksi dalam penjualan tanah milik Ibu.
“Ini tidak mungkin,” bisik Ibu. “Rani tidak mungkin melakukan itu.”
Aku menggenggam tangan Ibu. Bahkan setelah semua yang terjadi, perempuan itu masih berusaha membela orang-orang yang telah menyakitinya.
“Bu, kami akan mencari tahu kebenarannya.”

Notaris meminta kami tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Dokumen itu memang menunjukkan adanya dugaan pemalsuan identitas, tetapi semuanya harus diperiksa melalui proses hukum. Ia menyarankan kami membuat laporan resmi dan menyimpan seluruh bukti yang tersedia.
Dimas segera menghubungi seorang pengacara.
Sementara itu, aku terus memandangi foto verifikasi tersebut. Wajah perempuan berkudung itu memang bukan wajah Ibu. Namun, ada sesuatu yang lebih menggangguku daripada pemalsuan tanda tangan.
Di bagian belakang dokumen terdapat tanggal transaksi.
Empat tahun lalu.
Pada tanggal yang sama, Tante Siska mengirimkan pesan kepadaku bahwa Ibu sedang dirawat di rumah sakit karena jatuh di kamar mandi. Ia meminta tambahan uang untuk biaya pengobatan.
Aku membuka kembali riwayat percakapan lama.
Pesan itu masih ada.
Bahkan ada foto Ibu yang terbaring di ranjang rumah sakit, dengan selang infus di tangan.
Aku memperbesar gambar tersebut.
Lalu darahku terasa membeku.
Ibu tidak mengenakan gelang pasien rumah sakit mana pun. Selimutnya terlihat baru, tetapi di sudut foto terdapat pantulan cermin yang memperlihatkan sebuah lemari kayu dengan pegangan berbentuk bunga.
Aku pernah melihat lemari itu.
Lemari di kamar Rani.
“Mas, lihat ini.”
Dimas mendekat. Ia memperhatikan foto tersebut cukup lama, kemudian mengambil ponselnya sendiri dan membuka foto-foto yang pernah dikirim Tante Siska.
Di salah satu foto, Rani terlihat duduk di kamar yang sama, mengenakan pakaian yang berbeda. Lemari berbentuk bunga itu jelas terlihat di belakangnya.
“Jadi, foto Ibu di rumah sakit ini diambil di rumah Rani?” katanya pelan.
Aku mengangguk.
Kami belum tahu apakah Ibu pernah dirawat di rumah sakit pada hari itu. Namun, foto tersebut jelas bukan bukti yang dapat dipercaya.
Aku menyimpan semuanya, lalu mengirimkan salinannya kepada pengacara.
Hari itu juga, kami membawa Ibu ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lengkap. Kami memastikan ia mendapatkan obat yang diperlukan dan makanan yang cukup. Dokter mengatakan kondisinya membutuhkan pemulihan bertahap serta pengawasan rutin.
Ketika kami kembali ke penginapan, Ibu duduk di tepi ranjang sambil memandangi pakaian bersih yang kami belikan.
“Uang kalian pasti habis untuk Ibu,” katanya lirih.
Aku berlutut di hadapannya.
“Bu, jangan memikirkan uang. Kami hanya ingin Ibu sehat.”
Ibu mengusap rambutku seperti ketika aku masih kecil.
“Ibu tidak tahu harus berterima kasih bagaimana.”
Aku memeluknya erat.
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Mengapa Ibu tidak menghubungi kami? Mengapa ia percaya kepada Tante Siska selama bertahun-tahun?
Namun, melihat wajahnya yang kelelahan, aku memilih menunggu.
Malam itu, seseorang mengetuk pintu kamar kami.
Rani berdiri di luar.
Matanya merah. Ia tidak lagi mengenakan gelang emas tebal yang kulihat sehari sebelumnya.
“Aku harus bicara dengan kalian,” katanya.
Dimas berdiri di antara kami.
“Kalau mau berbohong lagi, pulang saja.”
Rani menunduk.
“Aku pantas dibenci. Tapi tolong, dengarkan aku sekali ini saja.”
Aku membiarkannya masuk.
Rani duduk di kursi, meremas kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.
“Aku memang menandatangani dokumen itu,” katanya akhirnya. “Tapi Mama yang mengatur semuanya.”
“Siapa perempuan yang menyamar sebagai Ibu?” tanyaku.
Rani menggeleng.
“Aku tidak tahu namanya. Mama bilang perempuan itu sudah dibayar dan semuanya sudah disiapkan. Aku diminta menjadi saksi karena Mama bilang itu cuma formalitas.”
Dimas tertawa hambar.
“Formalitas untuk menjual tanah milik nenekmu sendiri?”
Rani menangis.
“Aku tahu itu salah. Tapi waktu itu Mama mengancam akan mengusirku dari rumah. Aku tidak punya pekerjaan tetap. Semua uangku bergantung padanya.”
Aku menatapnya tanpa berkata-kata.
“Lalu kenapa kamu datang ke tempat Ibu dan memberinya uang?” tanyaku.
Rani menghapus air matanya.
“Karena tiga tahun lalu aku tidak sengaja mendengar Mama menelepon seseorang. Dia bilang Ibu sudah tidak punya apa-apa lagi dan tidak akan berani melawan.”
Ia menarik napas gemetar.
“Aku mencari Ibu. Ketika menemukannya, aku melihat keadaannya sangat buruk. Aku mulai memberinya uang diam-diam dari tabunganku.”
“Kenapa tidak memberi tahu kami?” Dimas bertanya tajam.
“Karena Mama bilang kalau kalian pulang, dia akan menuduh Ibu mencuri uang darinya. Mama juga bilang dia punya dokumen yang bisa membuat kalian dipenjara.”
Aku merasakan kemarahan menjalar ke seluruh tubuhku.
Tante Siska bukan hanya mengambil uang kami. Ia juga menggunakan ketakutan untuk membuat Ibu tetap diam dan membuat Rani merasa tidak punya jalan keluar.
Namun, satu pertanyaan masih menggangguku.
“Kalau kamu tahu Mama bersalah, kenapa kamu tetap tinggal di rumah itu?”
Rani terdiam cukup lama.
“Karena rumah itu bukan cuma dibeli dengan uang kalian,” jawabnya. “Sebagian uang penjualan tanah Ibu dipakai untuk membayar utang Mama. Rumah itu dibeli atas nama Mama, lalu direnovasi menggunakan uang kiriman kalian.”
Ia menatapku dengan mata basah.
“Aku tinggal di sana karena Mama bilang suatu hari semuanya akan menjadi milikku. Aku terlalu takut kehilangan kehidupan nyaman itu untuk mengakui bahwa semuanya dibangun dari penderitaan Ibu.”
Pengakuannya terasa lebih menyakitkan daripada kebohongan-kebohongan sebelumnya.
Bukan karena ia tidak punya pilihan sama sekali, melainkan karena ia pernah memiliki kesempatan untuk mengatakan kebenaran dan memilih diam.
Aku meminta Rani memberikan semua bukti yang dimilikinya kepada pengacara. Ia menyetujui permintaan itu dan bersedia memberikan keterangan kepada penyidik.
Keesokan harinya, kami membuat laporan resmi. Kami menyerahkan catatan transfer, foto-foto yang mencurigakan, salinan dokumen penjualan tanah, dan rekaman CCTV dari bengkel.
Penyelidikan tidak berjalan secepat yang kami harapkan.
Tante Siska membantah semua tuduhan. Ia mengaku uang kiriman kami digunakan untuk merawat Ibu dan membangun rumah. Ia bahkan menunjukkan sejumlah kuitansi yang menurutnya membuktikan pengeluarannya.
Namun, pemeriksaan lebih lanjut menemukan banyak transaksi yang tidak berkaitan dengan kebutuhan Ibu. Ada pembayaran cicilan mobil, perhiasan, perjalanan wisata, dan pelunasan utang pribadi.
Ketika dimintai keterangan mengenai penjualan tanah, Tante Siska mengaku bahwa Ibu telah memberikan kuasa secara sukarela.
Pernyataan itu mulai runtuh ketika penyidik menemukan bahwa dokumen identitas dan foto verifikasi mengandung sejumlah kejanggalan.
Rani akhirnya mengakui perannya sebagai saksi dan menyerahkan percakapan lama dengan ibunya. Percakapan itu tidak menjawab semua pertanyaan, tetapi membantu penyidik menelusuri bagaimana transaksi tersebut diatur.
Sementara proses hukum berlangsung, kami membawa Ibu tinggal bersama kami di sebuah rumah sewa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ibu tidur di ranjang yang bersih tanpa harus khawatir kapan uang sewanya habis.
Setiap pagi, aku menemaninya sarapan. Dimas mengatur jadwal pemeriksaan dan memastikan obatnya diminum tepat waktu.
Sedikit demi sedikit, Ibu mulai tersenyum lagi.
Suatu sore, ketika kami sedang duduk di teras, ia tiba-tiba berkata, “Naya, jangan sampai kalian menghancurkan hidup sendiri hanya karena ingin membalas perbuatan Tante Siska.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kami tidak ingin membalas, Bu. Kami hanya ingin kebenaran.”
Ibu mengangguk pelan.
“Kalau begitu, jangan biarkan kebencian membuat kalian menjadi seperti dia.”
Aku tidak menjawab. Nasihat itu terasa sederhana, tetapi jauh lebih sulit dijalankan daripada yang kubayangkan.
Beberapa bulan kemudian, penyelidikan menghasilkan perkembangan penting. Bukti-bukti yang terkumpul memperkuat dugaan penyalahgunaan dana dan pemalsuan dokumen. Proses hukum atas penjualan tanah serta penggunaan uang kiriman kami berlanjut melalui jalur yang berlaku.
Kami belum mendapatkan kembali seluruh uang yang hilang. Rumah besar itu pun belum menjadi milik Ibu kembali.
Namun, kami tidak lagi menghadapi semuanya dalam kegelapan.
Lalu, pada suatu pagi, pengacara kami datang membawa sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan yang diserahkan oleh Rani sebagai bagian dari keterangannya.
Surat itu ditujukan kepada Ibu.
Aku membacanya perlahan.
Rani meminta maaf karena telah membiarkan keserakahan ibunya menghancurkan kehidupan orang yang dahulu merawatnya. Ia juga mengakui bahwa sebagian uang yang ia terima selama bertahun-tahun berasal dari hasil penjualan tanah tersebut.
Di halaman terakhir, ada sebuah kalimat yang membuat Ibu terdiam lama.
“Aku tidak meminta Nenek memaafkanku. Aku hanya ingin suatu hari nanti, jika aku sudah berani hidup tanpa kebohongan Mama, aku bisa datang dan mengakui semua kesalahanku di depan Nenek.”
Ibu melipat surat itu dengan hati-hati.
“Dia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” katanya.
Aku mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Tapi kalau suatu hari dia benar-benar berubah, jangan tutup pintu selamanya.”
Aku menatap Ibu. Perempuan yang pernah kehilangan tanah, rumah, tabungan, dan hampir seluruh kesehatannya itu masih mampu membedakan keadilan dari kebencian.
Beberapa minggu kemudian, kami mengunjungi rumah lama Ibu di Jalan Kenanga. Kami tidak datang untuk bertengkar. Kami hanya ingin melihat tempat yang selama ini menjadi sumber kebohongan.
Rumah itu tampak berbeda dari foto-foto yang pernah dikirim Tante Siska. Catnya mulai mengelupas di beberapa bagian. Halaman depannya dipenuhi daun kering.
Ibu berdiri di depan pagar cukup lama.
“Dulu, Bapakmu ingin membangun rumah kecil dengan kebun mangga di belakang,” katanya. “Katanya, kalau kalian sudah besar, kita bisa berkumpul setiap Lebaran.”
Aku merangkul bahunya.
“Suatu hari kita akan punya rumah sendiri, Bu.”
Ibu tersenyum tipis.
“Rumah bukan soal besar atau kecil, Naya.”
Ia menatapku dan Dimas bergantian.
“Rumah adalah tempat orang tidak perlu berbohong agar bisa tinggal di dalamnya.”
Dalam perjalanan pulang, aku kembali teringat jumlah uang yang kami kirim selama enam tahun. Rp1,37 miliar. Angka yang dahulu membuatku yakin bahwa Ibu akan hidup berkecukupan.
Aku pernah mengira uang dapat membeli rasa aman bagi orang yang kami cintai.
Ternyata, uang hanya alat. Di tangan orang yang salah, bahkan niat paling tulus pun bisa diubah menjadi senjata.
Malam itu, Ibu meminta kami membuka sebuah kotak kecil yang ia simpan sejak zaman Bapak masih hidup. Di dalamnya terdapat foto keluarga yang sudah menguning dan sebuah amplop tipis.
Amplop itu berisi surat dari Bapak, ditulis jauh sebelum ia meninggal.
Ibu menyerahkannya kepadaku.
Tulisan Bapak singkat.
“Untuk Naya dan Dimas. Jika suatu hari kalian berhasil merantau dan pulang membawa banyak uang, ingatlah bahwa Ibu kalian tidak pernah membutuhkan kekayaan untuk merasa bahagia. Ia hanya membutuhkan anak-anaknya pulang dengan hati yang masih baik.”
Aku membaca surat itu dua kali.
Enam tahun kami bekerja keras untuk membangun rumah yang ternyata tidak pernah menjadi milik Ibu. Kami mengirim uang karena ingin memastikan ia tidak pernah kekurangan, tetapi lupa bahwa hal paling berharga baginya tidak bisa ditransfer melalui rekening bank.
Keesokan paginya, aku menyimpan surat Bapak di dalam dompet.
Perjuangan kami belum selesai. Uang yang hilang masih harus diperjuangkan melalui proses hukum, dan Ibu masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kesehatannya.
Namun, ada satu hal yang akhirnya kami pahami.
Kami memang pulang setelah enam tahun merantau. Kami menemukan Ibu di gudang tua, jauh dari rumah yang dibangun dengan pengorbanan kami.
Tetapi yang paling mengejutkan bukanlah betapa banyak uang yang telah dicuri.
Melainkan kenyataan bahwa selama bertahun-tahun kami berusaha mengirimkan kehidupan yang lebih baik untuk Ibu, sementara Ibu hanya menunggu satu hal yang tidak pernah bisa digantikan oleh uang.
Kepulangan kami.
