
Aku berdiri terpaku di depan layar ponsel, menatap foto Dafa yang tertidur di kamar utamaku. Di belakang keranjang bayi, dua koper besar milik Bu Marni berdiri di samping lemari pakaian, sementara kotak kayu peninggalan ibuku tergeletak terbuka di lantai.
Tanganku gemetar, bukan karena takut, melainkan karena marah. Selama tiga tahun menjalin hubungan dengan Reno, aku selalu percaya bahwa laki-laki itu adalah seseorang yang bisa kuajak membangun masa depan. Malam itu, aku akhirnya mengerti bahwa orang yang paling berbahaya bukanlah orang yang terang-terangan membencimu, melainkan orang yang menggunakan kepercayaanmu sebagai jalan masuk ke rumahmu sendiri.
Aku segera menelepon Kirana.
“Kamu masih di jalan?” tanyanya begitu mengangkat telepon.
“Aku harus pulang sekarang. Reno dan keluarganya masuk ke rumahku tanpa izin.”
Kirana terdiam sesaat. “Jangan pergi sendirian. Aku menyusulmu. Dan jangan hapus pesan apa pun.”
Aku mengirimkan foto yang diterima dari Bu Marni kepadanya, lalu memesan taksi menuju rumah. Sepanjang perjalanan, aku mencoba menghubungi Reno berkali-kali. Tidak satu pun panggilanku dijawab. Ketika aku menelepon Bu Marni, ia justru mengangkatnya pada dering kedua.
“Kenapa menelepon terus, Sinta? Dafa baru tidur.”
“Siapa yang memberimu izin masuk ke rumahku?”
Ia tertawa kecil, seolah pertanyaanku adalah lelucon yang tidak pantas dianggap serius.
“Reno punya kunci. Lagi pula, kamu dan dia sudah tiga tahun bersama. Apa salahnya keluarga saling membantu?”
“Reno punya kunci cadangan untuk keadaan darurat, bukan untuk memindahkan barang-barangmu ke rumahku.”
“Jangan egois. Bayi ini masih kecil. Ibu butuh tempat yang nyaman.”
“Kalau begitu, sewalah tempat tinggal dengan uang kalian sendiri.”
Suaranya langsung berubah dingin.
“Jaga ucapanmu, Sinta. Kamu akan menyesal memperlakukan keluarga kami seperti ini.”
Telepon terputus.
Ketika tiba di rumah, aku mendapati pagar depan terbuka. Reno berdiri di teras, mengenakan kaus yang biasa kupakai untuk bersantai bersamanya. Ia terlihat seperti pemilik rumah itu, bukan seseorang yang baru saja menerobos masuk tanpa izin.
“Akhirnya kamu pulang,” katanya. “Jangan membuat keributan. Ibu sedang beristirahat.”
Aku tidak menjawab. Aku mengangkat ponsel dan merekam keadaan di sekelilingku sebelum melangkah masuk.
Ruang tamu yang biasanya rapi dipenuhi kardus. Sepatu Bu Marni berjejer di dekat pintu. Beberapa pakaianku telah dipindahkan dari lemari, sementara foto almarhum ibuku yang biasanya berdiri di atas meja kini tersandar di dinding.
Aku berlari menuju kamar utama.
Kotak kayu peninggalan ibuku masih terbuka. Isinya berantakan. Beberapa surat lama dan perhiasan kecil yang kusimpan sebagai kenangan telah dikeluarkan.
Aku segera memeriksa isinya.
Kalung perak milik ibuku hilang.
“Reno!” teriakku.
Ia muncul di ambang pintu dengan wajah kesal. “Apa lagi?”
“Di mana kalung ibuku?”
“Mana aku tahu? Ibu cuma memindahkan beberapa barang supaya ada tempat untuk perlengkapan Dafa.”
“Kamu masuk tanpa izin, memindahkan barang-barangku, lalu sekarang perhiasanku hilang?”
Bu Marni keluar dari kamar mandi sambil menggendong Dafa. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tajam.
“Jangan menuduh sembarangan. Kami tidak membutuhkan perhiasan murahanmu.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau memang tidak mengambilnya, biarkan aku memeriksa barang-barang yang kalian bawa.”
Bu Marni langsung memeluk bayi itu lebih erat.
“Kamu mau menggeledah barang seorang ibu yang baru melahirkan? Tidak punya hati!”
Reno mendekat dan merendahkan suaranya.
“Sinta, hentikan. Besok kita bicarakan baik-baik. Kamu bisa tidur di kamar tamu sementara Ibu menggunakan kamar utama.”
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Ini rumahku.”
“Rumahmu juga rumahku kalau kita menikah nanti.”
“Tidak ada pernikahan setelah malam ini.”
Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya, aku melihat kemarahan yang selama ini tersembunyi di balik sikap manisnya.
“Kamu benar-benar mau menghancurkan semuanya hanya karena masalah kecil?”
Aku menunjuk kotak kayu di lantai.
“Masalah kecil? Kamu membawa keluargamu masuk ke rumahku tanpa izin, menggunakan identitasku untuk menjanjikan pembayaran yang tidak pernah kusetujui, lalu memperlakukan tempat tinggalku seperti milik kalian.”
Sebelum Reno sempat menjawab, bel rumah berbunyi.
Kirana berdiri di depan pagar bersama seorang petugas keamanan lingkungan yang ia kenal. Aku segera meminta mereka masuk sebagai saksi. Melihat orang lain datang, Bu Marni mulai menangis sambil mengatakan bahwa aku mengusir seorang ibu dan bayi yang tidak memiliki tempat berlindung.
Namun, tangisannya berhenti ketika Kirana bertanya dengan tenang, “Kalau kalian memang hanya datang untuk tinggal sementara, mengapa membawa koper sebanyak itu?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku meminta Reno mengembalikan kunci cadangan. Ia menolak, mengatakan bahwa kunci itu miliknya karena aku pernah memberikannya dengan sukarela.
“Kalau begitu, biarkan polisi yang menentukan,” jawabku.
Mendengar kata polisi, Reno akhirnya mengeluarkan kunci dari sakunya dan melemparkannya ke meja.
“Silakan. Tapi jangan berharap aku akan kembali setelah kamu mempermalukanku seperti ini.”
“Aku justru berharap kamu tidak pernah kembali.”
Malam itu, aku tidak membiarkan mereka pergi begitu saja tanpa mencatat barang-barang yang dibawa dan mendokumentasikan keadaan rumah. Dengan bantuan petugas keamanan, aku memastikan tidak ada pertengkaran fisik dan meminta mereka meninggalkan rumah sambil membawa barang-barang pribadi mereka. Bu Marni terus mengomel, tetapi akhirnya pergi bersama Reno dan Dafa.
Sebelum masuk ke mobil, Reno menoleh kepadaku.
“Kamu pikir kamu menang? Kamu bahkan tidak tahu apa yang sudah kamu tanda tangani.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
“Apa maksudmu?”
Ia hanya tersenyum tipis, lalu menutup pintu mobil.
Aku segera menghubungi pihak pusat pemulihan tempat Bu Marni melahirkan. Setelah menjelaskan situasinya, aku meminta agar semua dokumen yang menggunakan namaku diperiksa melalui prosedur resmi. Petugas administrasi berjanji mencatat keberatanku dan meneruskannya kepada bagian terkait.
Keesokan paginya, seorang petugas menghubungiku. Ia mengatakan bahwa pihak mereka menemukan salinan dokumen yang diduga memuat tanda tanganku pada berkas pengajuan jaminan pembayaran.
Aku meminta salinan dokumen itu melalui jalur resmi.
Ketika akhirnya menerimanya, aku merasa darahku seolah berhenti mengalir.
Di bawah namaku terdapat tanda tangan yang sangat mirip dengan milikku. Namun, ada satu perbedaan kecil pada huruf terakhir yang tidak pernah kulakukan.
Lebih mengejutkan lagi, dokumen itu mencantumkan alamat rumahku sebagai tempat tinggal keluarga pasien dan nomor teleponku sebagai kontak penanggung jawab.
Aku membawa dokumen tersebut ke kantor polisi untuk meminta petunjuk mengenai langkah yang dapat kuambil. Aku juga menghubungi bank tempatku menyimpan tabungan untuk memeriksa apakah ada pengajuan lain yang menggunakan dataku.
Siang harinya, bank mengonfirmasi adanya permohonan pinjaman yang pernah diajukan menggunakan salinan identitasku. Permohonan itu belum disetujui karena proses verifikasi tidak selesai.
Nama pemohon utamanya adalah Reno.
Aku terduduk di kursi kantor, membaca berulang kali informasi yang dikirimkan pihak bank. Jadi, masalah persalinan itu bukan sekadar upaya memaksaku menanggung biaya. Ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang sudah mereka persiapkan sebelum aku mengetahui kebohongan mereka.
Kirana datang menjemputku setelah mendengar kabar itu.
“Kamu ingat kapan terakhir kali Reno memegang dokumen pribadimu?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan. Setahun sebelumnya, aku pernah membantunya menyiapkan berkas untuk pengajuan kredit mobil. Saat itu, ia mengatakan membutuhkan salinan KTP-ku hanya untuk mengisi data kontak darurat.
Aku menyerahkan salinannya tanpa berpikir panjang.
“Aku bodoh sekali,” bisikku.
Kirana menggenggam tanganku.
“Mempercayai seseorang bukan kesalahanmu. Menyalahgunakan kepercayaan itu adalah pilihannya.”
Sore harinya, sebuah nomor tidak dikenal mengirimiku pesan.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat.
Jika kamu ingin tahu mengapa Reno begitu bersikeras mempertahankan hubungan kalian, temui aku di tempat parkir pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza pukul tujuh malam. Datang sendiri.
Aku hampir mengabaikannya. Namun, beberapa menit kemudian, pengirim tersebut mengirimkan foto sebuah amplop cokelat dengan nama lengkapku tertulis di bagian depan.
Aku memutuskan tidak datang sendirian. Setelah memberi tahu Kirana dan mengirimkan lokasi pertemuan kepadanya, aku tiba di pusat perbelanjaan sesuai waktu yang ditentukan.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di dekat mobil hitam. Wajahnya tampak pucat. Begitu melihatku, ia langsung menyebut namanya.
“Aku Maya. Mantan rekan kerja Reno.”
Ia menyerahkan amplop itu kepadaku.
“Reno pernah meminta bantuanku mencari cara mendapatkan pinjaman untuk membuka usaha. Ketika bank menolak pengajuannya, dia mulai membicarakan kemungkinan menggunakan data orang lain.”
Aku membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar cetakan percakapan antara Reno dan seseorang yang tidak kukenal.
Dalam salah satu pesan, Reno menulis bahwa hubunganku dengannya membuat akses terhadap dokumen dan informasi pribadiku menjadi mudah. Pesan lainnya membahas rencana menggunakan rumahku sebagai alamat pendukung pengajuan pinjaman.
Namun, kalimat yang paling membuatku sesak bukanlah tentang uang.
Reno menulis bahwa ia akan menikah denganku setelah urusan pinjaman selesai, karena keluarganya membutuhkan seseorang yang memiliki penghasilan tetap dan rumah sendiri.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
“Tapi mengapa kamu memberikan ini kepadaku?” tanyaku.
Maya menunduk.
“Karena aku pernah ikut membantunya menyusun berkas itu. Awalnya aku pikir semuanya sah. Setelah tahu dia menggunakan identitasmu tanpa izin, aku mencoba menghentikannya. Dia justru mengancam akan menyalahkanku jika masalah ini terbongkar.”
Ia lalu menunjukkan satu pesan terakhir yang dikirim Reno kepadanya dua hari sebelum persalinan Bu Marni.
Pesan itu menyebutkan bahwa keluarga Reno akan menggunakan kelahiran Dafa untuk menekan diriku agar menerima tanggung jawab finansial. Jika aku menolak, mereka akan membuatku merasa bersalah di hadapan keluarga besar. Jika aku setuju, mereka berharap aku juga bersedia menyediakan rumah.
Aku akhirnya memahami mengapa undangan makan malam itu dipenuhi begitu banyak kerabat. Mereka bukan sekadar ingin meminta bantuan. Mereka ingin menciptakan tekanan sosial agar aku menyerah sebelum sempat memeriksa dokumen yang mereka gunakan.
Aku membawa seluruh bukti ke pihak berwenang dan mengikuti prosedur pelaporan yang diperlukan. Aku juga meminta bantuan hukum untuk melindungi hak atas rumah dan identitasku. Prosesnya tidak selesai dalam semalam, tetapi setidaknya aku tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.
Beberapa hari kemudian, Reno mengirim pesan panjang. Ia mengaku menyesal, mengatakan bahwa ia terpaksa melakukan semua itu demi keluarga dan meminta kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami.
Aku tidak membalas.
Sebagai gantinya, aku mengirimkan satu pesan terakhir.
Aku pernah membayangkan membangun keluarga bersamamu. Sekarang aku tahu, yang ingin kamu bangun hanyalah kehidupan yang bisa kamu biayai dengan kepercayaan orang lain.
Setelah itu, aku memblokir nomornya.
Sebulan kemudian, ketika aku sedang membereskan kembali kotak kayu peninggalan ibuku, seorang petugas menghubungiku untuk mengonfirmasi perkembangan penanganan laporan. Ia juga menyampaikan bahwa kalung perak yang hilang telah ditemukan di antara barang-barang yang sebelumnya dibawa dari rumahku.
Aku memegang kalung itu lama sekali.
Ibuku pernah berkata bahwa rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat seseorang bisa menutup pintu tanpa harus takut kepada orang yang berada di dalamnya.
Dulu, aku mengira kehilangan Reno akan menjadi hal paling menyakitkan dalam hidupku. Ternyata, yang lebih menyakitkan adalah menyadari bahwa selama tiga tahun, aku mencintai seseorang yang hanya melihatku sebagai jalan keluar dari masalahnya.
Malam itu, aku meletakkan kalung ibuku kembali ke dalam kotak, menutupnya rapat, lalu menyimpan kuncinya di tempat yang aman.
Aku tidak mendapatkan kembali tiga tahun yang telah berlalu. Aku juga tidak bisa menghapus semua kebohongan yang pernah kupercaya.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa duduk sendirian di ruang tamu rumahku tanpa merasa harus meminta izin kepada siapa pun.
Dan akhirnya aku memahami sesuatu yang sederhana, tetapi mahal harganya.
Tidak semua orang yang menyebutmu keluarga ingin melindungimu. Sebagian hanya ingin memastikan bahwa ketika mereka membutuhkan sesuatu, pintumu akan selalu terbuka.
Kini, pintu itu tetap ada.
Hanya saja, aku tidak lagi membukanya untuk orang yang datang membawa kebohongan.
