Keluargaku Diam-Diam Membiarkan Kakakku Mendekati Tunanganku—Seminggu Sebelum Pernikahan, Aku Menemukan Dua Tiket Pesawat Yang Mengubah Keputusanku

Aku menerima pesan itu sambil menatap wajah orang-orang yang selama ini kusebut keluarga. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut kehilangan mereka. Aku justru takut jika terus tinggal, suatu hari nanti aku akan kehilangan diriku sendiri.

Besok malam, aku akan pergi.

Namun sebelum itu, aku masih memiliki satu urusan yang harus kuselesaikan.

Pernikahan yang mereka banggakan itu harus berlangsung sesuai rencana. Bukan karena aku masih ingin menikahi Arga, melainkan karena aku ingin semua orang menyaksikan sendiri akibat dari pilihan yang telah mereka buat.

Pagi berikutnya, aku bangun lebih awal dan menghubungi pihak penyelenggara pernikahan. Aku meminta mereka mempertahankan dekorasi, susunan acara, dan daftar tamu seperti semula. Hanya ada satu perubahan yang harus dilakukan pada bagian akhir acara.

Aku juga meminta seorang pengacara yang sudah lama kukenal untuk datang membawa dokumen tertentu.

Ketika ia bertanya apakah aku benar-benar yakin, aku menjawab tanpa ragu.

“Selama bertahun-tahun, aku selalu memastikan semua orang baik-baik saja. Sekarang, aku hanya ingin memastikan diriku sendiri tidak hancur.”

Ia mengangguk dan tidak bertanya lagi.

Menjelang siang, Arga datang membawa sekotak kue kesukaanku. Ia terlihat seperti laki-laki yang sama yang dahulu menungguku di depan rumah sakit setelah aku menyelesaikan pendidikan kedokteran. Dulu, ia pernah berjanji tidak akan membiarkanku menghadapi kesulitan sendirian.

Kini aku tahu, janji itu hanya berlaku selama kesulitanku tidak mengganggu keinginannya.

“Kamu sudah lebih tenang?” tanyanya sambil meletakkan kotak kue di meja.

“Aku tidak pernah semarah yang kamu bayangkan.”

Ia mengerutkan kening. “Kalau begitu, kenapa kamu terus menghindar?”

Aku menatapnya. “Arga, kalau kamu punya kesempatan mengulang sembilan tahun terakhir, apakah kamu akan memilihku lagi?”

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

Hanya sesaat, tetapi cukup bagiku untuk melihat jawabannya sebelum ia mengucapkannya.

“Tentu saja,” katanya akhirnya. “Kamu tahu aku mencintaimu.”

“Kalau begitu, kenapa nama Maya ada di tiket pesawatmu?”

Wajahnya berubah seketika.

Aku tidak pernah menunjukkan foto tiket itu kepadanya. Aku juga tidak pernah menyebutkan tanggal keberangkatannya. Namun ketika mendengar pertanyaanku, ia tidak bertanya dari mana aku tahu. Ia hanya duduk perlahan, seolah seluruh kebohongan yang dibangunnya baru saja runtuh.

“Nadira, aku bisa menjelaskan.”

“Silakan.”

Ia mengusap wajahnya. “Maya sedang mengalami masa sulit. Rafi membutuhkan figur ayah. Aku hanya ingin membantu mereka.”

“Apakah bantuan itu termasuk merencanakan perjalanan berdua ke Bali dua hari setelah pernikahan kita?”

Arga tidak menjawab.

Aku mengangguk kecil. “Kamu bahkan tidak perlu berbohong lagi. Diam saja sudah cukup.”

“Nadira, dengarkan aku. Aku tidak pernah berniat menyakitimu.”

Kalimat itu hampir membuatku tertawa. Orang-orang sering mengira niat baik dapat menghapus akibat buruk, seolah luka hanya muncul ketika seseorang sengaja mengayunkan pisau.

“Kalau kamu tidak berniat menyakitiku, mengapa kamu menyembunyikannya?”

“Aku takut kamu salah paham.”

“Jadi, kamu memilih memastikan aku tidak punya kesempatan untuk memahami kebenaran?”

Arga menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertunangan, aku melihatnya tanpa kekaguman. Bukan seorang perwira tinggi yang selalu tampak tegas dan dapat diandalkan, melainkan seorang laki-laki yang berharap semua orang menerima keputusannya tanpa menuntut kejujuran.

“Aku mencintai Maya,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga mencintaimu.”

Aku terdiam cukup lama.

Dulu, mungkin aku akan bertanya bagaimana mungkin seseorang mencintai dua orang sekaligus. Kini aku tidak lagi tertarik pada penjelasan yang hanya akan menjadikanku salah satu pilihan dalam hidupnya.

“Kamu berhak mencintai siapa pun, Arga. Tapi kamu tidak berhak menjadikan pernikahan denganku sebagai perlindungan sampai kamu siap memilih orang lain.”

Ia bangkit dan mencoba meraih tanganku. Aku mundur.

“Batalkan keberangkatan itu,” katanya tergesa-gesa. “Kita tetap menikah. Setelah itu, aku akan menyelesaikan semuanya.”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Justru itulah masalahnya. Kamu selalu meminta waktu setelah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kamu lakukan.”

Aku membuka pintu dan mempersilakannya pergi.

Sore itu, Maya datang sendirian.

Ia mengenakan gaun sederhana dan membawa foto lama kami ketika masih kecil. Dalam foto itu, aku berdiri di sampingnya sambil memegang boneka, sedangkan Maya merangkul bahuku. Kami tersenyum lebar di depan rumah lama keluarga kami.

“Aku tahu kamu membenciku sekarang,” katanya.

“Aku tidak membencimu.”

“Kalau begitu, kenapa kamu melakukan ini kepada kami?”

Aku menatapnya. “Apa yang kulakukan kepadamu, Kak?”

Maya menggenggam foto itu erat-erat.

“Kamu akan pergi. Kamu akan meninggalkan keluarga ini. Rafi juga akan kehilangan seseorang yang selama ini selalu membantunya.”

Aku merasakan sesuatu yang pahit bergerak di dadaku. Bahkan sekarang, setelah semua yang terjadi, ia masih berbicara seolah kepergianku merupakan kesalahan yang harus kupertanggungjawabkan.

“Rafi tidak pernah melakukan kesalahan apa pun,” kataku. “Aku tetap menyayanginya. Tapi aku tidak bisa terus menjadi orang yang menanggung akibat dari keputusan orang dewasa di sekitarnya.”

Air mata mengalir di pipi Maya.

“Aku kesepian, Nadira. Setelah perceraian, aku merasa hidupku sudah selesai. Arga membuatku merasa masih berharga.”

Aku memandang kakakku lama sekali.

Aku memahami kesepiannya. Aku memahami bahwa perceraian dapat meninggalkan luka dan membuat seseorang meragukan dirinya sendiri. Namun memahami penderitaannya tidak berarti aku harus menerima pengkhianatannya.

“Kakak boleh mencari kebahagiaan,” kataku pelan. “Tapi mengapa kebahagiaan itu harus dibangun di atas hidupku?”

Maya tidak menjawab.

Sebelum pergi, ia meletakkan foto masa kecil kami di atas meja.

“Nadira, Ibu dan Ayah hanya ingin aku bahagia.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, untuk pertama kalinya, biarkan aku juga bahagia.”

Keesokan harinya, gedung pernikahan dipenuhi tamu. Bunga putih menghiasi lorong menuju pelaminan. Para kerabat sibuk berfoto, sementara keluargaku tersenyum seolah tidak ada sesuatu pun yang salah.

Aku mengenakan gaun pengantin yang kupilih berbulan-bulan sebelumnya.

Ibu menangis ketika melihatku.

“Kamu cantik sekali, Nak.”

Aku memeluknya. Ada bagian kecil dalam diriku yang masih berharap ia akan meminta maaf, tetapi Ibu hanya merapikan kerudungku dan berkata, “Hari ini jangan memikirkan masalah lain. Buat Arga bahagia.”

Aku melepaskan pelukannya perlahan.

“Aku sudah terlalu lama melakukan itu, Bu.”

Senyumnya menghilang.

Sebelum ia sempat bertanya, musik mulai dimainkan.

Arga berdiri di depan altar dengan seragam upacara yang rapi. Ketika melihatku berjalan mendekat, ia tersenyum lega. Mungkin ia mengira aku telah menyerah pada keadaan. Mungkin ia yakin aku masih akan memilihnya karena sembilan tahun terlalu panjang untuk dilepaskan dalam satu hari.

Aku berhenti tepat di hadapannya.

Petugas upacara memulai prosesi, tetapi sebelum janji pernikahan dibacakan, aku mengangkat tangan.

“Maaf. Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan kepada semua tamu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ayah berdiri dari kursinya. “Nadira, jangan sekarang.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi, Yah? Setelah semua orang pulang dan aku diminta berpura-pura tidak tahu?”

Arga berbisik, “Nadira, kumohon.”

Aku mengambil mikrofon.

“Saya ingin meminta maaf kepada semua orang yang datang hari ini. Acara ini tidak akan dilanjutkan.”

Suara gaduh langsung memenuhi ruangan.

Ibu menutup mulutnya. Ayah berjalan cepat ke arahku, tetapi pengacara yang kuminta hadir berdiri di sampingku dan menyerahkan sebuah amplop.

Aku mengeluarkan surat pernyataan pembatalan pernikahan yang telah kusiapkan bersama pihak terkait. Tidak ada teriakan, tidak ada adegan dramatis seperti yang mungkin diharapkan para tamu. Aku hanya menjelaskan bahwa aku tidak dapat menikahi seseorang yang telah merencanakan masa depan bersama perempuan lain sambil menyembunyikannya dariku.

Kemudian aku memandang Arga.

“Aku tidak akan mengungkapkan semua hal pribadi yang kamu ceritakan kepadaku selama sembilan tahun. Tapi aku juga tidak akan membiarkan kebohongan ini menjebakku seumur hidup.”

Wajahnya pucat.

“Aku bisa memperbaiki semuanya,” katanya.

“Tidak semua hal bisa diperbaiki dengan meminta kesempatan kedua.”

Aku menyerahkan mikrofon kepada pembawa acara, lalu berjalan meninggalkan pelaminan.

Namun kejutan terbesar bukanlah pembatalan pernikahan itu.

Ketika aku sampai di lobi, Rafi berlari menghampiriku. Ia memeluk pinggangku erat-erat.

“Bibi Nadira, Bibi tidak jadi menikah?”

Aku berjongkok dan merapikan rambutnya.

“Tidak, Sayang.”

“Berarti Bibi tidak pergi?”

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum.

“Bibi tetap harus pergi.”

Matanya berkaca-kaca. “Kapan pulang?”

Aku memeluknya.

“Ketika waktunya tiba. Tapi Bibi akan tetap menjadi Bibi yang menyayangimu.”

Dari belakang, kudengar langkah Maya mendekat. Ia berdiri beberapa meter dariku, menangis tanpa suara. Untuk pertama kalinya, aku tidak mencoba menghampirinya untuk menenangkan perasaannya.

Aku sudah cukup lama melakukannya.

Malam itu, aku berangkat menuju bandara bersama sebuah koper, dokumen penugasan, dan foto masa kecil kami yang kutemukan kembali di meja rumah orang tuaku. Aku tidak tahu kapan hubungan kami akan pulih. Aku juga tidak tahu apakah Ayah dan Ibu suatu hari akan memahami keputusanku.

Namun aku tahu satu hal: aku tidak lagi harus mengorbankan hidupku demi menjaga kenyamanan mereka.

Sembilan hari yang semula direncanakan untuk keberangkatanku berubah menjadi satu malam yang panjang. Menjelang tengah malam, pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan. Aku memandang lampu-lampu kota dari balik jendela dan membiarkan air mata jatuh tanpa berusaha menahannya.

Bukan karena aku menyesali keputusanku, melainkan karena akhirnya aku berani mengakui bahwa orang yang paling ingin kuselamatkan selama ini adalah diriku sendiri.

Beberapa bulan kemudian, aku bertugas di sebuah rumah sakit lapangan di Afrika Timur. Hari-hariku dipenuhi pasien, rekan kerja, dan tantangan yang jauh lebih besar daripada persoalan yang kutinggalkan. Aku mulai menemukan kembali bagian diriku yang lama hilang.

Suatu malam, sebuah pesan masuk dari nomor Ibu.

Ibu tidak meminta aku pulang. Ia juga tidak membela Ayah, Maya, atau Arga. Ia hanya menulis bahwa ia baru memahami sesuatu setelah rumah terasa begitu sepi tanpa kehadiranku.

Selama ini, katanya, mereka mengira Nadira selalu kuat sehingga tidak akan pernah terluka. Mereka lupa bahwa orang yang paling sering mengalah juga bisa mencapai batasnya.

Aku membaca pesan itu berkali-kali sebelum membalas.

“Aku masih menyayangi Ibu. Tapi aku tidak akan kembali menjadi orang yang harus selalu mengalah.”

Beberapa menit kemudian, Ibu mengirimkan satu kalimat.

“Ibu mengerti, Nak. Maafkan Ibu karena baru memahaminya setelah kehilangan kepercayaanmu.”

Aku belum bisa memaafkan semuanya saat itu. Namun untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus melakukannya dengan segera.

Lalu sebuah pesan lain masuk, kali ini dari nomor yang tidak kukenal.

Pesannya singkat.

“Dokter Nadira, saya Maya. Ada sesuatu tentang Ayah yang harus kamu ketahui. Tiket ke Bali itu bukan awal dari semuanya. Ayah sudah mengetahui hubungan Arga dan saya sejak jauh sebelum pertunangan kalian.”

Aku membaca pesan itu dalam diam.

Di luar, hujan mulai turun di atas atap rumah sakit lapangan. Aku memandang layar ponsel, merasakan luka lama kembali terbuka, tetapi kali ini aku tidak membiarkannya menentukan langkahku.

Aku mengetik satu jawaban.

“Kalau Kakak ingin mengatakan kebenaran, katakan semuanya. Aku tidak akan lagi menerima potongan cerita yang dirancang agar semua orang terlihat benar.”

Setelah pesan terkirim, aku meletakkan ponsel dan kembali menemui pasien yang menungguku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus segera mengetahui semua jawaban.

Sebab kini aku mengerti bahwa meninggalkan kebohongan bukan berarti melarikan diri dari kenyataan. Terkadang, itu adalah satu-satunya cara untuk menghadapi kenyataan tanpa kehilangan diri sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang