Hari Perceraianku dengan Bimo Hartono, Nenek Langsung Mengunggah Delapan Belas Foto Pria Lajang ke Grup Keluarga dan Membuat Semua Pria Hartono Berebut Tiket Pulang dalam Semalam

Malam itu, setelah mengunggah foto segelas anggur merah tanpa cincin kawin di jarinya, Ayu Lestari mematikan ponsel dan bersandar di sofa apartemennya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak perlu menunggu seseorang pulang, tidak perlu menebak alasan sebuah janji dibatalkan, dan tidak perlu berpura-pura baik-baik saja ketika hatinya terluka.

Ia mengira perceraian itu akan menjadi akhir dari semua urusannya dengan keluarga Hartono.

Ternyata, justru malam itu semuanya baru dimulai.

Pukul sembilan malam, ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Ayu, ini Dimas. Aku baru saja meninggalkan London. Besok pagi aku tiba di Jakarta. Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin bertemu.”

Ayu mengernyit. Ia tahu nama Dimas Wijaya. Pria itu merupakan cucu tertua dari cabang utama keluarga Hartono, sosok yang hampir tidak pernah muncul dalam acara keluarga karena bertahun-tahun mengurus bisnis di luar negeri.

Mereka pernah bertemu beberapa kali. Dimas selalu sopan, tetapi dingin dan sulit ditebak. Bahkan ketika anggota keluarga lain sibuk membicarakan saham, perusahaan, dan calon pasangan, ia biasanya memilih duduk di sudut ruangan sambil membaca dokumen.

Mengapa sekarang dia ingin menemuinya?

Ayu mengetik singkat, “Ada keperluan apa?”

Balasannya datang beberapa detik kemudian.

“Ada sesuatu yang seharusnya kusampaikan sejak tiga tahun lalu.”

Ayu menatap layar cukup lama, tetapi tidak membalas lagi.

Di rumah keluarga Hartono, Bimo sama sekali tidak bisa tidur.

Ia membuka akun media sosial Ayu berulang kali, berharap menemukan unggahan yang bisa memberinya petunjuk tentang keadaan mantan istrinya. Namun, tidak ada foto dirinya, tidak ada kalimat sedih, bahkan tidak ada sindiran tentang pernikahan mereka.

Ayu hanya mengunggah foto secangkir kopi pada pagi hari, pemandangan kota pada sore hari, lalu sebuah kalimat sederhana menjelang malam.

“Kadang-kadang, kehilangan sesuatu adalah cara terbaik untuk menemukan diri sendiri.”

Bimo mendengus pelan.

“Dia hanya sedang berusaha terlihat kuat.”

Namun, ketika ia hendak membuka profil Ayu lagi, layar menampilkan tulisan bahwa akun tersebut tidak bisa diakses.

Ayu telah memblokirnya.

Bimo melempar ponsel ke kasur.

Selama tiga tahun, ia selalu menganggap Ayu akan menunggunya, apa pun yang terjadi. Ia pikir selama ia menyediakan rumah nyaman, kartu kredit, dan kehidupan tanpa kekurangan, Ayu tidak punya alasan untuk pergi.

Ia lupa bahwa istrinya bukan penghuni rumah yang membutuhkan izin untuk bahagia.

Keesokan paginya, berita kedatangan Dimas menyebar ke seluruh keluarga Hartono. Nenek Hartono bahkan meminta sopir menjemputnya langsung di bandara.

Namun, Dimas tidak pulang ke rumah keluarga.

Ia langsung pergi ke sebuah kafe kecil di kawasan Menteng, tempat Ayu menyetujuinya untuk bertemu.

Ketika Dimas tiba, Ayu sudah duduk di dekat jendela. Ia mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang hitam. Wajahnya tampak tenang, meskipun ada kelelahan yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.

Dimas menarik kursi di hadapannya.

“Kamu terlihat berbeda,” katanya.

Ayu tersenyum tipis. “Karena sekarang aku tidak perlu berusaha terlihat bahagia.”

Dimas terdiam sesaat.

“Kamu benar.”

Pelayan datang mengantarkan kopi. Setelah pelayan pergi, Dimas mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas kerjanya.

“Aku ingin kamu membaca ini sebelum memutuskan apakah kamu masih mau berhubungan dengan keluarga Hartono.”

Ayu membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat salinan beberapa surat elektronik, laporan transaksi, dan dokumen perusahaan.

Semakin lama ia membaca, semakin pucat wajahnya.

Tiga tahun lalu, sebelum pernikahannya dengan Bimo, perusahaan keluarga Lestari hampir kehilangan salah satu investor utamanya. Ayah Ayu yang sudah meninggal meninggalkan sejumlah saham dan kewajiban bisnis yang rumit. Pada saat itulah keluarga Hartono menawarkan bantuan melalui sebuah kesepakatan bisnis.

Selama ini, Ayu mengira pernikahannya dengan Bimo sama sekali tidak berkaitan dengan urusan tersebut.

Namun, dokumen di tangannya menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Ada kesepakatan internal yang menyebutkan bahwa pernikahan mereka akan memperkuat hubungan bisnis kedua keluarga. Nama Bimo tercantum dalam beberapa surat elektronik yang membahas kemungkinan penggabungan aset.

Ayu mengangkat kepala.

“Jadi, selama ini aku hanya bagian dari kesepakatan bisnis?”

“Tidak sesederhana itu,” jawab Dimas. “Awalnya, beberapa orang memang memandang pernikahan kalian sebagai keuntungan bagi kedua keluarga. Tetapi aku tidak pernah menemukan bukti bahwa Bimo menikahimu hanya demi bisnis.”

“Lalu, kenapa kamu baru menunjukkan ini sekarang?”

Dimas menarik napas panjang.

“Karena aku baru mendapatkan seluruh dokumennya bulan lalu. Dan karena ada satu hal lain yang lebih penting.”

Ia mendorong selembar surat ke arah Ayu.

Surat itu berasal dari tiga tahun lalu, ditulis oleh mendiang ayah Ayu kepada Nenek Hartono.

Isinya singkat. Ayah Ayu meminta keluarga Hartono memastikan bahwa putrinya tetap memiliki hak penuh atas saham warisan dan tidak dipaksa menyerahkannya kepada siapa pun setelah menikah.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan Nenek Hartono.

Ayu merasakan tenggorokannya mengencang.

“Nenek tahu?”

“Ya,” jawab Dimas. “Nenek tahu bahwa ayahmu sangat mengkhawatirkan masa depanmu. Itulah sebabnya Nenek selalu membelamu ketika ada anggota keluarga yang mencoba mencampuri urusanmu.”

Ayu teringat bagaimana Nenek Hartono selalu mengiriminya makanan kesukaannya, membelanya saat beberapa kerabat menganggapnya tidak cukup pantas menjadi istri Bimo, dan meneleponnya setiap kali ia pulang ke rumah orang tuanya.

Selama ini, Ayu menganggap semua itu sekadar kasih sayang seorang nenek kepada menantu perempuan.

Ternyata, ada janji yang jauh lebih dalam di baliknya.

“Lalu, kenapa Bimo tidak pernah mengatakan apa pun?” bisiknya.

Dimas menatap cangkir kopi di hadapannya.

“Karena Bimo selalu percaya bahwa selama kebutuhanmu terpenuhi, kamu tidak akan meninggalkannya. Dia tidak memahami bahwa melindungi seseorang tidak sama dengan mencintainya dengan benar.”

Kalimat itu menghantam Ayu lebih keras daripada semua dokumen tadi.

Ia menutup amplop tersebut.

“Aku tidak ingin kembali ke keluarga Hartono hanya karena ada rahasia yang belum terungkap.”

“Aku tahu.”

“Dan aku juga tidak ingin seseorang mendekatiku hanya karena merasa harus menyelamatkanku.”

Dimas mengangguk pelan.

“Kalau begitu, izinkan aku mengenalmu tanpa membawa nama keluarga Hartono.”

Ayu menatapnya, mencoba mencari sesuatu yang tersembunyi di balik wajah tenangnya.

“Kamu baru saja meminta namamu dimasukkan ke daftar calon suami yang dibuat Nenekku sendiri.”

Untuk pertama kalinya, Dimas tertawa kecil.

“Itu cara paling buruk untuk memulai sebuah hubungan.”

“Setidaknya kamu menyadarinya.”

Mereka berpisah tanpa janji apa pun. Namun, sebelum pergi, Dimas mengatakan bahwa ia akan menghormati keputusan Ayu, apa pun itu.

Sementara itu, di rumah keluarga Hartono, Bimo akhirnya kehilangan kesabarannya.

Ia datang menemui neneknya dan meminta agar semua pembicaraan tentang calon pasangan Ayu dihentikan.

Nenek Hartono menatapnya tajam.

“Kenapa? Kamu sudah menceraikannya. Sekarang kamu ingin memastikan tidak ada orang lain yang boleh membahagiakannya?”

“Aku hanya tidak ingin dia dimanfaatkan.”

“Lalu, selama tiga tahun ini, siapa yang membiarkan dia merasa sendirian?”

Bimo tidak menjawab.

Nenek menghela napas. Kemarahannya perlahan berubah menjadi kesedihan.

“Bimo, kamu selalu mengira cinta adalah sesuatu yang akan tetap ada tanpa perlu dirawat. Kamu baru menyadari nilainya setelah kehilangan orang yang memberikannya.”

Bimo menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki alasan untuk membela diri.

Beberapa hari kemudian, Ayu menerima surat resmi dari pengacara keluarga Hartono. Seluruh hak saham warisan yang selama ini berada dalam pengawasan administratif telah dikembalikan kepadanya. Tidak ada syarat, tidak ada tuntutan untuk bertemu Bimo, dan tidak ada kewajiban mempertahankan hubungan dengan keluarga tersebut.

Di dalam amplop yang sama terdapat sepucuk surat tulisan tangan dari Nenek Hartono.

“Nak Ayu, Nenek minta maaf karena terlalu lama membiarkanmu berjuang sendirian. Nenek ingin kamu bahagia, bahkan jika kebahagiaan itu tidak lagi melibatkan keluarga kami.”

Ayu menangis saat membacanya.

Bukan karena ingin kembali, melainkan karena akhirnya ia menyadari bahwa meninggalkan seseorang tidak berarti semua kenangan harus dibenci.

Ia tetap menyayangi Nenek Hartono. Ia tetap menghargai kebaikan beberapa anggota keluarga itu. Namun, ia tidak lagi merasa berkewajiban mengorbankan dirinya demi mempertahankan tempat di dalam keluarga mereka.

Sebulan kemudian, Ayu membuka studio desain interior miliknya sendiri di Jakarta. Selama bertahun-tahun, ia menunda impian itu karena selalu menyesuaikan jadwal dengan kehidupan Bimo. Kini, ia menghabiskan hari-harinya mengurus proyek, bertemu klien, dan belajar membangun bisnis dari awal.

Pada hari pembukaan studionya, ia menerima delapan belas buket bunga.

Semuanya berasal dari pria-pria yang fotonya pernah dikirimkan Nenek Hartono ke grup keluarga.

Di antara buket-buket itu, ada satu kartu kecil bertuliskan, “Semoga kamu menemukan rumah yang tidak membuatmu merasa sendirian.”

Tidak ada nama pengirim.

Ayu tersenyum, lalu meletakkan kartu itu di meja.

Sore harinya, Bimo datang ke studio. Ia tidak membawa bunga atau hadiah mahal. Ia hanya berdiri di depan pintu, tampak lebih lelah daripada yang Ayu ingat.

“Aku dengar bisnismu berjalan baik,” katanya.

“Syukurlah.”

Bimo menggenggam kedua tangannya.

“Aku tidak datang untuk meminta kita kembali bersama. Aku hanya ingin meminta maaf. Aku baru mengerti bahwa selama ini aku membuatmu merasa tidak penting.”

Ayu menatapnya cukup lama.

“Aku pernah menunggu permintaan maaf itu setiap malam, Bimo.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu baru tahu sekarang.”

Bimo menunduk. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menghapusnya.

Ayu tidak membencinya. Justru itulah yang membuat perpisahan ini terasa begitu menyakitkan. Ia pernah mencintai pria itu dengan seluruh keyakinannya, tetapi cinta saja tidak cukup untuk membuat sebuah pernikahan bertahan ketika hanya satu orang yang terus berusaha.

“Aku harap kamu belajar mencintai seseorang dengan lebih baik,” katanya lembut. “Tapi aku tidak bisa menjadi orang yang menunggu sampai kamu belajar.”

Bimo mengangguk, lalu pergi tanpa meminta kesempatan kedua.

Malam itu, Ayu menerima pesan dari Dimas.

“Aku berada di dekat studiomu. Kalau kamu sudah selesai bekerja, mau makan malam? Tidak ada pembicaraan tentang keluarga, pernikahan, atau masa depan. Hanya makan malam.”

Ayu tersenyum sebelum membalas, “Boleh. Tapi aku yang memilih restoran.”

“Setuju.”

Ketika Ayu keluar dari studio, Dimas sudah menunggu di seberang jalan. Tidak ada mobil mewah yang menghalangi pandangan mereka, tidak ada dokumen yang harus ditandatangani, dan tidak ada janji besar yang harus dipercaya.

Hanya seorang pria yang bersedia menunggu sampai ia selesai bekerja.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ayu merasa tidak perlu berlari mengejar siapa pun.

Namun, kejutan terakhir datang dua hari kemudian, ketika Nenek Hartono mengirimkan pesan ke grup keluarga yang baru.

Ia mengunggah satu foto lama Ayu bersama keluarga, lalu menulis, “Nenek sudah menemukan calon yang tepat untuk Ayu.”

Semua orang langsung membanjiri grup dengan pertanyaan.

Nenek membalas dengan satu kalimat yang membuat seluruh keluarga terdiam.

“Namanya Ayu Lestari sendiri. Mulai sekarang, dialah yang berhak menentukan siapa yang boleh masuk ke dalam hidupnya.”

Di bawah pesan itu, Dimas mengirimkan sebuah tanda suka.

Dan untuk pertama kalinya, Bimo tidak menulis apa pun.

Sebab akhirnya ia memahami sesuatu yang terlambat ia pelajari selama tiga tahun pernikahan mereka.

Ayu tidak pernah membutuhkan delapan belas pria untuk menggantikan dirinya.

Ia hanya membutuhkan keberanian untuk berhenti memilih pria yang terus membuatnya merasa harus bersaing demi mendapatkan tempat di hatinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang