Sementara itu, dari ujung gang muncul dua pria berbadan tegap dengan jaket kulit kusam dan helm berpenutup gelap yang masih terpasang. Langkah kaki mereka terburu-buru, dan mata mereka menatap tajam ke arah kami. Reaksi Fajar—atau Jarwo—saat melihat dua pria itu langsung membuat jantungku mencelos.
Tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih dahsyat daripada saat dia ketakutan melihatku tadi. Gelas plastik di tangannya terjatuh, menggelinding di atas aspal kusam. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Fajar melangkah mundur panik, menyembunyikan dirinya di balik tubuhku yang masih berlutut.
“Pak Joko! Lindungi kami!” teriakku refleks sambil bangkit berdiri.
Pak Joko yang sigap langsung memasang badan di depan kami. Salah satu pria berjaket kulit itu membentak keras, “Heh! Jangan ikut campur urusan orang lain! Itu pengemis peliharaan kawasan sini, mau kalian bawa ke mana?!”
“Peliharaan?” Darahku mendidih mendengar kata itu.
Sebelum pria itu sempat melangkah lebih dekat, Pak Joko yang merupakan mantan prajurit TNI langsung mencengkeram pergelangan tangan pria terdepan dan mencengkeramnya kuat hingga pria itu mengaduh kesakitan. Pria kedua berusaha maju, namun Pak Joko menendang lututnya hingga dia tersungkur.
“Bu Maya, masuk mobil sekarang! Bawa dia!” seru Pak Joko tegas.
Aku tidak membuang waktu. Dengan seluruh kekuatan yang kumiliki, aku menarik lengan Fajar. Dialah cinta hidupku, pria yang pernah membangunkanku dengan cangkir kopi hangat setiap pagi, pria yang menangis haru saat kami pertama kali mampu membeli sepetak tanah. Aku tidak akan pernah membiarkannya tinggal di neraka ini semenit pun lebih lama.

“Mas, percaya sama aku. Mas aman sama aku,” bisikku penuh penekanan, menatap matanya dalam-dalam.
Entah karena hembusan nafas ketakutannya atau ketulusan di mataku, Fajar tidak lagi melawan. Dia menurut saat aku menuntunnya masuk ke baris tengah mobil Alphard milikku. Pak Joko menyusul masuk, mengunci seluruh pintu, dan langsung menancap gas meninggalkan gang sempit itu, membiarkan ibu pemilik warung dan dua pria misterius tadi berteriak-teriak di balik kepulan asap roda mobil.
Suasana di dalam mobil terasa begitu hening dan berat. Bau tubuh Fajar—campuran antara keringat, debu jalanan, dan kepasrahan—memenuhi kabin mobil yang harum aromaterapi mahal. Fajar duduk menyandar di pojok pintu, memeluk lututnya sendiri, menatap kemewahan di sekelilingnya dengan tatapan asing dan cemas.
Aku menyodorkan botol air mineral mahal yang ada di kulkas kecil mobil. Fajar memandangnya ragu, lalu meminumnya dengan sangat lahap hingga menetes ke kausnya yang robek.
“Slow-slow, Mas… pelan-pelan,” bisikku lembut, menyapu air mata yang tak henti mengalir di pipiku.
“Ibu… Ibu benar-benar kenal saya?” suaranya serak dan pelan. “Saya… saya tidak ingat apa-apa sebelum enam tahun lalu. Saya cuma terbangun di pinggir sungai dengan kepala berdarah, lalu… orang-orang itu menyuruh saya minta-minta.”
Dada beratku kian sesak. Skenario terburuk yang selama ini membayangiku ternyata nyata: Fajar mengalami amnesia pascatrauma kecelakaan, lalu dimanfaatkan oleh sindikat eksploitasi pengemis jalanan.
“Nama Mas adalah Fajar Pratama. Mas adalah pendiri PT Pratama Logistik bersama aku, Maya,” kataku pelan sambil menunjukkan wallpaper ponselku—foto pernikahan kami sembilan tahun lalu di Bali.
Fajar menatap layar ponsel itu lama sekali. Jemarinya yang kotor dan bersisik perlahan menyentuh wajah pria berjas hitam di dalam foto.
“Ini… saya?” bisiknya. Sekilas kilatan rasa sakit melintas di matanya, dia memegangi kepalanya kuat-kuat sambil memejamkan mata erat-erat. “Kepala saya… sakit, Bu…”
“Jangan dipaksa, Mas. Jangan dipaksa,” panggilku cemas sambil merengkuh bahunya.
Hari itu, janji peninjauan gudang logistik di Genuk kibatalkan sepenuhnya. Aku menyuruh Pak Joko membawa kami langsung ke rumah sakit swasta terbaik di Semarang.
Proses pembersihan dan pemeriksaan medis Fajar berlangsung selama berjam-jam. Dokter spesialis saraf mengonfirmasi adanya bekas luka trauma tumpul yang sangat berat di tempurung kepala bagian belakangnya—penyebab amnesia retrograde total. Tubuhnya mengalami malnutrisi kronis, namun beruntung organ-organ vitalnya masih berfungsi baik.
Malam harinya, Fajar sudah bersih. Rambut gimbalnya dipotong rapi, jenggotnya dicukur bersih, dan dia mengenakan pakaian katun lembut di atas ranjang VIP rumah sakit. Saat aku masuk ke kamarnya, mataku kembali berkaca-kaca. Di balik segala penderitaan dan kekurusan tubuhnya, sosok Fajar yang kutangisi selama enam tahun kini benar-benar kembali di depan mataku.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai malam itu.
Saat Fajar tertidur lelap akibat efek obat penenang, ponsel pribadi milikku berdering. Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya dengan hati-hati.
“Halo, Maya,” suara di ujung telepon terdengar tenang, dingin, dan sangat kukenal. Suara Rendy, adik iparku—adik kandung Fajar sendiri yang selama enam tahun ini memegang jabatan Wakil Direktur Utama di perusahaan kami.
“Rendy?” tanyaku penuh selidik.
“Aku dengar kamu membatalkan sidak gudang hari ini dan membawa pengemis jalanan ke Rumah Sakit Telogorejo,” ujar Rendy tanpa basa-basi. “Maya, jangan bodoh. Fajar sudah mati enam tahun lalu. Jangan biarkan penipu jalanan memanfaatin kesedihanmu untuk mengambil alih aset keluarga.”
Jantungku berdegup kencang. Bagaimana dia bisa tahu begitu cepat? Dan kenapa nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan atau keterkejutan bahwa kakaknya masih hidup?
“Aku tahu bekas lukanya, Rendy. Aku tahu tanda lahirnya. Ini Fajar, suamiku!” tegasku, menahan amarah yang mulai membakar dada.
Ada jeda hening yang cukup panjang di ujung telepon sebelum Rendy terkekeh pelan—sebuah kekehan yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Kalau begitu, Maya… kamu harusnya membiarkan dia tetap di jalanan. Karena jika dia sampai ingat apa yang terjadi malam itu di Alas Roban… bukan cuma ingatan dia yang kembali, tapi seluruh hidup yang sudah kamu bangun enam tahun ini akan hancur.”
Klik.
Sambungan telepon diputus sepihak. Aku berdiri mematung di kamar rawat yang dingin, memandangi sosok Fajar yang tertidur pulas. Sebuah konspirasi besar yang tertutup rapi selama enam tahun kini perlahan terbongkar. Dan aku tahu, perjuanganku untuk mengembalikan ingatan dan hak suamiku baru saja dimulai.
