BAGIAN 2: Racun di Balik Janji Manis
Suasana di atas panggung berubah mencekam. Wajah Bianca yang tadinya penuh air mata palsu kini memucat pasi, seolah-olah ia baru saja melihat hantu di siang bolong. Ernesto, yang awalnya dipenuhi rasa percaya diri, mulai gelisah di kursi rodanya.
Aku tidak membalas tangisannya. Aku hanya menatapnya lurus-lurus, senyum tipis tersungging di bibirku. “Oh, Bianca, tidak perlu menangis. Jika memang itu rumah yang pantas untuk masa depan anakmu, ambillah. Tapi, apakah kamu yakin rumah itu tidak memiliki ‘pondasi’ yang akan menenggelamkanmu?”

Ernesto menyambar mikrofon dari tanganku. “Cukup! Ana, kamu sudah gila! Acara ini selesai!”
Namun, sebelum dia sempat memerintahkan keamanan untuk menyeretku keluar, aku sudah memutar balik layar ponselku yang menampilkan pesan dari Pak Tomas ke arah proyektor besar di belakang panggung. Seluruh aula bisa membacanya dengan jelas.
“Ernesto memindahkan aset perusahaan ke rekening pribadi atas nama Bianca melalui skema pencucian uang untuk menghindari pajak warisan dan utang bank. Kondominium di Pasig bukan hadiah, itu adalah jaminan aset yang disita pengadilan bulan depan.”
Seketika, riuh rendah bisik-bisik memenuhi ruangan. Para investor yang tadi bertepuk tangan kini berdiri, wajah mereka dipenuhi kemarahan.
“Apa ini, Ernesto?!” salah satu pemegang saham utama berteriak.
Bianca gemetar hebat. Ia menatap Ernesto dengan tatapan horor. “Pak… Bapak bilang ini legal? Bapak bilang ini bonus kerja keras saya?”
Ernesto terdiam. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Kondisinya yang lemah membuatnya terbatuk hebat, napasnya memburu. Ia menatapku, memohon, namun aku hanya menatapnya dengan pandangan dingin yang sama seperti saat ia membiarkanku menggadaikan perhiasanku demi biaya cuci darahnya.
BAGIAN 3: Pengkhianatan yang Memakan Tuan
Aku melangkah mendekati Bianca. “Tahukah kamu, Bianca? Selama tujuh tahun ini, dialisis bukan hanya soal membersihkan darah Ernesto. Itu adalah waktu di mana aku belajar segalanya tentang bisnis ini. Aku yang mengatur buku besarnya, aku yang menutupi lubang keuangan yang dia buat, dan aku yang menyadari bahwa sejak tahun ketiga, dia sudah mulai memindahkan dana untuk wanita simpanannya yang lain.”
“Apa?” Bianca terkesiap. “Wanita lain?”
“Ya,” jawabku tenang. “Bianca, kamu hanyalah pion. Dia memberimu kondominium itu agar saat polisi datang, kamu yang menjadi orang pertama yang mereka tangkap sebagai pemilik sah aset tersebut. Kamu adalah tumbalnya.”
Ernesto mencoba berdiri, namun kakinya yang lunglai membuatnya tersungkur jatuh dari kursi roda. Tidak ada yang menolongnya. Bianca mundur menjauh, wajahnya penuh kebencian.
“Tujuh tahun kamu merawat saya, Ana! Kamu istri yang setia!” Ernesto berteriak putus asa.
“Tujuh tahun aku merawat mayat hidup yang tidak punya hati,” balasku dingin. “Sekarang, silakan nikmati hasil dari ‘kesetiaan’ yang kamu agung-agungkan itu dengan orang yang baru saja kamu jadikan perisaimu.”
BAGIAN 4: Akhir yang Tak Terduga
Aku berjalan keluar dari aula. Di parkiran, sebuah mobil hitam sudah menungguku. Pak Tomas, sang akuntan, membukakan pintu.
“Sudah selesai, Nyonya?” tanyanya.
“Sudah,” jawabku.
“Apa yang akan terjadi pada mereka?”
Aku tersenyum tipis. “Polisi akan tiba dalam sepuluh menit. Namun, yang tidak mereka ketahui adalah, selama tujuh tahun ini, aku tidak hanya merawat ginjalnya yang rusak. Aku diam-diam mengganti obat pengencer darahnya dengan dosis yang sedikit lebih tinggi dari yang disarankan dokter. Bukan untuk membunuhnya, tapi cukup untuk membuatnya harus bergantung sepenuhnya pada perawatan intensif yang sangat mahal.”
“Dan sekarang,” lanjutku, “dengan uang perusahaan yang sudah ludes dan aset yang dibekukan, tidak akan ada rumah sakit yang mau menerima Ernesto. Dia akan merasakan apa yang kurasakan: ditinggalkan, sakit, dan tanpa harapan.”
Saat aku masuk ke dalam mobil, aku mendengar suara sirine polisi menderu di kejauhan, menuju gedung itu. Aku tidak menoleh ke belakang.
Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai. Di kursi belakang mobil, seorang pria yang sudah lama kukenal—pengacara yang memegang dokumen asli kepemilikan perusahaan—tersenyum padaku.
“Semua sudah beres, Ana. Semua saham Ernesto kini atas namamu. Dia tidak tahu bahwa selama ini, setiap kali dia menyuruhmu menandatangani dokumen ‘pribadi’, kamu sebenarnya sedang memindahkan kepemilikan mutlak perusahaan kepadaku, yang kini telah resmi kuberikan kembali padamu melalui surat kuasa setahun lalu.”
Aku menatap ke luar jendela. Tujuh tahun pengabdianku bukanlah sebuah pengorbanan yang sia-sia, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk mengambil alih segalanya.
Ernesto mengira dia sedang memainkan bidak catur, namun ia lupa bahwa di meja itu, akulah yang memegang seluruh papan caturnya. Dan sekarang, permainan sudah berakhir.
Pertanyaan untuk Anda: Jika Anda berada di posisi Ana, apakah Anda akan membiarkan hukum mengambil alih, atau apakah Anda akan melakukan langkah ekstrem seperti yang ia lakukan untuk membalaskan dendam tujuh tahun yang hilang?
