Aku baru benar-benar memahami arti lapar tiga hari setelah membagi setengah porsi nasi ayam dengan Salma.
Sore itu, setelah melihatnya bekerja di pasar kecil dekat sekolah, aku pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sepanjang perjalanan, bayangan Salma terus muncul di kepalaku. Tangannya yang kurus bergerak cepat memasukkan cabai, tomat, dan sayuran ke dalam kantong plastik. Sesekali dia mengangkat karung kecil, lalu mengusap keringat dengan ujung kausnya.
Aku sempat ingin menghampirinya, tetapi urung.
Malamnya, aku bahkan tidak bisa menikmati makan malam dengan tenang.
Ibu sampai menatapku heran.
“Kok nasinya diaduk-aduk terus?”

Aku mengangkat kepala.
“Bu, kalau ada anak sekolah yang kerja sampai malam setiap hari, biasanya kenapa?”
Ibu terdiam sebentar.
“Mungkin keluarganya sedang kesulitan.”
Jawaban itu sederhana, tetapi membuat dadaku semakin berat.
Keesokan paginya Salma kembali tertidur saat pelajaran matematika.
Pak Dedi menghentikan penjelasannya.
“Salma.”
Tidak ada jawaban.
“Salma.”
Beberapa anak mulai tertawa.
Aku menoleh ke belakang. Wajah Salma terlihat pucat. Kepalanya bersandar pada lengan dan bibirnya hampir tidak berwarna.
Pak Dedi berjalan mendekat.
“Kalau mau tidur, lebih baik di rumah.”
Salma tersentak bangun.
“Maaf, Pak.”
“Kamu begadang lagi?”
Salma menunduk.
“Maaf.”
Aku tidak tahan.
“Pak, sepertinya Salma kurang sehat.”
Semua mata langsung beralih kepadaku.
Pak Dedi menyentuh dahi Salma dan ekspresinya berubah.
“Kamu demam?”
“Nggak, Pak. Saya baik-baik saja.”
Dia mencoba berdiri.
Tubuhnya langsung oleng.
Aku berlari menangkap lengannya sebelum dia jatuh.
Kami membawanya ke UKS. Setelah diperiksa, petugas mengatakan Salma kelelahan dan belum makan cukup.
Ketika ditanya kapan terakhir sarapan, dia diam.
Aku duduk di samping ranjang.
“Sal.”
Dia memalingkan wajah.
“Kamu belum makan lagi?”
“Aku nggak apa-apa.”
“Jangan bohong terus.”
Matanya perlahan berkaca-kaca.
Aku menyesal karena nada suaraku terdengar keras.
Beberapa saat kemudian dia berbisik, “Aku nggak punya pilihan, Bila.”
Kalimat itu membuat kemarahanku hilang.
Hari itu aku memberikan roti yang kubawa dari rumah. Salma awalnya menolak, tetapi akhirnya menerimanya.
Sepulang sekolah, aku sengaja menunggunya di gerbang.
Salma terlihat terkejut.
“Kamu belum pulang?”
“Aku ikut kamu.”
“Ke mana?”
“Pasar.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kemarin kamu ngikutin aku?”
Aku mengangguk.
Salma tampak malu sekaligus kesal.
“Kenapa?”
“Karena aku khawatir.”
“Aku nggak butuh dikasihani.”
“Aku juga nggak sedang mengasihani kamu.”
“Lalu?”
Aku menatap matanya.
“Aku cuma ingin tahu kenapa temanku harus bekerja sampai malam dan datang ke sekolah tanpa sarapan.”
Untuk beberapa detik kami hanya berdiri saling memandang.
Akhirnya Salma menghela napas.
“Ayo.”
Kami berjalan menuju pasar.
Dalam perjalanan, dia mulai bercerita.
Ayahnya meninggal dua tahun sebelumnya karena kecelakaan kerja. Ibunya kemudian menjadi pencuci pakaian untuk beberapa keluarga di sekitar rumah mereka. Awalnya penghasilan itu masih cukup untuk makan dan membayar kontrakan sederhana.
Sampai enam bulan lalu ibunya jatuh sakit.
Sejak saat itu Salma mulai bekerja.
“Kenapa nggak cerita ke sekolah?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut disuruh berhenti sekolah.”
Aku berhenti berjalan.
“Kenapa sampai berhenti?”
Salma tersenyum getir.
“Kalau orang tahu kondisi kami, mereka mungkin berpikir sekolah bukan prioritas buatku.”
“Tapi kamu pintar.”
“Buat orang seperti aku, pintar saja belum tentu cukup.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Selama ini aku mengenal sekolah sebagai tempat belajar. Kalau nilai jelek, belajar lebih keras. Kalau lapar, pergi ke kantin. Kalau uang habis, tunggu besok.
Aku tidak pernah memikirkan bahwa bagi seseorang seperti Salma, datang ke sekolah saja sudah merupakan perjuangan.
Kami tiba di pasar.
Seorang ibu penjual sayur menyapa Salma.
“Kok bawa teman?”
“Teman sekolah, Bu.”
Perempuan itu tersenyum kepadaku.
“Salma ini anak hebat. Jangan percaya kalau ada yang bilang dia pemalas.”
Aku tercekat.
Ternyata bahkan orang di pasar tahu bagaimana kerasnya Salma berusaha.
Aku membantu mereka sampai sekitar pukul lima. Ketika pekerjaan hampir selesai, Salma menerima beberapa lembar uang.
Aku melihat jumlahnya.
Tiga puluh lima ribu rupiah.
“Itu upah kamu?”
Salma mengangguk.
“Setiap hari?”
“Kalau ramai.”
“Kamu pakai buat apa?”
Dia memasukkan uang itu ke dalam dompet lusuh.
“Besok beli obat Ibu.”
“Lalu makan?”
“Nanti lihat.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Namun tiga hari kemudian, aku menemukan alasan sebenarnya Salma selalu datang tanpa sarapan.
Dan ternyata bukan karena uangnya tidak cukup.
Hari itu sekolah pulang lebih cepat karena rapat guru. Aku berniat mengajak Salma makan bakso sebelum dia bekerja, tetapi dia buru-buru pergi.
Aku mengejarnya.
“Salma!”
Dia menoleh.
“Aku buru-buru, Bila.”
“Mau ke pasar?”
“Nggak.”
“Terus?”
Dia ragu.
“Aku mau pulang.”
Entah kenapa aku berkata, “Aku ikut.”
“Nggak usah.”
“Aku cuma mau mengantar.”
Salma berkali-kali menolak, tetapi akhirnya menyerah.
Kami naik angkot lalu berjalan memasuki gang sempit. Rumah Salma berada di ujung gang, sebuah kontrakan kecil dengan dinding yang catnya sudah mengelupas.
Begitu pintu dibuka, seorang perempuan kurus berusia sekitar empat puluhan menyambut kami.
“Salma?”
“Iya, Bu.”
Perempuan itu berusaha bangun dari kasur tipis.
Salma segera menghampirinya.
“Jangan bangun.”
Aku menyapa dan memperkenalkan diri.
Ibunya tersenyum hangat.
“Jadi ini Nabila?”
Aku terkejut.
“Ibu tahu saya?”
“Salma cerita.”
Salma langsung terlihat malu.
Aku tersenyum.
Namun beberapa menit kemudian aku mendengar suara dari kamar sebelah.
Batuk.
Lalu suara seseorang berkata pelan, “Kak, sudah pulang?”
Seorang anak laki-laki keluar.
Tubuhnya kecil dan kurus.
Aku menatap Salma.
“Adikmu?”
Dia mengangguk.
Namanya Farhan.
Saat itulah semua kepingan cerita mulai tersusun.
Di meja hanya ada satu bungkus nasi.
Salma membukanya, mengambil piring, lalu membagi nasi itu menjadi dua.
Satu untuk ibunya.
Satu lagi untuk Farhan.
Aku menunggu.
“Bagian kamu mana?”
Salma tidak menjawab.
“Sal.”
Farhan menatapku polos.
“Kak Salma makannya di sekolah.”
Jantungku seperti diremas.
Ibunya langsung menunduk.
Salma berdiri.
“Ayo keluar sebentar.”
Kami berjalan ke depan rumah.
Aku menatapnya dengan mata panas.
“Kamu bohong.”
“Maaf.”
“Kamu bilang lupa bawa uang.”
“Aku malu.”
“Kamu kerja setiap hari, tapi uangnya buat mereka semua?”
Salma menggigit bibir.
“Farhan masih sekolah. Ibu perlu obat.”
“Lalu kamu?”
“Aku lebih kuat.”
Aku hampir marah mendengar jawabannya.
“Kamu pingsan di kelas, Salma. Itu namanya bukan kuat.”
Dia menunduk.
Kemudian air matanya jatuh.
Itulah pertama kalinya aku melihat Salma menangis.
“Aku harus gimana, Bila?”
Suaranya pecah.
“Kalau aku sarapan, Farhan kadang nggak makan. Kalau aku berhenti kerja, obat Ibu habis. Kalau aku berhenti sekolah, Ayah pasti kecewa.”
Dia menutup wajahnya.
“Sebelum meninggal, Ayah bilang satu hal. Apa pun yang terjadi, aku harus lulus.”
Aku memeluknya.
Untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa beberapa orang tidak membutuhkan nasihat tentang bagaimana menjadi kuat.
Mereka sudah terlalu lama dipaksa menjadi kuat.
Malam itu aku menceritakan semuanya kepada Ibu.
Aku ingin memberikan uang tabunganku, tetapi Ibu melarangku datang membawa uang begitu saja.
“Menolong orang juga harus menjaga harga dirinya.”
“Lalu kita harus bagaimana?”
Ibu berpikir sebentar.
“Mulai dari sekolah.”
Keesokan harinya aku menemui wali kelas kami, Bu Ratih.
Aku meminta agar identitas Salma tidak diumumkan.
Bu Ratih terdiam lama setelah mendengar ceritaku.
Ternyata sekolah memiliki program bantuan siswa, tetapi Salma tidak pernah mendaftar karena tidak tahu prosedurnya.
Bu Ratih bergerak cepat.
Beberapa guru kemudian membantu mengurus pembebasan biaya kegiatan sekolah. Koperasi sekolah menyediakan makan siang. Seorang alumni bersedia membantu biaya pendidikan sampai Salma lulus.
Namun kejutan terbesar justru datang seminggu kemudian.
Bu Ratih memanggilku dan Salma ke ruang guru.
Di sana ada seorang pria sekitar lima puluh tahun.
Dia memperkenalkan diri sebagai Pak Arman.
Pemilik perusahaan distribusi sayuran.
Aku tidak mengenalnya.
Salma justru terlihat pucat.
“Bapak…”
Pak Arman tersenyum.
“Kamu masih ingat saya?”
Ternyata Pak Arman pernah datang ke pasar dan melihat Salma bekerja. Dia beberapa kali memperhatikan gadis berseragam sekolah yang selalu datang sore hari, bekerja cepat, lalu pulang membawa sayuran sisa.
Setelah mendengar cerita dari Bu Ratih, dia ingin menawarkan sesuatu.
Bukan kepada Salma.
Melainkan kepada ibunya.
Perusahaannya membutuhkan pekerja administrasi yang bisa dilakukan dari rumah untuk mencatat pesanan pelanggan.
“Kondisi Ibu kamu memungkinkan bekerja menggunakan ponsel?”
Salma terdiam.
“Mungkin, Pak.”
“Kami akan latih.”
Air mata Salma langsung memenuhi matanya.
Dengan pekerjaan itu, ibunya bisa mendapatkan penghasilan tanpa harus melakukan pekerjaan fisik berat.
Salma tidak perlu lagi bekerja setiap sore.
Aku pikir cerita kami selesai di sana.
Ternyata belum.
Beberapa bulan kemudian, sekolah mengumumkan hasil seleksi beasiswa akademik tingkat kota.
Nama pertama yang disebut adalah Salma Azzahra.
Nilainya tertinggi.
Seluruh kelas bersorak.
Aku berdiri paling keras bertepuk tangan.
Anak-anak yang dulu sering mengejeknya kini terdiam.
Salma berjalan ke depan kelas dengan mata berkaca-kaca.
Setelah menerima surat beasiswa, dia tidak langsung kembali ke bangkunya.
Dia menghampiriku.
“Aku punya utang.”
“Utang apa?”
“Lima belas ribu.”
Aku tertawa.
“Kamu masih ingat?”
Dia mengeluarkan sebuah amplop kecil.
Aku membukanya.
Di dalamnya bukan uang.
Ada selembar kertas.
Tulisan tangan Salma memenuhi halaman itu.
Aku masih menyimpan surat tersebut sampai sekarang.
Di bagian terakhir dia menulis bahwa pada hari aku membagi nasi dengannya, sebenarnya dia sudah memutuskan akan berhenti sekolah minggu berikutnya.
Dia merasa tidak sanggup lagi.
Dia ingin bekerja penuh waktu agar ibu dan adiknya bisa makan.
Namun setengah porsi nasi itu mengubah pikirannya.
Bukan karena makanan tersebut membuatnya kenyang.
Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, seseorang di sekolah melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai anak malas yang selalu tidur.
Tanganku gemetar membaca kalimat terakhir.
“Kadang Allah tidak mengirim pertolongan dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang pertolongan datang lewat seorang teman yang duduk di sebelah kita dan berkata, makan setengah.”
Aku menangis di depan Salma.
Dia malah tertawa.
“Katanya cuma nasi setengah.”
Aku memeluknya.
“Iya. Ternyata mahal juga.”
Dua tahun kemudian, kami lulus bersama.
Salma diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung dengan beasiswa. Ibunya tetap bekerja untuk perusahaan Pak Arman dan kondisi kesehatannya perlahan membaik. Farhan tumbuh menjadi anak yang jauh lebih ceria.
Pada hari kelulusan, Salma datang membawa dua kotak nasi ayam.
Kami duduk di tangga belakang sekolah, tempat semuanya bermula.
Dia menyerahkan satu kotak kepadaku.
“Kali ini masing-masing satu.”
Aku tertawa.
Kami membuka kotak makanan hampir bersamaan.
Sebelum mulai makan, Salma mengucapkan kalimat yang sama seperti dua tahun sebelumnya.
“Bismillah.”
Aku memandang halaman sekolah yang ramai oleh siswa dan orang tua.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Kita sering terlalu cepat menilai orang dari apa yang terlihat.
Anak yang tertidur di kelas dianggap malas.
Teman yang terlambat mengumpulkan tugas dianggap tidak bertanggung jawab.
Orang yang menolak makan dianggap tidak lapar.
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu pertempuran seperti apa yang sedang mereka jalani setelah pulang ke rumah.
Dan terkadang kita tidak membutuhkan banyak uang atau kekuatan besar untuk mengubah hidup seseorang.
Kadang cukup dengan berhenti menghakimi.
Duduk di sampingnya.
Mendengarkan.
Lalu membagi apa yang kita punya.
Bahkan jika yang kita punya hanya setengah porsi nasi ayam.
