Aku membeku ketika blazer putih yang dikenakan Celia terlepas dari bahunya.
Bukan karena tubuhnya.
Bukan karena usianya.
Melainkan karena ada bekas luka panjang yang membentang dari bawah tulang selangka hingga ke sisi perutnya. Bekas itu tebal, tidak rata, dan tampak seperti hasil operasi besar yang pernah mengubah hidup seseorang.
Namun bukan hanya itu yang membuat napasku tertahan.

Di dadanya tergantung sebuah kalung kecil dengan liontin berbentuk burung elang berwarna emas.
Aku pernah melihat lambang itu.
Bukan sekali.
Lambang yang sama terpajang di kantor perusahaan konstruksi terbesar di kota kami, perusahaan yang selama bertahun-tahun menguasai proyek jalan, perumahan, pelabuhan, bahkan lahan pertanian di beberapa kabupaten.
Perusahaan itu bernama Ardanaya Group.
Dan wajah pendirinya sering muncul di berita nasional.
Seorang pengusaha perempuan bernama Celia Ardanaya.
Aku menatapnya dengan tenggorokan kering.
“Kamu Celia Ardanaya?”
Dia menutup mata sejenak, seakan pertanyaan itu sudah lama menunggunya.
“Iya.”
Aku mundur satu langkah.
“Pemilik Ardanaya Group?”
“Iya.”
“Perusahaan yang membeli tanah warga di kampung sebelah?”
Dia tidak langsung menjawab.
Dan diamnya membuat dadaku semakin sesak.
Aku teringat ayahku yang bertahun-tahun mengeluh karena saluran irigasi di sawah kami rusak setelah pembangunan gudang besar. Aku teringat para petani yang berdemo di depan kantor kecamatan karena harga ganti rugi tanah dianggap tidak adil.
Aku menatap perempuan yang beberapa jam lalu kuucapkan janji sehidup semati dengannya.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Karena aku ingin tahu apakah ada seseorang yang bisa mencintaiku tanpa melihat nama keluargaku.”
“Jadi selama ini aku diuji?”
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
Celia berdiri perlahan. Wajahnya pucat.
“Aku berbohong tentang siapa diriku. Itu benar. Tapi perasaanku kepadamu bukan kebohongan.”
Aku tertawa kecil, getir.
“Semua orang menuduhku menikahimu karena uang. Dan ternyata uangmu jauh lebih banyak daripada yang mereka bayangkan.”
“Aku tidak pernah berniat mempermalukanmu.”
“Tapi kamu membiarkanku berdiri di depan seluruh kampung tanpa tahu siapa perempuan yang kunikahi.”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Aku takut.”
Aku hampir tidak percaya mendengar kata itu dari perempuan yang memiliki ratusan perusahaan, ribuan pegawai, dan puluhan pengawal.
“Takut apa?”
“Takut kamu berubah.”
Aku hendak menjawab, tetapi dia mengangkat tangan.
“Ada hal lain yang lebih besar.”
Celia membuka laci di samping tempat tidur lalu mengeluarkan sebuah map hitam. Tangannya bergetar saat menyerahkannya kepadaku.
Aku membuka map itu.
Di dalamnya ada laporan medis, foto rumah sakit, dan surat hasil pemeriksaan.
Aku tidak mengerti sebagian besar istilahnya, tetapi satu kalimat tercetak jelas.
Gagal jantung stadium lanjut.
Aku menatap Celia.
“Kamu sakit?”
Dia mengangguk.
“Dokter bilang waktuku mungkin tidak panjang.”
Suara di dalam kepalaku seketika hilang.
Aku kembali melihat bekas luka di tubuhnya.
“Itu bekas operasi?”
“Tiga tahun lalu.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena aku tidak mau dikasihani.”
“Kita sudah menikah.”
“Itulah sebabnya aku harus memberitahumu malam ini.”
Aku meremas kertas itu.
“Berapa lama?”
“Tidak ada yang bisa memastikan. Mungkin setahun. Mungkin lebih pendek. Mungkin lebih panjang.”
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Semua kemewahan di kamar itu mendadak terasa hampa. Satu juta peso di dalam amplop, kunci SUV, lampu kristal, gaun mahal, semua menjadi tidak berarti.
“Kamu menikahiku karena kamu akan mati?”
Celia menatapku lama.
“Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Tapi ada alasan lain yang harus kamu ketahui.”
Aku mengangkat kepala.
Dia mengambil napas dalam-dalam.
“Setelah aku meninggal, sebagian besar saham Ardanaya Group akan jatuh ke tangan keponakanku, Adrian.”
Aku mengenal nama itu. Adrian Ardanaya sering muncul dalam berita bisnis. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun, tampan, percaya diri, dan selalu terlihat seperti orang yang tidak pernah menerima penolakan.
“Lalu?”
“Adrian bukan orang baik.”
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Karena dia sudah mencoba membunuhku.”
Aku berdiri seketika.
“Apa?”
“Kecelakaan mobil tiga tahun lalu bukan kecelakaan. Rem mobilku dipotong. Setelah itu, beberapa hasil pemeriksaan jantungku sengaja disembunyikan. Ada orang di rumah sakit yang dibayar.”
Aku menatap pintu kamar. Tiba-tiba para pengawal di luar ballroom terasa masuk akal.
“Kalau kamu tahu, kenapa dia belum ditangkap?”
“Karena aku belum punya bukti yang cukup. Adrian terlalu hati-hati. Dia selalu memakai orang lain.”
“Lalu aku ada hubungannya apa dengan semua ini?”
Celia menatapku dengan mata yang penuh rasa bersalah.
“Setelah pernikahan ini, kamu menjadi pewaris utama.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku menghilang.
“Jadi sekarang dia akan mengejarku juga.”
“Karena itu aku menyiapkan pengawal.”
Aku berjalan ke arah jendela, lalu kembali menatapnya.
“Kamu menikahiku tanpa memberitahu bahwa aku sedang dimasukkan ke dalam perang keluarga?”
“Aku akan melindungimu.”
“Kamu seharusnya memberiku pilihan.”
“Aku tahu.”
“Kamu pikir karena aku miskin, aku akan menerima semuanya?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa?”
Celia menangis.
“Karena aku egois. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut kehilangan seseorang.”
Kemarahan di dadaku tidak langsung hilang. Tapi melihatnya berdiri dengan tubuh yang lemah, aku sadar bahwa perempuan itu bukan sedang bermain-main.
Dia benar-benar ketakutan.
Belum sempat aku mengatakan sesuatu, terdengar ketukan keras di pintu.
Seorang pengawal masuk dengan wajah tegang.
“Madam, ada masalah.”
“Apa?”
“Kendaraan di parkiran belakang meledak.”
Aku menatap Celia.
Wajahnya langsung berubah.
“Mobil siapa?”
Pengawal itu menelan ludah.
“Mobil yang seharusnya membawa Anda dan Tuan Eron ke vila.”
Malam pernikahan kami berakhir bukan dengan bulan madu, melainkan dengan pengawalan menuju rumah aman di pinggir Jakarta.
Di dalam mobil antipeluru, aku duduk berhadapan dengan Celia. Tidak ada dari kami yang berbicara.
Aku memandang jalanan melalui kaca gelap. Lampu kota berlari mundur, sementara pikiranku berputar tanpa arah.
Dalam satu malam, aku berubah dari pemuda kampung yang ditertawakan menjadi suami seorang miliarder yang sedang diburu keluarganya sendiri.
Sesampainya di rumah aman, aku menelepon ibu.
“Eron, kamu di mana? Semua orang bilang ada ledakan.”
“Aku aman, Ma.”
“Pulanglah.”
Aku menutup mata.
“Aku belum bisa.”
“Perempuan itu membawa masalah. Ibu sudah bilang.”
Aku ingin membantah, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak tahu apakah ibuku salah.
Hari-hari setelah itu menjadi seperti mimpi buruk.
Berita pernikahan kami menyebar ke mana-mana. Wajahku muncul di televisi, media sosial, dan situs gosip. Banyak yang menyebutku pemburu harta. Ada yang mengatakan Celia kehilangan akal. Ada pula yang menyebutku aktor bayaran.
Di kampung, rumah orang tuaku didatangi wartawan.
Ayah berhenti pergi ke sawah karena malu.
Aku marah kepada Celia.
Bukan karena orang-orang menghina, tetapi karena keluargaku harus menanggung akibat dari rahasia yang tidak mereka pilih.
“Aku akan mengirim mereka ke tempat aman,” kata Celia.
“Mereka bukan barang yang bisa kamu pindahkan sesuka hati.”
“Aku hanya ingin melindungi mereka.”
“Dengan uang lagi?”
Celia terdiam.
Aku mulai memahami bahwa hampir seluruh hidupnya dibangun dengan uang. Jika ada masalah, dia membeli keamanan. Jika ada ancaman, dia menyewa pengawal. Jika ada kesedihan, dia membangun tembok lebih tinggi.
Tapi aku bukan pegawainya.
Aku suaminya.
Dan aku tidak mau hidup sebagai orang yang hanya dilindungi.
Aku mulai mempelajari dokumen perusahaan. Celia memberiku akses ke laporan keuangan dan catatan hukum. Awalnya aku hampir tidak mengerti apa pun. Namun sedikit demi sedikit, semua yang pernah dia ajarkan kepadaku mulai berguna.
Aku menemukan pola aneh.
Sejumlah dana proyek dialihkan ke perusahaan-perusahaan kecil yang ternyata terkait dengan Adrian. Salah satu perusahaan itu mengelola gudang di dekat kampungku.
Gudang yang menyebabkan kerusakan saluran irigasi.
Aku membawa berkas itu kepada Celia.
“Kamu tahu soal ini?”
Dia membaca dokumen tersebut dan wajahnya berubah.
“Tidak.”
“Perusahaanmu merugikan petani.”
“Proyek itu dijalankan Adrian.”
“Tapi namamu yang dipakai.”
Celia duduk lemas.
“Aku terlalu percaya kepadanya.”
“Banyak orang kehilangan tanah karena kepercayaanmu.”
Kata-kataku melukainya, tetapi aku tidak menariknya kembali.
Hari berikutnya, aku pergi ke kampung dengan pengawalan. Aku menemui para petani, termasuk ayahku.
Ayah menatap mobil yang membawaku dengan wajah dingin.
“Sekarang kamu datang sebagai orang kaya?”
“Aku datang sebagai anakmu.”
“Kamu menikahi orang yang menghancurkan sawah kita.”
“Aku baru tahu.”
Ayah tertawa pahit.
“Itu masalahnya, Eron. Kamu tidak pernah tahu apa-apa.”
Aku menerima semua kemarahannya.
Lalu aku mengumpulkan dokumen dari warga. Sertifikat tanah, surat ganti rugi, bukti kerusakan irigasi, dan rekaman ancaman dari orang-orang perusahaan.
Semakin banyak bukti terkumpul, semakin jelas jejak Adrian.
Dua minggu kemudian, Celia mengumumkan audit besar-besaran di Ardanaya Group. Dia juga memerintahkan kompensasi ulang kepada para petani yang dirugikan.
Namun Adrian bergerak lebih cepat.
Pada suatu malam, rumah aman kami diserang.
Tidak ada ledakan. Tidak ada suara tembakan terbuka. Hanya listrik yang tiba-tiba padam dan alarm yang tidak berbunyi.
Aku terbangun karena mendengar pintu kamar terbuka.
Seorang pria masuk membawa pisau.
Aku mendorong Celia dari tempat tidur dan menahan lengan penyerang. Kami bergulat di lantai. Aku bukan petarung, tetapi bertahun-tahun bekerja di bengkel membuat tubuhku cukup kuat.
Pisau itu nyaris mengenai bahuku sebelum pengawal datang.
Pria itu ditangkap hidup-hidup.
Dari teleponnya, polisi menemukan pesan yang mengarah kepada seseorang di lingkaran Adrian.
Akhirnya ada bukti.
Namun sebelum polisi sempat menangkapnya, Adrian menghilang.
Celia semakin lemah setelah serangan itu. Jantungnya memburuk. Dokter menyarankan operasi yang sangat berisiko.
Suatu malam di rumah sakit, dia menggenggam tanganku.
“Kamu boleh pergi, Eron.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Aku sudah mengubah surat warisan. Kamu tidak akan menerima saham jika aku meninggal. Semua akan masuk ke yayasan.”
Aku terdiam.
“Aku tidak mau kamu terjebak karena hartaku.”
“Jadi sekarang kamu mengusirku?”
“Aku membebaskanmu.”
Aku menunduk, lalu tersenyum tipis.
“Kamu masih belum mengerti.”
“Apa?”
“Aku tidak pernah bertahan karena warisan.”
Air matanya jatuh.
“Aku takut kamu membenciku.”
“Aku memang marah. Aku masih marah. Tapi cinta bukan berarti tidak marah. Cinta berarti tetap memilih, setelah tahu semuanya.”
Untuk pertama kalinya sejak malam pernikahan, Celia menangis di pelukanku tanpa berusaha terlihat kuat.
Operasi berlangsung delapan jam.
Aku menunggu bersama ibu dan ayahku yang akhirnya datang. Ayah duduk jauh dariku, tetapi ketika dokter keluar, dia berdiri lebih cepat daripada aku.
“Bagaimana istri anak saya?”
Dokter mengatakan operasinya berhasil, meski pemulihannya akan panjang.
Aku hampir jatuh karena lega.
Tiga hari kemudian, polisi menemukan Adrian di sebuah vila di Bali. Dia ditangkap bersama dokumen pemalsuan, transaksi ilegal, dan rekaman perintah penyerangan.
Kasus itu menjadi skandal nasional.
Namun kejutan terbesar datang beberapa bulan kemudian.
Saat audit selesai, pengacara Celia menyerahkan sebuah dokumen lama kepadaku.
Itu adalah laporan kelahiran.
Nama ibu tercantum sebagai Maria Dela Cruz.
Nama ayah dikosongkan.
Nama bayi tertulis Eron.
Aku menatap Celia.
“Apa ini?”
Wajahnya pucat.
“Ada satu rahasia terakhir.”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Celia menjelaskan bahwa dua puluh tahun lalu, adik perempuannya, Maria, melahirkan seorang anak dari hubungan yang ditentang keluarga. Maria meninggal tidak lama setelah melahirkan.
Anak itu kemudian diadopsi oleh pasangan petani yang tidak bisa memiliki keturunan.
Orang tuaku.
Aku berdiri dengan tangan gemetar.
“Jadi kamu…”
“Aku bibimu.”
Dunia seolah runtuh.
Aku tidak bisa bernapas.
Aku keluar dari ruangan, meninggalkan Celia yang menangis memanggil namaku.
Semua yang kami jalani mendadak berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.
Pernikahan kami tidak sah.
Cinta yang kami perjuangkan ternyata dibangun di atas hubungan darah yang tidak pernah kami ketahui.
Celia bersumpah dia baru menemukan dokumen itu setelah audit membuka arsip keluarga lama. Dia tidak pernah tahu bahwa anak Maria masih hidup.
Aku tidak langsung memaafkannya.
Aku tidak langsung memaafkan siapa pun.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk menerima kenyataan.
Pernikahan kami dibatalkan secara hukum.
Celia pindah dari rumah besar dan memilih tinggal di sebuah rumah sederhana dekat pusat rehabilitasi jantung. Aku kembali ke kampung, menyelesaikan pendidikan, lalu membantu mengelola yayasan petani yang didirikan dari aset perusahaan.
Kami tidak lagi menjadi suami dan istri.
Namun aku tidak meninggalkannya.
Aku menemaninya sebagai keluarga.
Sebagai keponakan.
Sebagai satu-satunya orang yang tahu bahwa di balik kekayaan, kekuasaan, dan kesalahan-kesalahannya, Celia hanyalah perempuan kesepian yang terlalu lama hidup tanpa seseorang yang benar-benar tinggal.
Dua tahun kemudian, ketika kesehatannya membaik, kami berdiri bersama di pembukaan saluran irigasi baru di kampung.
Ayah menepuk pundakku.
Ibu memeluk Celia.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada chandelier.
Tidak ada pengawal berbaju hitam.
Hanya sawah, matahari pagi, dan air yang kembali mengalir.
Celia menatapku sambil tersenyum.
“Maaf karena hidupmu berubah sejak bertemu denganku.”
Aku menggeleng.
“Hidupku bukan berubah karena bertemu denganmu.”
“Lalu?”
“Karena akhirnya aku tahu siapa diriku.”
Dia menunduk, menahan air mata.
Aku memandang para petani yang tertawa di sepanjang saluran air.
Dulu aku pikir cinta berarti berani melawan seluruh dunia demi seseorang.
Ternyata aku salah.
Cinta yang paling besar bukan selalu tentang memiliki.
Kadang cinta berarti berani menerima kebenaran, melepaskan sesuatu yang tidak boleh dipertahankan, lalu tetap memilih untuk menjaga seseorang dalam bentuk yang benar.
