Aku masih berharap…
Setidaknya ada sedikit penyesalan di mata anak yang pernah kugendong setiap malam saat demam, yang pernah kuberi makan dengan tanganku sendiri, yang dulu selalu berkata bahwa aku adalah wanita paling hebat di dunia.
Namun harapan itu lenyap dalam sekejap.
Tatapannya dingin.
Tidak ada kasih sayang.
Tidak ada rasa bersalah.

Yang ada hanya keinginan agar aku segera menghilang.
Kedua petugas keamanan mulai membimbingku menuju pintu keluar.
Salah satu dari mereka berbisik pelan.
“Maaf, Bu. Kami hanya menjalankan perintah.”
Aku mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Suara itu bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
Saat melewati keranjang anyaman yang terjatuh, aku berhenti.
Kubungkuk perlahan mengambil beras yang berserakan karena salah satu keranjang terbuka.
Beberapa apel merah berguling di atas lantai marmer.
Tidak seorang pun membantuku.
Orang-orang hanya menonton.
Ada yang memotret dengan ponsel.
Ada yang tersenyum sinis.
Indah bahkan tertawa kecil.
“Lihat? Makanya orang kampung jangan sok datang ke tempat seperti ini.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya memasukkan kembali semua buah ke dalam keranjang.
Saat tanganku menyentuh kotak beludru merah, aku menariknya pelan dan memasukkannya ke dalam tas.
Kalung emas warisan keluarga itu tidak akan pernah kuberikan kepada orang-orang yang tidak lagi mengenal arti hormat.
Sebelum benar-benar keluar dari gedung, aku menoleh sekali lagi.
“Selamat atas kelahiran anak kalian.”
Hanya itu yang mampu kukatakan.
Aditya bahkan tidak menatapku.
“Pergi saja, Bu.”
Aku pun pergi.
Bus terakhir menuju terminal berangkat satu jam kemudian.
Selama perjalanan pulang dua belas jam itu, aku tidak menangis.
Anehnya, air mataku sudah habis.
Yang tersisa hanya rasa hampa.
Sesampainya di desa, seluruh karyawan perkebunan langsung menyambutku.
“Selamat datang, Bu Ratna.”
Aku tersenyum tipis.
“Bagaimana panen cengkih?”
“Naik hampir tiga puluh persen, Bu.”
“Kontrak ekspor Singapura juga sudah ditandatangani.”
“Direktur Bank Nusantara tadi pagi juga datang mencari Ibu.”
Aku hanya mengangguk.
Rumahku memang sederhana.
Tidak semegah rumah-rumah pengusaha Jakarta.
Namun di balik rumah kayu bergaya kolonial itu berdiri kantor pusat perusahaan keluargaku.
Perusahaan yang selama bertahun-tahun sengaja tidak pernah kubicarakan kepada siapa pun.
Bahkan kepada Aditya.
Ia hanya tahu aku memiliki sawah.
Ia tidak pernah bertanya lebih jauh.
Ia tidak pernah tahu bahwa seluruh hasil panen dari ratusan hektare sawah, perkebunan cengkih, kopi, dan pala itu diolah oleh perusahaan keluarga bernama Nusantara Agri Group.
Perusahaan yang memasok bahan pangan ke berbagai kota besar bahkan diekspor ke Jepang, Korea, dan Timur Tengah.
Semua saham mayoritas masih atas namaku.
Aku memilih hidup sederhana karena almarhum suamiku selalu berkata,
“Kalau suatu hari kekayaan membuat orang lupa menjadi manusia, berarti kekayaan itu adalah kutukan.”
Kini aku baru benar-benar memahami maksud ucapannya.
Malam itu aku memanggil pengacara pribadiku.
Pak Surya.
Pria berusia enam puluh tahun yang sudah mendampingiku lebih dari dua puluh lima tahun.
“Ibu yakin?”
“Aku yakin.”
“Bagaimana dengan Pak Aditya?”
Aku menghela napas panjang.
“Mulai hari ini seluruh akses ke rekening tambahan atas namaku ditutup.”
“Semua?”
“Semua.”
“Termasuk black card?”
Aku mengangguk.
“Blokir sekarang.”
Pak Surya tidak bertanya lagi.
Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh fasilitas keuangan yang selama ini digunakan Aditya langsung dinonaktifkan.
Aku juga meminta seluruh surat wasiat lama dibatalkan.
Semua.
Tidak ada satu lembar pun yang tersisa.
Tiga hari kemudian…
Pagi itu aku sedang memeriksa laporan panen ketika telepon rumah berbunyi.
Nomor Jakarta.
“Selamat pagi, apakah benar saya berbicara dengan Ibu Ratna Wijaya?”
“Benar.”
“Saya dari bagian administrasi Rumah Sakit Medika Utama.”
“Ada yang bisa saya bantu?”
Suara di seberang terdengar gugup.
“Begini, Bu… kami ingin mengonfirmasi mengenai pembayaran biaya perawatan keluarga Bapak Aditya Pratama.”
Aku diam.
“Tagihan yang masih berjalan saat ini mencapai Rp4,8 miliar.”
Aku tetap diam.
“Selama ini seluruh pembayaran selalu otomatis dipotong dari kartu premium atas nama Ibu Ratna Wijaya.”
“Namun sejak tiga hari lalu kartu tersebut ditolak.”
“Kami mencoba menghubungi Bapak Aditya, tetapi beliau mengatakan bahwa kartu itu milik Ibu.”
Aku akhirnya bertanya pelan.
“Jadi?”
“Kami berharap Ibu dapat segera menyelesaikan pembayaran agar administrasi pasien tidak mengalami kendala.”
Aku tersenyum kecil.
Senyum yang bahkan tidak kusadari muncul.
“Maaf.”
“Hah?”
“Saya rasa Anda salah sambung.”
“Tapi… data kami…”
“Mulai hari ini saya tidak memiliki hubungan keuangan apa pun dengan keluarga itu.”
Petugas itu terdiam.
“Lalu… bagaimana dengan tagihannya, Bu?”
“Itu bukan tanggung jawab saya.”
Klik.
Telepon kututup.
Belum sampai sepuluh menit.
Nomor Aditya muncul.
Untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, ia meneleponku.
Aku mengangkat.
“Bu!”
Nada suaranya panik.
“Ada apa dengan kartu itu?”
“Kartu apa?”
“Black card!”
“Tiba-tiba semua transaksi ditolak!”
“Aku lagi di rumah sakit!”
Aku menjawab tenang.
“Oh.”
“Hanya ‘oh’?”
“Kenapa Ibu memblokirnya?”
“Karena itu milikku.”
“Selama ini memang milik Ibu.”
“Tapi Ibu selalu bilang itu untukku!”
“Tidak.”
“Itu untuk keadaan darurat.”
“Lalu sekarang?”
“Sekarang keadaan daruratnya sudah selesai.”
“Bu!”
“Tagihan rumah sakit hampir lima miliar!”
“Indah masih harus kontrol!”
“Bayinya masih di NICU!”
“Aku butuh bantuan!”
Aku menutup mata.
Lucu sekali.
Tiga hari lalu aku hanyalah perempuan kampung yang memalukan.
Hari ini aku kembali menjadi “Ibu”.
“Aditya.”
“Iya?”
“Kamu masih ingat perempuan tua yang kamu usir dari rumah sakit?”
Suara di seberang mendadak hilang.
“Kamu bilang pakaiannya seperti pengemis.”
“Kamu bilang baunya matahari.”
“Kamu bilang aku mempermalukanmu.”
“Kalau begitu, kenapa sekarang seorang pengemis harus membayar tagihan miliaran rupiahmu?”
Tidak ada jawaban.
Hanya napas berat.
“Bu… aku…”
“Aku sedang emosi waktu itu.”
“Aku minta maaf.”
Aku tersenyum pahit.
“Maaf memang mudah diucapkan saat dompet mulai kosong.”
Telepon kembali kututup.
Sore harinya, Pak Heryanto datang sendiri ke desaku.
Ia turun dari mobil mewah dengan wajah pucat.
Untuk pertama kalinya, pria yang dulu memandangku seperti debu kini berdiri menundukkan kepala.
“Bu Ratna…”
“Saya datang untuk meminta maaf.”
Aku mempersilahkannya duduk.
Ia melihat sekeliling rumahku.
Baru kali itu ia menyadari bahwa rumah sederhana ini dikelilingi gudang-gudang besar, kantor ekspor, puluhan truk pengangkut hasil panen, dan ratusan karyawan yang keluar masuk memberi hormat kepadaku.
Ekspresinya berubah.
“Jadi… semua ini…”
“Milik Ibu?”
Aku hanya mengangguk.
Ia memegang dahinya.
“Ya Tuhan…”
“Saya baru tahu bahwa Nusantara Agri Group…”
“Adalah milik keluarga Ibu.”
Aku tidak menjawab.
Karena memang tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Pak Heryanto menghela napas panjang.
“Aditya tidak pernah bercerita.”
“Bukan.”
Aku mengoreksinya pelan.
“Dia tidak pernah mau tahu.”
Kalimat itu membuatnya terdiam cukup lama.
Keesokan harinya, Aditya datang.
Tidak lagi memakai jas mahal.
Tidak lagi membawa mobil sport.
Ia datang sendiri.
Dengan mata sembab.
Begitu melihatku, ia langsung berlutut.
“Bu…”
“Ampuni aku.”
“Aku salah.”
“Aku benar-benar buta.”
Air matanya jatuh tanpa henti.
Ia menceritakan semuanya.
Perusahaannya ternyata terlilit utang besar.
Selama ini citra mewah yang ia pertahankan hanya ditopang oleh fasilitas yang kuberikan.
Indah terbiasa hidup berlebihan.
Setelah semua kartu diblokir, tabungan mereka bahkan tidak cukup membayar biaya rumah sakit seminggu.
Aku mendengarkan tanpa menyela.
Setelah ia selesai menangis, aku mengambil kotak beludru merah dari lemari.
Aditya menatapnya dengan penuh harap.
Ia mungkin mengira aku akan memberikan kalung emas itu.
Namun aku justru meletakkannya kembali.
“Kalung ini tadinya untuk cucuku.”
“Tapi warisan keluarga tidak diberikan berdasarkan hubungan darah.”
“Warisan diberikan kepada orang yang tahu cara menghargai keluarga.”
Aditya menangis semakin keras.
Aku berdiri perlahan.
“Lihatlah ke belakang.”
Ia menoleh.
Di sana berdiri puluhan petani yang telah bekerja bersamaku lebih dari dua puluh tahun.
Mereka semua tersenyum kepadaku.
“Mereka bukan keluargaku karena darah.”
“Tapi mereka tidak pernah malu mengakui bahwa aku adalah bagian dari hidup mereka.”
Aku menghela napas pelan.
“Kekayaan bisa dicari lagi.”
“Nama baik bisa dibangun kembali.”
“Tapi hati seorang ibu…”
“Sekali benar-benar hancur, bekas retaknya akan tetap ada seumur hidup.”
Hari itu aku tetap membantu membayar seluruh biaya perawatan cucuku.
Bukan karena Aditya.
Bukan karena Indah.
Melainkan karena seorang bayi tidak pantas menanggung dosa orang tuanya.
Namun setelah semua selesai, aku mengalihkan seluruh harta warisanku ke sebuah yayasan pendidikan dan kesejahteraan petani yang telah lama kurencanakan.
Aditya tidak kehilangan ibunya.
Ia hanya kehilangan hak istimewa yang selama ini tidak pernah ia syukuri.
Dan sejak hari itu, seluruh keluarganya akhirnya mengerti satu pelajaran yang tidak pernah bisa dibeli dengan miliaran rupiah:
Seseorang boleh berpakaian sederhana, tetapi harga dirinya tidak pernah ditentukan oleh pakaian yang dikenakannya. Yang benar-benar membuat seseorang miskin adalah ketika ia mulai merasa malu terhadap orang yang telah mengorbankan segalanya demi dirinya.
