Ricardo tidak menangis.
Ia tidak membanting gelas, tidak berteriak, bahkan tidak menatap Elena dengan kebencian seperti yang kuharapkan. Putra yang kubesarkan selama dua puluh lima tahun itu hanya berdiri di dekat meja utama dengan wajah tenang.
Ketidakpeduliannya terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Roberto.
Aku menatapnya dengan mata kabur.
“Ricardo…”

Bibirku gemetar.
“Kamu sudah tahu?”
Ricardo menurunkan gelasnya perlahan.
“Iya, Ma.”
Satu kata itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.
Aku mundur selangkah.
“Sejak kapan?”
“Enam bulan lalu.”
Dunia seakan berhenti berputar.
Enam bulan.
Selama enam bulan terakhir, Ricardo masih meneleponku setiap malam dari Amerika. Ia masih bertanya apakah aku sudah makan. Ia masih mengirimiku foto kampus, mengeluh tentang tesisnya, bahkan meminta resep rendang yang biasa kubuat.
Dan selama itu pula, ia mengetahui bahwa aku bukan ibu kandungnya.
Roberto tertawa kecil.
“Sudahlah, Victoria. Jangan membuat adegan menyedihkan. Ricardo sudah dewasa. Dia berhak mengetahui siapa orang tua kandungnya.”
Ia kemudian merangkul pinggang Elena.
“Aku dan Elena sudah bersama jauh sebelum aku menikahimu.”
Aku menatapnya tak percaya.
Roberto tampak menikmati setiap detik kehancuranku.
“Ricardo bukan bayi yang kutemukan di gang,” katanya. “Dia anak kami.”
Beberapa tamu mulai berbisik.
Dadaku terasa sesak.
Dua puluh lima tahun lalu aku mempercayai ceritanya tanpa sedikit pun keraguan. Roberto pulang tengah malam membawa bayi yang menggigil, dibungkus selimut tipis. Ia mengatakan menemukan bayi itu di dekat gudang kosong setelah mendengar tangisan.
Aku bahkan memujinya karena menyelamatkan nyawa seorang anak.
Betapa bodohnya aku.
“Kenapa?” tanyaku lirih. “Kenapa kau melakukan semua ini?”
Elena menjawab sebelum Roberto sempat membuka mulut.
“Karena saat itu aku belum siap menjadi ibu.”
Nada suaranya begitu ringan hingga membuatku mual.
“Aku sedang membangun perusahaan. Kehamilan itu kecelakaan. Roberto juga baru memulai karier. Kami membutuhkan seseorang yang bisa merawat Ricardo.”
Aku menatap perempuan itu.
“Jadi kalian memilihku?”
Roberto mengangkat bahu.
“Kamu sangat menginginkan anak. Kami memberikan apa yang kamu inginkan.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Memberikan?
Aku yang terjaga ketika Ricardo demam empat puluh derajat.
Aku yang berlari tanpa alas kaki ke IGD ketika ia jatuh dari sepeda.
Aku yang duduk di luar kelas selama berjam-jam ketika hari pertama sekolah karena ia takut ditinggalkan.
Aku yang menjual saham warisan ayahku untuk membayar program musim panas pertamanya di luar negeri ketika bisnis Roberto sedang terpuruk.
Aku yang meninggalkan pekerjaan sebagai analis keuangan karena Roberto berkata seorang anak membutuhkan ibunya di rumah.
Dan sekarang semua pengorbanan itu disebut pemberian mereka kepadaku?
Elena tersenyum.
“Jangan khawatir. Kami tidak akan melupakan jasamu. Roberto akan memberikan kompensasi yang cukup.”
Aku menoleh kepada Ricardo.
Hanya dia yang penting sekarang.
“Ricardo,” kataku, “lihat Mama.”
Akhirnya ia menatapku.
Aku mencoba menemukan anak kecil yang dulu memeluk kakiku setiap kali takut petir.
“Kalau kamu ingin pergi bersama mereka, Mama tidak akan menghentikanmu.”
Suasana aula mendadak sunyi.
“Tapi sebelum Mama pergi, Mama cuma ingin tahu satu hal.”
Aku menelan tangis.
“Selama dua puluh lima tahun ini, pernahkah kamu menganggap Mama sebagai ibumu?”
Ricardo membuka mulut.
Namun Roberto tiba-tiba bertepuk tangan.
“Cukup melodramanya.”
Ia mengambil mikrofon dari meja.
Entah mengapa, lelaki itu tampak begitu puas.
“Malam ini seharusnya menjadi perayaan. Putraku telah menyelesaikan pendidikan terbaik yang bisa dibeli uang.”
Lalu ia menatapku sambil tersenyum mengejek.
“Dan tentu saja kita harus berterima kasih kepada Victoria.”
Beberapa orang menundukkan kepala karena malu.
Roberto mengangkat gelas.
“Terima kasih sudah mengasuh anak hasil perselingkuhanku selama dua puluh lima tahun.”
Beberapa tamu tersentak.
Elena menutup mulut sambil tertawa kecil.
Aku tidak mampu bergerak.
Tetapi tepat ketika Roberto hendak meminum sampanyenya, Ricardo berjalan maju dan mengambil mikrofon dari tangannya.
“Papa belum selesai?”
Roberto mengernyit.
“Apa?”
Ricardo menatap seluruh ruangan.
“Kalau begitu sekarang giliran saya.”
Ia mengeluarkan ponsel.
“Sebenarnya saya pulang ke Jakarta bukan hanya untuk merayakan kelulusan.”
Wajah Roberto berubah sedikit.
Ricardo melanjutkan.
“Enam bulan lalu Papa menghubungi saya. Papa mengatakan Mama bukan ibu kandung saya. Papa bahkan mengirim hasil tes DNA.”
Ia menoleh kepada Elena.
“Dan Bu Elena menghubungi saya dua hari kemudian.”
Senyum Elena perlahan menghilang.
“Dia bilang saya harus memahami bahwa semua ini dilakukan demi masa depan saya.”
Aku mematung.
Ricardo kemudian menatapku.
“Karena itu saya pulang lebih cepat tiga minggu lalu tanpa memberi tahu Mama.”
Aku mengernyit.
Tiga minggu lalu?
Setahuku Ricardo masih berada di Boston.
“Saya menemui Pak Arif.”
Jantung Roberto seperti berhenti.
“Arif siapa?”
Ricardo tersenyum tipis.
“Pak Arif Santoso. Mantan direktur keuangan perusahaan Papa.”
Wajah Roberto seketika pucat.
Aku mengenal nama itu.
Arif adalah sahabat lama Roberto yang tiba-tiba mengundurkan diri sebelas tahun lalu. Roberto selalu mengatakan Arif mencuri uang perusahaan.
“Saya juga menemui pengacara Kakek,” lanjut Ricardo.
Sekarang Roberto benar-benar panik.
“Kakekmu sudah meninggal.”
“Betul. Tapi dokumennya masih ada.”
Ricardo membuka sebuah map yang sejak tadi tergeletak di bawah meja.
Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Mama mungkin tidak pernah tahu kenapa perusahaan Papa bisa bertahan ketika hampir bangkrut delapan belas tahun lalu.”
Aku menatapnya.
Ricardo menoleh kepadaku.
“Karena Mama.”
Aku menggeleng bingung.
“Apa maksudmu?”
“Perusahaan itu diselamatkan oleh investasi dari perusahaan milik Kakek.”
Aku terdiam.
Ayahku memang seorang pengusaha, tetapi setelah menikah aku hampir tidak pernah ikut campur dalam urusan bisnis keluarga.
Ricardo melanjutkan.
“Investasi itu bukan hadiah kepada Papa. Sahamnya ditempatkan atas nama Mama melalui perusahaan induk.”
Roberto menerjang maju.
“Berikan itu kepadaku!”
Ricardo mundur.
Dua pria berjas yang sejak tadi berdiri di belakang ruangan langsung menghampiri.
Salah satunya adalah pengacara keluarga ayahku.
Pak Surya.
Aku mengenalinya.
“Bu Victoria,” katanya, “maaf kami baru bisa menjelaskan semuanya sekarang.”
Tanganku dingin.
Pak Surya membuka dokumen.
“Almarhum ayah Anda memiliki empat puluh delapan persen saham perusahaan Pak Roberto melalui perusahaan investasi keluarga. Setelah beliau meninggal, kepemilikan tersebut diwariskan kepada Anda.”
Aku hampir tidak mampu memahami kalimat itu.
Roberto berteriak.
“Omong kosong! Victoria sudah menandatangani semua dokumen!”
Pak Surya mengangguk.
“Benar. Tetapi yang ditandatangani Bu Victoria hanya memberikan hak pengelolaan kepada Anda selama pernikahan. Bukan memindahkan kepemilikan.”
Wajah Roberto kehilangan seluruh warnanya.
Ricardo menatap ayah kandungnya.
“Dan ada satu hal lagi.”
Ia mengeluarkan dokumen berikutnya.
“Saya menemukan transaksi perusahaan selama sebelas tahun terakhir. Papa memindahkan dana perusahaan ke beberapa perusahaan cangkang yang terhubung dengan Elena.”
Elena langsung melepaskan tangan Roberto.
“Aku tidak tahu apa-apa.”
Ricardo tertawa kecil.
“Nama Ibu tercantum sebagai komisaris di dua perusahaan.”
Suasana pesta berubah menjadi ruang pengadilan.
Roberto mulai berteriak bahwa semua dokumen itu palsu.
Namun Ricardo belum selesai.
“Pak Arif tidak mencuri uang perusahaan. Dia dipecat karena menemukan transaksi itu.”
Aku menatap Roberto.
Lelaki yang hidup bersamaku hampir tiga puluh tahun kini terlihat seperti orang asing.
“Jadi selama ini…”
Suaraku nyaris tidak keluar.
“Kau menggunakan uang keluargaku untuk membangun kerajaanmu?”
Roberto tidak menjawab.
Ricardo melangkah mendekatiku.
“Mama.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah tenangnya runtuh.
Matanya merah.
“Saya memang tahu semuanya enam bulan lalu.”
Air mataku kembali mengalir.
“Tapi kenapa kamu diam?”
“Karena saya ingin tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.”
Ia menatap Roberto dan Elena.
“Mereka tidak mencari anak.”
Elena membentak.
“Jangan kurang ajar!”
Ricardo tidak memedulikannya.
“Mereka mencari pewaris.”
Ruangan kembali sunyi.
“Papa sedang terancam kehilangan perusahaan. Karena sebagian saham terbesar sebenarnya milik Mama, perceraian bisa memicu audit dan pembagian aset. Mereka pikir kalau saya berpihak kepada mereka, saya bisa membantu mengambil kendali saham Mama.”
Roberto berteriak.
“Kamu anakku!”
Ricardo menoleh kepadanya.
“Secara biologis, iya.”
Lalu ia menggenggam tanganku.
“Tapi saya tidak dibesarkan oleh DNA.”
Tangisku pecah.
Ricardo berdiri di sampingku dan menatap ayah kandungnya.
“Anda benar tadi.”
Roberto terdiam.
Ricardo mengambil gelas sampanye dari meja.
“Memang ada seseorang yang harus saya ucapkan terima kasih malam ini.”
Ia mengangkat gelasnya.
“Terima kasih kepada perempuan yang berhenti mengejar kariernya agar saya tidak pernah pulang ke rumah kosong.”
Aku menutup mulut, menangis.
“Terima kasih kepada perempuan yang duduk semalaman di samping ranjang saya ketika saya terkena demam berdarah.”
Suara Ricardo mulai bergetar.
“Terima kasih kepada perempuan yang tidak membeli gaun baru selama bertahun-tahun supaya saya bisa ikut olimpiade ke Singapura.”
Aku bahkan tidak tahu ia mengingatnya.
“Dan terima kasih kepada perempuan yang setiap kali saya gagal selalu mengatakan, Ricardo, kamu tidak perlu menjadi hebat supaya Mama bangga.”
Ia menatapku.
“Dia bukan pengasuh saya.”
Air matanya jatuh.
“Dia ibu saya.”
Tak seorang pun berbicara.
Ricardo kemudian menoleh kepada Roberto.
“Dan mengenai permintaan Papa agar Mama meninggalkan rumah sebelum Jumat…”
Ia tersenyum tipis.
“Sebaiknya Papa membaca sertifikat rumah itu.”
Roberto membeku.
Rumah besar yang kami tempati selama dua puluh tahun ternyata dibeli melalui perusahaan investasi ayahku dan terdaftar atas namaku.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tertawa.
Bukan karena menang.
Bukan karena harta.
Melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku merasa hidupku tidak memiliki pencapaian. Aku melihat Roberto menjadi CEO, Elena membangun perusahaan, sementara namaku hanya dikenal sebagai istri dan ibu rumah tangga.
Aku mengira aku telah membuang masa depanku.
Ternyata aku sedang membangun sesuatu yang tidak bisa dibeli saham atau uang.
Seorang manusia.
Tiga bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Audit perusahaan menemukan berbagai transaksi ilegal. Roberto kehilangan jabatan CEO dan menghadapi proses hukum bersama beberapa direksi. Elena meninggalkannya bahkan sebelum penyelidikan selesai.
Aku tidak pernah bertanya ke mana ia pergi.
Pada usia lima puluh tiga tahun, aku kembali bekerja.
Dengan bantuan Ricardo, aku mendirikan yayasan pendidikan menggunakan sebagian dividen saham peninggalan ayahku. Yayasan itu memberikan beasiswa kepada perempuan yang terpaksa meninggalkan pendidikan karena keadaan keluarga.
Suatu sore, setahun kemudian, aku sedang bekerja ketika Ricardo datang membawa dua cangkir kopi.
“Ma.”
“Hm?”
“Saya dapat tawaran kerja di Amerika.”
Tanganku berhenti mengetik.
“Bagus dong.”
“Tapi mungkin saya akan tinggal lama.”
Aku tersenyum.
“Pergilah.”
Ia menatapku heran.
“Mama nggak sedih?”
“Tentu sedih.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tapi tugas seorang ibu bukan membuat anaknya tinggal di sampingnya selamanya. Tugasnya memastikan anak itu cukup kuat untuk pergi dan cukup yakin bahwa ia selalu punya rumah untuk pulang.”
Ricardo memelukku.
Di bahuku, ia berbisik,
“Kalau suatu hari ada yang bertanya siapa ibu kandung saya, saya harus jawab apa?”
Aku tertawa sambil mengusap rambutnya.
“Katakan saja yang sebenarnya.”
“Apa?”
Aku menatap lelaki muda yang dahulu datang ke hidupku sebagai bayi kecil dalam selimut basah.
“Ibu kandungmu adalah perempuan yang melahirkanmu.”
Aku menyentuh dadanya.
“Tapi ibumu adalah perempuan yang membesarkan hatimu.”
Ricardo tersenyum.
Dan saat itu aku akhirnya menyadari bahwa dua puluh lima tahun lalu Roberto memang telah membohongiku ketika membawa seorang bayi ke rumah kami.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah ia pahami.
Ia mengira telah menitipkan anaknya kepadaku.
Padahal sejak malam pertama aku memeluk bayi itu dan mendengar tangisnya berhenti di dadaku, Ricardo tidak pernah lagi menjadi miliknya untuk diberikan ataupun diambil kembali.
Ia telah menjadi anakku.
Bukan karena darah.
Bukan karena dokumen.
Melainkan karena selama dua puluh lima tahun, setiap kali dunia membuatnya takut, namakulah yang pertama kali ia panggil.
Mama.
