Berikut adalah kelanjutan kisah tersebut, dirancang dengan ritme yang memikat dan penuh kejutan.
Bab 2: Simfoni Keheningan dan Racun Tersembunyi
Keheningan menyelimuti aula besar itu. Tatapan mata orang-orang Montenegro tertuju padaku, menunggu rasa syukur yang seharusnya meluap dari seorang anak yang baru “diselamatkan” dari kemiskinan.

Namun, alih-alih berlari memeluk mereka, aku hanya menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Aku mencatat setiap detail: posisi kamera pengawas, letak stopkontak di sudut ruangan, dan ekspresi cemas di wajah Ibu yang berusaha ditutupi oleh senyum palsu.
“Aku tidak butuh separuh kamarmu,” jawabku tenang, suaraku terdengar lebih dewasa daripada anak seusia empat tahun. “Aku hanya butuh apa yang secara hukum dan genetika memang milikku.”
Bianca tersedak ludahnya sendiri. Ayah, yang berdiri di sampingnya, mengerutkan kening. “Apa yang dia bicarakan? Apa mereka tidak mengajarinya sopan santun di sana?”
“Mereka mengajariku bertahan hidup,” balasku datar. “Sesuatu yang mungkin belum pernah kalian pelajari di balik tembok tinggi ini.”
Malam itu, jamuan makan malam menjadi arena perang pertama. Di hadapanku, Bianca dengan sengaja menumpahkan kuah pedas ke piringku, tahu bahwa aku memiliki alergi parah terhadap cabai—sebuah detail yang seharusnya tidak diketahui orang asing, namun Bianca selalu punya cara untuk “mengetahui” kelemahanku.
Aku menatap udang merah menyala di piringku. Di kehidupan sebelumnya, aku memakannya dan berakhir di rumah sakit selama seminggu, sementara mereka sibuk menghibur Bianca karena dia “sangat sedih melihatku sakit.”
Kali ini, aku mengambil garpu. Bukan untuk memakannya, melainkan untuk menusuk udang itu dan melemparkannya kembali ke piring Bianca, tepat di atas boneka bernyanyi kesayangannya.
Sret!
“Ups,” kataku tanpa ekspresi. “Sepertinya tanganmu yang mencapainya duluan, Kakak.”
Bianca menjerit. Boneka itu kotor terkena saus. Ayah bangkit berdiri, tangannya terangkat—sebuah tamparan akan mendarat. Namun, sebelum tangannya menyentuh pipiku, aku sudah mengeluarkan sebuah alat kecil dari balik sakuku: recorder yang merekam percakapan mereka saat menjemputku di gerbang tadi.
Suara mereka terdengar jelas di seluruh ruangan: “Pastikan anak itu tetap di gudang. Jangan beri dia akses ke dokumen warisan sampai Bianca cukup umur untuk menikah dengan keluarga kaya.”
Ayah membeku. Wajahnya pucat pasi.
Bab 3: Academia de San Jose dan Kebohongan yang Runtuh
Seminggu kemudian, acara Open House di Academia de San Jose menjadi sorotan seluruh elit kota. Keluarga Montenegro memamerkan miniatur arsitektur sekolah masa depan yang dirancang oleh “jenius kecil” mereka, Bianca.
Semua orang memuji desain itu. Itu adalah replika sempurna dari gedung tua yang direnovasi.
Aku berdiri di dekat meja pameran. Aku tahu desain itu. Di kehidupan sebelumnya, desain ini runtuh saat badai besar dua tahun kemudian karena kesalahan perhitungan beban struktural di sayap barat.
“Bagus sekali, Bianca!” puji seorang arsitek ternama.
Aku melangkah maju. “Rencana aslinya salah.”
Aula terdiam. Kakek menatapku tajam. “Anak nakal, jangan bicara sembarangan!”
Aku tidak peduli. Aku mengambil pena laser dan menunjuk titik tumpu pada miniatur tersebut. “Sudut kemiringan kolom penyangga di sayap barat hanya 82 derajat. Jika beban atap dihitung berdasarkan material yang digunakan, gravitasi akan menariknya ke dalam dalam waktu kurang dari 720 hari. Ini bukan karya seni, ini adalah jebakan maut.”
Sang arsitek tertegun. Ia mengambil cetak biru, memeriksa kalkulasinya, dan matanya membelalak. “Bagaimana mungkin… perhitungan ini sangat rahasia. Bagaimana anak empat tahun bisa tahu?”
Bianca gemetar. Desain itu dia curi dari folder kerja Ayah, dan dia mengubah beberapa variabel agar terlihat lebih “estetik” tanpa mengerti dasar tekniknya.
“Aku tidak datang ke sini untuk mengemis kasih sayang kalian,” bisikku di depan kerumunan, suaraku dingin seperti es. “Aku datang untuk memastikan bahwa ketika kapal ini tenggelam, aku sudah berada di sekoci yang tepat.”
Bab 4: Balas Dendam yang Tak Terduga
Kehidupan di rumah mewah itu berubah menjadi neraka bagi mereka. Setiap kali Bianca mencoba memfitnahku, aku sudah menyiapkan bukti. Setiap kali mereka mencoba mengabaikanku, aku sudah menguasai sistem keamanan rumah dan mengunci akses mereka ke aset digital perusahaan.
Namun, kejutan yang sebenarnya bukan terletak pada kehancuran keluarga Montenegro.
Tepat di hari ulang tahunku yang ke-lima, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di depan gerbang. Seorang pria tua dengan tatapan mata elang keluar. Dia adalah penguasa sebenarnya dari dinasti Montenegro yang selama ini bersembunyi di luar negeri—Kakek Buyutku, yang selama ini dianggap sudah meninggal.
Dia tidak mencari Bianca. Dia berjalan lurus ke arahku, mengabaikan Ayah yang bersujud meminta maaf.
“Kau memiliki mata yang sama dengan nenek buyutmu,” suaranya parau namun berwibawa.
Ia menyerahkan sebuah dokumen. Itu bukan sekadar surat warisan. Itu adalah bukti bahwa keluarga Montenegro yang ada di hadapanku saat ini—Ayah, Ibu, dan terutama Bianca—bukanlah siapa-siapa. Mereka adalah keluarga pelayan yang mengadopsi identitas Montenegro setelah keluarga asli mengalami kecelakaan tragis bertahun-tahun lalu.
Aku adalah satu-satunya garis keturunan sah yang diselamatkan oleh asisten setia kakek buyutku saat itu.
Bianca berteriak histeris, “Tidak! Itu bohong! Aku nona muda keluarga ini!”
Aku tersenyum, senyum pertama yang tulus sejak aku kembali. “Tidak, Bianca. Kamu hanyalah seorang pelayan yang lupa posisinya.”
Dalam sekejap, situasi berbalik. Keamanan rumah menyeret mereka keluar. Di depan pintu gerbang yang dulu menolakku, aku berdiri sebagai pemilik sah properti tersebut. Aku tidak merasa sedih. Aku tidak merasa dendam. Aku hanya merasa… lega.
Aku tidak menangis lagi. Karena di kehidupan ini, aku adalah sang penguasa, dan mereka hanyalah catatan kaki yang akan segera kulupakan.
Pertanyaan untuk Anda: Bagaimana perasaan Anda jika dalam situasi yang sama, Anda diberikan kesempatan untuk membalas dendam dengan cara yang dingin dan terencana seperti sang tokoh utama?
