IBU TIRI YANG SEMPURNA: AKU PULANG LEBIH CEPAT DARI PERJALANAN BISNIS… DAN APA YANG KULIHAT DI TAMAN BELAKANG MENGHANCURKAN HIDUPKU SELAMANYA

Baskoro merasa seolah seluruh dunia berhenti berputar.

Di tengah taman belakang yang dulu selalu dipenuhi suara tawa anak-anak, Mateo dan Valeria berdiri dengan pakaian lusuh yang penuh noda tanah. Wajah mereka memerah karena panas matahari. Di tangan Mateo tergenggam sapu lidi, sementara Valeria yang tubuhnya jauh lebih kecil sedang berusaha menyeret ember besar berisi air.

Di depan mereka berdiri Paola.

Bukan Paola yang lembut dan penuh senyum seperti yang selama ini dikenalnya.

Tatapan wanita itu dingin, wajahnya dipenuhi kemarahan.

“Lebih cepat!” bentaknya. “Kalau taman ini belum bersih sebelum tamuku datang, kalian tidak akan makan malam!”

Valeria mencoba mengangkat ember itu lagi. Tangannya gemetar.

“Aku capek…” bisiknya lirih.

Belum sempat gadis kecil itu menarik napas, Ibu Karmila merampas ember dari tangannya lalu mendorong bahunya cukup keras hingga Valeria jatuh terduduk di rumput.

“Anak manja!” bentaknya. “Di rumah ini tidak ada yang hidup gratis.”

Baskoro mengepalkan tangan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Dadanya terasa sesak.

Ia hampir berlari menghampiri mereka.

Namun sesuatu membuat langkahnya berhenti.

Ia mendengar Paola berbicara lagi.

“Kalau ayah kalian pulang nanti, ingat apa yang harus kalian katakan.”

Mateo menatap tanah.

“Kami bahagia…”

“Lebih keras!”

“Kami bahagia…”

“Dan?”

“Kami sangat disayangi.”

Paola tersenyum puas.

“Itu baru anak pintar.”

Jantung Baskoro berdegup semakin keras.

Ia mengeluarkan ponselnya secara perlahan dan mulai merekam semuanya.

Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman depan.

Paola langsung berubah.

Ia memeluk Valeria yang masih menangis.

“Wah, sayangku… capek ya berkebun? Hebat sekali.”

Ibu Karmila ikut mengusap kepala Mateo sambil tersenyum ke arah para tetangga yang baru datang.

“Anak-anak ini memang suka sekali bermain di taman.”

Baskoro menyadari satu hal.

Selama ini mereka sedang memainkan sandiwara.

Dan ia baru melihat wajah asli mereka.

Ia memilih mundur tanpa diketahui siapa pun.

Beberapa menit kemudian ia berjalan masuk melalui pintu depan sambil membawa koper dan hadiah.

“Ayah!”

Mateo dan Valeria spontan berlari memeluknya.

Namun pelukan mereka berbeda.

Terlalu erat.

Seolah mereka takut kehilangan sesuatu.

Paola muncul dengan wajah terkejut yang dibuat-buat.

“Sayang! Kamu sudah pulang?”

Ia langsung memeluk Baskoro.

“Aku ingin memberi kejutan.”

Paola tertawa kecil.

“Berhasil. Aku benar-benar kaget.”

Baskoro tersenyum tipis.

Ia menyerahkan kalung berlian yang dibelinya.

“Ini untukmu.”

Paola membuka kotaknya.

Matanya berbinar.

“Oh Tuhan… indah sekali.”

Namun Baskoro hanya memperhatikannya dalam diam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat kilatan keserakahan di mata wanita itu.

Malam itu makan malam berlangsung canggung.

Mateo hampir tidak menyentuh makanannya.

Valeria berkali-kali menunduk.

Sementara Paola terus bercerita tentang betapa harmonisnya keluarga mereka selama tiga bulan terakhir.

“Kami bahkan sering piknik bersama.”

“Anak-anak sekarang jauh lebih disiplin.”

“Mereka sudah menganggapku seperti ibu kandung.”

Baskoro hanya mengangguk.

“Aku senang mendengarnya.”

Namun di bawah meja, ia merasakan tangan kecil Valeria menggenggam jemarinya dengan sangat kuat.

Seolah gadis kecil itu sedang meminta pertolongan.

Malam semakin larut.

Baskoro berpura-pura tidur.

Sekitar pukul sebelas malam, ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka perlahan.

Mateo masuk sambil membawa secarik kertas.

“Ayah…”

Suara anak itu nyaris tak terdengar.

“Ayah jangan marah ya…”

Baskoro langsung duduk.

“Ada apa?”

Mateo menyerahkan sebuah buku gambar.

Di halaman terakhir terdapat puluhan gambar.

Gambar pertama menunjukkan dirinya bersama ibu kandung mereka.

Gambar kedua memperlihatkan Paola tersenyum.

Namun gambar-gambar berikutnya berubah.

Ada sosok perempuan bermata merah.

Ada Valeria yang menangis.

Ada Mateo sedang berlutut menyikat lantai.

Dan di halaman terakhir, tergambar seorang pria yang sedang berdiri di depan makam.

Di atas gambar itu tertulis dengan tulisan tangan anak kecil:

“Ayah jangan percaya sama Ibu Paola.”

Air mata Baskoro langsung jatuh.

“Semua ini benar?”

Mateo mengangguk pelan.

“Kalau Ayah pergi… kami disuruh bangun jam lima pagi.”

“Kami harus membersihkan rumah.”

“Kalau salah sedikit…”

Anak itu berhenti bicara.

Ia membuka lengan bajunya.

Bekas memar berwarna kebiruan memenuhi lengannya.

Baskoro menutup mulutnya sendiri.

Ia merasa seperti ayah paling gagal di dunia.

“Valeria sering tidak diberi makan kalau menangis.”

“Mereka bilang Ayah tidak akan percaya.”

“Mereka bilang kalau kami cerita, kami akan dikirim ke panti asuhan.”

Baskoro memeluk putranya erat.

“Ayah minta maaf…”

Untuk pertama kalinya setelah kematian Mariana, Baskoro menangis tanpa bisa mengendalikan dirinya.

Namun ia tidak bertindak gegabah.

Sebagai seorang pengusaha, ia tahu kemarahan tanpa bukti hanya akan menjadi bumerang.

Selama beberapa hari berikutnya, ia memasang kamera kecil di berbagai sudut rumah tanpa sepengetahuan siapa pun.

Ia juga meminta kepala keamanan perusahaan menyamar sebagai teknisi internet untuk memasang sistem penyimpanan data jarak jauh.

Yang terekam jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.

Paola menampar Mateo karena segelas susu tumpah.

Ibu Karmila mengunci Valeria di gudang selama dua jam karena gadis kecil itu memecahkan vas bunga.

Mereka mengambil uang belanja rumah untuk membeli tas bermerek.

Mereka memecat dua pengasuh lama hanya karena pengasuh itu berusaha membela anak-anak.

Lebih mengejutkan lagi, Baskoro menemukan percakapan antara Paola dan seorang pria bernama Dimas.

“Kapan pria bodoh itu memindahkan saham perusahaan?”

“Tunggu saja. Setelah menikah resmi bulan depan, semuanya lebih mudah.”

“Lalu anak-anak?”

“Mereka tinggal dikirim ke sekolah berasrama. Setelah itu kita jual rumah Menteng.”

Baskoro membaca pesan itu berulang kali.

Tangannya gemetar.

Jadi selama ini…

Semua perhatian.

Semua air mata.

Semua kasih sayang.

Hanyalah sandiwara demi hartanya.

Ia menghubungi pengacara kepercayaannya.

Semua aset segera diamankan.

Hak akses rekening bersama diblokir.

Surat wasiat diperbarui.

Dan sebuah rencana mulai disusun.

Seminggu kemudian Paola mengadakan pesta ulang tahunnya di rumah.

Ratusan tamu hadir.

Artis.

Influencer.

Pebisnis.

Media hiburan.

Paola berdiri di tengah aula sambil mengenakan gaun mewah.

“Baskoro sayang sekali padaku,” katanya sambil memamerkan kalung berlian pemberian Baskoro.

Semua tamu bertepuk tangan.

Saat itulah Baskoro naik ke atas panggung.

“Aku juga punya hadiah.”

Paola tersenyum.

“Sayang, kamu romantis sekali.”

Lampu ruangan tiba-tiba diredupkan.

Layar LED raksasa menyala.

Video pertama muncul.

Paola sedang menampar Mateo.

Ruangan langsung sunyi.

Video kedua.

Ibu Karmila menyeret Valeria ke gudang.

Beberapa tamu menutup mulut.

Video ketiga.

Percakapan tentang rencana merebut saham perusahaan.

Wajah Paola berubah pucat.

“Itu fitnah!”

Namun Baskoro mengangkat ponselnya.

“Semua rekaman asli. Sudah diverifikasi oleh ahli digital.”

Ia menoleh kepada para tamu.

“Selama berbulan-bulan saya memperkenalkan wanita ini sebagai calon ibu bagi anak-anak saya.”

“Saya ternyata hampir menyerahkan keluarga saya kepada orang yang salah.”

Paola mencoba merebut mikrofon.

“Kamu tidak bisa melakukan ini!”

“Tidak?”

Saat itu juga beberapa polisi memasuki ruangan.

Mereka menunjukkan surat penangkapan atas dugaan penganiayaan terhadap anak, penipuan, dan penggelapan dana rumah tangga.

Paola berteriak histeris.

Ibu Karmila mencoba melarikan diri, tetapi berhasil dihentikan.

Di depan seluruh tamu, keduanya digiring keluar dengan tangan diborgol.

Ruangan tetap sunyi.

Tak seorang pun berani berkata apa-apa.

Beberapa bulan kemudian, rumah di Menteng kembali dipenuhi suara tawa.

Tidak ada lagi bentakan.

Tidak ada lagi tangisan yang disembunyikan.

Baskoro memutuskan mengurangi perjalanan bisnisnya.

Ia menunjuk direktur operasional baru agar lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak.

Setiap sore mereka menyiram pohon tabebuya yang dulu ditanam Mariana.

Suatu hari, Valeria bertanya pelan.

“Ayah…”

“Iya, Sayang?”

“Kalau nanti Ayah menikah lagi… apakah kami akan punya ibu jahat lagi?”

Baskoro tersenyum sambil menggendong putrinya.

Ia memandang langit sore yang diterpa cahaya keemasan.

“Tidak semua orang jahat, Nak.”

“Tapi mulai hari ini, Ayah tidak akan pernah lagi memilih seseorang hanya karena wajahnya, kata-katanya, atau kepura-puraannya.”

“Ayah akan memilih orang yang mencintai kalian, bahkan ketika tidak ada siapa pun yang melihat.”

Mateo tersenyum.

Valeria memeluk ayahnya erat.

Di bawah pohon tabebuya yang sedang bermekaran, Baskoro akhirnya memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan dunia bisnis kepadanya.

Kekayaan memang mampu membeli rumah terbesar, mobil termahal, dan hadiah paling mewah.

Namun hanya perhatian, kehadiran, dan kasih sayang yang mampu menjaga sebuah keluarga agar tidak hancur dari dalam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang