Suara ayahku menggema dari pengeras suara di halaman mansion.
“Arga, buka pintu. Kita harus bicara tentang anak itu.”
Aku berdiri membeku di ruang kerja. Di tanganku masih ada hasil tes DNA yang sejak tadi membuat kepalaku dipenuhi pertanyaan.
Raka bukan anakku.
Namun, laboratorium memastikan hubungan biologis kami sangat dekat.

Di belakangku, Ibu tiba-tiba menarik Raka ke dalam pelukannya. Wajahnya yang masih pucat berubah tegang.
“Jangan biarkan Darma membawa Raka,” bisiknya.
Aku menatap Ibu.
“Kenapa?”
Sebelum Ibu menjawab, suara benturan keras terdengar dari pintu depan.
Dimas masuk dengan tergesa-gesa.
“Pak Darma membawa enam orang. Mereka bilang hanya ingin bicara, tapi dua di antaranya membawa senjata.”
Aku mengambil ponsel.
“Hubungi polisi.”
Ibu langsung memegang lenganku.
“Jangan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Lima tahun Ibu disekap, Jaya mengejar kita, sekarang Ayah datang membawa orang bersenjata. Kenapa kita tidak boleh memanggil polisi?”
“Karena lima tahun lalu aku pernah melakukannya.”
Kalimat itu membuatku diam.
Ibu menelan ludah.
“Dan malam berikutnya, orang yang menerima laporanku menghilang.”
Darahku terasa dingin.
Suara Ayah kembali terdengar.
“Arga! Jangan membuat masalah keluarga menjadi tontonan orang lain.”
Aku tertawa hambar.
Masalah keluarga.
Lima tahun aku mengira ibuku meninggalkan kami. Lima tahun aku melihat ayahku memasang wajah sedih setiap kali namanya disebut.
Ternyata semua itu mungkin hanya sandiwara.
Aku berjalan menuju pintu utama.
“Pak Arga,” Dimas menahanku. “Terlalu berbahaya.”
“Kalau dia ingin Raka, berarti Raka adalah alasan semua ini terjadi.”
Aku menoleh kepada Ibu.
“Bawa Raka ke kamar aman.”
Raka tiba-tiba berlari kepadaku dan memeluk pinggangku.
“Jangan pergi, Om.”
Aku menunduk.
Wajah kecil itu membuat dadaku semakin sesak. Bentuk mata, garis hidung, bahkan cara dia mengerutkan kening terasa seperti melihat foto masa kecilku sendiri.
Aku berjongkok.
“Aku cuma mau bicara dengan seseorang.”
“Orang jahat?”
Aku terdiam.
“Dulu aku tidak tahu. Sekarang aku akan mencari tahu.”
Aku membuka pintu depan.
Ayah berdiri di halaman dengan kemeja putih dan celana hitam. Penampilannya tetap rapi seperti biasanya. Enam pria berdiri beberapa meter di belakangnya.
Tidak ada kemarahan di wajah Ayah.
Justru ketenangan itulah yang membuatku takut.
“Suruh orang-orangmu pergi,” kataku.
“Setelah aku melihat Raka.”
“Bagaimana Ayah tahu namanya?”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Ayah berubah.
Hanya sepersekian detik.
Namun, aku melihatnya.
“Aku mendapat kabar dari rumah sakit.”
“Dari siapa?”
Ayah tidak menjawab.
Aku mengangkat ponsel dan menunjukkan hasil DNA.
“Raka siapa?”
Rahang Ayah mengeras.
“Bukan urusanmu.”
“Dia memiliki hubungan darah denganku.”
“Arga.”
“Siapa dia?”
Ayah mendekat.
“Serahkan anak itu kepadaku. Setelah itu, aku akan menjelaskan semuanya.”
Aku menatap lelaki yang selama tiga puluh dua tahun kupanggil Ayah.
“Seperti Ayah menjelaskan hilangnya Ibu?”
Wajahnya langsung pucat.
“Dia ada di sini?”
Aku tidak menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakangku.
“Aku di sini, Darma.”
Ibu berdiri di ambang pintu.
Tubuhnya masih lemah, tetapi tatapannya berbeda. Tidak ada ketakutan seperti sebelumnya.
Ayah mundur selangkah.
“Ratih.”
Ibu tersenyum getir.
“Kau kelihatan kecewa melihatku masih hidup.”
Ayah menoleh kepada para pria di belakangnya.
Aku segera memberi isyarat kepada Dimas. Para petugas keamanan rumah keluar dari sisi bangunan.
Dua kelompok itu saling berhadapan.
“Tidak ada yang bergerak,” kataku. “Semua kamera keamanan sedang merekam.”
Itu bohong.
Tetapi Ayah tidak tahu.
Ibu berjalan mendekatiku.
“Arga, sudah waktunya kau mengetahui semuanya.”
Ayah membentak.
“Ratih, diam!”
“Lima tahun aku diam.”
Suara Ibu bergetar.
“Cukup.”
Dia menatapku.
“Tujuh tahun lalu aku menemukan laporan keuangan perusahaan ayahmu. Ada puluhan transaksi ke sebuah perusahaan bernama Mahardika Medika.”
Aku mengenal nama itu.
Perusahaan pemasok alat kesehatan milik keluarga kami pernah bekerja sama dengan mereka.
“Perusahaan itu tidak benar-benar ada,” lanjut Ibu. “Hanya perusahaan cangkang. Uangnya dialihkan ke rekening pribadi.”
“Pencucian uang?”
Ibu mengangguk.
“Aku mulai menyelidiki diam-diam. Kemudian aku menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.”
Ayah mengepalkan tangan.
“Ratih!”
Ibu mengabaikannya.
“Mahardika Medika digunakan untuk membeli data pasien, identitas, dan hasil pemeriksaan medis dari beberapa klinik.”
Aku merasa mual.
“Untuk apa?”
“Menutupi satu rahasia.”
Tatapan Ibu beralih ke dalam rumah.
Ke tempat Raka bersembunyi.
“Rahasia tentang siapa sebenarnya ayah biologismu.”
Dunia seolah berhenti.
Aku menatap Ayah.
Dia tidak membantah.
“Apa maksud Ibu?”
Ibu menarik napas panjang.
“Darma bukan ayah kandungmu.”
Aku hampir tertawa karena kalimat itu terdengar terlalu mustahil.
“Apa?”
“Ketika aku menikah dengan Darma, aku sudah mengandungmu.”
Aku menatap Ayah.
Wajahnya seperti batu.
“Siapa ayah kandungku?”
Ibu menjawab pelan.
“Jaya.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Pria yang selama ini kukenal sebagai sopir keluarga.
Pria kasar yang baru kemarin mencoba mengambil Raka.
“Tidak mungkin.”
“Jaya bukan sopir biasa,” kata Ibu. “Dia teman masa kecilku. Kami pernah berencana menikah. Tapi keluargaku menolak karena dia miskin. Setelah aku hamil, Darma menawarkan pernikahan untuk menutup malu keluarga.”
Aku menatap Ayah.
“Jadi Ayah tahu?”
“Sejak awal,” jawabnya dingin.
“Ayah membesarkanku selama tiga puluh dua tahun sambil mengetahui aku bukan anak Ayah?”
“Aku memberimu nama, pendidikan, perusahaan, kehidupan yang tidak mungkin diberikan Jaya.”
“Lalu kenapa Ibu menghilang?”
Ayah tidak menjawab.
Ibu melanjutkan.
“Karena Darma mengetahui aku kembali berhubungan dengan Jaya.”
Aku menatapnya tajam.
Ibu segera menggeleng.
“Bukan seperti yang kau pikirkan. Aku mencarinya karena membutuhkan bantuannya untuk mengumpulkan bukti kejahatan Darma.”
“Tapi Jaya bekerja untuk Ayah.”
“Awalnya dia membantuku.”
Suara Ibu semakin pelan.
“Kemudian Darma menawarkan uang.”
Aku akhirnya memahami.
“Dia mengkhianati Ibu.”
Ibu mengangguk.
“Malam aku hendak menyerahkan bukti kepada polisi, Jaya membawaku pergi. Dia bilang akan menyelamatkanku. Ternyata dia menyerahkanku kepada orang-orang Darma.”
Ayah tiba-tiba berkata, “Aku tidak pernah memerintahkan siapa pun membunuhmu.”
Ibu tertawa pahit.
“Tidak. Kau hanya membayar mereka agar aku tidak pernah kembali.”
Aku menatap Ayah.
“Kenapa?”
“Karena dia ingin menghancurkan keluarga kita!”
“Dengan mengungkap kejahatan Ayah?”
Ayah terdiam.
Saat itulah terdengar suara kecil dari dalam rumah.
“Ibu?”
Raka muncul.
Ibu langsung berbalik.
“Raka, masuk!”
Namun, Ayah sudah melihatnya.
Tatapannya berubah.
Bukan marah.
Takut.
Aku berdiri di depan Raka.
“Sekarang jelaskan siapa dia.”
Ibu menutup mata beberapa detik.
“Raka adalah anak Jaya.”
Aku terdiam.
Kemudian semuanya mulai masuk akal.
Hubungan DNA yang sangat dekat.
Wajah kami yang mirip.
“Berarti dia…”
“Adikmu.”
Raka memandangku dengan kebingungan.
Aku merasa lututku kehilangan tenaga.
“Bagaimana bisa?”
“Setelah aku disekap, aku beberapa kali dipindahkan. Dua tahun kemudian Jaya datang membawa seorang bayi. Ibunya meninggal setelah melahirkan. Dia tidak tahu harus menitipkan anak itu kepada siapa.”
“Jadi dia memberikan Raka kepada Ibu?”
“Awalnya hanya sementara.”
Ibu menatap Raka.
“Tapi kemudian aku menyadari anak ini bisa menjadi jalan keluarku.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena Darma takut kepadamu, Arga.”
Aku menatap Ayah.
“Takut kepadaku?”
Ibu mengangguk.
“Setelah kakekmu meninggal, sebagian besar saham keluarga diwariskan kepadamu. Darma tetap mengendalikan perusahaan karena kau mempercayainya. Tetapi secara hukum, kalau kejahatan keuangannya terbongkar, hanya kau yang memiliki kekuatan untuk menjatuhkannya.”
Ayah akhirnya kehilangan ketenangannya.
“Cukup!”
Dia melangkah maju.
“Arga, ibumu memutarbalikkan semuanya.”
“Kalau begitu berikan ponsel Ayah.”
Dia berhenti.
“Apa?”
“Berikan ponsel Ayah. Dimas akan memeriksanya.”
“Jangan kurang ajar.”
“Kalau Ibu berbohong, Ayah tidak perlu takut.”
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba salah satu pria di belakang Ayah memasukkan tangan ke balik jaket.
Dimas langsung berteriak.
“Jangan bergerak!”
Situasi berubah kacau.
Namun, sebelum siapa pun bertindak, suara sirene terdengar dari kejauhan.
Beberapa mobil polisi memasuki halaman.
Ayah menatapku.
“Kau memanggil polisi?”
“Bukan aku.”
Dimas tersenyum tipis.
“Saya yang melakukannya.”
Aku menoleh kepadanya.
Dia mengangkat ponsel.
“Dan seluruh percakapan tadi sudah direkam.”
Wajah Ayah kehilangan warna.
Polisi turun dari kendaraan.
Seorang petugas mendekati kami sambil menunjukkan surat perintah.
“Darma Wijaya?”
Ayah tidak bergerak.
“Kami perlu membawa Anda untuk pemeriksaan terkait dugaan penggelapan dana, pemalsuan dokumen, dan penyekapan.”
Ayah menatap Ibu.
“Kau pikir kau menang?”
Ibu tidak menjawab.
Saat polisi hendak membawanya pergi, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang.
Pintu terbuka.
Jaya turun.
Tangannya terangkat.
“Aku menyerahkan diri.”
Semua orang terdiam.
Jaya menatap Raka.
Untuk pertama kalinya, wajah kasarnya runtuh.
“Raka.”
Anak itu bersembunyi di belakangku.
Jaya tidak mendekat.
Dia hanya mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya dan menyerahkannya kepada polisi.
“Semua bukti ada di sini. Rekaman transaksi, tempat Bu Ratih ditahan, nama orang-orang yang dibayar Darma.”
Ayah berteriak.
“Pengkhianat!”
Jaya menatapnya.
“Seharusnya aku mengkhianatimu lima tahun lalu.”
Kemudian tatapannya beralih kepadaku.
Ada sesuatu yang aneh di matanya.
Penyesalan.
“Kau sudah besar.”
Aku tidak menjawab.
Dia adalah ayah biologisku.
Namun, aku tidak merasakan dorongan untuk memanggilnya Ayah.
“Apa benar kau mencoba membawa Raka kemarin?”
Jaya mengangguk.
“Aku ingin membawanya pergi sebelum Darma menemukannya.”
“Dengan tongkat di tangan?”
Wajahnya menunduk.
“Aku tidak pernah pandai melakukan sesuatu dengan benar.”
Aku menatap lelaki itu lama.
“Karena pilihanmu, Ibu kehilangan lima tahun hidupnya.”
“Aku tahu.”
“Raka hidup dalam ketakutan.”
“Aku tahu.”
“Dan sekarang kau berharap kami memaafkanmu?”
Jaya menggeleng.
“Tidak.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku hanya berharap anak-anakku tidak menjadi seperti aku.”
Polisi membawanya bersama Ayah.
Enam bulan kemudian, kasus itu memenuhi berbagai media nasional.
Darma dijatuhi hukuman atas serangkaian kejahatan keuangan dan keterlibatannya dalam penyekapan Ibu. Jaya mendapat hukuman lebih ringan karena bekerja sama dengan penyidik, tetapi tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Aku mengundurkan diri dari perusahaan keluarga dan menyerahkan pengelolaannya kepada manajemen profesional.
Ibu perlahan pulih.
Sedangkan Raka tinggal bersama kami.
Suatu sore, aku sedang duduk di teras ketika dia datang membawa buku tugas sekolah.
“Om.”
“Hm?”
“Teman-temanku bilang kalau kita punya ayah yang sama, berarti aku harus memanggil Om dengan Kakak.”
Aku tertawa kecil.
“Terserah kamu.”
Dia berpikir serius.
“Kalau Kak Arga?”
“Boleh.”
Raka tersenyum.
Untuk pertama kalinya aku menyadari senyum kami pun mirip.
Dia kemudian masuk ke rumah.
Ibu keluar membawa dua cangkir teh dan duduk di sebelahku.
“Ada satu hal yang belum pernah Ibu ceritakan,” katanya.
Aku menoleh.
Jantungku langsung berdebar.
“Masih ada rahasia?”
Ibu tersenyum.
“Yang ini berbeda.”
Dia mengeluarkan amplop tua.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan dari kakekku.
Aku membacanya perlahan.
Ternyata Kakek mengetahui sejak aku lahir bahwa aku bukan cucu biologisnya.
Namun, di bagian terakhir surat itu terdapat satu kalimat yang membuat mataku panas.
Darah menentukan dari mana seseorang berasal, tetapi kasih sayang menentukan ke mana seseorang pulang.
Aku menatap Ibu.
Selama berbulan-bulan aku sibuk mencari tahu siapa ayahku, siapa Raka, siapa yang berbohong, dan darah siapa yang mengalir di tubuh kami.
Namun, baru saat itu aku memahami sesuatu.
Darma memberiku nama, tetapi kemudian mengkhianati keluarga yang dibangunnya sendiri.
Jaya memberiku darah, tetapi ketakutannya menghancurkan orang-orang yang seharusnya dia lindungi.
Dan Raka, anak kecil yang kutemukan gemetar di balik tong sampah rumah sakit, justru mengajariku arti keluarga yang sebenarnya.
Aku melihatnya dari jendela. Dia sedang membantu Ibu menyiram tanaman sambil tertawa ketika air mengenai celananya.
Aku tersenyum.
Lima tahun lalu aku kehilangan seorang ibu.
Enam bulan lalu aku menemukan seorang adik.
Dan di tengah semua kebohongan itu, aku akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah bisa dibeli oleh nama besar, warisan, ataupun hubungan darah.
Sebuah rumah tempat kami tidak perlu lagi takut pada kebenaran.
