Luna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlalu manis untuk seseorang yang baru saja dituduh membawa ancaman.

Luna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlalu manis untuk seseorang yang baru saja dituduh membawa ancaman. Tangannya bergerak ke arah kunci koper dengan perlahan, sementara Marco menatapku dengan sorot mata yang penuh jijik dan penghinaan.

“Lihat sendiri, Clara,” desis Marco. “Setelah ini, jangan pernah muncul di depanku lagi. Aku muak dengan drama murahanmu.”

Klik.

Kunci itu terbuka. Namun, alih-alih barang-barang pribadi atau pakaian, yang menyambut kami hanyalah sebuah lapisan kain sutra putih yang menutupi bagian dalam koper. Luna mengangkat kain itu dengan anggun. Di bawahnya, hanya ada beberapa tumpukan buku dan botol-botol suplemen kesehatan dengan label yang terlihat sangat resmi.

Marco mendengus keras, melirik kerumunan yang mulai mencemoohku. “Puas? Kamu mempermalukan dirimu sendiri, dan yang lebih parah, kamu mempermalukan aku.”

Jantungku berdegup kencang. Bau itu—bau logam tajam yang bercampur dengan aroma manis yang busuk—tidak mungkin salah. Penciumanku tidak pernah berbohong selama lima tahun aku bertugas di Bea Cukai. Ini adalah bau Z-Pathogen, agen biologis yang dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan menit.

Luna menatapku dengan sorot mata yang dingin, meski wajahnya tetap memasang topeng kepolosan. “Clara, apakah aku perlu membuka setiap botol ini agar kamu berhenti menuduhku?”

“Jangan buka itu!” teriakku, refleks melangkah maju.

Tapi Marco sudah lebih dulu menepis tanganku dengan kasar, mendorongku hingga aku tersungkur di lantai marmer bandara. “Cukup! Satpam, bawa wanita gila ini keluar!”

Dua petugas keamanan bandara berlari mendekat. Aku tahu aku dalam masalah besar. Aku tidak memiliki lencana, tidak ada seragam, dan suamiku sendiri telah menjadi tameng bagi musuh yang sebenarnya. Namun, saat petugas mendekat, aku melakukan satu hal yang tidak mereka duga. Aku meraih pemantik api dari saku jaket cadanganku dan menyalakan api kecil tepat di dekat ventilasi udara koper tersebut.

“Apa yang kamu lakukan?!” Marco berteriak, panik.

“Saksikan sendiri apa yang dia bawa,” kataku dengan suara yang tenang namun bergetar.

Reaksi kimia itu instan. Begitu panas dari api menyentuh partikel yang keluar dari koper, substansi tak terlihat itu berubah menjadi kabut tipis berwarna biru kehijauan yang berpendar. Seluruh area gerbang kedatangan mendadak hening. Orang-orang yang tadi mencemoohku kini terdiam, mata mereka membelalak melihat fenomena yang tidak masuk akal itu.

Luna yang tadinya tenang, wajahnya berubah pucat pasi. Dia mencoba menutup koper itu, namun api kecilku telah memicu reaksi berantai di dalam sana.

“Marco, lari!” teriak Luna dengan suara yang bukan lagi suara wanita lemah, melainkan perintah yang tajam dan dingin.

Namun, belum sempat mereka bergerak, serangkaian suara sepatu bot yang teratur terdengar dari lorong samping. Sekelompok agen bersenjata lengkap dengan seragam taktis BOC muncul, dipimpin oleh atasan langsungku, Kepala Biro Wijaya.

“Jangan bergerak!” teriak Wijaya.

Marco ternganga, menatapku lalu menatap Wijaya. “Pak… Pak Kepala? Apa yang terjadi? Istri saya…”

Wijaya tidak mempedulikan Marco. Dia berjalan melewatiku, berhenti sejenak untuk menunduk hormat, lalu menatap Luna dengan mata penuh kebencian.

“Luna Valeska, atau yang kita kenal sebagai agen ‘Nightingale’ dari sindikat Shadow Syndicate. Anda sudah dalam pengawasan kami selama enam bulan, sejak Anda meninggalkan zona wabah dengan membawa aset biologis curian.”

Marco terhuyung mundur. “Apa? Apa maksudnya? Luna, jelaskan padanya!”

Luna tidak lagi berpura-pura. Dia tertawa, tawa yang merendahkan. Dia menatap Marco dengan penuh ejekan. “Oh, Marco. Kamu pikir aku kembali untukmu? Kamu hanyalah pion yang sempurna. Pria bodoh yang haus akan rasa bangga, yang bisa dengan mudah dimanipulasi hanya dengan sedikit air mata dan cerita kepahlawanan palsu.”

Dunia Marco seakan runtuh. Pria yang angkuh itu kini berdiri mematung, melihat wanita yang ia bela dengan mengorbankan kehormatan istrinya sendiri, ternyata adalah seorang teroris internasional.

Wijaya mendekatiku, memberikan hormat. “Maaf atas keterlambatan kami, Clara. Kami sengaja membiarkan dia sampai di titik ini untuk melacak jaringan yang lebih luas. Penciumanmu sekali lagi menyelamatkan ribuan nyawa hari ini.”

Aku berdiri, membersihkan debu di pakaianku. Aku tidak memandang Marco. Bagiku, dia tidak lebih dari orang asing yang baru saja menunjukkan wajah aslinya. Aku merogoh saku, mengeluarkan laporan USG yang tadi sempat aku sembunyikan. Itu adalah hasil tes kehamilan yang positif. Namun, saat aku melihat Marco yang kini terduduk lemas, dikerumuni petugas dan rasa malu yang luar biasa, aku tahu satu hal: aku tidak akan pernah memberitahunya.

“Clara…” suara Marco parau, mencoba meraih ujung pakaianku. “Sayang, aku… aku tidak tahu…”

Aku menepis tangannya, tidak kasar, tapi tegas. “Kamu benar, Marco. Aku memang hanya staf administrasi biasa bagi orang yang tidak bisa melihat nilai seseorang. Tapi bagi negaraku, aku adalah garda terdepan.”

Aku melangkah pergi bersama timku, meninggalkan Marco di tengah kekacauan yang ia buat sendiri. Di luar bandara, matahari mulai terbenam. Aku menyentuh perutku yang masih rata. Ini adalah babak baru. Bukan sebagai istri dari seorang pria yang meremehkanku, melainkan sebagai seorang ibu yang akan membesarkan anaknya di dunia yang sedikit lebih aman berkat penciumanku.

Sementara di belakangku, sirene mulai menderu. Marco ditahan untuk interogasi. Kehidupannya yang sempurna, keangkuhannya, dan dunianya yang dangkal, semuanya hancur dalam hitungan menit karena satu hal yang tidak pernah ia hargai: kejujuran seorang wanita yang dianggapnya ‘tidak ada apa-apanya’.

Bagiku, ini bukan akhir dari pernikahan kami. Ini adalah pembebasan. Dan saat aku melangkah menuju mobil dinas, aku tersenyum. Aroma kemenangan jauh lebih manis daripada parfum apa pun di dunia ini.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang