Malam itu hujan turun begitu deras saat aku mengemudi menuju apartemen tunanganku, Adrian, di kawasan Sudirman.

Hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun malam itu ketika Hannah memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen mewah di Sudirman. Wiper mobil bergerak cepat, tetapi tak mampu menghapus perasaan hangat yang memenuhi dadanya. Di kursi sebelah, semangkuk ramen panas dan segelas milk tea favorit Adrian masih mengeluarkan uap tipis.

Sore tadi, tunangannya itu mengirim pesan singkat, mengatakan bahwa ia harus lembur untuk menyelesaikan laporan penting. Hannah tak curiga sedikit pun. Selama tiga tahun bersama, Adrian selalu tampak seperti pria yang penuh tanggung jawab. Dua minggu lagi mereka akan menikah. Undangan telah disebar, gaun pengantin sudah selesai dijahit, dan keluarga kedua belah pihak sedang sibuk mempersiapkan pesta.

Ia ingin memberi kejutan.

Namun, kejutan yang sebenarnya justru menunggunya di sana.

Dari balik pilar beton, Hannah melihat mobil putih yang setiap hari digunakan Adrian. Lampu kabin menyala redup. Di dalamnya, Adrian sedang tertawa bersama Denise, karyawan baru di divisi pemasaran.

Hannah mengenal perempuan itu. Denise cantik, muda, dan selalu terlihat percaya diri setiap kali menghadiri acara kantor.

Awalnya, Hannah hanya ingin menghampiri mereka. Namun, suara tawa yang terdengar dari jendela yang sedikit terbuka membuat langkahnya terhenti.

“Kamu yakin Hannah nggak bakal tahu?” tanya Denise sambil tersenyum.

Adrian tertawa pelan.

“Hannah terlalu percaya sama aku.”

“Dia nggak pernah curiga.”

“Kalau aku bilang ada rapat semalaman, dia langsung percaya begitu saja.”

Denise menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.

“Untung tunanganmu kaya. Apartemen ini nyaman juga.”

Adrian tersenyum puas.

“Sebentar lagi semuanya bakal jadi milik kita.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Hannah runtuh.

Bukan karena ia baru mengetahui perselingkuhan itu. Bukan pula karena pria yang akan dinikahinya ternyata membohonginya selama ini.

Melainkan karena Adrian mengucapkan kalimat itu dengan keyakinan penuh, seolah apartemen itu memang miliknya.

Padahal apartemen tersebut dibeli Hannah dua tahun sebelum mereka bertemu.

Mobil yang dipakai Adrian setiap hari pun terdaftar atas nama Hannah.

Bahkan sebagian besar biaya hidup Adrian selama beberapa tahun terakhir secara diam-diam ditanggung olehnya.

Hannah memejamkan mata beberapa detik, menarik napas panjang, lalu berjalan kembali menuju mobilnya.

Ia tidak menangis.

Belum.

Sesampainya di apartemen kakaknya di kawasan Menteng, ia membuka lemari tahan api yang tersimpan di sudut kamar. Di dalamnya terdapat semua dokumen penting: sertifikat apartemen, surat kendaraan, dokumen asuransi, hingga perjanjian pranikah yang pernah disiapkan pengacaranya.

Dulu, Adrian sempat tersinggung ketika Hannah meminta perjanjian itu.

“Apa kamu nggak percaya sama aku?” tanya Adrian waktu itu.

Hannah hanya tersenyum.

“Bukan soal percaya atau nggak. Aku cuma ingin semuanya jelas.”

Kini, untuk pertama kalinya, ia bersyukur telah mendengarkan nasihat pengacaranya.

Keesokan paginya, Hannah menelepon Erica, sahabat kuliahnya yang kini menjadi agen properti ternama.

“Aku mau jual apartemen di Sudirman.”

Di ujung telepon, Erica terdiam beberapa saat.

“Apartemen yang ditempati Adrian?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Secepat mungkin.”

Erica mengenal Hannah cukup lama untuk tidak bertanya terlalu banyak.

Beberapa hari berikutnya, semuanya bergerak cepat. Berkat lokasi strategis dan harga yang masuk akal, apartemen itu segera menarik perhatian beberapa pembeli.

Di saat yang sama, Hannah menghubungi pengacaranya, Luis.

“Semua dokumen asli masih sama kamu?”

“Ada.”

Luis menghela napas lega.

“Bagus. Secara hukum, semua aset itu milikmu sepenuhnya.”

Hannah mengangguk pelan.

“Aku juga ingin membatalkan pernikahan.”

“Sudah yakin?”

Untuk pertama kalinya sejak malam itu, Hannah merasakan dadanya sesak.

“Aku pikir aku mencintainya.”

“Sekarang?”

Hannah memandang langit Jakarta yang mendung.

“Sekarang aku sadar, aku cuma mencintai orang yang selama ini dia pura-pura tunjukkan.”

Sementara Hannah diam-diam membereskan semuanya, Adrian sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Ia masih pulang ke apartemen seperti biasa. Masih mengendarai mobil yang bukan miliknya. Masih berbicara tentang masa depan mereka seolah semuanya baik-baik saja.

Bahkan tiga hari setelah malam itu, Adrian datang menemui Hannah sambil membawa bunga.

“Kamu akhir-akhir ini sibuk banget.”

Hannah tersenyum tipis.

“Banyak urusan.”

Adrian memeluknya.

“Aku nggak sabar nunggu kita menikah.”

Untuk sesaat, Hannah hampir tertawa.

Betapa mudahnya pria itu berbohong.

Namun, ia memilih diam.

Seminggu kemudian, Erica mengabarkan bahwa apartemen itu sudah terjual kepada seorang pengusaha muda yang ingin segera pindah.

“Dokumennya tinggal ditandatangani.”

Hannah datang ke kantor notaris tanpa ragu.

Saat pena menyentuh kertas, ia merasa seperti sedang mengakhiri babak terpanjang dalam hidupnya.

Malam harinya, Adrian menelepon.

“Aku baru pulang. Kenapa ada orang asing lihat-lihat apartemen?”

Hannah menatap layar ponselnya.

“Oh, iya. Aku lupa kasih tahu.”

“Hah?”

“Apartemen itu sudah terjual.”

Beberapa detik tak ada suara.

“Apa maksud kamu?”

“Maksudku jelas. Apartemen itu milikku, Adrian.”

Suara Adrian langsung meninggi.

“Kamu bercanda?”

“Aku nggak pernah bercanda soal aset.”

“Tapi aku tinggal di sini!”

“Dan aku yang membayar semuanya.”

“Han, kita mau menikah!”

Hannah menutup mata.

“Dua minggu lagi, iya.”

“Jadi?”

“Pernikahannya dibatalkan.”

Di ujung telepon, Adrian seperti kehilangan kata-kata.

“Apa karena aku sibuk kerja?”

Hannah tersenyum pahit.

“Masih mau bohong?”

Hening.

Lalu, suara Adrian berubah.

“Kamu lihat aku sama Denise?”

“Ya.”

“Kamu salah paham.”

“Kalau ciuman di parkiran masih bisa disebut salah paham, mungkin aku memang bodoh.”

Untuk pertama kalinya, Adrian terdengar panik.

“Dengar, Hannah. Itu cuma sesaat.”

“Tiga tahun hubungan kita ternyata bisa kalah oleh sesuatu yang cuma sesaat?”

“Hannah, tolong…”

Namun Hannah sudah memutus sambungan telepon.

Keesokan paginya, Adrian datang ke apartemen kakaknya. Wajahnya kusut, matanya merah karena kurang tidur.

“Aku bisa jelasin semuanya.”

Hannah berdiri di depan pintu tanpa mempersilahkannya masuk.

“Apa yang mau dijelaskan?”

“Aku salah.”

“Benar.”

“Aku nggak cinta sama Denise.”

“Lalu?”

“Aku cinta sama kamu.”

Hannah memandang pria yang pernah menjadi pusat dunianya itu.

Dulu, ia mungkin akan memaafkan.

Namun malam di basement itu telah mengubah segalanya.

“Aku rasa kamu nggak cinta siapa-siapa selain dirimu sendiri.”

Wajah Adrian memucat.

“Kamu tega menghancurkan hidup aku begini?”

Kalimat itu membuat Hannah nyaris tertawa.

“Menghancurkan hidupmu?”

“Mobil diambil, apartemen dijual, pernikahan dibatalkan!”

Hannah menatapnya lurus.

“Bukan aku yang menghancurkan hidupmu, Adrian.”

“Kamu yang melakukannya sendiri saat memutuskan mengkhianati orang yang mempercayaimu.”

Adrian terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar memahami bahwa semuanya telah berakhir.

Beberapa hari kemudian, kabar pembatalan pernikahan menyebar ke keluarga dan teman-teman mereka. Banyak yang terkejut. Beberapa orang mencoba membujuk Hannah agar memberi kesempatan kedua.

Namun, Hannah sudah membuat keputusan.

Yang tidak ia duga adalah kedatangan Denise seminggu setelahnya.

Perempuan itu datang ke sebuah kafe tempat Hannah sedang bekerja dengan laptopnya.

“Aku cuma mau minta maaf.”

Hannah menatapnya datar.

“Kamu tahu dia bertunangan.”

Denise menggigit bibir.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Denise menunduk.

“Karena Adrian bilang hubungan kalian cuma tinggal formalitas. Dia bilang kalian bersama karena bisnis keluarga.”

Hannah terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kebohongan Adrian ternyata jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

“Dia juga bilang apartemen dan mobil itu miliknya,” lanjut Denise pelan.

Hannah menghela napas panjang.

“Sekarang kamu tahu kenyataannya.”

Denise mengangguk.

“Aku sudah mengundurkan diri dari kantor.”

“Aku nggak membencimu.”

Perempuan itu terkejut.

“Kenapa?”

“Karena orang yang benar-benar mengkhianatiku bukan kamu.”

Denise pergi dengan mata berkaca-kaca.

Beberapa bulan berlalu.

Hannah memutuskan mengambil cuti panjang dan bepergian ke berbagai kota di Indonesia. Ia menghabiskan waktu di Yogyakarta, berjalan-jalan di Bandung, dan menikmati pagi yang tenang di Bali.

Perlahan, luka itu mulai sembuh.

Suatu sore, saat duduk sendirian di sebuah kafe kecil di Ubud, ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

“Aku Adrian. Aku cuma ingin bilang maaf untuk semuanya.”

Hannah membaca pesan itu beberapa kali.

Lalu ia membuka media sosial.

Dari unggahan teman-teman lama, ia mengetahui bahwa Adrian sudah keluar dari pekerjaannya beberapa minggu sebelumnya. Karier yang selama ini ia banggakan ternyata ikut runtuh setelah berbagai masalah internal di kantor terungkap.

Namun, hal yang paling mengejutkan bukanlah itu.

Erica, yang masih memiliki beberapa kenalan di perusahaan Adrian, menelepon malam itu.

“Kamu tahu sesuatu?”

“Apa?”

“Bos lama Adrian ternyata pernah menawarinya promosi besar dua tahun lalu.”

“Lalu?”

“Dia menolaknya.”

“Kenapa?”

Erica terdiam beberapa saat.

“Karena promosi itu mengharuskannya pindah ke Singapura. Dia bilang waktu itu, dia nggak mau meninggalkan tunangannya.”

Hannah membeku.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa aneh.

Bukan karena ia ingin kembali.

Bukan karena ia menyesal.

Melainkan karena ia sadar bahwa manusia memang tidak pernah sepenuhnya hitam atau putih.

Adrian pernah mencintainya.

Mungkin dengan caranya sendiri.

Mungkin sebelum keserakahan, kebohongan, dan rasa puas diri mengubah semuanya.

Hannah mematikan layar ponselnya, lalu memandang matahari yang perlahan tenggelam di balik pepohonan.

Ia tidak membalas pesan Adrian.

Beberapa kisah memang tidak membutuhkan akhir yang bahagia untuk menjadi berarti.

Karena terkadang, pelajaran terbesar dalam hidup bukanlah tentang bagaimana mempertahankan seseorang yang dicintai, melainkan tentang keberanian untuk melepaskan orang yang telah berhenti menghargai cinta itu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang