Marielle menatap pengacara itu, Tuan Aris, dengan ketenangan yang dingin. Di lengannya, si kembar terlelap, tidak menyadari bahwa di luar sana, badai sedang bersiap menghantam.

Marielle menatap pengacara itu, Tuan Aris, dengan ketenangan yang dingin. Di lengannya, si kembar terlelap, tidak menyadari bahwa di luar sana, badai sedang bersiap menghantam.

“Bagaimana dia bisa tahu?” suara Marielle stabil, jauh dari rasa panik yang diharapkan Aris.

“Seseorang dari staf rumah sakit membocorkan informasi keberadaan Anda ke media,” jawab Aris dengan nada frustrasi. “Rafael menggunakan kekuatannya untuk memblokir rekening Anda dan menuduh Anda melakukan penculikan atas ahli waris sah Villafuerte. Dia memutar balik fakta, Nyonya. Dia mengklaim Anda melarikan diri untuk memerasnya.”

Marielle tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya. Rafael selalu percaya bahwa dia adalah satu-satunya pemain catur di papan ini. Dia lupa bahwa selama lima tahun, Marielle bukan hanya sekretaris pribadinya, melainkan otak yang menyusun setiap langkah strategis Villafuerte Group.

“Biarkan dia datang,” ucap Marielle pelan. “Siapkan dokumen transfer aset yang kita bahas bulan lalu. Pastikan semua bukti skandal pajak di perusahaan hantu itu sudah siap di meja jaksa agung pagi ini.”

Dua jam kemudian, pintu kamar rumah sakit itu didobrak terbuka. Rafael Villafuerte masuk dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena amarah dan ego yang terluka. Di belakangnya, beberapa pengacara bayaran dan dua petugas kepolisian mengikuti.

“Marielle! Beraninya kau menyembunyikan pewarisku!” bentak Rafael, suaranya menggema di ruangan yang steril itu.

Bianca Soriano muncul di belakangnya, mengenakan kacamata hitam besar dan ekspresi jijik yang dibuat-buat. “Kasihan sekali, Marielle. Mencoba mengikat pria dengan anak? Itu cara lama yang menyedihkan.”

Marielle tidak beranjak dari tempat tidurnya. Dia duduk tegak, memandang mantan suaminya seolah sedang melihat serangga yang mengganggu.

“Pewaris?” Marielle tertawa kecil, suara yang terdengar sangat asing di telinga Rafael. “Rafael, kau sudah menandatangani surat cerai kita. Secara hukum, kau telah menyerahkan semua klaim atas kehidupan pribadiku.”

“Anak-anak itu adalah darah dagingku!” teriak Rafael. “Aku akan mengambil mereka, dan kau akan membusuk di penjara karena tuduhan pemerasan!”

Rafael memberi isyarat kepada petugas polisi untuk mendekat. Namun, sebelum petugas itu melangkah lebih jauh, pintu kamar terbuka kembali. Kali ini, bukan perawat, melainkan sekelompok pria berseragam resmi dari unit anti-korupsi pemerintah, didampingi oleh pengacara senior yang ditakuti di Manila.

“Tuan Rafael Villafuerte?” salah satu petugas menyapa dengan nada datar. “Kami memiliki surat perintah penangkapan atas nama Anda. Tuduhan: penggelapan pajak berskala besar, pencucian uang, dan penipuan dokumen publik.”

Rafael terdiam. Wajahnya yang semula merah padam perlahan memucat. “Apa? Ini tidak mungkin! Ini pasti salah paham!”

Marielle meraih sebuah tablet di samping tempat tidur. Dia menunjukkan layar yang menampilkan grafik data keuangan yang rumit kepada Rafael.

“Setiap nikel yang kau gelapkan dari properti BGC, setiap kontrak fiktif dengan perusahaan Bianca di luar negeri, sudah kususun rapi selama dua tahun terakhir,” bisik Marielle. “Aku tidak hanya merapikan hidupmu, Rafael. Aku mendokumentasikan kejatuhanmu.”

Rafael menoleh ke arah Bianca, mencari dukungan, namun wanita itu sudah melangkah mundur dengan wajah ketakutan, menjauh dari pria yang kini dipandang sebagai ancaman bagi karier modelnya.

“Satu hal lagi,” tambah Marielle, suaranya kini sedingin es. “Tes DNA yang kau minta? Silakan ambil. Tapi kau akan segera menyadari sesuatu yang lucu.”

“Apa maksudmu?” suara Rafael gemetar.

Marielle menatap matanya dalam-dalam. “Selama kita menikah, kau terlalu sibuk dengan wanita lain hingga kau lupa melakukan pemeriksaan kesehatan rutin yang kupaksakan padamu setiap tahun. Kau lupa bahwa laporan medis yang kubuat itu palsu. Kau sebenarnya steril, Rafael. Karena penyakit bawaan yang kau sembunyikan dari publik.”

Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan itu.

“Anak-anak ini…” Marielle memeluk si kembar lebih erat. “Mereka adalah hasil dari donor yang kupilih dengan cermat saat kau berada di luar negeri. Secara biologis, mereka bukan milikmu. Dan secara hukum, namamu tidak akan pernah ada di akta kelahiran mereka.”

Rafael jatuh terduduk di lantai. Dunianya runtuh bukan karena diceraikan, tapi karena menyadari bahwa dia tidak memiliki apa-apa—tidak ada uang, tidak ada nama besar, tidak ada pewaris, dan tidak ada masa depan.

Saat petugas menyeretnya keluar, Bianca Soriano bahkan tidak menoleh. Dia menghilang di kerumunan wartawan yang mulai berkerumun di koridor rumah sakit, siap mencari mangsa baru.

Marielle bersandar di bantalnya, memandang ke luar jendela. Matahari bersinar terang di langit BGC. Dia tidak kehilangan segalanya. Dia baru saja memenangkan semuanya.

Dia menatap wajah mungil si kembar. Masa depan mereka tidak akan dibangun di atas fondasi penipuan seperti milik Rafael, melainkan di atas kebenaran yang dia perjuangkan sendiri.

Tiba-tiba, ponsel Marielle bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal: “Operasi selesai. Aset sudah dialihkan ke yayasan atas nama si kembar. Selamat menikmati kebebasanmu, Marielle.”

Marielle tersenyum tipis. Ternyata, dia tidak sendirian dalam permainan ini. Ada seseorang yang lebih besar dari Rafael yang telah lama memperhatikan dan menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan sang CEO.

Namun, saat Marielle membalikkan badan, dia melihat sebuah amplop tertinggal di bawah tempat tidurnya. Amplop yang tidak dia kenali.

Dengan tangan gemetar, dia membukanya.

Di dalamnya ada sebuah foto lama, foto dirinya saat masih kecil, bersama seorang pria yang dia kenal sebagai ayahnya—pria yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat dua puluh tahun lalu.

Dan di bawah foto itu tertulis kalimat singkat: “Selamat datang di perang yang sebenarnya, putriku. Mereka baru saja memulai.”

Marielle membeku. Rafael hanyalah pion dalam permainan yang jauh lebih besar, dan ternyata, dia sendiri adalah bidak utama yang selama ini disembunyikan dalam bahaya yang belum dia pahami.

Kisah baru saja dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang