MERTUAKU DATANG BAWA MALETA DAN SUAMIKU MEMBAGI KAMAR TANPA BERTANYA. AKU PEMILIK RUMAH MALAH DIUSIR KE SOFA. SEKARANG RUMAH INI SAYA JUAL!

Tujuh hari kemudian, tepat pukul sembilan pagi, bel apartemen berbunyi tiga kali.

Rendra baru saja keluar dari kamar utama dengan kaus abu-abu dan celana pendek ketika Bu Siska memanggil dari ruang makan.

“Ren, ada orang.”

Rendra membuka pintu dengan wajah kesal.

Di depan sana berdiri seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun dengan blazer krem, ditemani dua pria yang membawa tablet dan alat pengukur laser.

“Selamat pagi. Kami dari agen properti. Ada janji dengan Ibu Maya Indriani untuk melakukan penilaian unit.”

Wajah Rendra berubah.

“Penilaian apa?”

Perempuan itu memeriksa ponselnya.

“Penilaian untuk penjualan apartemen ini.”

Beberapa detik, Rendra hanya berdiri membeku.

Dari belakang, Bu Siska mendekat.

“Jual? Siapa yang mau jual?”

Belum sempat agen itu menjawab, suara lift terdengar.

Pintunya terbuka.

Maya keluar dengan celana panjang hitam, kemeja putih sederhana, dan tas laptop di bahunya. Wajahnya tenang, jauh berbeda dari malam ketika ia meninggalkan apartemen sambil menarik koper.

Rendra langsung menghampirinya.

“Kamu ngapain?”

Maya berhenti beberapa langkah dari pintu.

“Menjual apartemenku.”

Bu Siska tertawa pendek.

“Kamu jangan bercanda soal rumah tangga.”

“Aku tidak bercanda, Bu.”

Rendra menarik lengan Maya, tetapi Maya segera melepaskannya.

“Kita bicara di dalam.”

“Aku datang untuk urusan properti, bukan untuk bertengkar.”

Rendra menurunkan suaranya.

“Kamu tidak bisa menjual rumah kita tanpa bicara denganku.”

Maya menatapnya lurus.

“Seminggu lalu kamu bilang ini rumahmu. Sekarang tiba-tiba menjadi rumah kita?”

Rendra terdiam.

Agen properti itu tampak canggung. Maya mempersilakan mereka masuk dan meminta proses penilaian tetap dilanjutkan.

Ketika dua petugas mulai mengukur ruangan, suasana apartemen berubah seperti bom waktu.

Bu Siska mengikuti Maya ke dapur.

“Kamu benar-benar mau menjual tempat ini hanya karena disuruh tidur di sofa satu malam?”

Maya menoleh.

“Bukan soal sofanya.”

“Lalu apa?”

“Soal kenyataan bahwa anak Ibu merasa berhak menentukan siapa yang boleh tinggal di rumah yang tidak pernah dia beli. Soal keputusan tiga bulan yang dibuat tanpa bertanya kepadaku. Soal aku diusir dari kamarku sendiri supaya ruang kerjanya tidak terganggu.”

Bu Siska mendengus.

“Dalam pernikahan tidak boleh hitung-hitungan.”

Maya tersenyum tipis.

“Aneh. Nasihat itu selalu muncul ketika yang diminta berkorban adalah saya.”

Pak Hendra yang sejak tadi duduk di dekat jendela menundukkan kepala.

Bayu dan Tari saling berpandangan.

Justru Tari yang akhirnya bicara.

“Mbak, aku minta maaf.”

Bu Siska langsung menoleh tajam.

“Kamu tidak perlu minta maaf.”

“Perlu, Bu.”

Tari mengusap perutnya.

“Aku dari awal sudah bilang ke Bayu kita lebih baik menginap di hotel. Aku kira Mbak Maya sudah tahu kami datang.”

Bayu mengangguk pelan.

“Mas Rendra bilang semuanya sudah dibicarakan.”

Maya menatap suaminya.

Rendra mengalihkan pandangan.

Itulah kebiasaan Rendra yang baru disadari Maya setelah menikah empat tahun.

Setiap kali ingin mendapatkan sesuatu, Rendra tidak benar-benar meminta persetujuan. Ia mengumumkan keputusan seolah semua orang sudah sepakat.

Dulu hal-hal kecil.

Mengundang teman menonton pertandingan sampai tengah malam.

Meminjamkan mobil Maya kepada Bayu.

Menggunakan kartu kredit tambahan untuk membelikan ibunya ponsel.

Maya selalu memaafkan karena menganggap rumah tangga memang membutuhkan kompromi.

Ternyata setiap kompromi yang tidak pernah diberi batas perlahan berubah menjadi hak di kepala Rendra.

Sore itu, setelah agen pergi, Rendra mengikuti Maya menuju kamar utama.

“Kita perlu bicara.”

Maya membuka laci meja rias.

Liontin ibunya masih ada di sana.

Ia menggenggam benda kecil itu sebelum memasukkannya ke tas.

“Silakan.”

“Kamu mau mempermalukan aku?”

“Menjual propertiku adalah mempermalukanmu?”

“Semua orang akan tahu istriku menjual rumah gara-gara pertengkaran keluarga.”

Maya menutup laci.

“Yang kamu pikirkan tetap dirimu sendiri.”

“Aku suamimu.”

“Benar.”

Maya berbalik.

“Tapi kapan terakhir kali kamu memperlakukanku sebagai istrimu?”

Rendra tidak menjawab.

Maya berjalan keluar.

Tiga hari kemudian, apartemen itu resmi dipasarkan.

Lokasinya strategis, luas, dan kondisinya terawat. Dalam waktu kurang dari dua minggu, muncul beberapa calon pembeli serius.

Rendra mulai berubah.

Ia mengirim bunga ke kantor Maya.

Maya mengembalikannya.

Ia menelepon setiap malam.

Maya tidak menjawab.

Kemudian ia mengirim pesan panjang.

Aku minta maaf. Pulanglah. Kita mulai lagi.

Untuk sesaat Maya hampir percaya.

Sampai sebuah pesan masuk dari Tari.

Mbak, maaf kalau aku ikut campur. Tapi sepertinya Mbak harus tahu.

Di bawahnya ada tangkapan layar percakapan keluarga.

Bu Siska menulis bahwa Maya hanya sedang menggertak.

Rendra membalas.

Tenang saja. Kalau apartemen terjual, uangnya tetap aset rumah tangga. Nanti aku bicara baik-baik supaya sebagian dipakai uang muka rumah di Bandung dekat Mama.

Maya membaca kalimat itu tiga kali.

Jadi bahkan permintaan maaf Rendra masih memiliki perhitungan.

Malam itu, Maya menemui pengacara.

Ia membawa dokumen pembelian, bukti pembayaran, dokumen perkawinan, serta seluruh catatan transaksi yang berkaitan dengan apartemen.

Ia tidak ingin bertindak berdasarkan emosi. Ia ingin setiap langkahnya jelas dan sah.

Seminggu kemudian, Maya menerima tawaran terbaik dari seorang pembeli.

Ketika proses transaksi memasuki tahap akhir, Rendra datang ke kantor Maya.

Ia menunggu di lobi hampir satu jam.

“Aku cuma minta sepuluh menit.”

Maya akhirnya turun.

Mereka duduk di kedai kopi gedung.

Rendra tampak berbeda. Matanya lelah, rambutnya berantakan.

“Jangan jual apartemen itu.”

“Kenapa?”

“Itu rumah kita.”

Maya diam.

“Aku salah,” lanjut Rendra. “Aku akui. Aku keterlaluan malam itu.”

“Kalau aku tidak menjualnya, apa yang berubah?”

Rendra buru-buru menjawab.

“Mama dan Papa akan pulang ke Bandung. Bayu juga sudah pulang. Aku akan minta izin kalau keluarga mau datang.”

Maya memandangnya.

“Lalu?”

“Aku bisa pindahkan ruang kerja.”

“Lalu?”

Rendra mulai kehilangan jawaban.

Maya mengambil ponselnya dan memperlihatkan tangkapan layar dari Tari.

Wajah Rendra langsung pucat.

“Kamu masih berencana menggunakan uang penjualan apartemenku untuk membeli rumah dekat ibumu.”

“Itu cuma obrolan.”

“Persis seperti tiga bulan tinggal di apartemenku yang menurutmu juga bukan masalah besar.”

Rendra menunduk.

“Aku dibesarkan untuk menjaga orang tua.”

“Aku tidak pernah melarangmu menjaga mereka.”

Suara Maya tetap rendah.

“Yang aku tolak adalah ketika menjaga keluargamu berarti mengorbankan aku tanpa persetujuanku.”

Untuk pertama kalinya, Rendra tidak membantah.

Dua hari sebelum penandatanganan transaksi, Maya mendapat telepon dari Pak Hendra.

“Bapak boleh bertemu sebentar?”

Mereka bertemu di sebuah rumah makan sederhana di Tebet.

Pak Hendra datang sendiri menggunakan tongkat.

“Siska tidak tahu Bapak ke sini.”

Maya menuangkan teh untuknya.

Pak Hendra mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar bukti transfer.

Maya mengernyit.

“Ini apa, Pak?”

“Uang.”

“Saya tahu. Maksud saya, uang apa?”

Pak Hendra menarik napas.

“Selama hampir dua tahun, Rendra rutin mengirim uang kepada ibunya.”

Maya tidak terkejut. Ia tahu Rendra membantu orang tuanya.

Namun jumlah yang tertera membuat tangannya berhenti.

Lima juta.

Tujuh juta.

Sepuluh juta.

Beberapa kali bahkan lima belas juta rupiah dalam sebulan.

“Rendra bilang kepada saya uang ini untuk kebutuhan rumah tangga kita.”

Pak Hendra menggeleng.

“Sebagian iya. Tapi sebagian besar disimpan Siska.”

“Untuk apa?”

“Rumah.”

Maya menatapnya.

Pak Hendra terlihat malu.

“Siska ingin membeli rumah kecil di Bandung atas nama Rendra. Katanya supaya nanti kalau kalian punya anak, kalian sering pulang.”

Maya menutup matanya sejenak.

Sekarang semuanya masuk akal.

Mengapa tabungan bersama mereka tumbuh jauh lebih lambat daripada seharusnya.

Mengapa setiap kali Maya mengajak membahas investasi, Rendra selalu mengatakan pengeluaran sedang tinggi.

“Kenapa Bapak memberi tahu saya?”

Pak Hendra menatap meja.

“Karena Bapak diam terlalu lama.”

Suara lelaki tua itu bergetar.

“Bapak selalu berpikir kalau Bapak tidak ikut campur, rumah tangga anak akan baik-baik saja. Ternyata diam juga bisa membuat kesalahan tumbuh.”

Maya tidak tahu harus marah atau menangis.

Pak Hendra kemudian berkata sesuatu yang tidak pernah ia duga.

“Jual apartemenmu kalau itu keputusanmu.”

Maya menatapnya.

“Jangan pertahankan rumah hanya karena takut disebut istri yang gagal. Rumah bisa dibeli lagi. Harga diri yang terus diinjak lebih sulit dibangun kembali.”

Maya pulang malam itu dengan perasaan aneh.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan apartemen, ia menangis.

Bukan karena kehilangan Rendra.

Melainkan karena akhirnya seseorang dari keluarga itu mengakui bahwa yang terjadi padanya memang salah.

Transaksi penjualan selesai tiga minggu kemudian.

Hari penyerahan unit tiba.

Maya datang bersama agen dan pembeli.

Barang-barang keluarga Rendra sudah dikeluarkan.

Rendra berdiri sendirian di ruang tamu yang hampir kosong.

Sofa sepanjang 1,6 meter itu masih ada.

Sofa yang menjadi awal semuanya.

“Ambil sofa itu kalau kamu mau,” kata Maya.

Rendra tertawa getir.

“Kamu sengaja?”

“Tidak.”

Maya memandang sofa itu.

“Aku cuma tidak membutuhkannya lagi.”

Rendra mendekat.

“Jadi ini benar-benar selesai?”

Maya tidak langsung menjawab.

Ia mengeluarkan kunci apartemen dari tas.

Kunci yang dulu diberikan ibunya.

Rumah ini tempatmu aman saat dunia luar jahat padamu.

Selama bertahun-tahun Maya mengira pesan itu berarti ia harus mempertahankan apartemen tersebut apa pun yang terjadi.

Sekarang ia memahami sesuatu yang berbeda.

Ibunya tidak sedang berbicara tentang tembok.

Ibunya sedang berbicara tentang pilihan.

Tentang memiliki sesuatu yang membuat Maya tidak perlu bertahan di tempat yang merendahkannya hanya karena takut tidak punya tempat lain untuk pergi.

Maya menyerahkan kunci kepada pemilik baru.

“Aku belum tahu apakah pernikahan kita selesai atau tidak,” katanya kepada Rendra. “Tapi cara kita hidup selama ini sudah selesai.”

Rendra menatapnya dengan mata merah.

“Apa masih ada kesempatan?”

“Kalau yang kamu tanyakan apakah aku akan kembali seperti dulu, tidak.”

Maya berjalan menuju pintu.

Beberapa bulan kemudian, proses konseling yang mereka jalani tidak berhasil menyelamatkan pernikahan.

Bukan karena Maya tidak mau memaafkan.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, Rendra harus belajar bahwa meminta maaf tidak otomatis mengembalikan hak atas seseorang.

Mereka akhirnya berpisah secara baik-baik.

Maya tidak membeli apartemen mewah lagi.

Setidaknya belum.

Ia menyewa unit dua kamar di daerah Pejaten, lebih kecil dari rumah lamanya, tetapi memiliki balkon yang menghadap pepohonan.

Sebagian hasil penjualan apartemen ia simpan sebagai investasi. Sebagian lain ia gunakan untuk membantu mendirikan usaha kecil yang sudah lama ingin dirintisnya bersama seorang teman.

Suatu sore, bel apartemennya berbunyi.

Ketika pintu dibuka, Maya terkejut melihat Pak Hendra berdiri di luar.

Di tangannya ada sebuah kotak kecil.

“Bapak menemukan ini waktu barang-barang dipindahkan.”

Maya membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat liontin emas milik ibunya.

Benda yang malam itu gagal ia ambil karena laci macet.

Maya menggenggamnya erat.

“Terima kasih, Pak.”

Pak Hendra tersenyum.

Sebelum pergi, ia melihat ke dalam apartemen baru Maya.

“Rumah barumu lebih kecil.”

Maya tersenyum.

“Iya.”

“Nyaman?”

Maya memandang ruang tamunya.

Tidak ada sofa mahal.

Tidak ada meja marmer.

Tidak ada pemandangan gedung pencakar langit.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, setiap benda di tempat itu berada di sana karena ia memilihnya.

Setiap tamu datang karena ia mengizinkannya.

Dan tidak ada seorang pun yang bisa menunjuk sebuah sofa lalu memerintahkannya tidur di sana.

Maya mengangguk.

“Lebih nyaman dari rumah mana pun yang pernah saya punya.”

Malam itu, Maya memasang liontin ibunya di leher.

Ia berdiri di balkon ketika lampu-lampu Jakarta mulai menyala satu per satu.

Dulu ia berpikir keputusan terbesar dalam hidupnya adalah menjual sebuah apartemen.

Ternyata bukan.

Keputusan terbesar Maya adalah berhenti meminta izin untuk dihargai.

Apartemen itu memang sudah menjadi milik orang lain.

Pernikahannya pun telah berakhir.

Namun sesuatu yang jauh lebih penting akhirnya kembali kepadanya.

Dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang