PULANG CEPAT DARI DIAS LUAR NEGERI, SAYA SYOK MELIHAT AYAH KANDUNG YANG BERUSIA 70 TAHUN BERLUTUT DIHINA “BAU KAMPUNG” OLEH MERTUA DI RUMAH SAYA SENDIRI!

BLAG!

Suara koper yang menghantam lantai marmer memecah keheningan rumah itu.

Semua kepala langsung menoleh.

Wajah Ibu Lydia yang semula penuh kesombongan mendadak berubah pucat.

“C… Citra?”

Ayahku ikut menoleh perlahan. Begitu melihatku berdiri di ambang pintu, kedua matanya langsung membesar. Bukannya tersenyum, beliau justru buru-buru menyembunyikan kain lap di belakang tubuhnya.

“Citra… kamu… bukannya pulang besok?”

Dadaku sesak.

Aku menatap ayahku dari ujung kepala sampai kaki.

Celananya basah.

Kaos lusuhnya dipenuhi noda air.

Kedua lututnya memerah karena terlalu lama berlutut di lantai marmer.

Selama beberapa detik aku tidak mampu berkata apa pun.

Lalu aku berjalan pelan mendekati ayah.

Aku tidak melihat siapa pun selain beliau.

Aku berjongkok.

Tanpa berkata sepatah kata pun, aku mengambil kain lap kotor dari tangannya.

Kemudian aku memegang kedua tangan tua yang penuh kapalan itu.

Tanganku bergetar.

“Pak…”

Hanya satu kata itu yang keluar sebelum air mataku jatuh.

Ayah buru-buru menggeleng.

“Jangan menangis, Nak. Ayah cuma salah. Kuah sayur tumpah sedikit. Ibu Lydia bilang lantainya harus langsung dibersihkan.”

Aku mengangkat wajahku.

“Kok Ayah yang membersihkan?”

Ayah tersenyum kecil.

“Namanya juga numpang di rumah orang.”

Kalimat itu menghancurkan hatiku.

Rumah orang?

Rumah ini kubeli dengan hasil kerja kerasku sendiri.

Satu rupiah pun tidak berasal dari keluarga suamiku.

Aku berdiri perlahan.

Lalu menoleh ke arah Ibu Lydia.

Beliau masih memegang gelas jus, tetapi tangannya mulai gemetar.

“Citra… kamu salah paham.”

“Salah paham?”

Aku tersenyum.

Senyum yang bahkan membuatku sendiri merasa asing.

“Apa yang saya lihat barusan juga salah paham?”

Beliau langsung menghela napas.

“Orang tua itu memang keras kepala. Saya cuma menyuruh dia membersihkan bekas makanannya sendiri.”

“Jangan dibesar-besarkan.”

Aku mengangguk pelan.

“Lalu yang tadi tentang bau kampung?”

Beliau terdiam.

“Tentang bau orang miskin?”

Tidak ada jawaban.

“Tentang orang seperti ayah saya tidak pantas masuk rumah mewah?”

Ruangan kembali sunyi.

Saat itulah suara pintu garasi terdengar.

Rendra pulang.

Suamiku masuk sambil membawa tas kerja.

Begitu melihat aku berdiri di ruang tamu, wajahnya langsung berbinar.

“Citra! Kamu sudah pulang?”

Namun senyum itu perlahan menghilang ketika melihat suasana di ruangan.

“Ada apa?”

Aku menatapnya lurus.

“Mas.”

“Iya?”

“Sudah berapa hari Ayah disuruh bersih-bersih?”

Wajah Rendra berubah.

Ia melirik ibunya sebentar.

“Lho… cuma bantu sedikit.”

“Bantu?”

Aku tertawa kecil.

“Tadi Ayah berlutut.”

“Mas tahu?”

Rendra mengusap tengkuknya.

“Ibu bilang Ayahmu sendiri yang mau membantu.”

Aku mengangguk.

“Jadi kamu percaya begitu saja?”

“Citra…”

“Jawab.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku kerja seharian.”

“Aku tidak tahu semuanya.”

Aku mendekati suamiku.

“Kalau begitu sekarang kamu sudah tahu.”

Aku mengambil ponsel dari tas.

Kubuka rekaman CCTV ruang tamu.

Sebagai orang yang sering bepergian, aku memang memasang kamera di hampir seluruh rumah.

Rekaman tiga hari terakhir otomatis tersimpan di cloud.

Sebelum masuk rumah tadi, aku sudah membuka aplikasi karena mendapat notifikasi aktivitas.

Dan ternyata…

Semuanya terekam.

Video pertama diputar.

Terlihat ayahku baru tiba di rumah.

Beliau membawa dua tas kain.

Satu berisi mangga harum manis dari kebun tetangga.

Satu lagi berisi sambal, keripik singkong, dan sayur lodeh kesukaan kami.

Beliau tersenyum malu-malu.

Namun Ibu Lydia bahkan tidak mengizinkan beliau duduk di sofa.

“Kursi itu mahal.”

“Duduk saja di bangku dapur.”

Video berikutnya.

Ayah sedang mencuci piring.

Video berikutnya lagi.

Ayah menyapu halaman.

Video berikutnya.

Ayah mencuci kamar mandi tamu.

Video berikutnya.

Ayah membawa kantong belanja besar dari minimarket.

Padahal usianya tujuh puluh tahun.

Yang paling membuat darahku mendidih adalah video malam sebelumnya.

Teman-teman arisan Ibu Lydia datang.

Beliau memperkenalkan ayahku sambil tertawa.

“Itu pembantu sementara.”

Semua tamunya ikut tertawa.

Ayah hanya menunduk.

Tidak membantah.

Tanganku mengepal.

Kulihat wajah Rendra berubah pucat.

“Bu…”

Suara Rendra bergetar.

“Ibu bilang beliau tamu.”

Ibu Lydia panik.

“Itu cuma bercanda.”

Aku menatapnya dingin.

“Bercanda?”

Beliau mulai meninggikan suara.

“Ya memang bercanda!”

“Orang tua kampung itu juga tidak keberatan.”

Ayah buru-buru berkata pelan.

“Sudahlah, Citra.”

“Tidak apa-apa.”

“Ayah tidak sakit hati.”

Aku memandang ayah.

Justru karena kalimat itu, hatiku semakin hancur.

Beliau tidak sedang membela Ibu Lydia.

Beliau hanya takut rumah tanggaku hancur karena dirinya.

Rendra akhirnya berjalan mendekati ayahku.

Dengan mata berkaca-kaca, ia membungkuk dalam-dalam.

“Pak…”

“Saya minta maaf.”

“Saya gagal menjaga Bapak.”

Ayah buru-buru memegang bahunya.

“Jangan begitu.”

“Kamu anak baik.”

Namun Rendra menggeleng.

“Tidak.”

“Saya terlalu sibuk.”

“Saya terlalu percaya.”

Lalu ia menoleh kepada ibunya.

“Bu.”

“Cukup.”

Ibu Lydia membelalak.

“Kamu membela orang luar?”

“Orang luar?”

Suara Rendra mulai meninggi.

“Itu ayah istri saya.”

“Itu keluarga saya.”

Beliau mendengus.

“Aku yang melahirkan kamu.”

“Kalau bukan karena aku—”

“Karena Ibu juga, saya jadi hampir kehilangan harga diri.”

Kalimat itu membuat Ibu Lydia membisu.

Beliau tidak pernah menyangka putranya akan membantah.

Aku berjalan menuju lemari kecil di ruang kerja.

Kubawa keluar sebuah map biru.

Kutaruh di atas meja.

“Ada satu hal lagi yang sebaiknya diketahui semuanya.”

Rendra menatapku bingung.

“Apa itu?”

Kubuka map tersebut.

Di dalamnya ada sertifikat rumah.

Ada bukti transfer.

Ada akta pembelian.

“Saat membeli rumah ini, saya sengaja memakai nama bersama.”

“Supaya kita merasa sama-sama membangun keluarga.”

“Tapi seluruh pembayaran berasal dari rekening saya.”

Rendra mengangguk pelan.

“Itu benar.”

Aku mengeluarkan satu lembar dokumen lagi.

“Dan ini.”

Surat perjanjian pranikah.

Di sana tertulis dengan jelas bahwa seluruh aset sebelum dan selama perkawinan yang dibeli menggunakan dana pribadi tetap menjadi hak pemilik dana.

Aku memandang Ibu Lydia.

“Selama ini Ibu sering berkata ini rumah anak Ibu.”

“Saya diam.”

“Ibu sering berkata saya hanya numpang di keluarga besar Ibu.”

“Saya juga diam.”

“Tapi mulai hari ini saya ingin meluruskan.”

Aku mengambil napas panjang.

“Ini rumah saya.”

“Dan orang pertama yang paling berhak berada di rumah ini adalah ayah saya.”

Ruangan terasa begitu sunyi hingga suara jam dinding terdengar jelas.

Wajah Ibu Lydia memerah.

“Kamu mau mengusir aku?”

Aku menggeleng.

“Saya tidak mengusir.”

“Saya hanya meminta Ibu pulang ke rumah Ibu sendiri.”

Beliau langsung berteriak.

“Kurang ajar!”

“Semenjak punya jabatan tinggi, kamu lupa sopan santun!”

Aku tersenyum tipis.

“Sopan santun tidak pernah mengajarkan saya menghina orang tua.”

Beliau mencoba mencari dukungan kepada Rendra.

Namun putranya hanya berkata pelan,

“Bu… pulanglah.”

Kalimat sederhana itu membuat bahu Ibu Lydia langsung lunglai.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat kesombongan di wajahnya runtuh.

Beliau masuk ke kamar tamu sambil menangis marah.

Satu jam kemudian, koper-kopernya sudah berada di bagasi mobil.

Sebelum pergi, beliau sempat menoleh kepada ayahku.

Namun ayah hanya membalas dengan senyum kecil.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada dendam.

Hanya ketulusan seorang lelaki tua yang sepanjang hidupnya lebih memilih memaafkan daripada membenci.

Malam itu, aku memasakkan makan malam untuk ayah.

Menu sederhana.

Sayur lodeh yang tadi sempat tumpah.

Tempe goreng.

Ikan asin.

Sambal buatan beliau sendiri.

Ayah makan dengan lahap.

Sesekali beliau tersenyum melihat aku dan Rendra saling membantu di dapur.

Setelah makan selesai, beliau berkata pelan,

“Citra.”

“Iya, Pak.”

“Jangan benci ibu mertuamu.”

“Orang yang hidupnya terlalu lama memandang harta sering lupa cara melihat hati.”

Aku menggenggam tangan ayah.

“Bagaimana Ayah masih bisa memaafkan?”

Beliau tersenyum.

“Dulu waktu kamu kecil, Ayah miskin.”

“Tapi Ayah selalu berusaha supaya kamu tidak pernah merasa miskin kasih sayang.”

“Harta bisa dicari.”

“Hormat kepada orang tua, kalau hilang, belum tentu bisa kembali.”

Dua minggu kemudian, aku menerima kabar yang sama sekali tidak kuduga.

Ketua komunitas arisan tempat Ibu Lydia bergabung meneleponku.

Rupanya salah satu tamu yang hadir malam ketika ayah dipermalukan diam-diam merekam kejadian itu.

Video tersebut tersebar di grup mereka.

Bukan untuk mempermalukan ayahku.

Melainkan karena semua orang marah melihat seorang pria tua diperlakukan seperti pembantu.

Sejak hari itu, banyak teman arisannya menjauh.

Bahkan beberapa di antaranya datang sendiri ke rumah untuk meminta maaf kepada ayah.

Ayah hanya tersenyum sambil menyuguhkan teh hangat.

Tidak satu pun kata buruk keluar dari mulutnya.

Beberapa bulan kemudian, Rendra mengajakku pulang ke desa.

Kami membangun kembali rumah tua ayah yang mulai rapuh.

Namun ayah menolak dibuatkan rumah mewah.

“Rumah sederhana tidak masalah.”

“Asal yang datang ke dalamnya membawa hati yang bersih.”

Di teras rumah baru yang menghadap sawah hijau, aku memandang lelaki tua yang pernah berlutut di lantai rumahku.

Hari itu beliau berdiri tegak, tersenyum menikmati angin sore.

Baru saat itulah aku benar-benar mengerti.

Kemewahan bukanlah lantai marmer yang mengilap, furnitur mahal, atau alamat di kawasan elite.

Kemewahan yang sesungguhnya adalah memiliki orang tua yang rela mengorbankan seluruh hidupnya demi anak, lalu tetap memilih memaafkan bahkan ketika hatinya disakiti.

Dan sejak hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri, selama ayah masih bernapas, tidak akan ada seorang pun yang berani membuatnya merasa kecil lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang