Pukul 01.57 dini hari, pintu kabin terbuka perlahan.
Adrian masuk mengenakan jaket hitam. Wajahnya tampak tenang, terlalu tenang untuk seorang suami yang mengaku sedang khawatir melihat istrinya sakit.
“Sayang, bangun,” bisiknya sambil menyentuh bahu Mara. “Kamu butuh udara segar.”
Mara membuka mata perlahan. Ia membuat tatapannya kosong, napasnya berat, dan tubuhnya seolah tak memiliki tenaga.
Di belakang Adrian berdiri Cesar dan Beatriz.

Ketiganya menatap Mara.
Lalu mereka tersenyum.
Senyuman itu membuat tengkuk Mara dingin.
Bukan senyuman keluarga yang mengkhawatirkannya.
Itu senyuman orang-orang yang yakin bahwa rencana mereka akan berhasil.
“Aku pusing,” gumam Mara.
“Makanya kita keluar sebentar,” kata Adrian lembut.
Ia merangkul pinggang Mara dan membantunya berdiri.
Mara membiarkan tubuhnya jatuh ke arah suaminya.
“Pelan-pelan,” ujar Beatriz. “Kasihan sekali. Dari tadi memang kelihatan pucat.”
Nada suaranya begitu lembut hingga hampir terdengar tulus.
Mara ingin tertawa.
Wanita yang baru beberapa jam lalu mengejeknya karena masih memanggilnya Mama kini berpura-pura khawatir.
Mereka berjalan menyusuri lorong kapal.
Setiap langkah terasa seperti menuju hukuman mati.
Mara bisa mendengar suara mesin kapal di bawah lantai, hujan tipis yang mulai menghantam jendela, dan detak jantungnya sendiri yang terasa terlalu keras.
Ponsel kecil di saku jubahnya masih merekam.
Ia tidak tahu seberapa dekat Gabriel dan orang-orangnya.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia tidak boleh terlihat sadar.
Ketika mereka sampai di dek belakang, angin laut langsung menerpa wajahnya.
Langit hitam.
Ombak mulai tinggi.
Lampu dek hanya menyala sebagian.
Tidak ada awak kapal yang terlihat.
Mara segera menyadari bahwa itu bukan kebetulan.
Adrian pasti sudah memastikan bagian kapal itu kosong.
“Duduk sebentar di sini,” kata Adrian.
Mara menuruti.
Cesar berjalan ke sisi pagar pembatas dan memeriksa keadaan sekitar.
Beatriz mengambil sandal Mara.
“Apa yang Mama lakukan?” tanya Mara dengan suara lemah.
Beatriz menoleh.
Sesaat ia tampak terkejut.
Kemudian tersenyum.
“Sandalmu basah. Mama pindahkan saja.”
Ia meletakkannya tepat di samping pagar.
Sama seperti rencana mereka.
Mara menunduk agar mereka tidak melihat perubahan di wajahnya.
Adrian berdiri di belakangnya.
“Sayang.”
“Hmm?”
“Kamu percaya padaku, kan?”
Pertanyaan itu hampir membuat Mara kehilangan kendali.
Tujuh hari lalu, pria itu mengucapkan janji pernikahan di depan altar.
Aku akan menjagamu dalam sakit dan sehat.
Sekarang pria yang sama sedang bersiap mendorongnya ke laut.
Mara menoleh pelan.
“Aku selalu percaya padamu.”
Untuk pertama kalinya, Adrian tampak ragu.
Hanya sepersekian detik.
Namun Mara melihatnya.
Mungkin masih ada sedikit bagian dalam diri Adrian yang menyadari betapa mengerikannya tindakan yang akan ia lakukan.
Namun Cesar segera berkata, “Jangan lama-lama. Ombaknya makin besar.”
Keraguan itu menghilang.
Adrian memegang kedua bahu Mara.
“Berdirilah.”
Mara berdiri.
Kakinya sengaja dibuat goyah.
Adrian menuntunnya mendekati pagar.
Angin bertiup keras.
Laut hitam membentang di bawah mereka.
Mara menatap ombak dan tiba-tiba teringat ibunya.
Ketika kecil, ibunya selalu mengatakan bahwa laut terlihat indah dari jauh, tetapi tidak pernah boleh diremehkan.
“Kalau jatuh ke laut malam-malam, jangan panik. Hemat tenaga. Jangan melawan arus.”
Ia tidak pernah menyangka nasihat itu akan kembali teringat pada malam ketika suaminya sendiri hendak membunuhnya.
“Adrian,” kata Mara pelan.
“Apa?”
“Kalau aku mati malam ini, apakah kamu akan merindukanku?”
Adrian membeku.
Beatriz dan Cesar saling pandang.
“Apa maksudmu?” tanya Adrian.
Mara menoleh.
Tatapannya masih dibuat kosong.
“Aku cuma takut.”
Adrian menghela napas.
Ia mendekat dan memeluk Mara dari belakang.
“Jangan bicara aneh-aneh.”
Kemudian Mara merasakan kedua tangan Adrian bergeser.
Bukan memeluk.
Melainkan mendorong.
Pada detik yang sama, suara keras terdengar dari sisi kapal.
“Jangan bergerak!”
Sorot lampu putih menyapu dek.
Cesar tersentak.
Beatriz berteriak.
Adrian melepaskan Mara.
Dua kapal cepat muncul dari kegelapan, bergerak mendekati kapal pesiar mereka.
Beberapa pria berseragam naik dari sisi kapal.
“Polisi!”
Adrian langsung pucat.
“Apa-apaan ini?”
Mara tidak menjawab.
Ia melangkah menjauh dari pagar.
Kali ini tubuhnya tegak.
Tidak ada lagi langkah goyah.
Tidak ada lagi mata berat.
Adrian menatapnya.
Ekspresinya berubah perlahan.
Dari bingung menjadi takut.
“Kamu…”
Mara mengeluarkan ponsel kecil dari saku jubahnya.
“Aku tidak pernah menelan pil itu.”
Wajah Adrian kehilangan warna.
Cesar langsung berlari ke arah pintu dek.
Dua petugas menangkapnya sebelum ia sempat masuk.
Beatriz menjerit.
“Kalian tidak punya hak! Ini kapal pribadi!”
Seorang pria muncul dari belakang petugas.
Gabriel Sarmiento.
Setelannya tertutup jaket tahan air, rambutnya basah oleh hujan.
“Kami punya hak,” katanya tenang. “Dan kami juga punya rekaman.”
Beatriz terdiam.
Adrian menatap Mara.
“Kamu menjebakku.”
Mara hampir tidak percaya mendengar kalimat itu.
“Menjebakmu?”
Suaranya bergetar.
“Empat hari kamu memberiku obat supaya aku tidak bisa melawan. Kamu memalsukan tanda tanganku. Kamu merencanakan kematianku. Kamu bahkan ingin membunuh ayahku.”
Adrian menelan ludah.
“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”
Gabriel tertawa pendek.
“Kalimat paling buruk yang bisa kau gunakan saat seluruh percakapanmu sudah direkam.”
Dua petugas memborgol Cesar.
Beatriz mulai menangis.
“Mara, dengarkan Mama.”
Mara menatapnya.
Satu kata itu terasa menjijikkan sekarang.
“Mama?”
Beatriz mencoba mendekat.
“Aku tidak pernah ingin ini terjadi. Cesar yang memaksa. Aku hanya…”
“Jangan.”
Mara mengangkat tangan.
“Aku mendengar semuanya.”
Beatriz berhenti.
“Aku mendengar kamu menertawakanku karena memanggilmu Mama.”
Wajah wanita itu berubah.
Mara menarik napas panjang.
“Orang bisa memalsukan kasih sayang. Tapi rupanya kebencian selalu keluar saat mereka merasa korban tidak sedang mendengar.”
Adrian tiba-tiba menarik tangannya dari petugas.
“Mara!”
Ia berhasil melangkah dua kali sebelum kembali ditahan.
“Dengarkan aku! Aku bisa menjelaskan!”
“Jelaskan apa?”
“Aku mencintaimu.”
Kali ini Mara benar-benar tertawa.
Suara itu keluar pendek dan pahit.
“Kamu mencintaiku?”
Adrian mengangguk cepat.
“Aku membuat kesalahan.”
“Kamu merencanakan pembunuhan selama berbulan-bulan.”
Adrian terdiam.
“Kesalahan adalah lupa hari ulang tahun,” lanjut Mara. “Kesalahan adalah mengatakan sesuatu yang menyakitkan saat marah. Membunuh istri demi uang bukan kesalahan.”
Adrian menundukkan kepala.
Hujan turun semakin deras.
Mara memandang pria yang seminggu lalu ia pikir akan menjadi teman hidupnya.
Tiba-tiba ia tidak mengenal wajah itu lagi.
Gabriel mendekatinya.
“Kita harus turun dari kapal.”
“Papa?”
“Aman.”
Mara menghela napas lega.
“Orang yang mereka kirim untuk merusak mobil Ramon sudah kami tahan tiga jam lalu.”
Adrian langsung mengangkat kepala.
“Apa?”
Gabriel menatapnya dingin.
“Orangmu ternyata tidak setia kalau dihadapkan pada ancaman penjara puluhan tahun.”
Cesar mengumpat.
Salah satu petugas menariknya pergi.
Namun sebelum mereka dibawa masuk, Mara berkata, “Tunggu.”
Semua orang menoleh.
Mara menatap Adrian.
“Aku cuma ingin tahu satu hal.”
Adrian diam.
“Kenapa?”
Wajah pria itu mengeras.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian sesuatu dalam dirinya seolah runtuh.
Ia berhenti berpura-pura.
“Karena aku lelah,” katanya.
Mara mengerutkan kening.
“Lelah jadi apa?”
“Jadi orang yang selalu dianggap kurang.”
Cesar berteriak, “Diam!”
Namun Adrian terus berbicara.
“Keluargaku punya utang besar. Bisnis Papa hampir bangkrut. Semua orang mengira keluarga de Vera kaya, padahal kami hidup dari pinjaman. Aku bertemu kamu dan…”
“Dan melihat jalan keluar.”
Adrian menatapnya.
“Aku benar-benar mencintaimu pada awalnya.”
Mara ingin mempercayainya.
Namun bahkan jika itu benar, tidak ada artinya lagi.
“Lalu cinta itu berubah menjadi angka.”
Adrian tidak menjawab.
Gabriel memberi isyarat kepada petugas.
Mereka membawa Adrian pergi.
Mara berdiri di tengah hujan sampai suara langkah mereka menghilang.
Barulah lututnya melemas.
Gabriel menangkap lengannya sebelum ia jatuh.
“Kamu aman sekarang.”
Mara memejamkan mata.
“Aku hampir mati.”
“Ya.”
“Dan aku masih tidak percaya.”
Gabriel tidak mencoba mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Karena memang belum.
Dua hari kemudian, Mara kembali ke Manila.
Ayahnya menunggunya di rumah.
Begitu melihat Mara keluar dari mobil, Ramon berjalan cepat menghampirinya.
Mereka tidak mengatakan apa-apa.
Ayah dan anak itu hanya berpelukan.
Untuk pertama kalinya sejak kematian ibunya, Mara menangis seperti anak kecil.
“Aku minta maaf,” kata Ramon.
Mara mengangkat kepala.
“Kenapa Papa minta maaf?”
“Aku tidak cukup melindungimu.”
Mara menggeleng.
“Papa sudah memberi aku ponsel itu.”
Ramon tersenyum tipis.
“Karena sejak awal aku tidak sepenuhnya percaya pada Adrian.”
Mara membeku.
“Apa?”
Ayahnya mengajak Mara masuk ke ruang kerja.
Di atas meja sudah ada sebuah map biru.
Ramon membukanya.
Di dalamnya terdapat laporan keuangan keluarga de Vera, catatan utang, transaksi mencurigakan, dan foto-foto Adrian bertemu beberapa orang yang tidak dikenal Mara.
“Aku menyelidiki mereka sejak enam bulan lalu,” kata Ramon.
“Kenapa Papa tidak bilang?”
“Karena aku tidak punya bukti bahwa Adrian berniat menyakitimu. Aku hanya menemukan bahwa keluarganya berada dalam masalah keuangan.”
Mara menatap ayahnya.
“Papa tetap membiarkanku menikah?”
Ramon menunduk.
“Itulah kesalahan terbesar yang harus kutanggung seumur hidup.”
Mara terdiam.
“Aku takut kalau aku melarangmu tanpa bukti, kamu justru akan berpikir aku hanya ingin mengendalikan hidupmu.”
Mara duduk.
Ia memahami alasannya.
Namun pemahaman tidak otomatis menghapus rasa sakit.
“Jadi perjanjian pranikah itu?”
“Aku yang menyuruh pengacara memperketatnya.”
“Tapi Adrian yang mengusulkannya.”
Ramon mengangguk.
“Karena dia tahu kalau tidak mengusulkannya, aku akan semakin curiga.”
Mara tiba-tiba teringat satu hal.
“Kalau ada perjanjian pranikah, bagaimana dia bisa mendapatkan hartaku?”
Gabriel, yang sejak tadi berdiri di dekat jendela, akhirnya bicara.
“Karena ada klausul lama dalam trust ibumu.”
Mara menoleh.
“Jika kamu meninggal tanpa anak dan tanpa mengubah penerima manfaat tertentu setelah menikah, sebagian aset akan masuk ke pasangan yang sah.”
Darah Mara terasa dingin lagi.
“Berapa banyak?”
“Hampir ₱16 miliar.”
Mara menatap dokumen di meja.
Adrian bukan hanya mengetahui kekayaannya.
Ia mengetahui sistem warisan keluarganya lebih baik daripada dirinya sendiri.
Sidang kasus itu berlangsung berbulan-bulan.
Rekaman suara Mara menjadi bukti penting.
Obat yang ditemukan di kabin terbukti mengandung zat penenang dosis tinggi.
Dokumen palsu ditemukan di laptop Adrian.
Penyelidikan juga mengungkap bahwa rencana pembunuhan Ramon telah disiapkan sejak sebelum pernikahan.
Cesar akhirnya mengaku sebagian demi mendapatkan keringanan hukuman.
Beatriz tetap bersikeras bahwa ia hanya mengikuti suami dan anaknya.
Namun pengadilan menemukan cukup bukti bahwa ia ikut merencanakan semuanya.
Adrian menerima hukuman panjang.
Pada hari vonis dibacakan, ia meminta kesempatan berbicara dengan Mara.
Mara sebenarnya ingin menolak.
Namun akhirnya ia datang.
Mereka bertemu di sebuah ruangan kecil dengan meja di tengah.
Adrian terlihat jauh lebih kurus.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada senyum menawan.
Tidak ada pria sempurna yang dahulu dikenal Mara.
“Aku tidak minta kamu memaafkanku,” katanya.
“Bagus.”
Adrian menunduk.
“Aku cuma ingin kamu tahu bahwa saat kita menikah, ada bagian diriku yang benar-benar berharap rencana itu tidak perlu dilakukan.”
Mara menatapnya lama.
“Jangan mengatakan itu seolah-olah membuatmu lebih baik.”
Adrian mengangguk.
“Aku tahu.”
Mara berdiri.
Adrian memanggilnya.
“Mara.”
Ia berhenti.
“Kalau malam itu polisi tidak datang, apa yang akan kamu lakukan?”
Mara menoleh.
Pertanyaan itu membuatnya teringat pada laut gelap di Palawan.
Pada tangan Adrian di bahunya.
Pada sandal yang sengaja diletakkan di dekat pagar.
“Aku sudah memutuskan bahwa kalau kamu benar-benar mendorongku, aku akan menarikmu ikut jatuh.”
Adrian terdiam.
Mara tersenyum tipis.
“Untung Gabriel datang lebih cepat.”
Ia meninggalkan ruangan itu.
Setahun kemudian, Mara kembali ke Palawan.
Bukan untuk bulan madu.
Bukan bersama pasangan.
Ia datang bersama ayahnya.
Mereka berdiri di tepi pantai saat matahari terbenam.
Ramon memandang putrinya.
“Masih takut laut?”
Mara tersenyum.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Mara melihat ombak yang bergerak pelan.
“Karena laut tidak pernah mencoba membunuhku.”
Ramon terdiam.
Mara melanjutkan.
“Manusialah yang melakukannya.”
Ia menggenggam tangan ayahnya.
“Tapi laut juga mengajarkanku sesuatu.”
“Apa?”
“Bahwa saat kita hampir tenggelam, yang paling berbahaya bukan ombak.”
Ramon menatapnya.
“Lalu?”
“Orang yang kita kira akan menyelamatkan kita, padahal diam-diam sedang menekan kepala kita ke bawah.”
Mereka berdiri dalam keheningan.
Matahari perlahan tenggelam.
Untuk pertama kalinya, Mara tidak melihat laut sebagai tempat ia hampir mati.
Ia melihatnya sebagai tempat di mana dirinya yang lama berakhir.
Perempuan yang terlalu mudah percaya telah hilang di sana.
Dan perempuan yang kembali dari Palawan adalah seseorang yang akhirnya memahami bahwa cinta tanpa kejujuran bukanlah cinta, keluarga tanpa ketulusan bukanlah keluarga, dan kepercayaan tidak pernah seharusnya membuat seseorang menutup mata terhadap tanda-tanda bahaya.
Beberapa minggu setelah kepulangannya, Mara mengubah seluruh struktur warisannya.
Tidak ada pasangan masa depan yang bisa memperoleh asetnya secara otomatis lagi.
Namun ia juga melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui Adrian.
Sebagian besar dana yang dahulu menjadi alasan pria itu ingin membunuhnya dialihkan ke sebuah yayasan untuk membantu korban kekerasan dalam rumah tangga dan penipuan finansial.
Ketika Gabriel bertanya mengapa, Mara hanya menjawab pelan.
“Kalau uang itu pernah membuat seseorang ingin mengakhiri hidupku, setidaknya sekarang biarkan uang yang sama membantu menyelamatkan hidup orang lain.”
