Saat Hamil Delapan Bulan, Aku Menolak Menjaminkan Rumah Peninggalan Ibu untuk Menutup Utang Suamiku—Beberapa Menit Kemudian Aku Terkunci di Dapur yang Dipenuhi Asap Panas, Sementara Mertuaku Berdiri di Balik Pintu dan Berkata, “Kalau Sudah Takut Kehilangan Anak, Dia Pasti Mau Tanda Tangan”

Tanda tangan itu membuat darahku seperti berhenti mengalir.

Aku mengenali setiap lengkungnya.

Huruf A yang sedikit miring ke kanan. Tarikan panjang pada huruf terakhir. Bahkan titik kecil yang selalu muncul karena kebiasaanku mengangkat pena terlalu cepat.

Seseorang telah berlatih meniru tanda tanganku.

Aku mengangkat wajah dan menatap Rendra.

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Jangan dibesar-besarkan,” jawabnya. “Itu cuma untuk mempercepat proses.”

“Memalsukan tanda tangan untuk menjaminkan rumah senilai hampir tiga miliar menurutmu cuma mempercepat proses?”

Uap dari panci semakin tebal. Keringat mengalir dari pelipisku. Bayiku bergerak keras di dalam perut, seperti ikut merasakan tubuhku mulai panik.

Aku memaksa diriku tetap tenang.

Marah tidak akan membawaku keluar.

Aku harus berpikir.

“Kalau tanda tangannya sudah ada,” kataku perlahan, “kenapa masih membutuhkan aku?”

Rendra terdiam.

Itulah jawaban yang kubutuhkan.

Dokumen palsu itu belum cukup.

Pihak bank pasti meminta kehadiranku sebagai pemilik sertifikat asli.

Aku menatap kertas di meja.

“Jadi besok aku harus datang langsung?”

Wajah Rendra berubah sedikit.

“Akhirnya kamu mengerti.”

“Aku bertanya, bukan setuju.”

Dari balik pintu, Bu Ratna berkata, “Tidak usah banyak bicara. Tinggal datang, bilang setuju, selesai.”

Aku menyentuh perutku.

Sebuah ide muncul.

“Aku sesak.”

Rendra tidak bereaksi.

“Aku butuh udara.”

“Kamu cuma panik.”

“Aku hamil tiga puluh empat minggu.”

Aku membungkuk dan berpura-pura kesulitan bernapas lebih parah daripada yang sebenarnya kurasakan.

Rendra mulai gelisah.

Namun Bu Ratna justru berkata dari luar, “Jangan tertipu. Dia pintar memainkan keadaan.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku berubah.

Perempuan itu bukan sekadar mertua yang membela anaknya.

Dia tahu persis apa yang sedang dilakukan.

Aku berjalan ke wastafel seolah hendak mengambil air. Di samping kulkas ada jendela kecil yang menghadap gang samping rumah. Jendelanya memakai teralis, terlalu sempit untuk kulewati.

Tetapi cukup untuk suara.

Aku mengambil gelas lalu sengaja menjatuhkannya.

Pecahannya berhamburan.

“Aduh!”

Aku menjerit sekeras mungkin.

Rendra refleks mendekat.

Aku menendang kaki kursi hingga menghantam pintu.

“TOLOOONG!”

Rendra langsung membekap mulutku dari belakang.

Aku menggigit telapak tangannya.

Dia mengumpat dan melepaskanku.

“Gila kamu!”

Aku kembali berteriak.

“PAK HERMAN! TOLONG!”

Pak Herman adalah tetangga di rumah belakang yang hampir setiap sore menyiram tanaman.

Rendra menarik lenganku.

Aku kehilangan keseimbangan dan pinggangku menghantam sisi meja.

Rasa sakit menjalar sampai perut.

Aku membeku.

Lalu sesuatu yang hangat mengalir di antara kedua kakiku.

Rendra ikut melihat ke bawah.

Wajahnya langsung pucat.

“Ayu?”

Aku tidak tahu apakah itu air ketuban atau sesuatu yang lain.

Yang kutahu, rasa sakit berikutnya datang seperti sabuk yang mengencang di sekeliling perutku.

Aku berpegangan pada meja.

“Buka pintunya.”

Untuk pertama kalinya suara Rendra terdengar takut.

“Ma, buka.”

Tidak ada jawaban.

“Ma!”

Bu Ratna akhirnya membuka kunci.

Begitu pintu terbuka, aku mendorong tubuh Rendra dan keluar.

Aku belum sempat mencapai ruang tamu ketika bel rumah berbunyi berkali-kali.

Pak Herman.

“Ayu? Tadi teriak?”

Bu Ratna berlari hendak menghentikanku, tetapi aku lebih cepat.

Aku membuka pintu depan.

Pak Herman berdiri bersama istrinya, Bu Yani.

Begitu melihat wajahku dan cairan di lantai, Bu Yani langsung berteriak.

“Ya Allah, Ayu!”

“Tolong bawa saya ke rumah sakit.”

Rendra muncul di belakang.

“Aku yang antar.”

Aku menatapnya.

“Jangan sentuh saya.”

Itu pertama kalinya selama enam tahun pernikahan kami aku memanggilnya seperti orang asing.

Bu Yani tidak bertanya apa pun. Dia merangkulku menuju mobil mereka.

Di perjalanan menuju rumah sakit, kontraksi datang lagi.

Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa Rendra tidak mengejar.

Dia tidak menelepon.

Tidak bertanya tentang bayinya.

Aku tahu apa yang sedang dia lakukan.

Membereskan bukti.

Di IGD sebuah rumah sakit di Bandung, dokter memastikan ketubanku belum pecah. Cairan tadi ternyata urine akibat tekanan dan kepanikan ekstrem. Tetapi aku mengalami kontraksi dini dan tekanan darahku meningkat.

Aku harus dirawat.

Begitu dokter pergi, aku meminjam ponsel Bu Yani.

Ponselku tertinggal di rumah.

Orang pertama yang kutelepon bukan Rendra.

Dimas.

“Mas, aku butuh bantuan sekarang.”

Dua puluh lima menit kemudian Dimas datang.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang utang.

Nadia.

Dokumen.

Tanda tangan palsu.

Dan dapur.

Wajahnya semakin keras setiap menit.

“Kamu punya foto dokumennya?”

“Di ponselku.”

“Backup otomatis?”

Aku mengangguk.

Akun penyimpanan awanku bisa diakses melalui laptop.

Dimas meminjamkan laptopnya.

Foto-foto itu masih ada.

Kami menyimpannya di beberapa tempat.

Kemudian Dimas menunjuk satu bagian surat kuasa yang sebelumnya luput dari perhatianku.

Nama notaris.

Dia mengenalnya.

“Ini aneh.”

“Kenapa?”

“Notaris ini sudah pensiun hampir setahun.”

Aku merasakan tengkukku dingin.

“Jadi dokumennya palsu?”

“Setidaknya ada sesuatu yang sangat bermasalah.”

Malam itu Dimas menghubungi seorang kenalannya di bank tempat sertifikat rumahku disimpan. Ia tidak meminta informasi rahasia, hanya membantuku membuat permohonan resmi agar tidak ada dokumen terkait aset tersebut diproses tanpa verifikasi langsung dariku.

Keesokan paginya, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.

Seorang perempuan datang ke rumah sakit.

Nadia Prameswari.

Aku mengenalinya seketika.

Dia berdiri di pintu kamar dengan wajah pucat.

Dimas langsung berdiri.

“Siapa?”

“Nadia,” jawabku.

Perempuan itu menelan ludah.

“Saya cuma mau bicara.”

Aku hampir menyuruhnya pergi.

Namun dia mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Sebelum Mbak Ayu membenci saya, lihat ini.”

Aku menatapnya tajam.

“Kamu selingkuhan suami saya?”

Air mata langsung memenuhi matanya.

“Tidak.”

Aku tidak percaya.

Nadia duduk jauh dari ranjang.

“PT Sagara memang perusahaan saya. Tapi saya tidak pernah punya hubungan seperti itu dengan Mas Rendra.”

“Mobil saya ada di vila bersama kamu.”

“Itu vila proyek.”

“Rp462 juta?”

“Itu uang yang dia investasikan.”

“Dari mana?”

Nadia menunduk.

“Itulah masalahnya.”

Rendra ternyata menawarkan investasi pembangunan dan renovasi vila melalui perusahaan Nadia. Ia menjanjikan modal dengan imbalan pembagian keuntungan.

Awalnya semuanya berjalan normal.

Sampai Nadia mengetahui uang tersebut bukan milik Rendra.

Sebagian berasal dari pinjaman pribadi berbunga tinggi.

Sebagian lagi berasal dari dana investor bisnis distribusinya.

Rendra memutar uang dari satu tempat ke tempat lain untuk menutup kewajiban lama.

“Kenapa kamu datang ke sini?”

Nadia mendorong flashdisk ke arahku.

“Karena tadi malam Mas Rendra menelepon saya.”

“Apa katanya?”

“Dia menyuruh saya menghapus semua transaksi dan percakapan kami.”

Dadaku mengencang.

Nadia melanjutkan.

“Dia bilang istrinya mengalami kecelakaan kecil dan mungkin akan membuat masalah.”

Kecelakaan kecil.

Aku hampir tertawa.

“Lalu?”

“Saya mulai takut. Jadi saya salin semuanya.”

Di dalam flashdisk terdapat percakapan, invoice, perjanjian investasi, dan rekaman suara.

Salah satu rekaman membuat ruangan menjadi sunyi.

Suara Rendra terdengar jelas.

Kalau Ayu tetap tidak mau, Mama bilang bikin dia takut sedikit. Dia lagi hamil. Biasanya perempuan hamil gampang berubah pikiran kalau menyangkut anak.

Aku menutup laptop.

Tanganku gemetar hebat.

Dimas tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menggenggam bahuku.

Hari itu juga kami membuat laporan.

Aku tidak pulang ke rumah.

Dimas mengambil barang-barangku dengan pendampingan dan membawa sertifikat dokumen lain yang masih tersisa.

Rendra mengirim puluhan pesan.

Mulai dari permintaan maaf.

Kemudian rayuan.

Lalu ancaman.

Kamu menghancurkan keluarga kita.

Aku melakukan semua ini untuk anak kita.

Mama cuma panik.

Tidak ada yang berniat menyakitimu.

Pesan terakhirnya justru membuatku benar-benar yakin untuk tidak kembali.

Kalau polisi ikut campur, semua orang akan rugi.

Tiga hari kemudian, penyelidikan awal menemukan sesuatu yang bahkan tidak diketahui Nadia.

Utang Rendra bukan Rp1,2 miliar.

Jumlahnya hampir Rp2,4 miliar.

Bisnis distribusinya sudah praktis bangkrut.

Ia menggunakan uang investor baru untuk menutup kewajiban lama, meminjam dari beberapa orang dengan bunga tinggi, lalu menanamkan sebagian dana ke proyek Nadia dengan harapan mendapat keuntungan cepat.

Rumah ibuku bukan rencana penyelamatan pertama.

Rumah itu rencana terakhir.

Jika kredit Rp1,7 miliar cair, sebagian besar uangnya bahkan tidak akan masuk ke perusahaan.

Uang itu akan digunakan membayar pemberi pinjaman yang sudah mengancam melaporkannya.

Namun kejutan terbesar datang dari pemeriksaan dokumen digital.

Tanda tangan palsu itu bukan dibuat oleh Rendra.

Melainkan Bu Ratna.

Polisi menemukan lembar latihan tanda tanganku di laci kamarnya.

Puluhan kali.

Ayu Lestari.

Ayu Lestari.

Ayu Lestari.

Perempuan yang selama ini mengatakan bahwa seorang istri harus percaya kepada suaminya ternyata berbulan-bulan mempelajari caraku menandatangani nama sendiri.

Ketika diperiksa, Bu Ratna masih menyalahkanku.

“Kalau dia dari awal membantu suaminya, semua ini tidak terjadi.”

Aku mendengar kalimat itu dari Dimas.

Anehnya, aku tidak marah.

Aku hanya merasa sangat lelah.

Dua minggu setelah kejadian di dapur, aku melahirkan lebih awal.

Seorang bayi perempuan.

Beratnya sedikit di bawah rata-rata, tetapi sehat.

Aku menamainya Laras.

Rendra meminta datang ke rumah sakit.

Aku menolak.

Dia mengirim pesan panjang mengatakan ingin melihat anaknya.

Aku tidak membalas.

Proses hukum dan perceraian berlangsung berbulan-bulan.

Rendra akhirnya mengakui pemalsuan dokumen dan tekanan yang dilakukan terhadapku setelah bukti semakin sulit dibantah. Kasus finansialnya berkembang sendiri karena beberapa investor lain ikut membuat laporan.

Bu Ratna pindah dari rumah sebelum proses perceraian selesai.

Pada hari rumah itu akhirnya benar-benar kembali hanya menjadi milikku dan Laras, aku berdiri di teras sambil menggendong putriku.

Melati yang dulu ditanam Ibu sedang berbunga.

Dimas datang membawa sebuah amplop.

“Ada sesuatu yang belum pernah aku kasih.”

“Apa?”

“Ini ditemukan di antara dokumen lama Tante.”

Itu tulisan tangan ibuku.

Aku langsung mengenali bentuk hurufnya.

Surat itu dibuat beberapa bulan sebelum beliau meninggal.

Ayu, Ibu tahu kamu mencintai Rendra. Ibu tidak pernah ingin mengatur rumah tanggamu. Tetapi ada alasan rumah ini Ibu wariskan hanya atas namamu. Beberapa bulan lalu Rendra pernah bertanya apakah Ibu mau menjual rumah untuk membantu bisnisnya. Ibu bilang tidak. Sejak hari itu, Ibu merasa suatu saat kamu mungkin akan menghadapi pertanyaan yang sama.

Aku berhenti membaca.

Air mataku jatuh.

Jadi semuanya sudah dimulai bahkan ketika Ibu masih hidup.

Aku melanjutkan.

Kalau hari itu datang, jangan memilih berdasarkan rasa takut kehilangan seseorang. Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan meminta kamu menghancurkan tempat pulangmu untuk membuktikan cinta.

Aku memeluk Laras lebih erat.

Selama berbulan-bulan aku mengira telah menyelamatkan rumah peninggalan Ibu.

Ternyata aku salah.

Rumah itu yang menyelamatkanku.

Karena sertifikat itulah aku akhirnya melihat wajah asli orang-orang yang selama bertahun-tahun kusebut keluarga.

Setahun kemudian aku tidak menjual rumah tersebut.

Aku merenovasi dapurnya.

Pintu lama yang pernah dikunci dari luar kubongkar seluruhnya.

Aku menggantinya dengan pintu kaca besar yang menghadap taman kecil.

Setiap pagi, cahaya matahari masuk tanpa terhalang.

Suatu hari ketika Laras mulai belajar berjalan, ia tertatih dari ruang tengah menuju dapur dan jatuh tepat di dekat pintu kaca.

Aku spontan berlari.

Tetapi ia bangkit sendiri.

Tangannya menempel pada kaca.

Lalu ia tertawa melihat bayangannya.

Saat itu aku teringat suara Bu Ratna dari balik pintu setahun sebelumnya.

Kalau sudah takut kehilangan anak, dia pasti mau tanda tangan.

Mereka benar tentang satu hal.

Aku memang takut kehilangan anakku.

Tetapi rasa takut itu tidak membuatku menyerahkan rumah.

Rasa takut itu justru memberiku keberanian untuk meninggalkan orang-orang yang membuat rumah terasa seperti penjara.

Aku membuka pintu kaca.

Udara pagi Bandung masuk bersama aroma melati.

Laras berjalan ke arahku dengan langkah kecilnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak Ibu meninggal, aku benar-benar memahami pesan terakhirnya.

Rumah memang tidak bisa memeluk seseorang.

Tetapi terkadang, sebuah rumah bisa menjaga pintunya tetap terbuka sampai pemiliknya cukup berani untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang