Namaku Anisa Pratama. Orang-orang bilang aku dan saudari kembarku, Amira, adalah dua salinan yang tak mungkin dibedakan. Bahkan ibu kami sering salah memanggil nama kami ketika kami masih kecil.
Yang membedakan kami hanyalah cara kami memandang dunia.
Amira selalu percaya bahwa setiap orang pantas diberi kesempatan kedua.

Aku percaya bahwa kesempatan hanya layak diberikan kepada orang yang tahu cara menghargainya.
Sudah delapan tahun kami hidup terpisah.
Aku bekerja sebagai instruktur bela diri di Surabaya, mengajar perempuan agar mampu melindungi diri sendiri. Amira tinggal di Jakarta bersama suaminya, Arga, seorang pria yang di mata tetangga terlihat sempurna. Pengusaha muda, sopan, murah senyum, aktif di kegiatan sosial.
Foto-foto mereka di media sosial tampak seperti keluarga yang membuat iri banyak orang.
Rumah mewah.
Mobil baru.
Anak perempuan berusia empat tahun bernama Kirana.
Senyum yang selalu terlihat sempurna.
Sampai suatu malam, teleponku berdering pukul dua dini hari.
“An…”
Suara itu hampir tak bisa kukenali.
“Amira?”
Ia menangis.
“Aku capek…”
Aku langsung berdiri.
“Apa yang terjadi?”
Lama tak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara kecil.
“Dia tidur sekarang.”
“Siapa?”
“Arga.”
Dadaku langsung mengeras.
“Katakan apa yang terjadi.”
“Aku nggak kuat lagi…”
Kalimat itu diikuti isak yang begitu pelan, seolah ia takut seseorang mendengarnya.
Dalam dua jam, aku sudah berada di jalan tol menuju Jakarta.
Saat pintu rumah dibuka keesokan paginya, aku hampir tidak mengenali saudari kembarku.
Pipinya membiru.
Sudut bibirnya pecah.
Pergelangan tangannya dipenuhi bekas cengkeraman.
Yang paling menyakitkan justru bukan luka-luka itu.
Melainkan cara ia tersenyum.
Senyum seseorang yang sudah berhenti berharap.
Kirana berlari memeluk kakiku.
“Tante…”
Aku mengangkat tubuh mungilnya.
Ia berbisik di telingaku.
“Ayah marah lagi semalam.”
Aku menatap Amira.
Ia hanya menunduk.
Beberapa menit kemudian Arga turun dari lantai dua.
Ia mengenakan kemeja putih rapi.
Wajahnya tenang.
“Anisa.”
Ia tersenyum.
“Kebetulan sekali datang.”
Tangannya merangkul bahu Amira.
Gerakan yang terlihat mesra.
Padahal jemarinya mencengkeram begitu keras hingga Amira meringis.
“Aku cuma mau ajak adikku pulang beberapa hari.”
Arga tertawa kecil.
“Tentu.”
Lalu ia menatap Amira.
“Tapi jangan lama-lama.”
Tatapan itu membuat bulu kudukku berdiri.
Itu bukan permintaan.
Itu ancaman.
Di perjalanan pulang, Amira akhirnya bercerita.
Arga mulai memukulnya setahun setelah menikah.
Awalnya hanya sekali.
Lalu meminta maaf.
Membelikan hadiah.
Menangis.
Berjanji berubah.
Kemudian terulang lagi.
Dan lagi.
Semakin lama semakin parah.
Ibunya selalu berkata, “Suami itu kepala rumah tangga. Istri harus sabar.”
Adik perempuannya justru ikut menghina Amira karena dianggap tidak becus melayani suami.
Bahkan ketika Kirana menangis melihat ibunya dipukul, mereka berkata anak itu terlalu manja.
Aku mendengarkan semuanya tanpa menyela.
Sampai Amira berkata pelan,
“Aku mau cerai.”
Aku mengangguk.
“Lalu?”
“Aku takut.”
“Tidak pada Arga.”
“Aku takut dia mengambil Kirana.”
Aku terdiam.
Aku mengenal hukum.
Aku tahu Arga punya uang.
Punya koneksi.
Punya citra baik.
Jika Amira datang ke pengadilan hanya dengan luka yang sudah sembuh, kemungkinan besar ia akan kalah.
Saat itulah sebuah ide muncul.
“Gimana kalau mereka percaya kau masih tinggal di rumah itu…”
Amira mengangkat wajah.
“…padahal sebenarnya bukan kau.”
Ia langsung memahami maksudku.
“Tidak.”
“Aku yang masuk.”
“Anisa…”
“Kita masih kembar.”
“Itu gila.”
Aku tersenyum tipis.
“Memang.”
Tiga hari kemudian kami bertukar tempat.
Amira tinggal di apartemen temanku bersama Kirana.
Aku masuk ke rumah Arga memakai identitasnya.
Malam pertama berjalan tenang.
Malam kedua juga.
Malam ketiga.
Arga pulang dalam keadaan mabuk.
“Apa belum masak?”
Aku sengaja menjawab datar.
“Belum.”
Tamparan itu meluncur begitu cepat.
Namun kali ini bukan Amira yang berdiri di depannya.
Aku menangkap pergelangan tangannya.
Arga membeku.
“Apa?”
Tatapanku tak berkedip.
“Tangan ini…”
Aku meremas sedikit lebih kuat.
“…nggak akan pernah nyentuh istrimu lagi.”
Ia berusaha menarik tangannya.
Tidak berhasil.
Matanya mulai panik.
“Kamu…”
Aku mendorongnya pelan.
Tubuhnya justru terjatuh.
Baru saat itu ia sadar.
Perempuan yang selama ini ia anggap lemah ternyata mampu menjatuhkannya hanya dengan satu dorongan.
Sejak malam itu semuanya berubah.
Ia mulai curiga.
Namun tidak pernah benar-benar yakin.
Aku sengaja tetap meniru cara bicara Amira.
Cara berjalan.
Cara tertawa.
Tetapi setiap kali ia mencoba mengintimidasi, hasilnya selalu sama.
Ia gagal.
Ia mulai kehilangan kendali.
Suatu sore ia membentak.
“Kamu berubah!”
Aku menjawab tenang.
“Orang capek disakiti pasti berubah.”
Ia mengangkat tangan.
Aku hanya menatap lurus.
“Tampar.”
Kataku pelan.
“Kalau berani.”
Tangannya berhenti di udara.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia takut pada korbannya sendiri.
Yang tidak ia tahu, seluruh rumah sudah dipenuhi kamera kecil.
Rekaman suara.
Dan bukti-bukti.
Setiap ancaman.
Setiap hinaan.
Setiap pengakuannya saat mabuk.
Semuanya tersimpan.
Seminggu kemudian ia kehilangan kesabaran.
Ia mencoba mencekikku.
Aku tidak melawan.
Aku hanya bertahan sampai kamera merekam semuanya dengan jelas.
Lalu aku melepaskan diri dan menelepon polisi.
Ketika polisi datang, Arga masih berteriak.
“Itu istriku!”
Aku tersenyum.
“Bukan.”
Semua orang kebingungan.
Polisi.
Tetangga.
Bahkan Arga sendiri.
Lima menit kemudian sebuah mobil berhenti.
Amira turun sambil menggandeng Kirana.
Wajah Arga langsung pucat.
Ia menoleh kepadaku.
Lalu kepada Amira.
Lalu kembali kepadaku.
“Mustahil…”
Aku mengeluarkan kartu identitasku.
“Namaku Anisa.”
Amira juga menunjukkan identitasnya.
“Dan aku istrimu.”
Arga mundur beberapa langkah.
“Ini jebakan!”
Aku mengangguk.
“Benar.”
“Tapi bukan jebakan.”
“Ini akibat dari semua pilihanmu sendiri.”
Polisi kemudian memperlihatkan surat perintah berdasarkan laporan kekerasan dalam rumah tangga yang disertai rekaman video, hasil visum, dan kesaksian beberapa tetangga yang akhirnya berani berbicara setelah mengetahui ada bukti kuat.
Ibu Arga mencoba membela anaknya.
“Itu cuma urusan rumah tangga!”
Seorang polisi perempuan menjawab tenang,
“Memukul istri bukan urusan rumah tangga. Itu tindak pidana.”
Kalimat itu membuat seluruh halaman mendadak sunyi.
Persidangan berlangsung berbulan-bulan.
Pengacara Arga mencoba mengatakan bahwa Amira berbohong.
Namun rekaman memperlihatkan semuanya.
Bagaimana ia menghina.
Memukul.
Mengancam.
Bahkan mengakui bahwa selama ini ia yakin tak seorang pun akan percaya pada istrinya.
Hakim menjatuhkan hukuman penjara.
Hak asuh Kirana diberikan kepada Amira.
Yang paling mengejutkan justru terjadi setelah putusan dibacakan.
Beberapa perempuan berdiri satu per satu di luar ruang sidang.
Mantan pacar Arga.
Mantan tunangannya.
Seorang mantan karyawan.
Semua mengaku pernah mengalami kekerasan yang sama.
Mereka hanya terlalu takut untuk bersuara.
Sampai akhirnya seseorang membuktikan bahwa pelaku yang tampak sempurna pun bisa dijatuhkan.
Enam bulan kemudian, Amira membuka sebuah rumah aman kecil bagi perempuan korban kekerasan.
Aku mengajar kelas bela diri setiap akhir pekan di sana.
Kirana sering duduk di sudut ruangan sambil menggambar.
Suatu hari ia menunjukkan sebuah gambar kepadaku.
Ada dua perempuan yang berdiri bergandengan tangan.
“Waktu besar nanti,” katanya polos, “aku mau jadi kuat seperti Mama… dan Tante.”
Aku tersenyum.
“Tahu nggak apa arti kuat?”
Ia menggeleng.
“Kuat bukan berarti tidak pernah takut.”
“Lalu?”
“Kuat adalah tetap berdiri, bahkan setelah berkali-kali dijatuhkan.”
Ia memelukku erat.
Di balik jendela, matahari sore perlahan tenggelam.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami menyadari satu hal yang sederhana.
Kadang-kadang keadilan memang datang terlambat.
Tetapi ketika keberanian akhirnya mengalahkan rasa takut, bahkan topeng yang paling sempurna pun akan hancur, memperlihatkan wajah asli orang yang selama ini bersembunyi di baliknya.
