Seminggu sebelum masa pendaftaran kuliah dimulai, keluargaku menghabiskan hampir seratus lima puluh juta rupiah untuk mengantar adikku menuju kehidupan barunya. Mereka membeli laptop terbaru, tablet, printer, kursi kerja, pakaian, bahkan dekorasi kecil untuk kamar asramanya. Ketika aku memberanikan diri meminta laptop baru karena laptopku yang lama sudah sering mati mendadak, Mama hanya tersenyum tipis dan berkata, “Kamu kan bukan tipe yang banyak maunya. Yang lama juga masih bisa dipakai.”
Malam itu, tanpa sepengetahuan siapa pun, aku menerima beasiswa penuh yang akan membawaku pergi jauh dari rumah.
Namaku Althea Ramos. Usia dua puluh satu tahun. Dan sejak kecil, aku sudah terbiasa menjadi anak yang tidak pernah dipilih lebih dulu.

Aku tidak tahu kapan semuanya dimulai. Mungkin sejak Nicole lahir dan semua orang menyadari bahwa ia lebih pintar bersosialisasi daripada aku. Mungkin sejak aku selalu mendapat nilai bagus tanpa harus disuruh, sementara Nicole membutuhkan perhatian ekstra untuk setiap ujian. Atau mungkin karena aku terlalu mudah mengerti keadaan sehingga keluargaku menganggap aku tidak membutuhkan apa pun.
Rumah kami di Jakarta Selatan cukup besar untuk lima orang, tetapi entah mengapa, aku selalu merasa seperti tamu. Kamarku terletak di belakang dapur, bekas gudang yang diubah seadanya. Sementara Nicole memiliki kamar luas di lantai dua dengan jendela besar yang menghadap taman.
Aku tidak pernah protes.
Setidaknya, sampai malam ketika Papa menemukan surat penerimaan beasiswaku.
“Kamu tidak akan pergi.”
Kalimat itu masih menggantung di udara ketika Papa meletakkan surat pindah kampus di atas tempat tidurku. Mama berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat. Nicole terlihat bingung, sedangkan Adrian, tunanganku selama enam tahun terakhir, hanya diam menatap lantai.
“Ini kesempatan besar untukku,” kataku pelan.
“Keluarga lebih penting daripada ambisi,” jawab Papa tenang.
“Beasiswa itu bukan sekadar kuliah. Aku akan tinggal di asrama, mendapat pekerjaan kampus, dan—”
“Lalu siapa yang akan membantu Mama di rumah?” potong Mama. “Siapa yang akan menemani nenekmu kalau datang berkunjung?”
Aku menatap mereka satu per satu.
Tidak ada yang bertanya apa yang kuinginkan.
Tidak ada yang bertanya apakah aku bahagia.
Yang mereka pikirkan hanya kekosongan yang akan kutinggalkan.
“Aku sudah dewasa,” kataku akhirnya.
Mama tertawa kecil, seolah aku baru saja mengucapkan lelucon.
“Kalau sudah dewasa, jangan egois.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada bentakan.
Sejak kecil, aku selalu menjadi anak yang mengalah. Saat Nicole ingin kamar yang lebih besar, aku mengalah. Saat uang sekolah kami terbatas dan hanya satu yang bisa ikut kursus tambahan, aku mengalah. Saat Adrian mulai lebih sering mengantar Nicole ke kampus daripada menemuiku, aku juga memilih diam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya apakah menjadi baik hanya membuat orang lain semakin terbiasa menyakitiku.
Setelah semua orang keluar dari kamar, Adrian tetap tinggal.
Dia duduk di tepi tempat tidur.
“Kamu benar-benar mau pergi?”
Aku memandang wajah pria yang selama enam tahun kupikir akan menjadi rumah bagiku.
“Menurutmu?”
Dia menghela napas panjang.
“Aku cuma khawatir.”
“Khawatir aku tidak bisa hidup sendiri?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Adrian terdiam beberapa saat.
“Aku khawatir semuanya berubah.”
Aku tersenyum pahit.
“Semuanya sudah berubah sejak lama, Adrian. Aku saja yang baru menyadarinya.”
Dia tidak menjawab.
Keesokan harinya, suasana rumah terasa aneh. Mama berbicara seperlunya. Papa pergi bekerja lebih awal. Nicole beberapa kali mencoba mengajakku mengobrol, tetapi aku tidak punya tenaga untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Menjelang sore, aku pergi menemui Nenek Rosa.
Beliau tinggal sendirian di rumah kecil di pinggiran kota. Berbeda dengan keluargaku, nenek tidak pernah menuntut apa pun dariku. Ia hanya mendengarkan.
Setelah mendengar seluruh ceritaku, nenek membuka sebuah laci tua dan mengeluarkan map cokelat.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Aku menerima map itu dengan bingung.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen bank, surat kepemilikan tanah, dan sebuah surat tulisan tangan.
“Dulu, kakekmu meninggalkan tabungan pendidikan untuk semua cucunya,” kata Nenek pelan. “Jumlahnya sama.”
Aku mengernyit.
“Aku tidak pernah tahu soal ini.”
“Karena orang tuamu tidak pernah memberitahumu.”
Tanganku gemetar saat membuka laporan rekening. Namaku tertera di sana, bersama jumlah uang yang cukup besar.
“Mana uangnya sekarang?”
Nenek memejamkan mata.
“Sebagian besar dipakai untuk membiayai sekolah Nicole.”
Dunia seakan berhenti.
Aku membaca ulang dokumen itu berkali-kali, berharap mataku salah melihat.
“Mereka menggunakan tabunganku?”
Nenek mengangguk pelan.
“Papamu berjanji akan menggantinya. Tapi tahun demi tahun berlalu, dan janji itu menghilang begitu saja.”
Aku tidak menangis.
Entah mengapa, rasa sakit itu terlalu besar untuk berubah menjadi air mata.
Malamnya, aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Begitu memasuki rumah, aku mendengar suara tawa dari ruang makan. Nicole sedang menunjukkan desain kamarnya kepada Adrian. Mereka terlihat begitu akrab hingga aku tiba-tiba merasa seperti orang asing.
“Papa,” panggilku.
Semua orang menoleh.
Aku meletakkan dokumen dari nenek di atas meja.
Ruangan langsung sunyi.
“Apa ini?”
Papa membaca halaman pertama, lalu wajahnya berubah.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Jawab pertanyaanku.”
Mama berdiri.
“Tidak perlu membahas masa lalu.”
“Masa lalu?” suaraku bergetar. “Itu tabungan pendidikanku.”
“Kami meminjamnya untuk keluarga.”
“Untuk Nicole.”
Mama memalingkan wajah.
“Kamu selalu bisa mengerti keadaan.”
Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.
Selama bertahun-tahun, mereka tidak memperlakukanku sebagai anak. Mereka memperlakukanku sebagai cadangan.
Nicole tiba-tiba berdiri.
“Aku tidak tahu apa-apa soal ini.”
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku percaya bahwa ia memang tidak tahu.
Wajahnya pucat.
“Kalian bilang biaya kuliahku dari tabungan Papa dan Mama.”
“Nicole, duduk,” kata Papa tegas.
“Tapi itu uang Kak Althea?”
Tak ada yang menjawab.
Malam itu berubah menjadi pertengkaran terbesar dalam keluarga kami. Mama menangis. Papa marah. Nicole terus bertanya. Sementara Adrian tetap diam seperti biasa.
Sampai akhirnya aku menoleh kepadanya.
“Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun?”
Dia terkejut.
“Apa maksudmu?”
“Kamu tahu tentang semua ini?”
Wajahnya berubah.
Dan dari ekspresi itu, aku mendapatkan jawabannya.
“Kamu tahu.”
“Aku baru tahu beberapa bulan lalu,” katanya pelan.
Aku tertawa kecil, meski dadaku terasa sesak.
“Jadi selama ini, satu-satunya orang yang kuanggap berpihak padaku juga memilih diam.”
“Aku tidak ingin memperburuk keadaan.”
“Bagi siapa?”
Adrian tidak mampu menjawab.
Beberapa hari berikutnya, rumah kami dipenuhi ketegangan. Aku mulai mengurus keberangkatanku diam-diam. Universitas mengirim jadwal orientasi dan tiket pesawat. Nenek membantu menyiapkan semua dokumen.
Tiga hari sebelum keberangkatan, Adrian datang menemuiku.
Kami duduk di sebuah kafe kecil dekat rumah.
“Aku mencintaimu,” katanya.
Aku memandang secangkir kopi di depanku.
“Dulu aku percaya itu.”
“Aku serius.”
“Kalau begitu, kenapa setiap kali aku membutuhkan seseorang, kamu selalu memilih mereka?”
Dia mengusap wajahnya.
“Aku hanya ingin semua orang bahagia.”
“Tidak, Adrian. Kamu hanya ingin menghindari konflik.”
Dia terdiam lama.
“Aku bisa ikut ke Davao setelah kita menikah.”
Aku menggeleng.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku melihat hubungan kami dengan jelas. Adrian bukan orang jahat. Tetapi dia juga bukan seseorang yang akan berdiri di sisiku ketika keadaan menjadi sulit.
Dan aku lelah menjadi orang yang selalu mengerti.
“Aku membatalkan pertunangan kita.”
Dia menatapku tak percaya.
“Kamu serius?”
Aku mengangguk.
“Aku tidak ingin menghabiskan hidup dengan seseorang yang selalu memilih diam.”
Ketika aku bangkit dari kursi, Adrian tidak mengejarku.
Mungkin karena untuk pertama kalinya, dia tahu bahwa aku benar-benar pergi.
Hari keberangkatanku tiba lebih cepat dari yang kubayangkan.
Pagi itu, hanya Nenek Rosa yang mengantarku ke bandara.
Mama tidak keluar dari kamar.
Papa berangkat bekerja lebih awal.
Nicole mengirim pesan singkat.
Maafkan aku. Aku baru sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk menerima semuanya.
Aku tidak membalas.
Di ruang tunggu, Nenek menggenggam tanganku.
“Kamu marah kepada mereka?”
“Aku tidak tahu.”
“Bagus.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Karena marah berarti kamu masih berharap mereka berubah. Kadang, yang paling sulit bukan memaafkan orang lain, tetapi menerima bahwa mereka mungkin tidak akan pernah menjadi seperti yang kita inginkan.”
Pesawat lepas landas tepat pukul sembilan pagi.
Saat Jakarta mengecil di balik jendela, aku merasa kehilangan sesuatu yang selama ini terus kukejar.
Bukan keluarga.
Bukan rumah.
Melainkan harapan bahwa suatu hari nanti, mereka akan memilihku.
Berbulan-bulan berlalu.
Aku mulai membangun hidup baru di Davao. Kuliah berjalan baik. Aku bekerja sebagai asisten dosen, tinggal di asrama sederhana, dan untuk pertama kalinya, membeli barang-barang dengan uang hasil usahaku sendiri.
Suatu malam, setelah menyelesaikan tugas di perpustakaan, aku menerima telepon dari Nicole.
Suaranya gemetar.
“Kak, Papa kena serangan jantung.”
Aku pulang seminggu kemudian.
Rumah kami terasa lebih kecil daripada yang kuingat. Papa terbaring lemah di kamar. Rambut Mama mulai memutih.
Ketika aku masuk, Papa memintaku duduk.
“Ayah minta maaf.”
Aku menunggu.
“Ayah selalu berpikir kamu kuat. Terlalu kuat. Jadi Ayah mengira kamu tidak membutuhkan apa pun.”
Aku tersenyum tipis.
“Semua orang butuh dipilih sesekali.”
Papa menunduk.
Lalu, dengan suara pelan, dia berkata, “Tabunganmu sudah Ayah kembalikan. Semuanya.”
Aku terdiam.
Ternyata, beberapa bulan setelah kepergianku, Nicole mengetahui seluruh kebenaran dan menolak menggunakan sisa uang yang berasal dari tabunganku. Ia bekerja paruh waktu dan memaksa Papa menjual tanah investasi untuk mengembalikan hakku.
Aku memandang adikku yang berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya, aku melihat penyesalan di matanya.
Malam itu, sebelum kembali ke Davao, aku masuk ke kamar lamaku.
Gudang kecil di belakang dapur itu sudah kosong.
Di atas meja, ada sebuah kotak.
Di dalamnya terdapat lampu meja baru dan secarik kertas tulisan tangan dari Mama.
Ternyata, selama bertahun-tahun, mereka benar-benar percaya bahwa aku tidak membutuhkan apa-apa.
Dan mungkin, kesalahan terbesarku adalah membiarkan mereka mempercayainya.
Aku menyalakan lampu itu untuk terakhir kalinya, lalu mematikannya kembali.
Karena akhirnya aku mengerti, menjadi anak yang baik bukan berarti harus terus mengalah.
Terkadang, bentuk kasih sayang terbesar kepada diri sendiri adalah keberanian untuk pergi, agar suatu hari nanti kita bisa kembali tanpa lagi berharap dipilih, sebab kita telah belajar memilih diri kita sendiri.
