SERAHKAN BRANKAS HADIAH PERNIKAHAN ITU!” bentak ibu mertuaku.

Tamparan itu mendarat tepat ketika pembawa acara hendak mengundang kami menuju lantai dansa.

Kepalaku terhuyung ke kiri. Jepit rambut yang menahan kerudung pengantin terlepas, lalu kain putih panjang itu jatuh perlahan ke lantai ballroom Hotel Arunika di Jakarta Selatan. Di hadapan lebih dari dua ratus tamu, suara telapak tangan Arga menghantam pipiku terdengar lebih nyaring daripada musik orkestra.

Tak ada yang bergerak.

Ibuku menutup mulut dengan kedua tangan. Ayahku bangkit dari kursinya. Beberapa sahabatku mulai melangkah maju, tetapi aku mengangkat telapak tangan, meminta mereka berhenti.

Aku ingin semua orang melihat wajah Arga dengan jelas.

Aku ingin mereka mengingat bahwa pria yang baru beberapa jam lalu mengucapkan janji akan melindungiku kini berdiri dengan napas memburu, seolah akulah orang yang telah mempermalukannya.

“Buka brankasnya, Nadira,” katanya melalui gigi yang terkatup. “Jangan buat masalah ini semakin besar.”

Di samping kue pengantin berdiri sebuah brankas baja berukuran sedang, dihias pita putih dan bunga mawar krem. Di dalamnya tersimpan amplop, cek, kartu hadiah, dan uang tunai dari para tamu. Ibunya, Ratna Pradipta, berdiri di dekat brankas itu dengan tangan terlipat, mengenakan gaun merah marun dan kalung berlian yang pernah ia katakan sebagai pusaka keluarga.

“Reno harus membayar utangnya malam ini,” katanya. “Kalau tidak, orang-orang itu akan mendatangi rumah kami.”

Reno adalah adik Arga. Tiga puluh satu tahun, tidak pernah bertahan dalam pekerjaan lebih dari enam bulan, tetapi selalu memiliki sepatu baru dan mobil yang lebih mahal daripada penghasilannya. Selama masa pertunangan, Arga menyebut adiknya sedang mengalami kesulitan bisnis. Baru dua minggu sebelum pernikahan aku mengetahui bahwa kesulitan bisnis itu sebenarnya utang judi daring hampir dua miliar rupiah.

“Aku sudah bilang, uang hadiah ini bukan milik keluarga kalian,” jawabku. Suaraku tenang, meskipun pipiku berdenyut panas. “Uang itu akan dicatat dan disimpan sesuai kesepakatan kami.”

Ratna mendengus. “Kesepakatan siapa? Kau baru menjadi istri Arga beberapa jam, tetapi sudah bertingkah seolah kau pemilik semuanya.”

“Aku memang pemilik sebagian besar yang kalian nikmati hari ini.”

Bisik-bisik menyebar di seluruh ruangan.

Ratna menatapku seakan aku baru saja menamparnya.

Pernikahan itu memang kubiayai hampir seluruhnya. Gedung, katering, dekorasi, kamar hotel untuk keluarga Arga, bahkan jas pengantin suamiku dibayar dari rekening pribadiku. Keluarga Arga berjanji menanggung separuh biaya, tetapi setiap kali tagihan datang, selalu ada alasan. Dana deposito belum cair. Properti belum terjual. Transfer tertunda. Aku diam karena percaya bahwa pernikahan tidak seharusnya dimulai dengan pertengkaran soal uang.

Aku baru menyadari belakangan bahwa mereka tidak sedang kesulitan.

Mereka sedang mengujiku.

Mereka ingin tahu seberapa banyak yang bisa mereka ambil sebelum aku berani menolak.

Arga mendekat dan merendahkan suara.

“Berikan kode brankasnya. Setelah ini kita bicara di kamar.”

Aku memandang matanya.

“Tidak akan ada pembicaraan di kamar.”

Wajahnya menegang. “Apa maksudmu?”

Aku melepaskan cincin dari jari manisku dan meletakkannya di atas brankas.

“Pernikahan ini selesai.”

Ratna tertawa kecil. “Jangan dramatis. Semua pasangan bertengkar.”

“Semua pasangan mungkin bertengkar,” jawabku. “Tetapi tidak semua suami menampar istrinya di depan dua ratus orang karena istrinya menolak membayar utang judi adiknya.”

Tepat saat itu, pintu ballroom terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun masuk dengan setelan abu-abu dan map kulit hitam di tangannya. Namanya Sinta Mahardika, pengacaraku. Di belakangnya ada manajer hotel, dua petugas keamanan, seorang notaris, dan seorang pria berkemeja biru yang langsung kukenali sebagai penyidik dari unit kejahatan ekonomi.

Arga langsung pucat.

Ratna memegang tepi meja.

Sinta berjalan ke arahku tanpa terburu-buru. Ia memeriksa pipiku sekilas, lalu berdiri di antara aku dan Arga.

“Bapak Arga Pradipta,” katanya, “mulai saat ini Anda diminta tidak mendekati klien saya tanpa persetujuannya.”

Arga menatapku tajam. “Kau merencanakan ini?”

“Aku mempersiapkan diri,” jawabku.

Sinta membuka map hitam dan mengeluarkan beberapa dokumen.

“Perjanjian pranikah yang ditandatangani satu bulan lalu menyatakan bahwa seluruh aset sebelum pernikahan tetap menjadi milik masing-masing pihak. Setiap kewajiban finansial yang disembunyikan dapat menjadi dasar pembatalan perkawinan dan tuntutan ganti rugi.”

Ratna menyela, “Arga tidak punya utang.”

Sinta mengangkat satu lembar laporan bank.

“Benar. Utang itu tidak tercatat atas nama Arga.”

Ratna tampak sedikit lega.

“Sebagian tercatat atas nama perusahaan milik Nadira.”

Ballroom kembali gaduh.

Aku melihat Arga mengepalkan tangan.

Tiga bulan sebelumnya, akuntan perusahaanku menemukan transaksi aneh dari salah satu rekening proyek. Awalnya hanya lima puluh juta rupiah. Lalu seratus juta. Kemudian tiga ratus juta. Transfer-transfer itu dibuat dengan kode pembayaran vendor, tetapi penerimanya adalah perusahaan cangkang milik teman Reno.

Tanda tangan digital yang digunakan untuk mengotorisasi transaksi adalah milikku.

Palsu, tetapi cukup rapi untuk lolos pemeriksaan biasa.

Aku tidak langsung menghadapi Arga. Aku meminta tim audit forensik bekerja diam-diam. Mereka menemukan bahwa Arga telah mengakses laptopku ketika aku tidur, menyalin sertifikat digital, lalu memakai data perusahaan untuk mengajukan pinjaman jangka pendek.

Total kerugiannya bukan dua miliar.

Hampir sebelas miliar rupiah.

“Itu fitnah,” kata Arga. “Aku tidak pernah mencuri uangmu.”

Sinta menoleh kepada penyidik.

Pria itu maju dan menunjukkan identitasnya.

“Kami sudah menerima laporan, rekaman akses, data perangkat, dan bukti transfer. Kami juga menemukan komunikasi antara Saudara Arga, Saudara Reno, dan beberapa penagih utang.”

Reno berdiri dari kursinya dan mencoba berjalan menuju pintu samping. Dua petugas keamanan segera menghalanginya.

“Aku tidak tahu apa-apa,” katanya panik. “Arga yang mengatur semuanya.”

Ratna berbalik cepat. “Diam!”

Satu kata itu mengubah suasana.

Bukan lagi kemarahan seorang ibu. Itu adalah perintah seseorang yang terbiasa mengendalikan semua orang di sekelilingnya.

Sinta mengeluarkan dokumen lain.

“Ada satu bagian lagi yang perlu disampaikan.”

Ia memandang para tamu, lalu menyerahkan salinannya kepada notaris.

“Dua minggu sebelum pernikahan, Ibu Ratna meminta klien saya menandatangani surat persetujuan untuk memasukkan aset pribadinya ke dalam perusahaan keluarga Pradipta. Dokumen itu ternyata menyembunyikan klausul penjaminan utang.”

Ayahku memukul meja dengan telapak tangannya. “Kalian mencoba menjadikan anak saya penjamin?”

Ratna tidak menjawab.

Aku menatap perempuan itu dan untuk pertama kalinya melihat ketakutan di wajahnya.

Selama setahun mengenalnya, Ratna selalu tampak sempurna. Rambutnya tertata, suaranya lembut, senyumnya tenang. Ia sering memanggilku anak perempuan yang tidak pernah dimilikinya. Ia mengajakku berbelanja, mengenalkanku kepada kerabat, dan mengajariku resep keluarga.

Namun di balik semua perhatian itu, ia diam-diam mengumpulkan informasi tentang asetku.

Nilai properti.

Rekening investasi.

Saham perusahaan.

Bahkan nilai pertanggungan asuransiku.

“Apa benar?” tanya Arga kepada ibunya.

Ratna menatapnya tajam. “Semua itu dilakukan untuk menyelamatkan keluarga.”

“Kau bilang Nadira hanya perlu menandatangani dokumen penggabungan aset.”

“Kalau kau tidak membiarkan Reno menghancurkan semuanya, Ibu tidak perlu melakukan ini.”

Reno tertawa getir dari dekat pintu.

“Jangan menyalahkanku sendirian. Utang perusahaan sudah ada sebelum aku mulai berjudi.”

Semua kepala menoleh kepadanya.

Ratna berteriak, “Tutup mulutmu!”

Namun Reno sudah kehilangan kendali.

“Rumah kalian digadaikan. Kantor pusat disita bank. Kalung yang Ibu pakai itu bukan pusaka. Itu barang sewaan. Keluarga ini sudah bangkrut sejak dua tahun lalu.”

Keheningan yang muncul kali ini berbeda.

Bukan lagi keterkejutan karena tamparan.

Itu adalah suara sebuah kebohongan besar yang akhirnya runtuh.

Arga menatap ibunya seolah baru pertama kali melihat perempuan itu.

“Benarkah?”

Ratna tidak menjawab.

Sinta menyerahkan satu berkas terakhir kepadaku.

Aku membuka halaman pertama. Itu adalah salinan laporan keuangan perusahaan keluarga Pradipta. Selama dua tahun, mereka memalsukan nilai aset agar tetap memperoleh pinjaman. Pernikahanku dengan Arga bukan sekadar hubungan yang mereka harapkan dapat menyelamatkan keluarga.

Itu adalah rencana akuisisi terselubung.

Mereka tidak menginginkan aku sebagai menantu.

Mereka menginginkan namaku, perusahaanku, dan kekayaanku.

Arga duduk perlahan di kursi terdekat.

“Nadira, dengarkan aku. Aku memang mengambil uang itu, tetapi aku berniat mengembalikannya. Setelah kita menikah, semuanya akan menjadi milik bersama.”

“Itu alasanmu?”

“Aku terdesak.”

“Kau memalsukan tanda tanganku.”

“Aku melakukannya untuk keluarga.”

Aku menahan air mata yang mulai memenuhi mataku.

Bukan karena aku masih ingin mempertahankannya.

Aku menangisi diriku sendiri, perempuan yang selama berbulan-bulan terus mencari alasan untuk perilaku Arga. Aku mengira sikapnya yang posesif adalah bentuk perhatian. Aku menyebut kemarahannya sebagai tekanan pekerjaan. Aku menutup mata ketika ia meminta akses rekening dengan alasan keterbukaan dalam pernikahan.

Cinta telah membuatku sabar.

Tetapi rasa takut membuatku teliti.

Seminggu sebelum pernikahan, aku hampir membatalkan semuanya. Namun Sinta menyarankan agar kami tidak bergerak sebelum bukti cukup. Kami tahu Ratna akan mencoba mengambil uang hadiah. Kami hanya tidak tahu bahwa Arga akan memukulku di depan semua orang.

Tamparan itu menjadi bukti terakhir.

“Aku mencintaimu,” kata Arga lirih.

Aku menatapnya.

“Tidak. Kau mencintai apa yang bisa kau ambil dariku.”

Penyidik menghampirinya dan meminta ia menyerahkan telepon genggam. Arga tidak melawan. Reno justru mulai berteriak bahwa ia bersedia bekerja sama. Ratna berusaha pergi, tetapi petugas menahannya karena namanya tercantum dalam sejumlah dokumen pinjaman palsu.

Saat melewatiku, Ratna berhenti.

“Kau pikir kau menang?” bisiknya. “Setelah skandal ini, orang-orang akan tetap mengingatmu sebagai perempuan yang gagal menikah.”

Aku memandang ballroom, para tamu, kue yang belum dipotong, bunga-bunga mahal, dan lantai dansa yang tidak pernah kami gunakan.

Kemudian aku tersenyum.

“Lebih baik dikenal sebagai perempuan yang gagal menikah daripada perempuan yang berhasil dihancurkan.”

Ratna dibawa keluar.

Para tamu mulai berdiri. Sebagian mendekat untuk memelukku. Sebagian lain menghindari tatapanku, mungkin malu karena sebelumnya percaya pada citra keluarga Pradipta. Ayahku menyelimuti bahuku dengan jasnya, sedangkan ibuku memegang tanganku erat-erat.

Aku mengira malam itu telah berakhir.

Namun Sinta mendekat dan berkata pelan, “Masih ada sesuatu.”

Ia menyerahkan sebuah amplop kecil yang ditemukan penyidik di tas Ratna.

Di dalamnya terdapat salinan hasil pemeriksaan medis atas namaku, lengkap dengan catatan kesehatan yang seharusnya bersifat rahasia. Di sudut bawah ada tanda tangan dokter yang tidak kukenal.

“Untuk apa ini?” tanyaku.

Sinta menarik napas.

“Mereka merencanakan tahap berikutnya. Setelah asetmu digabungkan, mereka akan menyatakanmu tidak kompeten mengelola perusahaan karena gangguan psikologis. Dokumen ini palsu. Kalau rencana mereka berhasil, Arga bisa mengajukan diri sebagai pengampu dan mengambil kendali penuh atas asetmu.”

Tanganku gemetar.

Tamparan itu ternyata bukan awal kekerasan.

Itu hanya pertama kalinya mereka melakukannya di depan umum.

Aku memandang cincin di atas brankas, lalu menutup pintunya sendiri. Uang hadiah di dalamnya kemudian dikembalikan kepada para tamu atau disumbangkan atas persetujuan mereka untuk membantu rumah aman bagi perempuan korban kekerasan.

Enam bulan kemudian, perkawinanku dibatalkan. Arga dan Reno menjalani proses pidana atas pemalsuan serta penggelapan. Ratna didakwa karena keterlibatannya dalam penipuan finansial dan penggunaan dokumen medis palsu.

Aku tidak pernah mengadakan pesta pengganti.

Namun pada tanggal yang seharusnya menjadi ulang tahun pertama pernikahan kami, aku membuka pusat bantuan hukum gratis untuk perempuan yang menghadapi kekerasan ekonomi dalam rumah tangga.

Di dinding ruang tunggu, aku menggantung sebuah bingkai kecil.

Bukan foto pernikahan.

Bukan pula sertifikat perusahaan.

Di dalamnya tersimpan pita putih yang dahulu menghiasi brankas hadiah pernikahan.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

Hari ketika mereka mencoba mengambil segalanya dariku adalah hari ketika aku akhirnya mengambil kembali diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang