Namaku Adrian Prasetyo. Sudah hampir enam tahun aku bekerja sebagai manajer proyek di Surabaya. Kota itu memberiku penghasilan yang jauh lebih baik daripada kampung halamanku di Banyuwangi, tetapi setiap malam sebelum tidur selalu ada satu penyesalan yang menghantuiku: aku tidak bisa menemani ayah yang mulai renta.
Ayah membesarkan aku dan adik perempuanku seorang diri sejak ibu meninggal karena kanker. Beliau bukan orang kaya. Pekerjaannya hanya tukang kayu yang menerima pesanan membuat lemari, meja, dan kusen rumah. Namun dari tangan kasarnya itulah aku bisa lulus kuliah.
Dua tahun lalu ayah mengalami gagal ginjal kronis. Dokter mengatakan beliau harus menjalani cuci darah secara rutin dan menjaga pola makan dengan ketat.

Aku ingin membawanya tinggal bersamaku di Surabaya.
Namun ayah menolak.
“Ayah lebih nyaman di rumah sendiri. Di sini ada tetangga yang sudah seperti keluarga.”
Karena pekerjaanku tidak memungkinkan sering pulang, adikku, Rina, menawarkan diri merawat ayah.
“Kakak tenang saja. Aku yang akan mengurus semua kebutuhan Ayah.”
Aku percaya.
Setiap awal bulan aku mentransfer dua puluh lima juta rupiah ke rekeningnya. Jumlah itu jauh lebih besar daripada biaya pengobatan ayah, tetapi aku ingin mereka hidup nyaman.
Setiap kali menelepon, Rina selalu memperlihatkan ayah melalui panggilan video.
Ayah hanya tampak sebentar.
Beliau selalu tersenyum lemah.
“Ayah baik-baik saja. Jangan pulang kalau pekerjaanmu terganggu.”
Aku tidak pernah menyadari bahwa setiap panggilan berlangsung kurang dari tiga menit.
Dan aku tidak pernah bertanya mengapa kamera selalu cepat dimatikan.
Suatu hari proyek besar yang kutangani selesai lebih cepat dari jadwal.
Aku memutuskan pulang tanpa memberi tahu siapa pun.
Aku ingin membuat kejutan.
Mobil sewa yang kutumpangi memasuki gang kecil menuju rumah kami menjelang sore.
Namun yang kulihat membuatku mengerutkan dahi.
Rumah sederhana kami kini memiliki pagar baru, taman yang dihias mahal, bahkan garasi yang berisi sebuah mobil SUV putih.
“Apa aku salah alamat?” gumamku.
Tetangga yang melihatku langsung tersenyum kaku.
“Mas Adrian… akhirnya pulang juga.”
Senyum mereka aneh.
Seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi takut.
Aku masuk ke halaman.
Suara musik terdengar dari dalam rumah.
Pintu terbuka.
Rina sedang tertawa bersama beberapa temannya. Mereka menikmati hidangan katering lengkap, mengenakan pakaian bermerek, dan sibuk berfoto.
Begitu melihatku, wajah Rina langsung pucat.
“Kak… kok pulang?”
“Ayah mana?”
Pertanyaan itu membuat semua orang mendadak diam.
“Sedang istirahat.”
“Di kamar?”
“Iya.”
Aku langsung menuju kamar ayah.
Namun pintunya terkunci.
“Ayah sedang tidur!” teriak Rina dari belakang.
Aku berhenti.
Ada sesuatu yang terasa salah.
Kamar itu dulu selalu terbuka.
Aku memutar gagang pintu sekali lagi.
Tetap terkunci.
“Mana kuncinya?”
“Tunggu nanti saja.”
Nada suara Rina mulai gemetar.
Aku berbalik menatapnya.
“Mana. Kuncinya.”
Dengan tangan bergetar ia menyerahkan sebuah anak kunci.
Begitu pintu terbuka, aku terpaku.
Ruangan itu kosong.
Tempat tidur ayah sudah tidak ada.
Lemari pakaiannya hilang.
Foto keluarga yang biasanya tergantung di dinding juga lenyap.
Yang ada hanya meja rias, kosmetik, dan pakaian-pakaian baru milik Rina.
Dadaku seperti dipukul.
“Di mana Ayah?”
“Ayah… pindah.”
“Pindah ke mana?”
Belum sempat ia menjawab, seorang tetangga lansia yang berdiri di luar rumah berkata pelan.
“Kalau Mas Adrian mau tahu, ikut saya.”
Aku mengikuti beliau tanpa berkata apa pun.
Kami berjalan sekitar lima menit menuju ujung desa.
Di sana berdiri sebuah rumah kontrakan kecil yang catnya mulai mengelupas.
Beliau mengetuk pintu.
Seorang perempuan paruh baya membukanya.
Begitu melihatku, matanya berkaca-kaca.
“Kamu Adrian?”
Aku mengangguk.
“Ayahmu ada di dalam.”
Aku berlari masuk.
Ayah sedang duduk di ranjang lipat yang sederhana.
Tubuhnya jauh lebih kurus daripada yang kulihat di panggilan video.
Tangannya dipenuhi bekas suntikan.
Beliau menatapku beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum.
“Kamu pulang…”
Aku memeluknya erat.
Air mataku tidak bisa berhenti mengalir.
“Ayah… kenapa di sini?”
Ayah hanya menghela napas.
Perempuan tadi memperkenalkan diri sebagai Bu Lilis.
Beliau bercerita bahwa tiga bulan lalu Rina meminta ayah pindah dengan alasan rumah sedang direnovasi.
Nyatanya tidak pernah ada renovasi.
Ayah dititipkan di kontrakan itu.
Biaya sewanya hanya dibayar satu bulan.
Setelah itu Bu Lilis yang menanggung semuanya karena tidak tega melihat ayah terlantar.
“Kalau uang yang dikirim anak Bapak tiap bulan, kami tidak pernah menerima.”
Aku menggenggam tangan ayah.
Beliau mencoba tersenyum.
“Jangan marahi adikmu.”
Kalimat itu justru semakin menghancurkan hatiku.
Malam itu juga aku kembali ke rumah.
Pesta sudah bubar.
Rina duduk sendirian di ruang tamu.
“Kamu bohong selama ini.”
Ia menangis.
“Aku memang salah.”
“Salah?”
“Aku terlilit utang.”
Ternyata suaminya diam-diam berjudi daring.
Hutang mereka menumpuk hingga ratusan juta rupiah.
Awalnya Rina hanya mengambil sedikit uang kirimanku.
Lalu semakin banyak.
Ketika utang terus bertambah, seluruh uang untuk ayah habis dipakai menutup pinjaman.
Mobil, perhiasan, bahkan pesta yang kulihat semuanya berasal dari pinjaman baru agar orang-orang percaya mereka hidup sukses.
“Mengapa tidak bilang?”
“Aku malu.”
“Malu?”
Aku tertawa pahit.
“Kamu lebih memilih membiarkan ayah hidup menderita daripada mengakui kesalahanmu.”
Rina menangis tersedu-sedu.
Namun kali ini air matanya tidak lagi membuatku iba.
Keesokan harinya aku membawa ayah ke rumah sakit terbaik di kota.
Dokter memeriksa seluruh kondisinya.
Beliau kekurangan gizi.
Beberapa obat penting sudah tidak diminum selama berminggu-minggu.
Dokter berkata satu kalimat yang membuatku bergidik.
“Kalau terlambat satu bulan lagi, kemungkinan kondisinya akan jauh lebih buruk.”
Aku menatap ayah yang sedang tertidur.
Perasaan bersalah menyelimutiku.
Aku terlalu percaya pada transfer bank.
Kupikir mengirim uang sama artinya dengan menjalankan tanggung jawab.
Padahal yang paling dibutuhkan ayah bukan hanya biaya.
Beliau membutuhkan kehadiran anaknya.
Setelah ayah sedikit membaik, aku mengajukan mutasi kerja ke kantor cabang di Malang agar lebih dekat dengan kampung halaman.
Gajiku memang turun.
Jabatanku juga tidak lagi setinggi sebelumnya.
Namun aku tidak menyesal.
Aku mulai mengantar ayah berobat sendiri.
Kami sarapan bersama.
Kadang beliau duduk di teras sambil bercerita tentang masa kecilku.
Hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa kini menjadi sangat berharga.
Sementara itu, kehidupan Rina perlahan runtuh.
Para penagih utang mulai berdatangan.
Mobilnya ditarik.
Perhiasannya ternyata imitasi yang dibeli secara cicilan.
Teman-teman yang dulu selalu memenuhi rumahnya menghilang satu per satu.
Suatu malam ia datang ke rumah kontrakan yang kutinggali bersama ayah.
Wajahnya sangat berbeda.
Tidak ada lagi riasan mahal.
Tidak ada lagi pakaian bermerek.
Ia berlutut di depan ayah.
“Ayah… maafkan Rina.”
Ayah memandangnya lama.
“Ayah sudah memaafkan sejak dulu.”
Rina menangis semakin keras.
“Lalu kenapa Ayah tidak pernah melaporkan aku?”
Ayah tersenyum lemah.
“Karena Ayah tidak ingin kehilangan anak kedua setelah kehilangan ibumu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku menoleh ke arah jendela agar Rina tidak melihat mataku yang mulai basah.
Hari itu aku menyadari satu hal.
Kasih sayang orang tua sering kali jauh lebih besar daripada kesalahan anak-anaknya.
Namun pengampunan bukan berarti kesalahan tidak memiliki akibat.
Rina tetap harus bertanggung jawab atas utang-utangnya.
Ia mulai bekerja di sebuah toko roti, menjual rumah yang sempat dibelinya dengan pinjaman, dan mencicil semua kewajibannya sedikit demi sedikit.
Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk memperbaiki hidup.
Pada ulang tahun ayah yang ketujuh puluh, kami akhirnya kembali duduk di meja makan yang sama.
Rumah kami memang tidak lagi mewah.
Tidak ada pesta.
Tidak ada makanan mahal.
Hanya semangkuk sop hangat, ikan bakar, dan nasi putih.
Namun ketika ayah mengangkat gelas tehnya sambil tersenyum kepada kami berdua, aku sadar bahwa inilah kekayaan yang sesungguhnya.
Uang bisa dikirim melalui transfer.
Rumah bisa dibangun kembali.
Harta bisa dicari lagi.
Tetapi waktu yang hilang bersama orang tua tidak akan pernah bisa dibeli, berapa pun jumlah uang yang kita miliki.
