Suamiku Diam-diam Menghibahkan Rumah Pernikahan Rp3,4 Miliar kepada Adiknya yang Baru Bercerai; Aku Tetap Memasak Seolah Tak Tahu, Pindah Kerja, Memutus Autodebet KPR, dan Enam Puluh Hari Kemudian Surat Bank Membuat Seluruh Keluarganya Saling Menyalahkan di Depanku

Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit untuk menampung semua kebohongan yang selama ini disimpan keluarga Mahendra.

Raka masih berdiri di samping meja makan, wajahnya pucat. Nisa menunduk, sementara Ibu Ratih memandang putranya dengan tatapan panik, seolah berharap Raka bisa menemukan kalimat ajaib yang membuat semuanya terdengar masuk akal.

Aku menunggu.

Tidak ada yang bicara.

Akhirnya Raka menarik napas panjang.

“Aku memang mau ngomong sama kamu, Al.”

“Kapan?”

Dia terdiam.

“Setelah semuanya selesai?”

Aku tersenyum tipis.

“Atau setelah KPR-nya lunas pakai uangku?”

Ibu Ratih langsung menyela.

“Alya, jangan bicara seperti itu. Ini keluarga.”

Aku menoleh kepadanya.

Justru karena kalimat itulah aku akhirnya memahami semuanya.

Selama ini, ketika mereka berkata keluarga, yang mereka maksud adalah aku harus berkorban untuk mereka.

Tetapi ketika keputusan menyangkut hartaku, uangku, atau masa depanku, aku tidak termasuk keluarga.

Raka duduk kembali.

“Nisa sedang susah. Kamu tahu sendiri perceraiannya kacau.”

“Aku tahu.”

“Dia tidak dapat rumah dari mantan suaminya.”

“Itu juga aku tahu.”

“Jadi aku pikir…”

“Kamu pikir rumah kita bisa kamu berikan kepadanya?”

Raka mengusap wajah.

“Secara sertifikat rumah itu memang atas namaku sejak awal.”

Kalimat itu seperti pisau terakhir yang memastikan tidak ada lagi sesuatu di antara kami yang perlu kuselamatkan.

Aku mengangguk.

“Benar.”

Raka tampak sedikit lega karena aku tidak berteriak.

Dia tidak tahu ketenanganku justru datang karena aku sudah selesai mencintainya dengan cara lama.

Aku berdiri, mengambil tas, lalu berkata, “Aku pulang dulu.”

“Al.”

“Aku besok kerja.”

Raka mengejarku sampai teras.

“Jangan bikin masalah besar dari ini. Kita bisa bicarakan.”

Aku berhenti di depan mobil.

“Rumah seharga tiga koma empat miliar kamu hibahkan diam-diam kepada adikmu, lalu kamu meminta aku terus membayar KPR. Menurutmu masalah besar itu seperti apa?”

Dia tidak menjawab.

Aku masuk mobil.

Besok paginya, pukul sembilan lewat dua puluh, aku duduk di ruang rapat sebuah perusahaan fintech di Kuningan.

Dua jam kemudian, aku mendapat tawaran pekerjaan.

Gajinya lebih tinggi hampir empat puluh persen dari pekerjaanku sekarang.

Ada bonus tahunan dan fasilitas transportasi.

Aku menerima tanpa meminta waktu berpikir.

Hari itu juga aku mengajukan pengunduran diri.

Aku sengaja tidak memberi tahu Raka.

Selama masa transisi, aku mulai memisahkan semua hal yang selama ini kami campur.

Rekening tabungan.

Asuransi.

Tagihan kartu kredit tambahan.

Langganan rumah.

Dan yang paling penting, autodebet KPR.

Konsultan hukumku, Bu Laras, sudah memeriksa dokumen kredit.

Debitur utama adalah Raka.

Aku hanya menjadi sumber pembayaran rutin karena sejak dua tahun sebelumnya kami mengubah rekening autodebet ke rekening gajiku ketika bisnis Raka mulai tidak stabil.

“Bank akan tetap menagih debitur,” kata Bu Laras.

“Jadi kalau saya menghentikan autodebet?”

“Bank akan menghubungi suami Anda.”

Aku mengangguk.

“Lakukan.”

Bulan berikutnya, untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun, gajiku masuk tanpa kehilangan Rp14,8 juta pada pagi yang sama.

Aku menatap saldo rekening cukup lama.

Aneh sekali.

Uang itu sebenarnya selalu milikku.

Namun rasanya seperti baru dikembalikan.

Raka baru sadar tiga hari kemudian.

“Al, KPR belum terbayar.”

Aku sedang melipat pakaian di kamar.

“Oh.”

“Kok oh?”

Aku melanjutkan melipat.

“Autodebetnya aku hentikan.”

Dia membeku.

“Kamu gila?”

Aku menatapnya.

“Rumahnya sudah bukan milikku.”

“Tapi kita tinggal di sini.”

“Menurut sertifikat, yang punya Nisa.”

“Itu cuma pengalihan aset.”

“Namanya hibah, Raka.”

Dia mulai meninggikan suara.

“Nisa tidak akan mengusir kita.”

Aku tertawa kecil.

“Betapa baiknya dia mengizinkan kita tinggal di rumah yang cicilannya kamu ingin aku bayar.”

Raka berjalan mondar-mandir.

“Kalau kamu berhenti bayar, kreditku bermasalah.”

“Ya.”

“Namaku bisa masuk catatan buruk.”

“Ya.”

Dia menatapku tidak percaya.

“Kamu benar-benar mau melakukan ini?”

Aku menatap laki-laki yang pernah kupikir akan menjadi ayah dari anak-anakku.

“Bukankah kamu bilang kita keluarga? Sekarang biarkan keluargamu membantu.”

Malam itu dia tidur di sofa.

Seminggu kemudian, aku mulai bekerja di kantor baru.

Aku mengatakan kepada Raka bahwa perusahaan lamaku memindahkan tim ke kantor lain.

Dia percaya.

Mungkin karena selama bertahun-tahun dia terbiasa menganggap hidupku tidak cukup penting untuk diperhatikan.

Bulan pertama KPR tidak dibayar.

Raka meminjam uang dari orang tuanya.

Ibu Ratih mentransfer delapan juta.

Sisanya Raka menutup dengan kartu kredit.

Bulan kedua datang.

Tagihan berikutnya menumpuk bersama denda.

Kali ini Ibu Ratih meneleponku.

“Alya, Ibu dengar kamu sedang ngambek soal rumah.”

Aku sedang makan siang bersama Maya.

“Bukan ngambek, Bu.”

“Rumah tangga jangan pakai hitung-hitungan.”

Aku hampir tersenyum.

“Kalau begitu, kenapa waktu hibah rumah nama saya tidak ikut dihitung?”

Dia diam.

Kemudian suaranya berubah lembut.

“Nisa itu perempuan sendirian.”

“Saya juga perempuan, Bu.”

“Tapi kamu punya pekerjaan.”

“Nisa juga punya pekerjaan.”

“Penghasilannya kecil.”

“Kalau begitu jangan memiliki rumah dengan cicilan hampir lima belas juta sebulan.”

Telepon ditutup tidak lama kemudian.

Aku tahu sejak saat itu mereka mulai menyebutku pelit.

Tidak tahu diri.

Terlalu perhitungan.

Istri yang tidak mendukung suami.

Aku membiarkan mereka.

Enam puluh hari setelah aku menghentikan autodebet, sebuah amplop tebal datang dari bank.

Raka membukanya di ruang makan.

Aku sedang membuat kopi ketika wajahnya berubah.

“Alya.”

Aku tidak menoleh.

“Apa?”

“Ini surat peringatan terakhir.”

Aku menuangkan air panas.

Bank menyatakan kewajiban kredit telah menunggak dua periode, ditambah denda dan biaya keterlambatan. Jika tidak diselesaikan sesuai tenggat, bank dapat menjalankan langkah hukum berdasarkan perjanjian kredit dan jaminan.

Namun bukan itu bagian yang membuat Raka gemetar.

Ada satu paragraf tambahan.

Bank menemukan perubahan kepemilikan objek yang menjadi agunan tanpa persetujuan tertulis dari kreditur.

Aku melihat Raka membaca paragraf itu berulang kali.

“Apa maksudnya?”

Aku menyesap kopi.

“Kamu lebih tahu.”

Dia langsung menelepon seseorang.

Setengah jam kemudian dia pergi.

Malamnya, seluruh keluarga berkumpul di rumah kami.

Atau lebih tepatnya rumah Nisa.

Nisa menangis.

Ibu Ratih memarahinya.

Ayah Raka duduk dengan wajah tegang.

“Kenapa sertifikat dipindahkan kalau rumah masih KPR?” bentaknya.

Nisa langsung menunjuk Raka.

“Kak Raka yang bilang aman!”

Raka membalas, “Kamu yang terus mendesak minta rumah!”

“Aku tidak pernah minta rumah ini! Ibu yang bilang Kak Raka bisa kasih!”

Semua mata berpindah kepada Ibu Ratih.

Wajah perempuan itu memerah.

“Ibu cuma bilang kasihan Nisa setelah cerai!”

Ayah Raka menepuk meja.

“Kasihan bukan berarti memberikan rumah yang belum lunas!”

Aku duduk di ujung meja.

Diam.

Persis seperti enam puluh hari sebelumnya ketika mereka berpesta merayakan hidup baru Nisa.

Bedanya, sekarang tidak ada nasi kuning.

Tidak ada kue.

Hanya sebuah surat bank di tengah meja.

Raka akhirnya menatapku.

“Kamu sudah tahu ini akan terjadi?”

Aku meletakkan cangkir.

“Aku tahu KPR akan menunggak kalau tidak ada yang membayar.”

“Kamu sengaja.”

“Sengaja apa?”

“Membiarkan kami kena masalah.”

Aku menatapnya lama.

“Kalian membuat keputusan tanpa aku. Kenapa sekarang akibat keputusan itu harus melibatkan aku?”

Nisa mengusap air mata.

“Mbak, aku bisa balikin rumahnya.”

Aku menggeleng.

“Masalahnya bukan rumah.”

Semua orang terdiam.

Aku mengambil map dari tas.

Di dalamnya ada salinan akta hibah, bukti transfer uang muka dari orang tuaku, catatan pembayaran KPR, serta dokumen dari pengacaraku.

Aku meletakkannya di depan Raka.

“Aku sudah mengajukan gugatan cerai.”

Ibu Ratih berdiri.

“Alya!”

Aku tetap duduk.

Raka tidak bergerak.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Aku melakukan semua ini untuk membantu adikku.”

“Tidak. Kamu melakukannya karena kamu yakin aku akan tetap membayar apa pun keputusanmu.”

Dia membuka mulut, tetapi aku melanjutkan.

“Kalau kamu datang kepadaku dan berkata Nisa butuh bantuan, mungkin aku akan membantu. Kalau kamu meminta dia tinggal sementara bersama kita, mungkin aku setuju. Bahkan kalau kamu ingin memberikan sebagian uang kita, kita masih bisa membicarakannya.”

Aku menunjuk akta hibah.

“Tapi kamu memilih menyembunyikannya.”

Raka menunduk.

Untuk pertama kalinya, tidak ada pembelaan.

Nisa kemudian berkata pelan, “Kalau rumah dikembalikan ke Kak Raka, semuanya selesai, kan?”

Bu Laras sudah menjelaskan kepadaku bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Peralihan hak, status agunan, kewajiban kredit, serta konsekuensi hukum harus diselesaikan dengan bank dan pihak terkait.

Tetapi bagiku, jawabannya jauh lebih sederhana.

“Tidak.”

Nisa menatapku.

“Kenapa?”

“Karena rumah bisa dikembalikan.”

Aku memandang Raka.

“Kepercayaan tidak.”

Tiga bulan kemudian, aku pindah ke apartemen kecil di dekat kantorku.

Hanya satu kamar tidur.

Tidak ada halaman.

Tidak ada dapur besar yang dulu kupilih dengan hati-hati.

Tetapi setiap benda di dalamnya kupilih sendiri.

Dan setiap malam aku bisa tidur tanpa bertanya-tanya keputusan apa lagi yang sedang dibuat orang lain menggunakan hidupku.

Proses perceraian berjalan panjang.

Raka sempat beberapa kali meminta kami berdamai.

Dia mengirim bunga.

Menunggu di depan kantor.

Bahkan suatu sore dia berkata akan membatalkan hibah dan menjual rumah untuk mengembalikan uang orang tuaku.

Aku hanya menjawab, “Lakukan karena itu memang kewajibanmu. Bukan sebagai syarat supaya aku kembali.”

Beberapa bulan kemudian, melalui proses penyelesaian dengan bank dan para pihak, rumah Jatiasih akhirnya dijual.

Setelah kewajiban kredit dan biaya terkait diselesaikan, pembagian hak finansial menjadi bagian dari penyelesaian hukum kami.

Aku tidak mendapatkan rumah itu.

Nisa juga tidak.

Raka pun tidak.

Anehnya, aku tidak merasa kehilangan.

Pada hari putusan perceraian kami selesai, sebuah pesan masuk dari nomor Nisa.

“Mbak Alya, aku mau minta maaf. Dulu aku pikir Kak Raka memberikan rumah itu karena dia mampu. Aku tidak pernah bertanya siapa yang sebenarnya membayarnya.”

Aku membaca pesan itu lama.

Kemudian membalas singkat.

“Semoga setelah ini kita sama-sama belajar bahwa hadiah yang dibayar dengan pengorbanan orang lain bukan hadiah.”

Aku mematikan layar.

Sore itu, Ayah menelepon.

“Kamu pulang akhir pekan ini?”

“Iya.”

“Ibu mau masak sayur asem.”

Aku tertawa kecil.

Entah kenapa mataku langsung panas.

Berbulan-bulan sebelumnya, aku menyendok sayur asem sambil duduk di depan seorang suami yang menganggap kesetiaanku sama dengan izin untuk mengambil apa pun dariku.

Sekarang aku akhirnya memahami sesuatu.

Rumah bukan selalu bangunan yang sertifikatnya mencantumkan nama kita.

Kadang rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu mengecilkan diri agar orang lain merasa nyaman.

Tempat di mana kebaikan kita tidak dianggap kewajiban.

Tempat di mana suara kita ikut menentukan masa depan kita sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak sedang pulang ke sebuah rumah seharga miliaran rupiah.

Aku sedang pulang kepada diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang