SUAMIKU MENGUSIRKU SAAT HAMIL SEMBILAN BULAN DEMI PEREMPUAN LAIN, TAPI PADA HARI ANAKKU LAHIR, AYAHKU MEMBUKA RAHASIA YANG MENGUBAH SEGALANYA

“Bereskan barangmu hari ini.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku bahkan ketika tubuhku sudah terbaring di ranjang klinik bersalin di Cirebon.

Belum genap dua puluh empat jam sejak Arman menyuruhku meninggalkan rumah. Sekarang kontraksi datang setiap lima menit, membuat perutku mengeras seperti batu.

Aku menggenggam seprai.

“Yah…”

Ayah segera mendekat.

“Kenapa, Nak?”

“Sakit.”

Ayah menggenggam tanganku. Telapak tangannya kasar karena puluhan tahun bekerja sebagai tukang kayu, tetapi genggamannya membuatku merasa aman.

“Dokter bilang pembukaannya sudah tujuh. Sebentar lagi.”

Aku mengangguk sambil menahan air mata.

Di luar ruangan, Nisa dan Rara dititipkan kepada Bu Ratih, tetangga kami. Mereka belum benar-benar memahami mengapa tiba-tiba harus tinggal di rumah Kakek.

Aku sendiri bahkan belum memahami bagaimana hidupku bisa berubah begitu cepat.

Kemarin aku masih seorang istri.

Hari ini aku bahkan tidak tahu apakah aku masih punya rumah.

Pintu terbuka. Seorang bidan masuk dan memeriksa kondisiku.

“Bu Sari, sebentar lagi kita masuk ruang bersalin.”

Aku menarik napas.

Ayah berdiri.

Map cokelat itu masih berada di tangannya.

Sejak pagi aku ingin bertanya, tetapi rasa sakit membuatku tidak mampu memikirkan apa pun selain bayi dalam kandunganku.

Saat bidan keluar, aku akhirnya berkata, “Yah, sebenarnya apa isi map itu?”

Ayah terdiam.

“Setelah kamu melahirkan.”

“Kenapa harus setelah aku melahirkan?”

“Karena sekarang tugasmu cuma satu. Selamatkan dirimu dan anakmu.”

Nada suaranya membuatku berhenti bertanya.

Aku tidak tahu bahwa pada saat bersamaan, ratusan kilometer dari klinik itu, Arman sedang berdiri di ruang rapat kantornya di Jakarta dengan wajah pucat.

Pagi itu dia datang seperti biasa.

Kemeja putih mahal, jam tangan mengilap, dan senyum seorang pria yang merasa hidupnya baru saja menjadi sempurna.

Dina bahkan mengirimkan foto sarapan dari rumah yang baru kemarin kutinggalkan.

Rumahku.

Perempuan itu sudah berada di sana.

Namun pukul sembilan lewat dua puluh menit, direktur keuangan perusahaan meminta Arman datang ke ruang rapat.

Di sana sudah menunggu dua pengacara dan seorang pria tua bernama Pak Surya, komisaris perusahaan.

“Ada apa, Pak?” tanya Arman.

Pak Surya mendorong sebuah dokumen ke arahnya.

“Mulai hari ini, kewenangan Anda sebagai kepala operasional dibekukan.”

Arman tertawa.

“Ini bercanda?”

“Tidak.”

“Alasannya?”

“Salah satu pemegang saham meminta audit khusus terhadap divisi Anda.”

Wajah Arman berubah.

“Pemegang saham yang mana?”

Pak Surya menatapnya.

“Keluarga Hadi Santoso.”

Nama itu membuat Arman membeku.

Hadi Santoso adalah nama ayahku.

Selama sebelas tahun pernikahan kami, Arman mengenalnya sebagai tukang kayu sederhana dari Cirebon.

Setidaknya itulah yang juga kuketahui.

Sementara itu, di klinik, aku menjerit ketika kontraksi berikutnya datang.

Bidan membawaku ke ruang persalinan.

Aku tidak tahu berapa lama semuanya berlangsung.

Aku hanya ingat rasa sakit, keringat di dahi, suara bidan menyuruhku mengejan, dan wajah ayah yang sempat kulihat sebelum pintu ditutup.

Lalu terdengar tangisan.

Tangisan keras seorang bayi memenuhi ruangan.

“Alhamdulillah.”

Aku menangis.

“Bayinya sehat, Bu.”

Aku berusaha mengangkat kepala.

“Perempuan?”

Bidan tersenyum.

“Laki-laki.”

Aku terdiam.

Entah kenapa kalimat pertama yang terlintas di kepalaku justru perkataan Arman.

Aku butuh penerus.

Air mataku mengalir semakin deras.

Bukan karena aku bahagia mempunyai anak laki-laki.

Aku bahagia karena anakku lahir selamat.

Jenis kelaminnya tidak pernah penting bagiku.

Ketika bayi kecil itu diletakkan di dadaku, aku menyentuh pipinya.

“Selamat datang, Nak.”

Beberapa menit kemudian ayah masuk.

Begitu melihat cucunya, wajahnya berubah.

Lelaki yang hampir tidak pernah menangis itu menutup mulut dengan tangannya.

“Cucu Ayah?”

Aku mengangguk.

“Laki-laki.”

Ayah tersenyum, tetapi kemudian berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Laki-laki atau perempuan sama saja. Jangan pernah biarkan siapa pun membuat anak-anakmu merasa nilai mereka ditentukan oleh jenis kelamin.”

Aku menangis.

Ayah mencium dahiku.

Lalu ponselnya berdering.

Dia melihat layar dan berjalan keluar.

Namun kali ini pintunya tidak tertutup sempurna.

Aku mendengar suaranya.

“Ya, Surya.”

Jantungku berdegup.

“Bekukan semuanya dulu.”

Aku menahan napas.

“Jangan pecat dia. Saya ingin audit selesai.”

Beberapa detik hening.

Kemudian ayah berkata, “Soal rumah Bekasi juga periksa sertifikatnya. Rumah itu dibeli menggunakan dana perusahaan keluarga untuk hadiah pernikahan Sari. Kalau ada pemalsuan perubahan kepemilikan, laporkan.”

Tanganku membeku.

Perusahaan keluarga?

Hadiah pernikahan?

Ayah masuk kembali beberapa menit kemudian.

Aku langsung menatapnya.

“Yah.”

Dia berhenti.

“Siapa Ayah sebenarnya?”

Wajahnya berubah.

Dia tahu aku mendengar percakapannya.

Ayah menarik kursi dan duduk.

Map cokelat diletakkannya di atas meja.

“Seharusnya Ayah menceritakan ini bertahun-tahun lalu.”

Dia membuka map.

Di dalamnya ada sertifikat saham, dokumen perusahaan, salinan akta, dan sebuah foto lama.

Aku mengambil foto itu.

Ayah terlihat jauh lebih muda, berdiri di depan sebuah pabrik furnitur besar.

“Dulu Ayah bukan tukang kayu biasa,” katanya.

Aku menatapnya.

“Tiga puluh tahun lalu Ayah mendirikan perusahaan furnitur bersama dua teman. Perusahaan itu berkembang. Kami membuka pabrik, ekspor, lalu masuk ke bisnis properti dan logistik.”

Aku sulit mempercayainya.

“Lalu kenapa kita hidup sederhana?”

Ayah tersenyum pahit.

“Karena uang pernah menghancurkan keluarga Ayah.”

Dia bercerita bahwa setelah ibuku meninggal, terjadi perselisihan besar dengan saudara-saudaranya mengenai perusahaan. Ayah menyerahkan operasional kepada profesional, menyimpan kepemilikan saham, lalu kembali ke Cirebon.

Dia memilih hidup sederhana.

“Ayah tidak ingin kamu tumbuh dikelilingi orang yang mendekat karena uang.”

“Arman tahu?”

“Tidak.”

Aku menatap dokumen di tanganku.

“Lalu perusahaan tempat Arman bekerja…”

“Anak perusahaan kami.”

Aku merasa dunia berhenti.

Arman selama ini sering membanggakan pekerjaannya. Dia mengatakan dirinya berhasil dari nol.

Ternyata perusahaan tempat dia membangun karier selama delapan tahun berada di bawah kelompok usaha milik keluargaku sendiri.

“Ayah tidak pernah membantu dia mendapatkan pekerjaan?”

“Tidak. Dia masuk sendiri. Ayah justru senang melihatnya bekerja keras.”

Ayah menghela napas.

“Sampai enam bulan lalu.”

“Apa yang terjadi enam bulan lalu?”

“Audit internal menemukan transaksi mencurigakan dari divisinya.”

Aku langsung teringat perubahan Arman.

Pulang semakin malam.

Ponsel selalu dikunci.

Mudah marah ketika ditanya.

“Ayah menyelidikinya?”

“Ayah belum mau menuduh tanpa bukti.”

Dia mendorong beberapa lembar dokumen kepadaku.

Ada transfer uang perusahaan menuju vendor bernama PT Dinamika Karya Sentosa.

Direkturnya bernama Dina Maharani.

Aku menggigil.

“Dina?”

Ayah mengangguk.

“Perempuan yang sekarang bersama suamimu.”

Ternyata perselingkuhan hanyalah permukaan.

Arman diduga membuat kontrak pengadaan fiktif melalui perusahaan milik Dina dan mengalihkan dana sedikit demi sedikit.

Jumlahnya hampir empat miliar rupiah.

Aku menutup mulut.

“Kenapa Ayah baru bertindak sekarang?”

“Karena tadi malam dia mengusir anak Ayah yang sedang hamil sembilan bulan.”

Nada suara ayah tetap tenang.

Justru ketenangan itu terasa lebih menakutkan daripada kemarahan.

“Ayah bisa memaafkan orang yang miskin. Bisa memaafkan orang yang gagal. Tapi Ayah tidak akan membiarkan seseorang mencuri lalu membuang keluarganya setelah merasa tidak membutuhkan mereka.”

Ponselku tiba-tiba berdering.

Nama Arman muncul.

Aku menatap layar.

Kemarin aku berharap dia menelepon.

Sekarang aku takut mengangkatnya.

Ayah berkata, “Jawab.”

Aku menggeser layar.

“Sari!”

Suara Arman terdengar panik.

“Ayahmu siapa sebenarnya?”

Tidak ada pertanyaan tentang kondisiku.

Tidak ada pertanyaan apakah bayinya sudah lahir.

Hal pertama yang dia tanyakan adalah ayahku.

Aku tersenyum getir.

“Aku baru melahirkan.”

Arman terdiam.

“Anaknya?”

“Sehat.”

“Laki-laki atau perempuan?”

Aku menutup mata.

Bahkan sekarang itu masih menjadi pertanyaan terpenting baginya.

“Laki-laki.”

Hening cukup lama.

Kemudian suara Arman berubah lembut.

“Sari… dengarkan aku. Kita bisa bicara baik-baik.”

Aku hampir tertawa.

“Kemarin kamu menyuruhku pergi.”

“Aku sedang emosi.”

“Kamu bilang Dina akan tinggal di rumah kita.”

“Dia tidak penting.”

Aku menatap bayi di sampingku.

Kemarin Dina adalah perempuan yang akan memberinya penerus.

Hari ini, setelah mengetahui keluargaku memiliki kekuasaan atas kariernya, perempuan itu mendadak tidak penting.

“Bagaimana dengan anak Dina?”

Aku bertanya.

Arman diam.

“Sari, aku bisa menjelaskan.”

“Tidak perlu.”

“Sari, tolong. Jangan biarkan ayahmu menghancurkan karierku.”

Aku akhirnya mengerti.

Dia tidak menelepon karena menyesal kehilangan aku.

Dia takut kehilangan pekerjaannya.

“Aku tidak mengatur pekerjaan Ayah.”

“Tapi kamu bisa bicara dengannya.”

“Kenapa aku harus melakukannya?”

“Karena aku suamimu!”

Aku menatap cincin di jariku.

Lalu kulepaskan.

“Kemarin kamu sudah memilih keluarga barumu.”

Aku memutus sambungan.

Tiga hari kemudian aku mengetahui kejutan berikutnya.

Dina tidak hamil.

Setidaknya bukan seperti yang dia katakan kepada Arman.

Hasil pemeriksaan yang ditemukan dalam penyelidikan menunjukkan Dina pernah hamil, tetapi mengalami keguguran hampir dua bulan sebelumnya.

Dia menyembunyikannya karena takut Arman meninggalkannya.

Ketika Arman mengetahui kebenaran itu, hubungan mereka berubah menjadi pertengkaran besar.

Namun masalah terbesar Arman bukan lagi perselingkuhan.

Audit menemukan bukti transaksi palsu, manipulasi invoice, dan penggunaan dana perusahaan.

Aku mengajukan gugatan cerai.

Arman datang ke rumah ayah seminggu kemudian.

Dia berdiri di depan pagar saat hujan.

“Aku cuma ingin melihat anakku.”

Aku keluar tanpa membawa bayi.

“Kamu punya empat anak.”

Arman menatapku.

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu baru tahu setelah kehilangan semuanya.”

Dia menunduk.

“Aku salah.”

“Kesalahanmu bukan mencintai perempuan lain, Man.”

Dia menatapku.

“Kesalahanmu adalah menganggap tiga anak perempuanmu tidak cukup berharga.”

Air matanya jatuh.

“Aku mau memperbaiki semuanya.”

Aku menggeleng.

“Ada sesuatu yang masih bisa diperbaiki. Hubunganmu dengan anak-anak.”

“Dan kita?”

Aku tersenyum tipis.

“Kita sudah selesai.”

Beberapa bulan kemudian Arman diberhentikan setelah audit selesai. Perusahaan membawa kasus penyalahgunaan dana ke jalur hukum. Ayah tidak meminta hukuman tambahan dan tidak menggunakan kekuasaannya untuk memperberat perkara.

“Biarkan hukum yang bekerja,” katanya.

Aku juga akhirnya mengetahui rumah di Bekasi memang dibeli ayah sebagai hadiah pernikahan untukku. Arman diam-diam mengubah sejumlah dokumen dengan bantuan seseorang di kantor notaris.

Rumah itu berhasil kembali secara hukum ke tanganku.

Namun aku tidak kembali tinggal di sana.

Aku menjualnya.

Sebagian uang kugunakan membeli rumah sederhana di Cirebon, tidak jauh dari rumah ayah.

Sisanya kusimpan untuk pendidikan keempat anakku.

Ya, keempat.

Nisa, Rara, putri ketigaku Zahra yang selama ini tinggal bersama kami, dan bayi laki-laki yang kuberi nama Rayyan.

Suatu sore, ketika Rayyan berusia enam bulan, aku melihat ayah duduk di halaman bersama cucu-cucunya.

Nisa sedang membaca.

Rara menggambar.

Zahra mengejar kupu-kupu.

Rayyan tertidur di pangkuan Kakeknya.

Aku membawa teh untuk ayah.

“Yah.”

“Hm?”

“Kalau waktu itu Arman tidak mengusirku, Ayah akan tetap menyembunyikan semuanya?”

Ayah berpikir sebentar.

“Mungkin.”

Aku tertawa kecil.

“Kenapa?”

Ayah menatap keempat cucunya.

“Karena Ayah ingin tahu siapa yang tetap menghargai kalian ketika mereka mengira kalian tidak punya apa-apa.”

Aku terdiam.

Kemudian ayah memandangku.

“Uang tidak mengubah sifat seseorang, Sari. Uang hanya memberi kesempatan sifat aslinya keluar.”

Aku duduk di sampingnya.

Saat itu aku akhirnya memahami rahasia terbesar yang dibuka ayah pada hari Rayyan lahir.

Rahasia itu bukan tentang saham, perusahaan, atau rumah.

Rahasia sebenarnya adalah bahwa selama bertahun-tahun ayah sengaja hidup sederhana untuk mengajariku sesuatu yang baru kupahami setelah kehilangan pernikahanku.

Rumah bisa dibeli kembali.

Uang bisa dicari lagi.

Karier bisa dibangun dari awal.

Tetapi harga diri yang kita serahkan kepada orang lain jauh lebih sulit dikembalikan.

Aku memandang keempat anakku.

Tiga perempuan dan satu laki-laki.

Tidak ada penerus.

Tidak ada anak yang lebih berharga.

Mereka semua adalah anak-anakku.

Dan untuk pertama kalinya sejak Arman menyuruhku membereskan barang, aku tidak lagi merasa seperti perempuan yang diusir dari rumahnya.

Aku justru merasa seperti seseorang yang akhirnya pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang