“TOLONG PURA-PURA JADI PAPA SAYA!” BISIK BOCAH KUSUT ITU KEPADA SEORANG MILIARDER, TANPA TAHU KEBOHONGAN KECILNYA AKAN MEMBONGKAR SKANDAL GELAP DI BALIK PANTI ASUHAN MEWAH!

“Nama itu bukan nama keluarga sungguhan.”

Suara Rian begitu pelan, tetapi kalimat itu membuat Arya merasa udara di apartemennya mendadak berubah dingin.

Arya berjongkok di depan anak itu. Pecahan gelas masih berserakan di lantai, tetapi ia tidak memedulikannya.

“Kamu pernah mendengar nama Hendra Kusuma sebelumnya?”

Rian mengangguk perlahan.

“Di panti.”

“Dari siapa?”

Rian menelan ludah.

“Bu Ratna.”

Arya tidak menyela.

Beberapa bulan sebelumnya, Rian pernah terbangun tengah malam karena Dimas menangis. Saat hendak mengambil air, ia melihat lampu ruang administrasi masih menyala.

Dari balik pintu, ia mendengar Ratna berbicara dengan seorang pria.

“Minggu depan pakai nama Hendra Kusuma lagi. Dokumennya sudah siap.”

Rian tidak memahami maksud percakapan itu. Namun beberapa hari kemudian, seorang anak bernama Aldi dibawa pergi oleh pasangan yang disebut sebagai keluarga Hendra Kusuma.

Anehnya, foto keluarga yang diperlihatkan kepada Aldi berbeda dengan foto yang kini berada dalam berkas Dimas.

“Nama bapaknya sama,” bisik Rian. “Tapi orangnya beda.”

Arya menatap pengacaranya, Bagas, yang berdiri beberapa meter darinya.

Bagas langsung memahami arti tatapan itu.

“Kita jangan menyentuh apa pun dulu,” katanya. “Kalau dugaan ini benar, kita butuh bukti yang bisa dipakai secara hukum.”

Arya kembali menatap Rian.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada orang lain?”

“Saya pernah.”

“Kepada siapa?”

“Bu Ratna.”

Arya terdiam.

Rian tersenyum pahit, terlalu pahit untuk anak berusia delapan tahun.

“Besoknya saya dihukum.”

Malam itu Arya tidak tidur.

Penyelidikannya berkembang jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan.

Melalui audit terhadap laporan publik yayasan, tim Arya menemukan kejanggalan. Panti Asuhan Tunas Harapan menerima donasi miliaran rupiah setiap tahun dari perusahaan, komunitas, dan individu kaya. Di laporan keuangan, hampir seluruh dana tercatat digunakan untuk renovasi fasilitas, makanan bergizi, pendidikan, dan kesehatan anak.

Namun foto-foto yang diam-diam dikirim Rian menunjukkan keadaan berbeda.

Kasur tipis dan lembap.

Kamar mandi rusak.

Makanan sederhana yang jauh dari standar laporan.

Arya juga menemukan pembayaran rutin kepada beberapa perusahaan penyedia barang.

Semua perusahaan itu memiliki alamat berbeda, tetapi setelah ditelusuri, pemilik akhirnya mengarah kepada satu jaringan yang sama.

Ratna Dewi.

Pagi berikutnya Arya menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

Berhenti mencampuri urusan Tunas Harapan kalau Anda tidak ingin anak-anak itu mendapat masalah.

Arya membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Kemudian ia menelepon Bagas.

“Ajukan permohonan perlindungan sementara untuk Rian dan Dimas. Hari ini.”

“Arya, prosesnya tidak sesederhana itu.”

“Saya tahu.”

“Lalu?”

“Kita buat mereka melakukan kesalahan.”

Siang itu Arya kembali ke panti, kali ini sendirian.

Ratna tampak terkejut melihatnya.

“Saya pikir pengacara Anda sudah menjelaskan bahwa proses adopsi Dimas tidak bisa dihentikan hanya karena Anda menginginkannya.”

“Saya tidak datang untuk menghentikannya.”

Ratna menyipitkan mata.

Arya meletakkan sebuah amplop di meja.

“Saya ingin menjadi donatur utama Tunas Harapan.”

Ekspresi Ratna berubah.

“Donatur?”

“Lima miliar rupiah untuk tahap pertama.”

Ratna terdiam.

Arya melihat sesuatu muncul di matanya.

Keserakahan.

“Tentu kami sangat berterima kasih atas niat baik Pak Arya.”

“Tapi ada syarat.”

“Syarat apa?”

“Saya ingin melihat seluruh fasilitas dan laporan penggunaan dana lima tahun terakhir.”

Senyum Ratna menegang.

“Itu dokumen internal.”

“Kalau begitu anggap saja tawaran saya batal.”

Arya mengambil kembali amplop itu.

“Tunggu.”

Ratna berdiri.

“Kita bisa membicarakannya.”

Selama hampir satu jam, Ratna mengajak Arya berkeliling. Kamar-kamar yang diperlihatkan kepadanya bersih, rapi, bahkan tampak seperti asrama sekolah swasta.

Namun Arya menyadari sesuatu.

Tidak ada Rian.

Tidak ada Dimas.

Bahkan sebagian besar anak yang pernah ia lihat kemarin juga tidak ada.

“Anak-anak lainnya di mana?”

“Sedang mengikuti kegiatan.”

“Kegiatan apa?”

Ratna tidak sempat menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari ujung lorong.

Seorang anak perempuan kecil berdiri membeku sambil memegang ember.

Ratna langsung menatapnya tajam.

“Masuk!”

Anak itu berlari.

Namun sebelum pintu tertutup, Arya melihat sesuatu di balik lorong tersebut.

Tangga menuju lantai bawah.

Padahal dalam denah bangunan yang diberikan kepadanya, tidak ada ruang bawah tanah.

Malam harinya, Rian membenarkan dugaan Arya.

“Di bawah ada kamar hukuman.”

Arya menatapnya.

“Kamu pernah masuk?”

Rian mengangguk.

“Dua kali.”

“Kenapa?”

“Karena saya tanya soal Aldi.”

Arya mengepalkan tangan.

Ia ingin langsung menelepon polisi, tetapi Bagas mencegahnya.

“Keterangan Rian penting, tapi kita membutuhkan lebih dari itu. Kalau Ratna punya jaringan, dia bisa membersihkan tempat itu sebelum aparat mendapat izin pemeriksaan.”

Kesempatan itu datang lebih cepat dari dugaan mereka.

Keesokan paginya adalah jadwal penyerahan Dimas kepada keluarga Hendra Kusuma.

Arya datang bersama Bagas dan dua petugas dari dinas sosial yang telah menerima laporan resmi mereka.

Ratna langsung menghadang.

“Anda tidak punya hak berada di sini.”

“Saya mungkin tidak punya,” jawab Arya. “Tapi mereka punya.”

Wajah Ratna berubah ketika melihat identitas petugas.

Pada saat bersamaan, sebuah mobil hitam berhenti di halaman.

Seorang pria dan wanita turun.

Mereka memperkenalkan diri sebagai Hendra Kusuma dan istrinya.

Bagas meminta dokumen identitas mereka.

Pria itu menolak.

“Kami sudah menyelesaikan semua administrasi.”

“Kalau begitu menunjukkan KTP seharusnya tidak sulit.”

Situasi menjadi tegang.

Dimas muncul dari dalam bangunan bersama seorang petugas. Wajahnya pucat.

Begitu melihat Rian berdiri di samping Arya, ia berlari.

“Mas!”

Namun Ratna menangkap lengannya.

“Dimas!”

Rian menjerit.

Dimas meronta.

“Lepasin! Aku mau sama Mas Rian!”

Salah satu petugas dinas sosial segera mendekat.

“Bu Ratna, lepaskan anak itu.”

Ratna tidak bergerak.

Kemudian sesuatu yang tidak diduga terjadi.

Pria yang mengaku sebagai Hendra berbalik menuju mobil.

Bagas berteriak meminta petugas keamanan menutup gerbang.

Pria itu panik.

Ia berlari.

Dalam hitungan detik, seluruh sandiwara runtuh.

Polisi yang sebelumnya telah diminta bersiaga oleh tim hukum Arya datang beberapa menit kemudian. Identitas pasangan tersebut diperiksa.

Nama pria itu bukan Hendra Kusuma.

Bahkan keduanya bukan pasangan suami istri.

Mereka menerima bayaran untuk menandatangani dokumen penyerahan.

Ratna mencoba pergi melalui pintu belakang.

Tetapi Rian tiba-tiba menunjuk ke arahnya.

“Dia mau ke bawah!”

Petugas mengejar Ratna.

Arya mengikuti sampai mereka tiba di tangga yang pernah dilihatnya.

Di bawah sana terdapat ruangan sempit tanpa jendela.

Tidak ada kemewahan.

Tidak ada fasilitas pendidikan seperti yang tercantum dalam laporan yayasan.

Hanya lemari besi, tumpukan dokumen, beberapa kasur tipis, dan sebuah komputer.

Ketika komputer diperiksa, semuanya terungkap.

“Hendra Kusuma” ternyata bukan satu orang.

Nama itu digunakan berulang kali sebagai identitas palsu dalam sejumlah proses pemindahan anak.

Namun kenyataannya lebih rumit daripada dugaan awal Arya.

Sebagian anak memang dipindahkan kepada keluarga yang ingin mengasuh mereka, tetapi melalui prosedur ilegal dengan pembayaran besar kepada pengurus yayasan. Ratna memanfaatkan kerumitan proses resmi untuk menawarkan jalur cepat kepada orang-orang kaya.

Sementara anak yang dianggap “sulit”, terlalu banyak bertanya, atau tidak menarik bagi calon pengasuh sengaja diberi catatan perilaku buruk.

Rian termasuk di dalamnya.

Yang lebih mengejutkan, Dimas dipilih karena calon keluarga tertentu hanya menginginkan satu anak kecil tanpa saudara yang dianggap bisa mengganggu proses.

Karena itulah Rian harus disingkirkan.

Ratna ditahan bersama beberapa orang yang terlibat dalam jaringan tersebut. Pemeriksaan lebih luas dilakukan terhadap pengurus yayasan dan pihak-pihak yang membantu memalsukan dokumen.

Namun bagi Arya, ada satu penemuan yang jauh lebih pribadi.

Di antara tumpukan dokumen, Bagas menemukan daftar donatur lama.

Salah satu nama membuat Arya tidak mampu bergerak.

Nadia Mahendra.

Istrinya.

Ternyata enam bulan sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya, Nadia diam-diam menyumbangkan dana untuk Tunas Harapan.

Bukan sekali.

Setiap bulan.

Arya membawa dokumen itu pulang.

Malam itu ia duduk sendirian di ruang kerja, memegang salinan formulir donasi dengan tangan gemetar.

Ada sebuah catatan kecil di bagian bawah formulir terakhir.

Dana ini khusus untuk kebutuhan pendidikan dua bersaudara, Rian dan Dimas. Mohon jangan dipisahkan jika suatu hari mereka mendapatkan keluarga baru.

Arya membaca kalimat itu berulang kali.

Dadanya terasa sesak.

“Kenapa Nadia tahu mereka?”

Bagas kemudian menemukan jawabannya.

Dua tahun sebelumnya, Nadia pernah menjadi relawan dalam program pemulihan anak korban kebakaran.

Di sanalah ia bertemu Rian dan Dimas.

Bahkan sebelum meninggal, Nadia sempat menghubungi seorang konsultan hukum untuk menanyakan kemungkinan menjadi orang tua asuh bagi dua bersaudara tersebut.

Ia belum pernah menceritakannya kepada Arya.

Saat itu Nadia sedang hamil.

Mungkin ia menunggu waktu yang tepat.

Waktu yang tidak pernah datang.

Arya menutup wajah dengan kedua tangannya.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ia menangis tanpa berusaha menahannya.

Beberapa minggu kemudian, izin operasional Tunas Harapan dibekukan sementara selama penyelidikan. Anak-anak dipindahkan ke fasilitas perlindungan yang diawasi pemerintah dan lembaga sosial independen.

Rian dan Dimas ditempatkan bersama.

Arya mengunjungi mereka hampir setiap hari.

Suatu sore, Dimas tertidur di sofa ruang kunjungan dengan kepala bersandar di paha kakaknya.

Rian memandang Arya.

“Om.”

“Hm?”

“Om masih mau jadi papa kami?”

Arya tidak langsung menjawab.

Ia menatap dua anak di hadapannya.

Selama 14 bulan, ia mengira hidupnya berhenti pada hari Nadia meninggal.

Ia menjual rumah yang telah mereka pilih bersama. Ia menyimpan pakaian bayi di gudang. Ia berhenti bertemu teman. Ia bahkan tidak sanggup melihat kamar yang dahulu mereka rencanakan menjadi kamar anak.

Arya merasa jika ia kembali bahagia, berarti ia mengkhianati Nadia.

Namun kini ia akhirnya memahami sesuatu.

Mungkin mencintai lagi bukan berarti melupakan.

Arya mengusap rambut Rian.

“Kalau kalian masih mau menerima Papa yang kadang menyebalkan.”

Rian tersenyum.

Dimas yang ternyata belum benar-benar tidur tiba-tiba membuka mata.

“Papa kaya, kan?”

Arya terkejut.

Rian langsung mencubit lengan adiknya.

“Dimas!”

“Aduh!”

Arya tertawa.

Tawa pertama yang benar-benar keluar dari dadanya sejak Nadia pergi.

Delapan bulan kemudian, setelah melalui pemeriksaan, evaluasi psikologis, proses hukum, serta penilaian kelayakan yang panjang, Arya resmi menjadi wali sekaligus orang tua angkat Rian dan Dimas.

Hari pertama mereka tinggal bersama, Arya membawa keduanya ke sebuah kamar yang telah direnovasi.

Ada dua tempat tidur.

Rian memandangnya lama.

“Bisa nggak kasurnya didekatkan?”

“Kenapa?”

“Dimas masih takut kalau malam.”

Arya menggeser tempat tidur itu sendiri.

Malamnya, setelah kedua anak tertidur, Arya menemukan sebuah amplop lama di antara barang-barang Nadia yang dikirim keluarganya.

Di dalamnya terdapat foto.

Nadia sedang berjongkok di halaman sebuah panti asuhan.

Di sebelah kirinya berdiri Dimas yang masih berusia empat tahun.

Dan di sebelah kanannya berdiri Rian.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan Nadia.

Arya mengenali tulisan itu seketika.

Kalau suatu hari kita punya kesempatan memberikan rumah kepada anak yang kehilangan rumahnya, aku berharap kita cukup berani untuk melakukannya.

Arya duduk lama di tepi tempat tidur.

Kemudian terdengar langkah kecil dari pintu.

Rian berdiri di sana.

“Papa belum tidur?”

Arya menatap anak yang dahulu menghentikannya di tengah gerimis hanya dengan satu kebohongan sederhana.

Tolong pura-pura jadi papa saya.

Arya tersenyum dan membuka tangannya.

Rian berjalan mendekat.

Kali ini, ketika anak itu memeluknya, Arya tidak sedang berpura-pura menjadi siapa pun.

Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan keluarganya, Arya sadar bahwa takdir tidak mengembalikan apa yang telah direnggut darinya.

Takdir hanya membuka sebuah pintu baru dan menunggu apakah ia cukup berani untuk masuk.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang