“Nita! Kamu apa-apaan sih?!” suara Luki meledak dari ujung telepon. “Kenapa semua kartu kreditku diblokir?!”
“Kamu tahu tidak, aku sangat malu di depan kasir mal! Uyển sampai dilihat orang banyak!”
Aku tersenyum tipis sambil menyeruput teh hangat yang baru diantar pelayan hotel.
“Bukan kartumu yang diblokir, Luki. Yang kublokir adalah fasilitas tambahan milikku.”
“Apa maksudmu?”

“Maksudku sederhana. Semua kartu yang selama ini kamu pakai terhubung ke rekeningku. Jadi saat aku menutup aksesnya, tentu saja kartumu tidak lagi berguna.”
Beberapa detik hanya terdengar napasnya yang memburu.
“Jangan bercanda.”
“Aku tidak pernah bercanda soal uang.”
“Kalau begitu segera aktifkan lagi! Aku sedang ada urusan penting.”
“Urusan penting atau sedang berusaha mengesankan perempuan yang kau bawa masuk ke rumahku?”
Luki terdiam.
Aku bisa membayangkan wajahnya yang mulai pucat.
“Aku akan pulang besok. Saat itu rumahku harus sudah kosong.”
Klik.
Aku memutus sambungan tanpa memberinya kesempatan menjawab.
Belum sampai lima menit, Danu kembali mengirim pesan.
“Semua sudah berjalan sesuai instruksi. Pengelola kompleks sudah menerima surat resmi. PLN, PDAM, dan penyedia internet juga telah diproses.”
Aku hanya membalas satu kalimat.
“Bagus. Besok saat matahari terbit, pertunjukan sebenarnya dimulai.”
Malam itu aku tidur sangat nyenyak untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Selama tiga tahun aku selalu berpikir kesabaran akan mengubah seseorang.
Ternyata yang berubah hanyalah batas kesabaranku sendiri.
Pukul enam pagi, telepon kembali berdering.
Bukan Luki.
Melainkan Maya.
Begitu kuangkat, suara teriakannya hampir memecahkan gendang telinga.
“Nita! Apa yang kamu lakukan?! Listrik mati! Air juga mati! Internet tidak bisa dipakai! Kamu sengaja mempermalukan kami?”
“Aku hanya menghentikan fasilitas yang kubayar.”
“Kamu keterlaluan!”
“Masih ada yang lebih keterlaluan.”
“Apa lagi?”
“Orang yang tinggal gratis di rumah orang lain tetapi merasa berhak mengusir pemilik rumah.”
Telepon langsung ditutup dengan kasar.
Aku hanya tersenyum.
Satu jam kemudian Danu datang ke hotel membawa beberapa map tebal.
“Ini semua laporan yang kamu minta.”
Aku membukanya satu per satu.
Tagihan kartu kredit Maya.
Belanja tas.
Perhiasan.
Perawatan kecantikan.
Liburan.
Semuanya dibayar dari rekeningku.
Totalnya mencapai lebih dari empat miliar rupiah.
Aku bahkan menemukan dokumen lain yang membuatku mengangkat alis.
“Apa ini?”
Danu tersenyum tipis.
“Surat pengajuan perubahan sertifikat rumah.”
Aku membaca setiap halaman.
Luki ternyata sudah diam-diam berkonsultasi dengan seorang notaris untuk membalik nama rumah warisan itu menjadi atas namanya.
Untungnya proses tersebut gagal karena seluruh dokumen asli tetap berada di brankas pribadiku.
“Berani juga dia.”
“Bukan cuma itu.”
Danu mengeluarkan satu map lagi.
“Perusahaan tempat Luki bekerja.”
Aku membuka halaman pertama.
Mataku langsung menyipit.
“Ini…”
“Benar.”
Danu mengangguk.
“Luki mengira dia akan diangkat menjadi Wakil Direktur minggu depan.”
“Padahal?”
“Dia tidak tahu siapa pemegang saham terbesar perusahaan itu.”
Aku tertawa pelan.
Lucu sekali.
Selama ini Luki selalu pulang dengan wajah sombong, bercerita bagaimana direksi sangat menghargai dirinya.
Padahal perusahaan itu didirikan oleh sahabat almarhum ayahku.
Ketika ayah meninggal, sebagian besar saham justru diwariskan kepadaku.
Namaku memang tidak pernah muncul di depan publik.
Aku memilih menjadi investor pasif.
Direksi merahasiakan identitasku atas permintaanku.
Bahkan Luki sendiri tidak pernah tahu bahwa gaji, bonus, dan promosi yang selama ini ia banggakan berasal dari perusahaan yang sebagian besar dimiliki istrinya sendiri.
“Rapat direksi jam sepuluh besok,” kata Danu.
“Mereka sudah siap?”
“Semua menunggu keputusanmu.”
Aku menutup map itu perlahan.
“Kalau begitu biarkan Luki datang dengan jas terbaiknya.”
Keesokan paginya suasana kantor pusat sangat sibuk.
Luki berjalan masuk dengan penuh percaya diri.
Ia bahkan sempat mengirim pesan kepadaku.
“Kamu akan menyesal setelah aku resmi jadi Wakil Direktur.”
Aku tidak membalas.
Aku sudah berada di ruang rapat sejak lima belas menit sebelumnya.
Aku duduk di ujung meja bersama para komisaris.
Pintu terbuka.
Luki melangkah masuk.
Wajahnya langsung membeku.
“N… Nita?”
Direktur utama berdiri.
“Pak Luki, silakan duduk.”
Luki masih terlihat bingung.
Tatapannya bergantian antara aku dan para petinggi perusahaan.
Ia mungkin mengira aku hanya tamu.
Rapat dimulai.
Direktur utama membuka presentasi.
“Agenda pertama adalah evaluasi promosi jabatan.”
Luki langsung duduk lebih tegak.
Namun layar berikutnya membuat wajahnya kehilangan warna.
Tertulis jelas.
Promosi dibatalkan.
Evaluasi integritas.
Pelanggaran etika.
Penyalahgunaan fasilitas perusahaan.
“Apa maksudnya ini?” serunya.
Direktur utama tetap tenang.
“Kami menerima bukti bahwa Anda menggunakan reputasi perusahaan untuk kepentingan pribadi, termasuk menjanjikan aset yang bukan milik Anda kepada pihak lain.”
“Itu fitnah!”
“Benarkah?”
Aku akhirnya berbicara.
“Lalu siapa yang mengatakan rumah warisan milikku akan segera menjadi milikmu?”
Luki menatapku.
“Kamu…”
“Siapa yang mengaku membeli semua barang mewah ibumu dengan uang hasil kerja sendiri?”
Ia tidak mampu menjawab.
Aku mendorong satu map ke arahnya.
“Silakan lihat.”
Tangannya gemetar saat membuka dokumen.
Lembar pertama menunjukkan rekening utama.
Namaku.
Lembar berikutnya daftar seluruh transaksi yang ia lakukan.
Lalu kepemilikan saham.
Namaku kembali muncul.
Matanya membelalak.
“Ini… tidak mungkin…”
Direktur utama tersenyum sopan.
“Perkenalkan kembali. Ibu Nita adalah salah satu pemegang saham terbesar perusahaan ini.”
Ruangan mendadak sunyi.
Luki seperti kehilangan kemampuan bernapas.
“Tidak… tidak mungkin…”
“Selama tiga tahun aku sengaja tidak pernah mencampuri pekerjaanmu,” kataku pelan.
“Aku ingin melihat apakah kau mampu berdiri dengan usahamu sendiri.”
“Ternyata yang tumbuh justru kesombonganmu.”
Luki bangkit berdiri.
“Nita… dengarkan aku dulu.”
“Tidak perlu.”
“Semua ini salah paham.”
“Salah paham?”
Aku mengeluarkan ponsel.
Rekaman suara mulai diputar.
Suara Maya terdengar jelas.
“Besok langsung urus surat-suratnya, ubah nama sertifikat rumah ini jadi namamu.”
Disusul suara Luki.
“Tenang saja, Bu. Setelah promosi, Nita pasti tidak punya pilihan selain menuruti kita.”
Wajah Luki benar-benar pucat.
“Dari mana kamu dapat rekaman itu?”
Aku tidak menjawab.
Sebenarnya sejak setahun lalu aku sudah memasang sistem keamanan baru di rumah.
Semua percakapan di ruang keluarga otomatis tersimpan.
Bukan karena curiga.
Melainkan demi keamanan rumah.
Siapa sangka justru menjadi bukti yang menyelamatkanku.
Direktur utama menarik napas.
“Dengan mempertimbangkan seluruh bukti, perusahaan memutuskan menghentikan kontrak kerja Saudara Luki efektif hari ini.”
“Tidak!”
Luki memukul meja.
“Aku sudah bekerja bertahun-tahun!”
“Prestasi kerja memang penting,” jawab komisaris senior.
“Tetapi karakter jauh lebih penting.”
Dua petugas keamanan kemudian masuk.
Luki masih berusaha menghampiriku.
“Nita… tolong… kita suami istri.”
Aku berdiri.
“Tidak lagi.”
Aku mengeluarkan map terakhir.
“Surat gugatan cerai sudah didaftarkan pagi ini.”
Tangannya terkulai.
Petugas keamanan perlahan membawanya keluar.
Saat pintu tertutup, tidak ada seorang pun di ruangan itu yang berbicara.
Direktur utama akhirnya berkata pelan.
“Maaf karena kami tidak mengetahui masalah pribadi Ibu.”
Aku menggeleng.
“Justru saya yang berterima kasih. Hari ini semuanya selesai.”
Namun ternyata belum.
Sore harinya Maya datang ke hotel.
Ia menangis sejadi-jadinya.
“Nita… Ibu salah.”
Aku menatap wanita yang dulu memohon agar kuanggap seperti ibu sendiri.
Kini tas mewahnya sudah tidak ada.
Perhiasannya juga menghilang.
“Mengapa datang kemari?”
“Tolong cabut gugatan cerainya.”
“Kenapa?”
“Luki kehilangan pekerjaan.”
“Aku tahu.”
“Kami juga sudah diusir dari rumah.”
“Itu rumahku.”
“Kami tidak punya tempat tinggal.”
Aku memandangnya beberapa saat.
“Apa Ibu ingat waktu menyuruhku pindah ke loteng?”
Air matanya berhenti mengalir.
“Aku tidak mengusir kalian tanpa alasan.”
Aku menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat tagihan seluruh biaya hidup mereka selama tiga tahun.
Beserta catatan.
Lunas jika dibayar dalam tiga puluh hari.
Maya gemetar.
“Sebanyak ini?”
“Itu belum termasuk kerusakan rumah.”
Ia terduduk lemas.
Untuk pertama kalinya, kesombongan benar-benar hilang dari wajahnya.
Beberapa bulan kemudian proses perceraian selesai tanpa hambatan.
Uyển meninggalkan Luki bahkan sebelum sidang pertama dimulai.
Begitu tahu Luki kehilangan jabatan dan uang, perempuan itu menghilang tanpa jejak.
Ironisnya, orang yang selama ini rela menghancurkan rumah tangga demi cinta lamanya justru ditinggalkan oleh cinta itu sendiri.
Suatu sore aku kembali ke rumah warisan orang tuaku.
Renovasi telah selesai.
Studio seni di lantai dua kembali seperti dulu.
Lukisan ayah tersusun rapi.
Tanaman kesayangan ibu kembali bermekaran di balkon.
Aku berdiri cukup lama di depan foto kedua orang tuaku.
“Ayah… Ibu… rumah kita aman.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena akhirnya aku berhasil menjaga warisan yang mereka tinggalkan, bukan hanya berupa rumah atau harta, tetapi juga harga diri.
Beberapa minggu kemudian aku mendirikan sebuah yayasan kecil untuk membantu perempuan yang mengalami penelantaran dan kekerasan ekonomi dalam rumah tangga.
Sebagian keuntungan investasiku dialokasikan untuk memberikan bantuan hukum dan pelatihan kerja.
Saat menghadiri peresmian yayasan itu, Danu tersenyum sambil berkata, “Kalau dipikir-pikir, mereka memang mengambil banyak hal darimu.”
Aku mengangguk pelan.
“Benar.”
“Tapi mereka juga memberiku sesuatu.”
“Apa itu?”
“Keberanian untuk berhenti menjadi orang yang terus memaafkan tanpa batas.”
Aku menatap langit Jakarta yang mulai memerah menjelang senja.
Aku akhirnya mengerti satu hal.
Harta memang bisa membuat seseorang merasa berkuasa.
Jabatan bisa membuat seseorang terlihat hebat.
Tetapi semua itu tidak pernah lebih berharga daripada integritas.
Karena ketika keserakahan membuat seseorang lupa siapa yang selama ini menopangnya, kejatuhannya tidak dimulai saat kehilangan uang.
Kejatuhannya dimulai sejak ia kehilangan rasa tahu berterima kasih.
