Tangan Ibu Maryam mendadak terasa dingin ketika ia membuka lipatan surat dari dalam amplop cokelat itu. Jantungnya berdetak begitu keras sampai suara tetesan air dari keran kamar mandi seolah menghilang.
Di bagian paling atas surat tertulis sebuah nama.
Arman Prasetyo.
Ibu Maryam tidak mengenal siapa pun dengan nama itu.

Ia menarik bangku plastik kecil, lalu duduk di bawah cahaya lampu redup sambil membaca tulisan tangan yang mulai memudar.
“Jika seseorang menemukan surat ini, berarti kemungkinan besar saya sudah tidak mampu mengambilnya kembali. Uang di dalam kantong ini bukan hasil kejahatan. Jumlah seluruhnya Rp480.000.000. Saya menyimpannya karena saya tidak lagi percaya kepada orang-orang di sekitar saya.”
Ibu Maryam berhenti membaca.
Empat ratus delapan puluh juta rupiah.
Tangannya langsung menutup mulut.
Selama hidupnya, ia bahkan tidak pernah memegang uang sepuluh juta sekaligus. Uang sebanyak itu bisa membeli rumah sederhana, membiayai kehidupan Fajar bertahun-tahun, bahkan membuatnya berhenti bekerja membersihkan halaman rumah orang.
Namun kalimat berikutnya membuat napasnya tertahan.
“Uang ini adalah bagian yang berhasil saya selamatkan dari penjualan tanah keluarga. Jika saya tidak kembali, tolong cari putri saya, Laras Prasetyo. Jangan serahkan uang ini kepada adik saya, Bima. Laras adalah satu-satunya orang yang berhak menerimanya.”
Di bawah surat terdapat alamat lama di Bandung dan sebuah nomor telepon.
Ibu Maryam menatap tumpukan uang di lantai.
Untuk sesaat, pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan yang selama bertahun-tahun hanya berani ia simpan sebagai mimpi.
Rumah yang tidak bocor ketika hujan.
Kasur baru untuk Fajar.
Sepatu yang layak.
Obat untuk nyeri punggungnya.
Warung kecil agar ia tidak perlu lagi berjalan berkilo-kilometer menjajakan sapu lidi.
Tidak ada seorang pun yang tahu tentang uang itu.
Pedagang di pasar bahkan menjual jaket tersebut hanya seharga tiga puluh ribu rupiah.
Kalau ia diam, mungkin tidak akan pernah ada yang mengetahuinya.
Ibu Maryam memejamkan mata.
Lalu ia teringat Fajar ketika masih kecil.
Suatu hari, Fajar pernah menemukan uang Rp50.000 di depan warung. Saat itu mereka bahkan tidak punya cukup uang untuk membeli beras. Namun Ibu Maryam mengajak Fajar menunggu hampir satu jam sampai pemilik uang kembali mencarinya.
“Kenapa kita nggak ambil saja, Bu?” tanya Fajar kecil waktu itu.
Ibu Maryam menjawab, “Karena miskin itu keadaan, Jar. Bukan alasan untuk mengambil milik orang.”
Kini kalimatnya sendiri seperti kembali menamparnya.
Ia memasukkan uang dan surat itu ke dalam kantong plastik, membungkusnya kembali, lalu menyimpannya di bawah tumpukan pakaian dalam lemari.
Sepanjang malam ia tidak bisa tidur.
Pagi harinya, Fajar melihat jaket cokelat yang sudah dijemur di depan rumah.
“Ini buat aku?”
Wajah pemuda itu langsung berbinar.
Ibu Maryam tersenyum.
“Iya. Bekas, tapi masih tebal. Ibu dapat murah.”
Fajar memeluk ibunya tanpa malu.
“Kenapa Ibu selalu beli sesuatu buat aku? Sandal Ibu sendiri sudah hampir putus.”
“Kalau kamu kedinginan di sana, Ibu malah nggak bisa tidur.”
Fajar tertawa kecil. Ia tidak mengetahui bahwa beberapa meter dari tempatnya berdiri, tersimpan uang hampir setengah miliar rupiah.
Setelah Fajar berangkat mengurus dokumen kampus, Ibu Maryam mencoba menghubungi nomor dalam surat.
Tidak aktif.
Ia mencoba lagi beberapa kali. Hasilnya sama.
Akhirnya, dengan uang tabungan seadanya, ia naik angkot menuju sebuah warnet kecil. Pemilik warnet membantu mencari nama Arman Prasetyo di internet.
Hasil pencarian membuat Ibu Maryam semakin gelisah.
Ada berita lama dari sekitar tiga tahun sebelumnya.
Seorang pengusaha distribusi hasil pertanian bernama Arman Prasetyo dilaporkan hilang saat melakukan perjalanan menuju kawasan pegunungan di Jawa Barat. Mobilnya ditemukan rusak di pinggir jurang setelah hujan deras.
Tubuh Arman tidak pernah ditemukan.
Ibu Maryam merinding.
Foto dalam berita memperlihatkan seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun mengenakan jaket gunung cokelat.
Jaket yang sama.
Ia segera menuliskan alamat yang tercantum dalam surat dan memutuskan mencarinya.
Dua hari kemudian, setelah memastikan seluruh persiapan keberangkatan Fajar selesai, Ibu Maryam pergi ke Bandung menggunakan bus ekonomi.
Perjalanan panjang itu melelahkan.
Alamat tersebut membawanya ke sebuah rumah besar yang terlihat lama tidak dihuni. Cat pagar mengelupas dan halaman dipenuhi rumput liar.
Seorang tetangga tua memperhatikannya.
“Mencari siapa, Bu?”
“Pak Arman Prasetyo.”
Wajah lelaki tua itu berubah.
“Pak Arman sudah hilang bertahun-tahun.”
“Saya mencari anaknya. Laras.”
Lelaki itu terdiam sejenak.
“Laras sudah tidak tinggal di sini. Setelah bapaknya hilang, rumah dan bisnis keluarga bermasalah. Katanya ada sengketa dengan pamannya.”
“Bapak tahu dia sekarang di mana?”
“Terakhir saya dengar bekerja di rumah sakit. Tapi saya tidak tahu rumah sakit mana.”
Sebelum Ibu Maryam pergi, lelaki itu tiba-tiba berkata, “Kalau ada orang bernama Bima yang tahu Ibu mencari Laras, hati-hati.”
Ucapan itu terus terngiang di kepala Ibu Maryam.
Pencarian berlangsung hampir seminggu.
Dengan bantuan seorang mahasiswa yang ia temui di warung makan, akhirnya Ibu Maryam menemukan seorang Laras Prasetyo yang bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah rumah sakit swasta.
Ketika mereka bertemu, Ibu Maryam sempat ragu.
Laras tidak tampak seperti anak seorang pengusaha kaya. Perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun itu mengenakan seragam sederhana dan membawa bekal dari rumah.
“Maaf, Mbak Laras. Ayah Mbak bernama Arman?”
Laras langsung menegang.
“Iya. Ibu siapa?”
“Saya Maryam.”
“Kenal Ayah saya?”
Ibu Maryam tidak langsung menjawab.
“Saya menemukan sesuatu milik beliau.”
Wajah Laras memucat.
Mereka pergi ke sebuah kedai kopi kecil di seberang rumah sakit. Di sana Ibu Maryam menceritakan semuanya, tetapi sengaja tidak menyebut jumlah uang.
Saat mendengar tentang jaket cokelat, mata Laras berkaca-kaca.
“Ayah memang punya jaket itu.”
Ia membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto lama.
Arman berdiri di depan mobil sambil mengenakan jaket cokelat yang sama.
Air mata Laras jatuh.
“Itu jaket favorit Ayah.”
Ibu Maryam kemudian menyerahkan salinan surat yang sudah ia buat sebelumnya.
Laras membacanya sambil menangis.
Namun ketika melihat nama Bima, ekspresinya berubah.
“Paman Bima selama ini bilang Ayah membawa kabur uang perusahaan.”
Ibu Maryam terdiam.
Laras kemudian menceritakan apa yang terjadi setelah ayahnya menghilang.
Menurut Bima, Arman terlilit utang dan melarikan diri membawa uang perusahaan. Karena tidak ada bukti lain, keluarga mempercayainya. Bima mengambil alih perusahaan, sementara aset Arman perlahan habis untuk membayar utang yang ternyata sebagian besar tidak pernah diketahui Laras sebelumnya.
“Jadi selama tiga tahun saya percaya Ayah meninggalkan saya,” kata Laras dengan suara pecah.
Ibu Maryam menggenggam tangannya.
“Kadang orang yang tidak bisa pulang dianggap sengaja pergi.”
Mereka sepakat menemui polisi.
Namun sebelum itu terjadi, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Malam ketika Ibu Maryam pulang ke kontrakannya, pintu rumahnya terbuka.
Lemari berantakan.
Kasur dibalik.
Pakaian berserakan.
Kantong berisi uang itu hilang.
“Bu!”
Fajar berlari dari rumah tetangga.
Ibu Maryam langsung memeluknya.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Aku tadi pulang, rumah sudah begini.”
Ibu Maryam hampir roboh.
Tidak banyak orang tahu mengenai uang tersebut.
Hanya Laras.
Dan mahasiswa yang membantu pencarian hanya mengetahui bahwa Ibu Maryam mencari seseorang.
Apakah Laras mengkhianatinya?
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, sebuah mobil hitam berhenti di depan gang.
Seorang pria berpakaian rapi turun bersama dua lelaki bertubuh besar.
“Ibu Maryam?”
“Siapa?”
“Saya Bima Prasetyo.”
Darah Ibu Maryam seakan berhenti mengalir.
Bima tersenyum tipis.
“Sepertinya Ibu menemukan barang milik keluarga kami.”
“Bagaimana Bapak tahu?”
“Bandung tidak sebesar yang Ibu kira.”
Bima melirik rumah yang berantakan.
“Sayang sekali ada pencuri masuk.”
Ibu Maryam memahami ancaman terselubung itu.
“Kalau uang itu yang Bapak cari, sudah tidak ada.”
Bima mendekat.
“Suratnya?”
“Juga tidak ada.”
Bima menatapnya lama sebelum tersenyum.
“Bagus. Berarti masalah selesai.”
Ia masuk kembali ke mobil.
Tetapi sebelum pergi, ia berkata, “Nasihat saya, Bu, urus saja anak Ibu. Jangan ikut campur urusan keluarga orang kaya.”
Fajar yang mendengar semuanya menatap ibunya dengan bingung.
Setelah mobil pergi, Ibu Maryam mengunci pintu.
Kemudian ia berjalan ke dapur dan mengambil sebuah kaleng bekas biskuit dari atas lemari.
Dari dalamnya ia mengeluarkan amplop plastik kecil.
Surat asli Arman masih ada.
Ibu Maryam ternyata tidak pernah menyimpannya bersama uang.
“Ibu sudah curiga sejak awal,” katanya.
Fajar terdiam mendengar seluruh cerita.
Bukannya marah karena ibunya tidak mengambil uang itu untuk mereka, Fajar justru berkata, “Kita harus lapor polisi, Bu.”
Malam itu juga mereka menghubungi Laras.
Ternyata Laras pun baru saja mengalami teror. Seseorang membuntutinya sepulang kerja.
Keesokan harinya mereka membuat laporan.
Surat Arman menjadi petunjuk penting. Polisi kemudian menelusuri kembali kasus hilangnya Arman, termasuk transaksi perusahaan sebelum ia menghilang.
Beberapa minggu berikutnya membuka rahasia yang jauh lebih besar daripada uang dalam jaket.
Penyelidikan menemukan indikasi bahwa Bima telah memalsukan sejumlah dokumen utang perusahaan dan memindahkan aset secara bertahap. Arman mengetahuinya dan berencana melaporkan adiknya.
Pada hari Arman menghilang, ia membawa uang tunai hasil penjualan salah satu tanah pribadinya.
Namun ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Siapa yang mengambil uang dari rumah Ibu Maryam?
Jawabannya datang dari kamera CCTV sebuah toko di ujung gang.
Rekaman memperlihatkan dua pria masuk ke rumah kontrakan beberapa jam sebelum Bima datang.
Polisi melacak mereka.
Salah satu akhirnya mengaku bahwa mereka dibayar oleh orang suruhan Bima.
Uang Rp480 juta itu berhasil ditemukan di sebuah rumah kosong sebelum sempat dipindahkan.
Bima ditangkap.
Tetapi kejutan terbesar muncul ketika penyelidikan lama mengenai kecelakaan Arman dibuka kembali.
Mobil Arman ternyata tidak jatuh ke jurang karena kecelakaan biasa. Ada indikasi sistem rem sengaja dirusak.
Arman diduga selamat dari mobil yang tergelincir dan berjalan mencari pertolongan, tetapi kemudian hilang di kawasan hutan.
Beberapa bulan setelah penyelidikan dibuka kembali, tim pencarian menemukan sisa barang pribadi di lereng yang jauh dari lokasi mobil.
Jam tangan.
Dompet.
Dan cincin kawin milik Arman.
Laras akhirnya menerima kenyataan bahwa ayahnya kemungkinan besar meninggal dalam perjalanan mencari pertolongan.
Namun setidaknya ia tahu satu hal.
Ayahnya tidak pernah meninggalkannya.
Setelah proses hukum selesai, uang Rp480 juta dikembalikan kepada Laras sebagai ahli waris.
Pada hari uang itu diserahkan, Laras mendatangi rumah Ibu Maryam.
Ia membawa sebuah amplop.
“Saya ingin Ibu menerima ini.”
Ibu Maryam menggeleng.
“Tidak.”
“Ibu bahkan bisa mengambil semuanya waktu itu.”
“Itu uang ayahmu.”
“Justru karena itu saya ingin membaginya.”
Ibu Maryam tetap menolak.
Laras akhirnya menangis.
“Kalau begitu izinkan saya melakukan satu hal.”
Beberapa minggu kemudian, Fajar berangkat kuliah.
Ia mengenakan jaket cokelat yang sudah dicuci bersih dan dijahit kembali oleh ibunya.
Sebelum naik bus, ia memeluk Ibu Maryam erat.
“Ibu yakin nggak ikut?”
“Ibu nanti menangis terus di jalan.”
Fajar tertawa.
Saat bus pergi, Ibu Maryam berdiri cukup lama di terminal.
Ia tidak mengetahui bahwa Laras sudah menghubungi pihak universitas.
Beberapa hari setelah Fajar tiba di kampus, ia dipanggil bagian kemahasiswaan.
Ada sebuah program bantuan baru untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Biaya hidup, buku, laptop, dan kebutuhan pendukung pendidikan Fajar akan ditanggung sampai lulus.
Nama program itu membuat Fajar terdiam.
Beasiswa Arman Prasetyo.
Laras menggunakan sebagian uang warisan ayahnya untuk membentuk dana pendidikan kecil.
Fajar menjadi penerima pertama.
Namun kejutan belum berhenti.
Enam bulan kemudian, Laras datang menemui Ibu Maryam dan membawanya ke sebuah kios sederhana di dekat pasar.
Di atas pintunya terpasang papan kecil bertuliskan “Kerajinan Maryam”.
“Ini bukan hadiah,” kata Laras sebelum Ibu Maryam sempat menolak. “Saya investasi. Ibu membuat sapu dan keset. Saya bantu tempat dan modal. Keuntungannya tetap milik Ibu setelah modal kembali.”
Ibu Maryam tidak mampu berkata apa-apa.
Ia hanya menangis sambil memeluk Laras.
Tiga tahun berlalu.
Usaha kecil itu berkembang. Ibu Maryam mempekerjakan beberapa janda dari lingkungan sekitar untuk membuat keset dan kerajinan rumah tangga.
Suatu malam, Fajar pulang dari kampus untuk liburan.
Jaket cokelat itu masih dikenakannya.
Warnanya sudah sedikit pudar, tetapi kondisinya tetap baik.
“Ibu tahu nggak,” katanya sambil duduk di teras, “teman-teman sering tanya kenapa aku nggak beli jaket baru.”
“Terus kamu jawab apa?”
Fajar tersenyum.
“Aku bilang, jaket ini lebih mahal dari jaket mana pun.”
Ibu Maryam tertawa.
“Padahal cuma tiga puluh ribu.”
“Bukan soal harganya.”
Fajar menatap jaket itu.
“Kalau Ibu waktu itu memilih mengambil uangnya, mungkin hidup kita langsung berubah. Tapi karena Ibu memilih mengembalikannya, hidup banyak orang ikut berubah.”
Ibu Maryam terdiam.
Di dalam kios, terdengar suara beberapa perempuan bercanda sambil menyelesaikan pesanan keset. Di meja Fajar terdapat laptop dari beasiswa yang dibentuk Laras. Dan di sebuah rumah sederhana di Bandung, Laras akhirnya bisa mengenang ayahnya tanpa lagi merasa ditinggalkan.
Ibu Maryam memandang telapak tangannya yang kasar.
Bertahun-tahun ia mengira kemiskinan adalah ujian terberat dalam hidupnya.
Ternyata bukan.
Ujian terberat datang ketika jalan keluar dari kemiskinan berada tepat di depan mata, tetapi jalan itu mengharuskannya mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Dan malam ketika ia menemukan Rp480 juta di dalam jaket bekas seharga Rp30.000, Ibu Maryam sebenarnya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.
Ia menemukan bukti bahwa harga diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh isi dompetnya.
Sebab uang yang ditemukan malam itu akhirnya habis digunakan untuk berbagai kebutuhan dan pendidikan.
Tetapi satu keputusan jujur dari seorang ibu miskin terus hidup, berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya, bahkan setelah jaket cokelat tua itu tak lagi cukup hangat untuk dipakai.
