MANTAN SUAMIKU MENGANGKAT GELASNYA DI PERNIKAHANNYA DAN BERKATA BAHWA

Suasana di dalam ruangan itu seolah membeku. Para penjaga keamanan hotel yang tadi diperintahkan Ethan untuk mengusir kami justru berdiri mematung, keringat dingin membasahi dahi mereka. Mereka tidak berani bergerak satu inci pun karena pria di sampingku adalah Aris Wijaya, pemilik tunggal Wijaya Global Conglomerate, orang yang menandatangani kontrak eksklusif yang selama ini menghidupi perusahaan tempat Ethan bekerja.

Ayahku, Aris, melangkah maju. Langkah kakinya berat, penuh otoritas, dan sepi. Tidak ada suara musik, tidak ada bisikan. Hanya suara ketukan sepatu kulit mahalnya yang memecah kesunyian.

“Ethan,” suara Ayah rendah, namun bergetar di setiap sudut ruangan. “Apakah kamu baru saja menyebut putriku sebagai ‘beban’ dan cucuku sebagai ‘anak yang berisik’?”

Wajah Ethan yang tadinya merah padam karena amarah, kini berubah pucat pasi seperti kertas. Matanya terbelalak, menatap Ayahku dengan ketidakpercayaan yang menyakitkan. Dia baru menyadari bahwa selama lima tahun pernikahan kami, aku menyembunyikan identitas keluargaku rapat-rapat karena aku ingin Ethan mencintaiku apa adanya, bukan karena kekayaan ayahku. Dan selama ini, Ethan mengira dia sukses berkat kerja kerasnya sendiri, padahal dia hanyalah karyawan kelas menengah yang hidup dari proyek-proyek yang disetujui langsung oleh perusahaan milik ayahku.

“Pak… Pak Aris?” suara Ethan bergetar hebat. Mikrofon yang dia pegang hampir jatuh dari tangannya yang gemetar. “Ini… ini pasti ada kesalahpahaman. Saya… saya hanya…”

“Kesalahpahaman?” potongku dingin. Aku melepaskan tangan Toby dan berjalan mendekati panggung. “Ethan, kamu membangun kariermu di atas punggungku. Kamu menikmati gaji tinggi, bonus, dan koneksi yang kudapatkan dari Ayah tanpa kamu tahu siapa di balik layar itu. Dan hari ini, saat kamu merasa sudah ‘terbebas’, kamu justru membakar jembatanmu sendiri.”

Chloe, istri baru Ethan, mencoba memegang lengan Ethan, namun Ethan menepisnya dengan kasar. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis pria itu.

“Tuan Aris, tolong… saya bisa jelaskan,” Ethan mulai memohon, kehilangan harga dirinya di depan ratusan tamu undangan penting yang kini menatapnya dengan pandangan merendahkan.

Ayahku tidak membuang waktu. Dia mengangkat tangannya, dan asisten pribadinya segera menyerahkan sebuah map tipis. “Ethan, perusahaanmu baru saja menyatakan kebangkrutan teknis. Dan proyek yang kamu banggakan malam ini? Aku baru saja memerintahkan dewan direksi untuk menarik seluruh pendanaan dari kontrak tersebut. Mulai detik ini, kamu bukan lagi bagian dari industri ini.”

Keheningan kembali menyergap. Chloe, yang tadinya menatap Ethan dengan penuh kasih, kini menatapnya dengan kebencian. Dia menikahi Ethan karena reputasinya sebagai eksekutif muda yang menjanjikan. Jika Ethan bangkrut dan diblacklist oleh keluarga Wijaya, Ethan tidak ada artinya baginya.

Namun, di tengah drama kehancuran Ethan, aku merasakan tarikan kecil di tanganku. Toby menatapku dengan mata polosnya. “Mama, apakah sekarang kita bisa pulang? Toby lapar.”

Aku tersenyum pada putraku. “Tentu, sayang.”

Namun, saat kami berbalik untuk pergi, sebuah suara mengejutkan menghentikan langkah kami. Itu adalah suara tertawa kecil—bukan dari Ethan, bukan dari Chloe, melainkan dari sudut ruangan.

Seorang pria muda berpakaian tuksedo hitam pekat melangkah keluar dari bayang-bayang pilar besar. Dia adalah Adrian, saingan bisnis terbesar ayahku sekaligus pria yang selama ini diam-diam memata-matai hidupku sejak perceraianku.

“Luar biasa, Tuan Aris,” kata Adrian sambil bertepuk tangan pelan. “Anda memang hebat dalam menghancurkan bidak catur yang tidak berguna. Tapi, apakah Anda benar-benar berpikir bahwa Ethan adalah satu-satunya orang yang terlibat dalam skema ini?”

Ayahku mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?”

Adrian berjalan mendekat, mengeluarkan sebuah dokumen dari saku jasnya. “Ethan hanyalah pion. Dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa seseorang di dalam internal Wijaya Global sengaja memanipulasi kontrak agar Ethan terlihat sukses, tujuannya hanya satu: untuk membuat Clara merasa tidak berharga, terisolasi, dan akhirnya bercerai. Begitu Clara bercerai, dia akan menjadi sasaran empuk untuk pengambilalihan aset keluarga Wijaya.”

Mataku membulat. “Siapa pelakunya?”

Adrian menatap langsung ke mataku. “Itu adalah kakak tirimu, Leon.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Leon? Kakak yang selama ini begitu baik, yang selalu menemaniku saat Ethan menelantarkanku? Dia adalah orang yang selalu memberiku saran untuk “bersabar” dan “menerima keadaan” saat aku berada di titik terendah?

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk: > “Terima kasih sudah membawa Toby ke depan umum, Clara. Sekarang, seluruh dunia tahu siapa kamu, dan itu mempermudah rencanaku untuk mengambil alih warisan ayahmu. Ethan hanyalah tumbal. Sampai jumpa di pengadilan besok.”

Aku menoleh ke arah Ayah. Wajah Ayah yang tadinya penuh kemenangan kini dipenuhi rasa sakit yang mendalam. Pengkhianatan dari dalam keluarga sendiri jauh lebih pedih daripada pengkhianatan mantan suami.

Ethan, yang sudah hancur lebur di panggung, tertawa histeris. “Jadi… aku hanya alat? Aku kehilangan segalanya hanya untuk permainan internal kalian? Hahahaha!”

Aku menatap Ethan yang kini terlihat sangat menyedihkan, lalu menatap pintu keluar. Hari ini bukan tentang kemenangan atas Ethan. Hari ini adalah awal dari perang yang jauh lebih besar. Aku menunduk menatap Toby yang masih menggenggam erat tanganku.

“Toby, ayo pergi,” bisikku. “Petualangan kita baru saja dimulai.”

Aku melangkah keluar dari ballroom itu dengan kepala tegak. Di belakangku, aku bisa mendengar suara keributan, suara teriakan Chloe yang mencampakkan Ethan, dan suara perdebatan sengit antara Ayah dan orang-orang kepercayaannya.

Di luar, mobil mewah sudah menunggu. Namun, saat aku masuk ke dalam, aku menyadari sesuatu yang janggal. Sopir yang menjemputku bukanlah orang yang biasa. Dia menoleh, dan senyumnya sangat asing.

“Nyonya, perintah Tuan Leon, kita langsung menuju bandara,” katanya.

Aku membeku. Leon tidak membuang waktu. Dia tidak menunggu besok. Di tengah kemewahan pernikahanku yang gagal—bukan, pernikahanku yang sudah berakhir—aku justru terjebak dalam perangkap yang jauh lebih berbahaya.

Aku memeluk Toby erat, menutup matanya agar dia tidak melihat pistol yang kini diarahkan oleh sopir itu ke kursi belakang.

“Jangan takut, sayang,” bisikku di telinganya, meski hatiku sendiri gemetar. “Mama tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu.”

Ternyata, musuh terbesarku bukanlah mantan suami yang egois, melainkan orang yang selama ini memegang tanganku di setiap masa sulitku. Dan dengan satu gerakan cepat, aku menarik rem darurat mobil itu, membuat kendaraan itu oleng hebat di tengah malam yang gelap.

Pertarungan baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak akan lagi menjadi istri yang lemah. Aku akan menjadi badai yang menghancurkan siapa pun yang berani mengusik hidupku dan anakku.

Apakah kamu ingin tahu bagaimana aku meloloskan diri dari jebakan Leon di dalam mobil itu?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang