Suami saya pergi meninggalkan saya untuk bersama selingkuhannya… jadi, dengan tenang saya

Suasana di dalam kondominium mewah itu mendadak terasa mencekam. Bianca, wanita yang sebelumnya tampak begitu percaya diri dengan gaun sutranya, kini tampak seperti patung yang kehilangan jiwanya. Ia menatap tumpukan tas medis di atas meja marmernya dengan ngeri, seolah-olah itu adalah bom waktu yang siap meledak.

Adrian menatap saya, matanya membelalak, napasnya memburu. Dia mencoba meraih bahu saya, tapi saya melangkah mundur dengan keanggunan yang tidak pernah saya sadari saya miliki.

“Jangan sentuh aku, Adrian,” kata saya pelan. Suara saya tidak bergetar. “Selama tujuh tahun, kamu membiarkan aku terikat pada tanggung jawab yang bukan milikku. Sekarang, aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak milikmu.”

Adrian menelan ludah, suaranya parau. “Kamu tidak bisa melakukan ini. Aku… aku punya pekerjaan. Bianca tidak tahu cara merawat orang sakit. Ini tidak adil!”

Saya tertawa kecil. Tawa yang kering, pendek, dan dingin.

“Adil? Apakah adil saat aku harus mengorbankan masa mudaku, impianku, dan kewarasanku untuk menuruti ego ibumu yang bahkan tidak menyukaiku? Apakah adil saat kamu tidur dengan wanita ini sementara aku terjaga sepanjang malam membasuh kotoran ibumu?”

Saya mendekati Adrian, berbisik tepat di telinganya, kalimat yang membuat wajahnya pucat pasi:

“Nikmati hari-harimu, Adrian. Karena yang ada di kursi roda itu bukan lagi satu-satunya beban yang akan kamu tanggung. Aku sudah memastikan semua surat utang atas nama ibumu, cicilan rumah yang belum lunas, dan biaya pengobatan yang menunggak selama enam bulan terakhir kini terhubung langsung dengan rekening bank pribadimu. Selamat datang di kehidupan nyata.”

Adrian membeku. Matanya melebar, seolah baru saja tersambar petir. Dia tahu betul, sebagai seorang akuntan yang sangat teliti, saya telah menyusun perangkap ini jauh sebelum dia memutuskan untuk pergi.

Saya berbalik, melangkah menuju pintu.

“Tunggu!” teriak Bianca, suaranya melengking tinggi. “Kau tidak bisa pergi begitu saja! Dia ibumu! Kau menantu yang harus bertanggung jawab!”

Saya berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa menatap mereka.

“Oh, Bianca,” kataku dengan nada manis yang memuakkan. “Aku bukan lagi menantunya. Aku sudah memproses surat cerai kita secara legal tiga hari yang lalu, dan hakim telah memberikan putusan secara in absentia karena kamu tidak pernah muncul. Aku bukan siapa-siapa lagi bagi keluarga ini.”

Saya menutup pintu kondominium itu dengan dentuman yang tenang namun tegas.

Di luar, udara malam BGC terasa begitu segar. Saya menarik napas panjang, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, paru-paru saya terasa terisi penuh. Saya berjalan menuju mobil saya, mengeluarkan kunci, dan membuang cincin pernikahan saya ke selokan.

Namun, drama itu belum usai.

Dua bulan kemudian, saya menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Suara di seberang sana sangat lemah, hampir seperti bisikan. Itu adalah Aling Cora.

“Terima kasih,” bisiknya.

Saya mengerutkan kening. “Maaf, siapa ini?”

“Ini aku, Cora. Adrian… dia sudah pergi.”

Dunia saya sejenak berhenti. “Apa maksud Ibu?”

“Bianca tidak tahan. Dia pergi setelah dua minggu. Adrian mencoba mencari pengasuh, tapi dia tidak punya uang. Dia menjual kondominium itu untuk membayar utang-utang yang kamu tinggalkan padanya. Sekarang dia hidup di kontrakan kumuh, bekerja sebagai pengemudi ojek, dan dia…” Cora terisak. “Dia membawa pergi uang tabunganku satu-satunya. Dia meninggalkanku di panti jompo pemerintah pagi ini. Aku sendirian, Nak.”

Saya terdiam lama. Kebencian yang saya simpan selama bertahun-tahun seolah menguap, digantikan oleh kekosongan yang aneh.

“Mengapa Ibu menelepon saya?” tanya saya dingin.

“Karena aku tahu kamu satu-satunya orang yang memiliki cadangan kunci rumah kita yang lama di Project 8. Aku tahu kamu tidak menjual rumah itu. Bisakah… bisakah kamu mengunjungiku?”

Saya tidak menjawab. Saya menutup telepon itu.

Namun, kenyataan yang tidak bisa saya duga adalah ini: Saat saya melewati bekas rumah kami di Project 8 sore itu untuk sekadar memastikan semuanya aman sebelum saya jual, saya melihat sesuatu yang membuat darah saya mendidih sekaligus terkekeh.

Di depan teras, Adrian duduk di sana, tampak lusuh, kotor, dan hancur. Dia tampak menunggu saya. Saat dia melihat mobil saya, dia berlutut, mencoba merangkak ke arah saya, memohon belas kasihan.

“Tolong aku,” rintihnya. “Aku kehilangan segalanya. Bianca menguras hartaku dan pergi dengan pria lain. Aku tidak punya apa-apa lagi.”

Saya keluar dari mobil, mengenakan kacamata hitam, menatapnya dengan tatapan meremehkan yang sama sekali tidak dia harapkan dari wanita yang dulu selalu ia remehkan.

“Adrian,” saya berjongkok di depannya, menepuk pipinya dengan lembut—sebuah gerakan yang sangat menghina. “Kamu pikir aku meninggalkanmu begitu saja karena aku marah?”

Saya mengeluarkan sebuah amplop dari tas saya dan melemparkannya ke tanah.

“Aku meninggalkanmu karena aku mendapatkan tawaran pekerjaan di luar negeri yang sudah aku incar selama empat tahun, tapi tidak bisa kucapai karena terikat oleh beban yang kamu berikan padaku. Aku sudah pindah ke Singapura besok pagi.”

Adrian menatap amplop itu—tiket pesawat dan kontrak kerja—dengan tatapan kosong.

“Dan tentang ibumu?” tanya Adrian parau.

Saya berdiri, merapikan baju saya. “Aku sudah membayar lunas biaya panti jompo itu selama lima tahun ke depan. Itu adalah satu-satunya bentuk kasih sayang yang tersisa untuk wanita yang dulu selalu membenciku. Kamu? Kamu tidak berhak atas apa pun.”

Saya masuk kembali ke mobil, menyalakan mesin, dan meninggalkan pria itu di tengah hujan yang mulai turun di Quezon City.

Ternyata, musuh terbesar kita bukanlah orang yang menyakiti kita, melainkan ketakutan kita sendiri untuk memutus rantai yang menjerat leher kita. Saya tidak hanya membalas dendam; saya membebaskan diri saya untuk menjadi seseorang yang bahkan tidak pernah saya bayangkan.

Satu hal yang tidak pernah Adrian tahu: Saya tidak pernah benar-benar mencintainya. Pernikahan itu hanyalah sebuah ujian kesabaran yang saya menangkan dengan telak. Dan sekarang, hidup saya baru saja dimulai.

Saat mobil saya melaju kencang meninggalkan jalanan itu, saya tidak menoleh ke belakang. Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terlihat seperti beban, melainkan sebuah kanvas kosong yang siap saya lukis dengan warna-warna yang saya pilih sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang