TIBA-TIBA BIBIKU MENGIRIMIKU SEPEDA MOTOR BARU SETELAH DELAPAN TAHUN TANPA KABAR.

Mataku terpaku pada layar ponsel Joshua. Jantungku berdegup kencang, nyaris melompat keluar dari dadanya. Di sana, tertulis dengan jelas: Pemilik Properti: Yayasan Amal “Binar Kasih”.

Aku membeli apartemen ini tiga tahun lalu. Aku mencicilnya dengan keringat, darah, dan air mata. Aku mengira ini adalah rumahku. Namun, di layar itu, tertulis bahwa aku hanyalah penyewa—bahkan bukan penyewa, melainkan seorang “penghuni titipan” yang masa kontraknya telah habis tepat hari ini.

“Kenapa diam, Kak?” Joshua menyeringai ke arah kamera, lalu menoleh padaku dengan tatapan meremehkan. “Tadi Bibi bilang, dia sudah mengurus semuanya. Apartemen ini sekarang menjadi fasilitas untuk yayasan kami. Dan karena yayasan kami memutuskan untuk menggunakan tempat ini sebagai kantor cabang, kamu harus keluar sekarang juga.”

Bibi Lourdes menghapus air mata buaya yang tadi dia pamerkan. Wajahnya berubah drastis menjadi dingin dan penuh kalkulasi. “Angela, kami tidak datang untuk berdebat. Kami datang untuk mengambil apa yang menjadi hak keluarga.”

“Apa maksud kalian?” suaraku bergetar, tapi aku berusaha tetap tegak. “Aku yang membayar cicilannya! Semua bukti transfer ada padaku!”

Paman Ramon tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggema di lorong apartemen, membuat beberapa tetangga mundur dengan tatapan tidak nyaman. “Bukti transfer? Kamu mengirim uang ke rekening atas nama mendiang ibumu, bukan? Rekening yang dikelola oleh wali sahnya saat itu… yaitu aku.”

Dunia terasa berputar. Dulu, saat ibu sakit, Paman Ramon menawarkan diri untuk mengelola keuangan ibu agar “lebih teratur”. Aku tidak pernah curiga. Aku mengirimkan uang tabunganku ke sana untuk dicicilkan ke apartemen ini. Ternyata, dia menggunakan uangku untuk membeli properti ini atas nama yayasan fiktif mereka sendiri.

“Kalian merencanakan ini sejak delapan tahun lalu?” bisikku, hampir tidak percaya.

“Kami tidak sebodoh itu,” sahut Joshua sambil terus merekam. “Kami hanya menunggu sampai apartemen ini naik nilainya berlipat ganda karena renovasi kawasan ini. Dan sekarang, setelah waktunya pas, kami akan mengusirmu, menjual aset ini dengan harga miliaran, dan menyalahkanmu di depan publik agar tidak ada yang curiga saat kamu berakhir di jalanan.”

Bibi Lourdes melangkah maju, berbisik di telingaku, “Motor itu adalah jebakan terakhir. Kalau kamu menerimanya, kamu akan terikat hutang piutang denganku secara hukum. Kami akan menjebakmu dengan pasal penggelapan aset perusahaan jika kamu menolak membayar cicilannya nanti. Tapi untungnya, kamu menolak. Yah, tidak apa-apa. Pengusiranmu pun sudah cukup untuk menghancurkan reputasimu di sini.”

Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Ada alasan kenapa aku menolak motor itu selain karena firasat buruk.

Aku mengeluarkan ponselku dan menyalakan perekam suara yang memang sudah aktif sejak aku membuka pintu tadi. “Paman, Bibi, Joshua. Sepertinya kalian lupa satu hal,” kataku dengan nada datar yang mengejutkan diriku sendiri.

“Apa?” tanya Joshua sinis.

“Kalian terlalu sibuk dengan siaran langsung kalian, sampai kalian tidak sadar kalau kamera CCTV di lorong ini baru saja diperbarui dua hari lalu oleh pengelola apartemen. Dan sistem keamanan ini sekarang terhubung langsung ke server polisi karena adanya laporan tindak penipuan properti di gedung ini sejak bulan lalu.”

Wajah mereka bertiga pucat pasi.

“Oh, dan satu lagi,” lanjutku, melangkah maju ke arah Joshua, tepat di depan kameranya. “Terima kasih sudah melakukan siaran langsung. Pengakuan kalian tentang penggelapan uang, pemalsuan dokumen atas nama yayasan, dan rencana pengusiran paksa ini baru saja disaksikan oleh ribuan orang, termasuk petugas kepolisian yang sejak tadi aku hubungi lewat pesan singkat di grup lingkungan.”

Tiba-tiba, sirene polisi terdengar dari lantai bawah, memecah kesunyian pagi.

“Tidak mungkin!” teriak Paman Ramon. Dia mencoba merebut ponsel Joshua, tapi terlambat. Joshua sudah panik dan menjatuhkan ponselnya, namun siaran langsung itu sudah tersimpan otomatis di cloud.

Petugas keamanan apartemen muncul dari tangga darurat, diikuti oleh dua petugas kepolisian berpakaian seragam.

“Lourdes, Ramon, Joshua,” salah satu polisi berkata tegas. “Kami sudah memantau yayasan kalian selama berbulan-bulan karena laporan pencucian uang. Terima kasih sudah menyerahkan diri dengan cara yang sangat… terbuka.”

Dalam hitungan menit, mereka diseret keluar. Bibi Lourdes menjerit-jerit, menyumpahiku, sementara Joshua hanya bisa terdiam dengan wajah ketakutan saat tangannya diborgol.

Setelah lorong kembali sepi, aku terduduk di lantai, masih gemetar. Aku menatap ponselku. Siaran langsung itu telah berakhir, namun di kolom komentar, banyak orang yang ternyata adalah pengacara dan aktivis hak konsumen menawarkan bantuan hukum secara gratis karena mereka telah merekam seluruh pengakuan keluarga itu.

Aku tidak hanya menyelamatkan diriku dari motor itu. Aku baru saja memenangkan perang yang tidak pernah kuketahui sedang berlangsung.

Aku berdiri, mengambil kunci apartemenku, dan masuk ke dalam. Aku menutup pintu, menguncinya rapat-rapat, dan untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, aku merasa benar-benar aman.

Ternyata, terkadang, intuisi untuk menolak sesuatu yang terasa “terlalu bagus” bukanlah sebuah kekhawatiran yang sia-sia—itu adalah naluri yang menyelamatkan nyawa. Dan sekarang, aku tahu persis apa yang harus kulakukan dengan hidupku: aku tidak lagi berhutang pada siapa pun, terutama pada mereka yang menyebut diri mereka keluarga, namun hanya melihatku sebagai pion dalam permainan kotor mereka.

Esok adalah awal yang baru. Dan kali ini, tidak ada lagi yang bisa mengambil rumahku.

Menurutmu, setelah kejadian ini, apakah Angela harus menempuh jalur hukum lebih lanjut untuk mendapatkan kompensasi penuh atas uang yang telah dicuri keluarganya selama ini, atau apakah dia sudah cukup puas dengan kemenangan kecil namun telak ini?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang