BAGIAN 2
Suasana di halaman seketika berubah. Senyum kemanangan di wajah Sofia yang tadinya begitu manis, perlahan memudar melihat ketenanganku. Rafael menatapku dengan curiga, sementara Corazon menyilangkan tangan di dada, menunggu aku menyerah.
“Tanda tangan ini?” tanyaku sambil menunjuk map di meja. “Kau benar-benar berusaha keras untuk meniru lekukannya, Rafael. Tapi kau lupa satu hal. Sejak kasus peretasan data tahun lalu, aku sudah mendaftarkan digital signature khusus di bank. Tanda tangan basah di kertas ini tidak berarti apa-apa tanpa verifikasi biometrikku.”
Wajah Rafael pucat pasi. “Apa maksudmu?”
“Maksudku,” aku berdiri tegak, memandang mereka satu per satu dengan tatapan yang membuat mereka tidak nyaman, “bahwa tiga truk yang kau jaminkan pagi ini untuk membiayai pesta sampah ini, akan ditarik oleh bank dalam waktu kurang dari satu jam.”

Sofia terperangah. Dia melepaskan rangkulannya dari lengan Rafael. “Raf? Apa maksudnya? Katamu truk itu sudah aman!”
“Diam!” bentak Rafael, lalu menoleh padaku dengan mata yang membelalak marah. “Mara, jangan main-main! Tanpa truk itu, pengiriman vaksin minggu depan tidak bisa dilakukan! Kau akan menghancurkan perusahaan ini sendiri!”
“Bukan aku yang menghancurkannya,” balasku dingin. “Kalianlah yang melakukannya sejak kalian membiarkan wanita ini menyentuh suhu ruang penyimpanan obat-obatan sensitif di gudang.”
Aku mengeluarkan tablet dari tas tanganku. Aku tidak hanya membawa kontrak dari Singapura; aku membawa bukti. Aku memutar video dari kamera tersembunyi yang kupasang di gudang—bukan untuk memata-matai suamiku, tapi untuk menjaga standar sterilitas perusahaan.
Layar menunjukkan Sofia, tiga minggu lalu, mematikan sistem pendingin hanya karena suara dengungan mesin membuatnya pusing saat ia sedang bersantai di sana. Batch vaksin senilai miliaran rupiah rusak seketika.
“Itu… itu tidak benar! Aku tidak sengaja!” Sofia mulai panik, tangisnya yang dibuat-buat kini berubah menjadi histeris.
“Itu adalah tindak pidana,” kataku tenang. “Ditambah dengan pemalsuan tanda tangan dan penipuan perbankan. Aku sudah menghubungi pengacaraku. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini bersama petugas kepolisian.”
Corazon berdiri, wajahnya merah padam karena murka. “Kamu berani memanggil polisi ke rumah ini? Kamu menantu yang tidak tahu diuntung!”
“Aku bukan menantu kalian lagi,” jawabku. “Rumah ini? Rumah ini milik ibuku. Dan mulai besok, kalian semua tidak lagi memiliki akses masuk ke properti ini.”
Tiba-tiba, Sofia jatuh terduduk. Dia memegang perutnya dengan wajah yang benar-benar pucat—bukan akting kali ini. “Raf… perutku… sakit sekali…”
Rafael panik, dia berusaha menggendongnya, tetapi aku melangkah maju dan menahan bahunya.
“Biarkan dia, Rafael. Apakah dia benar-benar hamil? Atau itu hanya cara kalian untuk mendapatkan akses ke warisanku?”
Rafael terdiam. Dia menatap Sofia dengan keraguan yang nyata di matanya. Sofia terengah-engah, wajahnya berkeringat dingin. Ternyata, kebohongan mereka selama ini jauh lebih dalam daripada yang kubayangkan.
“Aku… aku memang pernah hamil, Kak Mara,” isak Sofia tiba-tiba, suaranya parau. “Tapi bayinya… bayinya sudah tidak ada dua bulan lalu. Aku keguguran. Tapi Mommy Corazon bilang, kalau aku jujur, mereka akan mengusirku. Mereka butuh alasan untuk menyingkirkan Kakak supaya mereka bisa menguasai hartamu.”
Rafael mundur dua langkah, seolah baru saja disambar petir. Dia menatap ibunya sendiri dengan horor. Corazon hanya terdiam, wajahnya membeku.
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar mendekat ke arah gerbang rumah.
Aku menatap Rafael—pria yang dulu kucintai, yang kini tampak begitu kecil dan hina. “Kau tahu, Rafael? Kontrak dari Singapura itu bukan tentang vaksin. Itu tentang audit forensik menyeluruh atas setiap sen yang keluar masuk di perusahaan ini. Aku sudah tahu tentang perselingkuhan kalian sejak bulan pertama. Aku membiarkan ini terjadi hanya untuk melihat seberapa jauh kalian berani melangkah sebelum aku menutup pintu rapat-rapat.”
Aku berjalan melewati mereka menuju pintu masuk rumah. Sebelum aku masuk, aku berbalik dan menatap kalung mutiara di leher Sofia.
“Lepaskan kalung itu,” perintahku. “Itu satu-satunya benda yang tidak berhak kau sentuh.”
Dengan tangan gemetar, Sofia melepas kalung itu dan menjatuhkannya ke lantai. Aku memungutnya, merasakan dinginnya mutiara di telapak tanganku—sedingin hatiku saat ini.
Polisi memasuki halaman. Rafael mencoba menjelaskan, tapi mereka tidak mendengarkan. Dia dibawa pergi bersama Sofia yang masih meratap di kursi. Corazon, sang ratu rumah ini, hanya bisa terduduk di tanah, kehilangan segalanya dalam satu malam yang seharusnya menjadi pesta kemenangannya.
Aku menutup pintu rumah, menguncinya rapat-rapat. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, rumah ini terasa sunyi. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar pulang. Di tengah ruang tamu yang gelap, aku memegang kalung ibuku, menarik napas lega, dan tahu bahwa besok, hidupku yang sebenarnya akan dimulai—tanpa beban, tanpa pengkhianatan, dan sepenuhnya milikku sendiri.
