Lampu jalanan di luar jendela apartemen mewah itu berpendar redup, menyisakan bayang-bayang panjang yang menari di dinding ruang tamu. Hector menyesap wiski mahalnya dengan tangan yang sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena antusiasme yang mulai memuncak. Di sampingnya, Cindy, dengan gaun sutra merah yang kontras dengan cahaya remang, terus mendesak dengan tatapan yang haus akan kemewahan.
Malam itu, dinginnya udara Jakarta tidak mampu mendinginkan ambisi Hector yang sudah mencapai puncaknya. Ia sudah tidak bisa lagi berpura-pura menjadi suami yang berduka di depan media. Baginya, koma yang dialami Valerie bukanlah sebuah tragedi, melainkan sebuah gerbang yang akan mengantarnya pada kekuasaan mutlak atas kerajaan pelayaran yang selama ini hanya bisa ia kelola atas nama istrinya. Rekening bank yang membengkak, kapal-kapal mewah, dan gaya hidup jet set yang diimpikan Cindy adalah tujuan akhirnya.
Tepat pukul dua dini hari, Hector melangkah keluar dari apartemen, menyamar dengan tudung jaket hitam yang menutupi wajahnya. Ia tiba di rumah sakit swasta elit tempat Valerie dirawat. Keheningan koridor lantai VIP itu terasa menekan, hanya menyisakan suara derap sepatu yang menggema di lantai marmer yang mengkilap. Ia sudah mematikan kamera pengawas di lorong itu sebelumnya, sebuah langkah licik yang ia persiapkan dengan teliti.

Di depan pintu ruang VIP, Hector berhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perpaduan antara ketegangan dan rasa tidak sabar. Ia menarik napas dalam, memutar knop pintu dengan perlahan, dan masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lampu indikator mesin penunjang hidup yang berkedip teratur. Di atas ranjang, sesosok tubuh terbaring kaku, wajahnya tertutup rapat oleh perban dan masker oksigen yang membuat napasnya terdengar berat dan ritmis.
Tanpa keraguan sedikit pun, Hector mendekati ranjang tersebut. Ia menatap sosok yang terbaring itu dengan tatapan dingin, seolah sedang melihat sebuah barang rusak yang harus segera disingkirkan. Tangannya yang dingin merambat ke arah selang oksigen yang terhubung ke tabung besar di sisi ranjang. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kesombongan yang membayangkan masa depan indahnya bersama Cindy.
Dengan gerakan cepat dan mantap, Hector mencabut selang oksigen itu. Bunyi alarm mesin langsung melengking nyaring, memecah kesunyian malam yang mencekam. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tidak pernah ia duga. Pasien di atas ranjang itu tersentak, tangan yang tadinya terbaring lemah tiba-tiba mencengkeram lengan Hector dengan kekuatan yang mengejutkan, dan tubuhnya terguncang hebat karena kesulitan bernapas.
Dalam kepanikan yang mendadak, Hector berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman tangan itu justru semakin kuat. Masker oksigen yang tadinya menempel di wajah pasien itu bergeser, dan perban yang melilit kepala pasien itu perlahan terlepas akibat gerakan tubuh yang meronta. Hector membeku. Cahaya temaram dari mesin monitor yang berkedip merah menyinari wajah wanita tua di atas ranjang itu.
Wajah yang penuh keriput, wajah yang dulu sering ia ludahi dan ia usir karena merasa malu dengan asal-usulnya, wajah yang selama ini ia hindari di balik kemewahan hidupnya. Itu adalah wajah ibunya sendiri, Rosa.
Dunia seakan runtuh di depan mata Hector. Otaknya terasa berputar hebat, menolak untuk menerima kenyataan yang ada di depannya. Ia menyadari bahwa rencana liciknya untuk membunuh istrinya telah berbalik menjadi tragedi yang menghancurkan hatinya sendiri. Ia telah membunuh satu-satunya orang yang sebenarnya mencintainya tanpa syarat, wanita yang selalu mendoakannya meski ia selalu memperlakukan ibunya dengan kasar dan menghina.
Suara langkah kaki berlarian dari arah lorong semakin mendekat. Pintu kamar didobrak dengan keras. Hector terkesiap, mundur beberapa langkah dengan tangan yang masih gemetar karena trauma. Di depan pintu, berdiri Valerie, istrinya yang terlihat sehat dan bugar, didampingi oleh kepala keamanan dan tim dokter. Valerie menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan kekecewaan, kesedihan, dan amarah yang dingin. Tidak ada lagi rasa cinta, yang tersisa hanyalah rasa jijik yang luar biasa.
Hector tidak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat oleh rasa bersalah yang tiba-tiba menghantamnya seperti palu godam. Ia menatap ibunya yang kini sudah tidak bernapas lagi, lalu menatap Valerie yang memegang ponselnya—terlihat jelas bahwa rekaman kejadian tadi telah tersimpan di sana sebagai bukti mutlak.
Valerie berjalan mendekat, langkahnya mantap dan penuh wibawa. Ia berhenti tepat di depan Hector, kemudian berkata dengan suara yang tenang namun menusuk hingga ke tulang, bahwa selama ini ia tahu segalanya. Ia tahu tentang pengkhianatan Hector, tentang rencana jahatnya untuk membunuh, dan tentang bagaimana Hector membuang darah dagingnya sendiri demi harta yang tidak akan pernah bisa membeli ketenangan jiwa.
Hector terjatuh berlutut di lantai, memohon ampun, namun semuanya sudah terlambat. Keheningan malam itu kini diisi oleh suara sirine polisi yang mulai mendekat dari kejauhan. Hector menyadari bahwa ia bukan hanya kehilangan segalanya dalam sekejap, tetapi ia telah menghancurkan hidupnya sendiri dengan tangannya sendiri. Keserakahan yang ia pelihara telah membutakan matanya hingga ia tidak bisa melihat bahwa orang yang paling ia sakiti adalah orang yang paling ia butuhkan.
Di saat-saat terakhir sebelum pihak berwenang memborgol tangannya, Hector menatap wajah ibunya untuk terakhir kalinya. Ia melihat secercah senyum yang tersisa di sudut bibir mendiang ibunya, sebuah senyuman pengampunan yang justru menjadi siksaan terberat baginya. Hector menyadari bahwa di balik kesuksesan yang ia bangun dengan kebohongan, ia hanyalah seorang pria miskin yang memegang segenggam debu, dan kini debu itu telah menguburnya dalam kegelapan yang tak berujung. Ia tidak kehilangan harta, ia kehilangan kemanusiaannya sendiri, dan bagi Hector, hukuman penjara yang menantinya hanyalah awal dari neraka yang harus ia jalani seumur hidupnya sebagai seorang pembunuh ibu kandungnya sendiri. Valerie berbalik meninggalkan ruangan tanpa menoleh sedikit pun, membiarkan Hector terpuruk dalam kehancurannya, karena bagi Valerie, Hector sudah mati jauh sebelum ia mencabut selang oksigen itu. Kehidupan mewahnya berakhir malam itu, dan yang tertinggal hanyalah kehampaan yang akan menghantuinya selamanya di balik jeruji besi yang dingin.
