BAGI KELUARGA SAMANTHA, PERNIKAHAN INI ADALAH PENYATUAN

Gabriel, yang saat itu mengenakan tuksedo putih yang dirancang khusus oleh desainer ternama Paris, terpaku di anak tangga terakhir Katedral Manila. Napasnya tercekat. Matanya yang tajam, yang biasanya memancarkan aura dingin dan kalkulatif, tiba-tiba membelalak. Ia melihatnya: sesosok wanita tua yang basah kuyup, meringkuk di atas trotoar, dengan noda lumpur yang menodai wajahnya yang berkeriput.

Donya Carmela masih berdiri di sana, mengibaskan tangannya seolah-olah bau amis dari ember itu menempel di gaun mahalnya. “Sudah kubersihkan hama itu, Gabriel,” serunya dengan nada bangga yang menjijikkan, seolah baru saja menyingkirkan lalat dari meja makan.

Namun, Gabriel tidak menanggapi. Ia melangkah menuruni anak tangga dengan cepat, mengabaikan Samantha yang memanggil namanya dari belakang. Langkah Gabriel yang berat dan pasti membuat kerumunan tamu mulai berbisik.

“Gabriel? Kamu mau ke mana? Acara akan dimulai!” teriak Samantha.

Gabriel tidak menjawab. Ia sampai di depan Rosa. Ia berlutut di atas lantai beton yang kotor, mengabaikan celana mahalnya yang kini ternoda air selokan. Ia menatap wajah wanita itu, jemarinya yang gemetar menyentuh pipi kasar Rosa yang dingin.

“Ibu?” suara Gabriel parau, hampir tak terdengar.

Dunia seolah berhenti berputar. Donya Carmela memucat. “Gabriel, apa yang kau lakukan? Jangan sentuh pemulung gila itu!”

Gabriel mendongak. Sorot matanya bukan lagi sorot seorang menantu yang patuh atau pengusaha yang rendah hati. Sorot matanya kini adalah api yang membara, mematikan, dan penuh kebencian yang mendalam. Ia berdiri perlahan, membiarkan ibunya tetap berada di pelukannya, lalu menatap Donya Carmela tepat di mata.

“Ibu?” ulang Gabriel, suaranya kini dingin seperti es, membuat semua orang yang mendengarnya merinding. “Ya, ini Ibu saya. Wanita yang kalian hina, wanita yang kalian siram dengan air kotor, adalah satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar mencintaiku.”

“Gabriel, dengar…” Donya Carmela mencoba membela diri, namun suaranya tercekat.

“Tutup mulutmu,” potong Gabriel datar. “Kalian pikir kalian menikahi seorang pemuda yatim piatu yang beruntung? Kalian pikir aku hanyalah seorang ‘anak miskin’ yang membutuhkan koneksi kalian?”

Gabriel mengeluarkan ponselnya dan memberi isyarat singkat. Dalam hitungan detik, layar raksasa di luar katedral yang biasanya menampilkan foto-foto pre-wedding Gabriel dan Samantha, tiba-tiba berubah.

Bukan foto romantis yang muncul. Melainkan dokumen hukum, catatan transaksi bank, dan bukti-bukti transfer yang sangat besar.

“Keluarga kalian membangun kekaisaran dengan mencuri tanah rakyat,” lanjut Gabriel suaranya menggema di depan kerumunan wartawan yang mulai mengarahkan kamera ke arahnya. “Lima belas tahun lalu, ketika rumah ibuku terbakar, itu bukan kecelakaan. Itu adalah perintah ayahmu untuk menyingkirkan keluarga petani yang menolak menjual tanah mereka. Aku selamat karena aku dikirim beasiswa oleh yayasan sosial, tanpa tahu bahwa mereka yang membiayaiku adalah orang yang sama yang menghancurkan hidupku.”

Suasana mendadak hening total. Angin berhembus, menerbangkan debu di sekitar katedral.

“Aku datang ke keluarga kalian bukan untuk menikah,” kata Gabriel, sambil memungut saputangan bordir milik ibunya yang sudah kotor. Ia mengusap wajah ibunya dengan penuh kasih sayang. “Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kalian curi. Selama lima tahun terakhir, aku telah membeli saham-saham utama perusahaan kalian melalui perusahaan cangkang. Secara teknis, per hari ini, gedung ini, bisnis kalian, dan bahkan rumah besar yang kalian tinggali, sudah menjadi milikku.”

Samantha menangis, jatuh terduduk di atas karpet merah. Ia tidak peduli pada harga dirinya. Ia hanya menatap Gabriel, pria yang ia cintai namun ternyata adalah musuh dalam selimut yang paling kejam.

“Ini adalah pernikahan?” tanya Gabriel sinis, menatap ke arah altar. “Tidak. Ini adalah eksekusi.”

Gabriel memanggil sopir pribadinya. “Bawa Ibu ke rumah sakit terbaik. Berikan dia perawatan terbaik. Dan pastikan…” Gabriel menatap tajam ke arah Donya Carmela, “…tidak ada satu pun aset yang tersisa untuk mereka besok pagi.”

Dengan satu gerakan dramatis, Gabriel melepaskan jas tuksedonya dan melemparkannya ke tanah, tepat di depan kaki Donya Carmela. Ia menggandeng tangan ibunya yang kurus dan kotor, berjalan menjauh dari katedral tanpa menoleh sedikit pun.

Namun, ada satu detail yang tidak disadari siapa pun.

Saat Gabriel berjalan menuju mobil mewah yang sudah menunggunya, ia tidak membawa serta saputangan bordir itu. Ia menjatuhkannya tepat di atas lumpur, persis di tempat ibunya disiram tadi.

Di dalam mobil, Rosa menatap anaknya dengan ketakutan. “Gabriel, apa yang kau lakukan? Kita bisa dipenjara.”

Gabriel tersenyum, senyum yang tidak menyentuh matanya. Ia mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya—sebuah pemancar sinyal.

“Ibu, mereka tidak hanya mencuri harta kita. Mereka mencuri masa kecilku,” bisik Gabriel. “Tapi mereka membuat satu kesalahan besar. Mereka meremehkan seorang pria yang tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan.”

Di katedral, sirine polisi mulai terdengar dari kejauhan. Bukan untuk menangkap Gabriel, tapi untuk menjemput seluruh keluarga Samantha. Gabriel telah memastikan bahwa bukti korupsi, pencucian uang, dan penggelapan pajak yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun telah ia kirimkan ke otoritas terkait tepat satu menit sebelum ia keluar dari gereja.

Gabriel memandang ke luar jendela mobil. Ia tidak merasa menang. Ia tidak merasa bahagia. Ia hanya merasa kosong.

Perlahan, ia merogoh saku dalamnya dan mengeluarkan sebuah foto lama. Foto dirinya bersama seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan wanita yang baru saja ia “selamatkan”.

Tapi, ada sesuatu yang aneh.

Di balik foto itu, tertulis sebuah catatan dengan tulisan tangan yang sangat rapi: “Tugas selesai. Ibu kandungmu meninggal di kebakaran itu. Wanita ini hanyalah aktor bayaran untuk skenario balas dendammu yang sempurna.”

Gabriel terdiam. Ia menatap wanita tua di sampingnya yang sedang tertidur lelap karena kelelahan. Apakah ia baru saja membalas dendam untuk ibunya, atau ia baru saja kehilangan kendali atas jati dirinya sendiri?

Di depan sana, jalanan Manila membentang luas. Gabriel membuang foto itu keluar jendela, membiarkannya hancur diterpa angin. Ia tidak butuh kebenaran lagi. Ia hanya butuh kehancuran keluarga yang telah menghancurkan dunianya, bahkan jika ia harus berakting seumur hidupnya sebagai anak yang berbakti pada seorang orang asing.

Pernikahan itu tidak pernah terjadi. Namun, babak baru dari dendam yang lebih gelap baru saja dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang