Suasana pesta yang tadinya penuh tawa sarkastik kini berubah mencekam. Rafael melangkah maju, dadanya membusung seolah ingin menantang siapapun yang berani merusak harinya. “Siapa mereka? Apa maksudnya mengambil aset?” bentaknya pada petugas keamanan.
Seorang pria paruh baya berjas abu-abu gelap melangkah masuk dengan tenang. Di belakangnya, tiga orang berseragam resmi mengikuti dengan map tebal di tangan. Dia adalah pengacara top dari firma hukum Alcántara & Associates.
Pengacara itu tidak melirik Rafael sama sekali. Matanya tertuju padaku. Dia mengangguk hormat, sebuah gestur yang membuat Señora Corazon tersedak ludahnya sendiri. Pria itu membuka mapnya, lalu dengan suara yang tenang namun menggema di seluruh halaman, dia membacakan satu kalimat:
“Sesuai dengan akta penyerahan kuasa penuh yang ditandatangani tiga tahun lalu, seluruh aset properti, modal bisnis, serta rekening operasional keluarga Villanueva saat ini berada di bawah kurator khusus Liana Reyes Alcántara.”

Hening.
Keheningan yang lebih berat daripada kematian.
“Apa maksudnya?” suara Bianca memecah sunyi, nadanya melengking tinggi, jauh dari tawa puasnya tadi. “Itu pasti bohong! Rumah ini milik Ayah! Bisnis ini milik Rafael!”
Pengacara itu tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya diberikan dokter saat vonis penyakit mematikan keluar. “Nyonya Bianca, tiga tahun lalu, saat bisnis makanan keluarga ini berada di ambang kebangkrutan total akibat skandal hutang gelap Ayah Anda, Liana Reyes Alcántara—pewaris tunggal grup properti Alcántara—membeli seluruh saham perusahaan ini dalam diam. Dia menjadi investor utama. Kalian tidak pernah tahu, karena dia memilih menggunakan nama samaran sebagai menantu.”
Aku melangkah maju, meninggalkan gaun krem murahan yang kupakai. Kini, aku merasa seolah mengenakan baju zirah.
“Kalian pikir aku mencuri 360 juta?” suaraku memecah udara yang dingin. Aku menatap Rafael yang kini terpaku di tempatnya, wajahnya kehilangan semua warna. “Itu bukan uang kalian. Itu adalah biaya sewa gedung yang kalian gunakan sebagai tempat tinggal saat ini. Karena kalian sudah menunggak selama enam bulan, aku menariknya kembali sebagai ganti rugi.”
Señora Corazon jatuh terduduk di kursi plastiknya. “Tidak mungkin… kamu… kamu hanyalah gadis yatim piatu dari desa!”
“Aku memang dari desa, Señora,” jawabku dingin. “Tapi aku adalah putri dari orang yang paling dibenci sekaligus paling ditakuti oleh mendiang suamimu di masa lalu.”
Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Aku mengambil cincin pernikahan dari gelas air yang tadi dibuang Rafael. Logamnya berdentang saat aku meletakkannya kembali ke atas meja, tepat di samping dokumen yang kutanda tangani tadi.
“Oh, satu hal lagi,” kataku, melirik ke arah petugas keamanan. “Mulai detik ini, rumah ini bukan milik kalian lagi. Segera kosongkan properti ini dalam waktu satu jam, atau saya akan memanggil pihak kepolisian untuk menyeret kalian keluar atas dasar penjarahan aset ilegal.”
Rafael mencoba meraih tanganku, namun aku mundur selangkah. “Liana, dengarkan aku… ini hanya salah paham! Kita bisa bicarakan ini, sayang…”
Aku menatapnya—pria yang tadi memintaku keluar lewat gerbang sampah, pria yang menganggapku tidak berharga—lalu tertawa kecil. Itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa kemenangan atas sebuah sandiwara panjang.
“Rafael, saat kau melepas cincin ini, kau tidak hanya membuang istrimu,” bisikku tepat di depan wajahnya. “Kau membuang seluruh masa depan keluargamu. Selamat menikmati sisa malammu di jalanan.”
Aku berbalik, berjalan menuju pintu keluar—bukan gerbang belakang, melainkan gerbang depan di mana sebuah mobil mewah telah menungguku. Saat aku melangkah pergi, aku mendengar suara barang-barang pecah dari dalam. Bianca menjerit, Señora Corazon meraung, dan Rafael… dia hanya diam, terpaku menatap kartu identitas perusahaan yang tertinggal di meja, menyadari bahwa dia baru saja menendang satu-satunya orang yang membiayai hidup mewahnya selama ini.
Aku tidak menoleh lagi. Di dalam mobil, aku melepas gaun krem yang memuakkan itu, dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku menarik napas panjang. Bukan sebagai Liana sang menantu patuh, tetapi sebagai Liana sang pemilik segalanya.
Satu-satunya hal yang tidak mereka ketahui—yang bahkan tidak diketahui oleh pengacaraku—adalah bahwa sejak seminggu lalu, aku telah mentransfer seluruh dana cadangan bisnis tersebut ke rekening amal, meninggalkan mereka bukan hanya tanpa rumah, tapi juga tanpa satu sen pun uang tunai.
Permainan ini baru saja dimulai, dan mereka baru saja kalah di babak pertama.
